
Suasana sudah hening di luar sana, Leona sangat ingin tahu apa yang terjadi tapi dia tidak berani keluar. Entah apa yang telah ayahnya lakukan sehingga Gail mendatangi mereka tapi dia bisa menembak jika ayahnya telah melakukan kesalahan fatal sehingga membuat Gail begitu murka.
Senjata api yang dia ambil tidak dia lepaskan, dia akan keluar sebentar lagi. Jika sampai terjadi sesuatu pada ayahnya maka dia tidak akan ragu untuk membunuh Gail. Sekalipun dia menyukai pria itu tapi dia tidak akan membiarkan ayahnya dibunuh.
Di luar sana, Gail tidak bergerak di atas lantai. Darah dari kepalanya yang terluka masih mengalir. Hal itu membuat Leon curiga, jangan katakan jika Gail mati hanya karena satu pukulan itu. Dia tidak mengharapkan hal itu terjadi dan dia berharap Gail tidak mati.
"Bangun, Gail. Jangan pura-pura mati!" ucap Leon tapi Gail tidak juga bergerak.
Leon memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa keadaan Gail, dua orang bergerak menghampiri Gail dengan dua buah pistol di tangan. Mereka bergerak mendekati dengan hati-hati, pistol pun mengarah ke arah tubuh Gail yang sedang berbaring tengkurap.
Tubuh Gail ditendang, tidak ada reaksi apa pun, kedua anak buah itu melihat ke arah Leon dan menggeleng. Leon tampak terkejut, tidak mungkin Gail benar-benar mati.
"Periksa dengan benar!" teriaknya lantang.
Sang anak buah kembali menendang tubuh Gail, tidak saja menendang tapi mereka juga menginjaknya namun tidak ada reaksi sama sekali.
"Dia sudah mati, Sir," ucap sang anak buah. Hal itu bisa saja terjadi karena Gail menerima banyak pukulan sedari tadi.
"Sial!" Leon mengumpat marah, jadi seperti itu saja kemampuan Gail Bernard? Ternyata sangat mengecewakan, dia benar-benar sudah salah menaruh harapan tinggi pada mantan asistennya itu. Sudah mati, tidak ada yang bisa dia perbuat lagi.
Leon beranjak dan mendekati Gail. Walau Gail mati tapi setidaknya dia tidak terlalu kecewa karena dia tidak dikalahkan oleh mantan asistennya.
"Kau benar-benar mengecewakan aku, Gail," ucap Leon setelah berdiri di sisi Gail yang tidak bergerak sama sekali.
"Lihatlah, aku menang. Jika kau menerima tawaranku sejak awal maka kau tidak akan mati menyedihkan seperti ini. Lihat dirimu yang terkapar di sini, sungguh menyedihkan!" ucap Leon mencibir.
Kandidat kuat untuk menjadi penerusnya sudah tidak ada lagi. Sepertinya tidak ada cara lain selain meminta Leona untuk menikah dan menjadikan keturunannya sebagai penerus kelak.
"Ck, sungguh mengecewakan!" Leon memutar langkah, dia hendak kembali tapi tanpa sepengetahuannya tiba-tiba saja, Craasshhhh....sesuatu melewati satu kakinya.
__ADS_1
Arrggghhhhh!! terikan Leon terdengar, anak buahnya terkejut,. Leon melihat ke bawah di mana satu kakinya sudah putus, dia bahkan terjatuh terduduk karena kehilangan keseimbangan. Leon berteriak kesakitan sambil memegangi satu kakinya yang sudah terputus namun matanya melotot ketika seseorang sudah berdiri di depan matanya dan sebuah pedang sudah berada di bawah lehernya.
"Jika ada yang berani bergerak atau menembak, maka lehernya lepas!" ancam Gail karena anak buah Leon sudah menodongkan senjata api ke arahnya. Tidak ada yang berani bergerak, semua berada di tempatnya.
"Ga-Gail," Leon tampak tidak percaya. Bagaimana mungkin, bukankah Gail sudah mati?
"Kenapa? Apa kau pikir kau saja yang bisa menggunakan cara licik, Leon? Apa kau benar-benar berpikir aku bisa mati dengan mudahnya? Aku berpura-pura agar kau mendekat tapi bodohnya kau terpancing dengan mudah dan menghampiriku!"
"Beraninya kau menipuku, Gail?!" teriak Leon sambil menahan sakit.
"Ck... Ck, lihatlah dirimu, Leon," cibir Gail. Pedangnya yang berlumuran darah masih berada di bawah leher Leon. Walau kepalanya sakit, seluruh tubuhnya juga sakit tapi dia berusaha bertahan. Darah masih mengalir dari luka di kepala, dia harap dia tidak mati sebelum menghabisi Leon dan juga Lucius.
"Bunuh dia!" teriak Leon.
"Kalian berani? Aku pastikan setelah memenggal kepalanya, giliran kalian semua!" ancam Gail.
"Jangan bodoh dan jangan dengarkan dia. Segera bunuh, ini perintah dariku!" teriak Leon marah.
Para anak buah Leon mulai saling pandang, mereka seperti sedang mengambil keputusan. Mereka kembali melihat ke arah Gail dan juga Leon, sebuah keputusan pun mereka ambil. Senjata yang ada di tangan dilemparkan ke atas lantai, dimulai dari satu orang lalu yang lain menyusul.
Leon tidak percaya melihat apa yang anak buahnya lakukan, tidak ada satu pun yang tidak membuang senjata. Dari pistol sampai tongkat, semua dilemparkan ke atas lantai.
"Kau lihat, Leon. Sepertinya mereka sudah membuat keputusan!" ucap Gail.
"Kalian semua pengkhianat tidak berguna!" teriak Leon.
"Sorry, Sir. Bukankah sejak awal kau ingin dia menggantikan dirimu? Sekarang dia sudah membuktikan jika dia pantas menjadi penggantimu jadi kami memilih sesuai dengan apa yang menurut kami pantas," ucap salah satu anak buahnya.
"Tapi kalian tidak perlu berkhianat. Sekarang juga, bunuh dia!" teriak Leon.
__ADS_1
Tidak ada satu pun anak buahnya yang bergerak, tidak ada yang mendengarkan perintahnya lagi. Gail tertawa terbahak, dia tidak menginginkan ini semua tapi Leon benar-benar sudah menariknya ke jalan itu lagi.
"Aku akan membunuh kalian semua!" teriak Leon marah.
"Saatnya kau mati, Leon. kepalamu jadi milikku dan akan aku lemparkan di bawah kaki Licius nanti!" mata pedang sudah menggores kulit leher Leon, dia akan memotong kepalanya saat itu juga.
"Jangan, Gail. Jangan lakukan!" teriak Leon.
"Kau yang membuat aku seperti ini, Leon. Jadi sesali kebodohanmu!" Pedang sudah hendak di tebas tapi tidak jadi karena suara teriakan Leona.
"Hentikan, Gail. Jika kau membunuh ayahku maka aku akan membunuhmu!" teriak Leona sambil menodongkan senjata apinya ke arah Gail.
"Le-Leona, selamatkan Daddy," pinta ayahnya.
"Lepaskan ayahku, sekarang!" perintah Leona.
"Sebaiknya kau pergi, Leona. Aku tidak akan membunuhmu jadi pergilah tapi jika kau masih keras kepala maka aku tidak akan ragu!"
"Jangan dengarkan ancamannya, Leona. Segera tembak!" teriak ayahnya.
Leona menelan ludah, tangannya agak gemetar. Dia seperti agak ragu untuk membunuh Gail.
"Lakukan, Leona!" teriak Leon.
"Ck, membuang waktu!" tanpa belas kasihan, Gail menebaskan pedangnya ke leher Leon. Leon terkejut tapi tidak lama kemudian kepalanya jatuh ke atas lantai. Leona berteriak histeris, senjata api yang ada di tangan di tembakan ke arah Gail secara membabi buta. Gail menghindarinya, memutar langkah dan setelah itu pedang yang ada di tangan dilemparkan ke arah Leona.
Leona terkejut dan tubuhnya terdorong ke belakang saat pedang yang dilemparkan oleh Gail menancap di dadanya. Leona kembali melihat ke arah Gail dan setelah itu tubuhnya jatuh ke atas lantai. Para anak buah Leon tidak bersuara, mereka bahkan tidak mencegah saat Gail menarik pedang yang menancap di dada Leona dan setelah itu dia mengambil kepala Leon.
Gail keluar dengan sebilah pedang di tangan dan juga kepala Leon. Sekarang waktunya mencari Lucius. Dengan keadaannya yang sudah babak belur, dia tidak yakin bisa mengalahkan Lucius apalagi pandangannya mulai buram dan kepalanya terasa mau pecah.
__ADS_1
Dia tahu yang kali ini berbeda, dia tahu Lucius tidak akan mudah dikalahkan apalagi dua sandera berada di tangan tapi yang pasti dia harus pergi menyelamatkan Cristal dan Angela sekalipun dia harus mati nantinya namun dia tidak akan pernah menduga jika dia akan mendapatkan kejutan nanti.