
Keadaan Cristal sudah membaik, hal itu tidak dia sia-siakan karena dia sudah harus memakamkan jenazah ibu mertuanya yang sudah lama berada di rumah sakit. Lagi pula hari ini akhir pekan, dia bisa meminta bantuan Gail tanpa mengganggu pekerjaannya.
Gail juga sudah menyiapkan sebuah makam di samping makam suami Cristal, semua itu sesuai dengan permintaan Cristal. Gail juga sudah meminta pihak rumah sakit untuk membawa jenazah ibu mertua Cristal ke makam, tidak hanya itu saja, dia juga sudah menghubungi seorang pendeta untuk memimpin upacara pemakaman.
Cristal benar-benar tidak melakukan apa pun, semua Gail yang mengurusnya. Dia bahkan terkejut saat tahu jika sudah waktunya memakamkan jenazah ibu mertuanya. Pemakaman akan diadakan saat siang, mereka sedang bersiap-siap untuk berangkat saat itu.
Cristal sibuk mencari gaun hitam milik Angela, gaun itu pernah Angela gunakan saat memakamkan ayahnya. Dia sangat ingat jika dia membawa gaun itu serta, sebaiknya dia mencari lebih teliti karena dia tidak mau membelinya lagi.
"Mom, apa masih belum ketemu?" tanya Angela.
"Angela pergilah bermain sebentar, Mommy lupa menyimpannya di mana," pinta ibunya.
"Baiklah, Mom. Jangan lama-lama, Angela sudah tidak sabar untuk melihat Nenek."
"Tentu tidak, pergilah bermain."
Angela mengangguk dan berlari keluar. Cristal kembali sibuk mencari gaun hitam putrinya. Gail baru saja keluar dari kamar, dia tampak heran karena Angela masih bermain. Gail menghampiri kamar Angela dan mendapati Cristal masih juga sibuk mencari gaun hitam putrinya.
"Apa yang kau cari?" tanya Gail seraya menghampiri Cristal.
"Gaun Angela, aku lupa menyimpannya," semua pakaian dikeluarkan dan diletakkan di atas ranjang.
"Gaun, warna apa?" Gail melihat tumpukan baju yang ada di atas ranjang.
"Warna hitam, aku sangat ingat membawanya serta saat pindah ke sini tapi aku lupa menyimpannya."
"Jika tidak ada sebaiknya beli yang baru."
"Tidak perlu, Gail. Baju seperti itu tidaklah terlalu penting jadi sayang jika membelinya lagi."
__ADS_1
"Jika begitu cari pelan-pelan," Gail juga membantu, melihat baju yang ada di atas ranjang satu persatu.
Cristal masih membongkar isi lemari putrinya, dia benar-benar lupa menyimpannya entah ke mana. Gail juga serius mencari sampai akhirnya dia melihat gaun itu berada paling bawah. Gail mengambilnya, sepertinya gaun itulah yang diinginkan oleh Cristal.
"Apa kau mencari gaun ini, Cristal?" tanyanya sambil mengangkat gaun yang dia temukan
Cristal berpaling, "Astaga, ternyata ada di sana!" ucapnya seraya beranjak. Ternyata gaun itu ada di sana. Pantas saja dia tidak menemukannya di dalam lemari.
"Kau yang tidak teliti mencarinya!" Gail meraih tangannya, Cristal memekik saat Gail menarik tangannya hingga dia jatuh ke atas pangkuan Gail.
"Hei, kita harus bergegas!"
"Hal itu bisa menunggu," Gail sudah mengangkat dagu Cristal, "Sepertinya kau butuh vitamin C agar otakmu bisa bekerja dengan baik!" ucapnya lagi.
"Vitamin C?" Cristal tampak tidak mengerti namun Gail sudah mencium bibirnya. Cristal diam sesaat, pasti yang dimaksud pria itu adalah ciuman. Matanya pun mulai terpejam, kedua tangan sudah melingkar di leher Gail. Gail mencium Cristal cukup lama, rasanya ingin membawa Cristal ke dalam kamarnya lalu menghabiskan waktu mereka di sana tapi sayangnya tidak bisa. Selain mereka harus pergi ke pemakaman, Angela juga akan masuk secara tiba-tiba.
"Gail, nanti Angela melihat!" Cristal berusaha mendorong bahu Gail dan menahan tangan pria itu yang sudah masuk ke dalam bajunya.
"Stop, Gail!" pinta Cristal sambil menahan tangan Gail.
Gail tidak mempedulikannya, bibirnya masih berada di leher Cristal. Tangan Cristal sudah berpindah, kini dia berusaha mendorong kepala Gail. Bagaimana jika ada tanda di sana sehingga Angela mengira ada lebah lagi yang menggigitnya?
"Gail, sebaiknya kita lanjutkan nanti. Angela bisa melihat!" pintanya.
"Oh, jadi kau ingin kita lanjutkan nanti?" Gail berhenti menciumnya tapi tangannya tidak.
"Stop!" napas Cristal sudah berat, mereka mau pergi tapi kenapa Gail melakukan hal itu?
"Baiklah, aku hanya menggodamu!" Gail menarik tangannya keluar lalu mencium pipi Cristal.
__ADS_1
"Apa, jangan menggoda seperti ini!" Cristal memukul bahunya dan memasang wajah cemberut.
"Segera bersiap-siap, setelah selesai kita langsung pergi."
Cristal mengangguk, sebelum beranjak dari atas pangkuan Gail, Cristal mendaratkan ciuman di dahi pria itu. Mereka berdua saling pandang. Cristal tersenyum, tangannya sudah berada di wajah Gail dan mengusapnya perlahan.
"Kenapa tidak segera bersiap-siap? Apa sebegitu senangnya memandangi wajahku?"
"Ck, kau benar-benar tidak lucu!" Cristal beranjak dari atas pangkuan Gail.
"Aku bukan badut, jadi aku memang tidak lucu!"
"Baiklah, dasar menyebalkan!" gaun diambil, Cristal melangkah keluar sambil memanggil Angela. Mereka memang sudah harus bersiap-siap untuk pergi apalagi waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Setelah selesai, mereka segera berangkat.
Semua sudah berada di makam, peti mati belum ditutup sesuai dengan permintaan Cristal karena dia dan Angela ingin melihat wajah ibu mertuanya untuk terakhir kali.
Angela menangis saat melihat neneknya, Cristal juga menangis apalagi dia tidak menduga ibu mertuanya akan pergi karena dibunuh. Tidak ada yang menyangka hal seperti itu akan terjadi, dia bahkan tidak menduga malam itu akan menjadi malam terakhir mereka.
"Nenek, kenapa Nenek meninggalkan Angela dan Mommy begitu cepat?" tanya Angela sambil menangis.
Cristal tidak bersuara, dia hanya bisa mengucapkan kata maaf pada ibu mertuanya di dalam hati karena Angela tidak boleh tahu apa yang terjadi pada neneknya. Biarlah Angela beranggapan jika neneknya meninggal karena penyakit yang dia derita dari pada Angela semakin sedih.
Dia benar-benar minta maaf karena sudah lalai menjaga ibu mertuanya sehingga dia tidak tahu ada yang masuk dan meracuni ibu mertuanya. Seandainya malam itu dia tidak kelelahan, dia pasti tidak akan tidur begitu pulas.
"Maafkan aku. Mom. Aku sungguh menantu yang tidak berguna!" ucap Cristal dengan pelan. Dia merasa tidak berguna, selain tidak bisa mengobati penyakit ibu mertuanya tapi dia juga sudah lalai sehingga tidak sadar ada penjahat yang masuk dan meracuni ibu mertuanya.
Mereka menangis cukup lama di samping peti mati, Gail menggendong Angela dan menghiburnya. Cristal mengusap air matanya dan melihat jenazah ibu mertuanya untuk terakhir kali lalu dia meminta jenazah ibu mertuanya di makamkan.
Seorang pendeta mulai memimpin, tangisan Angela semakin menjadi saat peti mati neneknya dimasukkan ke dalam liang. Angela bahkan sudah tidak berada di dalam gendongan Gail lagi karena dia ingin digendong ibunya. Cristal berusaha menghibur putrinya karena dia tahu, Angela sangat menyayangi neneknya.
__ADS_1
Cristal berdiri di sisi makam suaminya setelah pemakaman selesai. Angela sedang menabur bunga di atas makam neneknya sambil mengucapkan kata perpisahan. Cristal merasa sangat ingin menendang makam suaminya sampai hancur karena dialah dalang dari semua yang terjadi dan kematian ibunya pun, harus terjadi karena kelakuannya yang bejat.
Gail kembali mendekati mereka, menggendong Angela yang masih menangis dan merangkul bahu Cristal. Dia tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang disayang tapi dia tahu, hidup tidaklah kekal karena pada akhirnya, semua orang pasti akan berbaring di tempat yang sama.