
Pesawat yang membawa Orland dan Gail sudah mendarat, perjalanan dari New York ke California tidak memakan waktu terlalu banyak tapi mereka akan ke hotel terlebih dahulu dan besok barulah Orland akan menemui rekan bisnisnya.
Lagi pula saat mereka tiba hari sudah gelap, tidak mungkin juga Orland menemui rekan bisnis pada malam hari. Mereka segera menuju hotel untuk beristirahat. Gail menempati kamar yang bersebelahan dengan kamar Orland. Dia harus selalu sigap saat dibutuhkan.
Tas di lempar ke atas sebuah kursi yang ada di sisi ranjang. Dasi pun dilonggarkan dan setelah itu Gail menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Mata menatap langit kamar, entah bagaimana keadaan Cristal dan Angela saat ini, sebaiknya dia pergi mandi terlebih dahulu sebelum menghubungi Cristal.
Gail juga berharap Alston dapat menjaga mereka dengan baik sehingga Leon dan Lucius tidak bisa mengganggu mereka berdua tapi terus terang saja, dia memiliki firasat buruk akan hal ini.
Gail beranjak, jas dilepaskan dan setelah itu Gail pergi ke kamar mandi. Dia sudah tidak sabar untuk berbicara dengan Angela begitu juga dengan Angela. Gadis itu sudah sangat ingin ibunya menghubungi Gial, dia sudah merengek sedari tadi tapi Cristal tidak tahu Gail sudah tiba atau tidak.
"Ayo, Mom. Hubungi Uncle sekarang!" pintanya.
"Sabar, Sayang. Mungkin Uncle belum tiba jadi Mommy tidak bisa menghubunginya sembarangan."
"Tapi Angela merindukan Uncle," Angela berbaring di kaki ibunya, dia belum ingin tidur sebelum ibunya menghubungi Gail.
Cristal melihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Perbedaan waktu antara New York dan California berbeda tiga jam. New York lebih cepat tiga jam sebab itu Angela tidak mau tidur padahal besok dia harus sekolah.
Ponsel pun diambil, Cristal tampak ragu untuk menghubungi Gail. Dia juga takut mengganggunya tapi dia juga ingin tahu apakah pria itu sudah tiba atau belum. Cristal menimang-timang ponsel di tangan, dia masih ragu tapi pada saat itu pula ponselnya berbunyi.
"Uncle!" teriak Angela. Gadis itu sudah duduk di atas ranjang, dia juga terlihat senang.
Cristal tersenyum dan memberikan ponselnya pada Angela, tentunya Angela menjawab dengan penuh semangat.
"Uncle, apa Uncle sudah sampai?" tanyanya sambil berteriak.
"Tentu, apa yang kalian lakukan?"
"Angela ingin tidur tapi Angela menunggu Uncle menelpon."
"Wah, apa Angela merindukanku?" tanya Gail sambil duduk di sisi ranjang. Dia baru selesai mandi dan langsung menghubungi Cristal.
"Tentu saja, Uncle. Apa Uncle tidak merindukan Angela?"
"Uncle juga merindukanmu."
"Benarkah?" teriak Angela senang.
__ADS_1
"Yes, Uncle akan kembali setelah pekerjaan selesai sebab itu jadilah anak baik, jika tidak bonekanya tidak akan Uncle belikan."
"Tentu saja, Uncle. Sekarang Angela mau tidur agar besok bisa bangun pagi untuk pergi ke sekolah."
"Gadis pintar, berikan ponselnya pada Mommy. Uncle ingin berbicara dengannya."
"Mom, Uncle ingin bicara dengan Mommy," Angela memberikan ponselnya dan setelah itu dia berbaring.
"Mommy bicara sebentar dengan Uncle, Angela tidur terlebih dahulu," ucap Cristal seraya mencium dahinya.
Angela mengangguk, Cristal beranjak turun dari atas ranjang dan melangkah menuju sofa yang ada di dekat jendela.
"Apa kau baru tiba, Gail?" tanya Cristal setelah dia sudah duduk di sofa.
"Tidak, aku sudah tiba sedari tadi. Kalian sudah makan, bukan?"
"Sudah, bagaimana denganmu? Apa kau sudah makan?"
"Aku akan memesan makanan nanti. Bagaimana keadaan di sana, apa Alston menjaga kalian?"
"Tentu saja, dia ada di luar saat ini dengan beberapa orang. Dia memang berjaga tapi aku takut, Gail," perasaannya benar-benar tidak nyaman sejak tadi. Tidak saja curiga dengan sahabat Gail, dia juga takut terjadi sesuatu dengannya malam ini.
"Sudah aku lakukan, Gail. Tapi rasa takut yang aku rasakan sejak kau pergi, selalu menghantuiku," ucap Cristal.
"Kau terlalu cemas dan banyak berpikir, Cristal. Jangan menakuti diri sendiri sehingga membuatmu panik. Kau tidak akan bisa berpikir dengan jernih jika terjadi sesuatu jadi jangan berpikir yang tidak-tidak."
"Ba-Baiklah, mungkin aku terlalu berlebihan," yang diucapkan oleh Gail sangat benar, dia terlalu banyak berpikir dan menakuti dirinya sendiri apalagi yang dia takuti belum tentu terjadi.
Cristal melihat ke arah Angela sejenak, putrinya sudah tidur karena dia memang sudah mengantuk. Cristal berbaring di atas sofa, mereka berdua diam saja karena mereka tidak tahu apa yang hendak mereka bicarakan.
"Kenapa diam, apa kau sudah mengantuk?" tanya Gail basa basi. Gail berdiri di depan jendela hotel, melihat indahnya lampu yang menghiasi kota.
"Tidak, kau sendiri kenapa diam?" tanya Cristal pula.
"Entahlah, ini pertama kalinya aku berbicara dengan seorang wanita dari jarak jauh jadi aku tidak tahu apa yang hendak aku katakan."
"Ck, kau benar-benar tidak menyenangkan!"
__ADS_1
"Tapi kau menyukainya, bukan?"
"Hei, apa kau sedang menggodaku saat ini?" tanya Cristal.
"Hm, sepertinya."
"Menyebalkan, jawaban macam apa itu? Walau kau bercanda atau sedang menggoda tapi ekspresi wajahmu pasti sama saja."
"Wajahku memang seperti ini, tidak perlu tersenyum tapi kau sudah menyukainya!"
"Ck, lagi-lagi kau menggodaku!"
Gail diam saja, Cristal jadi ingin tahu bagaimana ekspresi wajah Gail. Ah.. dia jadi merindukan pria itu karena sejak mengenalnya dan dekat dengannya, dia jadi terbiasa dengan kehadiran Gail.
"Baiklah, sudah malam. Segera tidur, aku ingin berbicara dengan Alston. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku. Kau harus ingat, kau tidak boleh panik agar kau tahu apa yang bisa kau lakukan jika terjadi sesuatu!"
"Aku tahu, Gail. Aku tidak akan panik seperti yang kau katakan."
"Bagus. Pergilah tidur, sudah malam."
"Hm, good night," ucap Cristal.
Gail tidak menjawab, Cristal beranjak setelah pembicaraan mereka berakhir. Ponsel diletakkan di atas meja, Cristal menarik laci dan mengambil pistol yang ada di dalam sana. Walau Gail baru saja mengajarinya menggunakan benda itu beberapa kali tapi dia sudah bisa menggunakannya.
Dia tidak boleh lemah seperti dulu, terkadang menjadi berbeda itu memang diperlukan. Hidup yang dia jalani selalu sulit dan berat, dia juga selalu takut dengan keadaan. Dia tahu jika dia terus takut seperti yang sudah-sudah, dia hanya bisa mempersulit Gail dan dia tidak akan bisa merubah apa pun.
Cristal meletakkan pistol di bawah bantalnya sebelum berbaring. Seandainya dia pemberani dan memiliki senjata seperti itu sejak dulu, mungkin dia bisa melawan Lucius tanpa perlu melibatkan Gail sehingga keadaan semakin rumit seperti saat ini. Cristal hendak memejamkan matanya tapi dia benar-benar takut. Dia takut saat dia sudah tertidur sesuatu yang dia takutkan justru terjadi.
Setelah berbicara dengan Cristal, Gail menghubungi Alston. Dia ingin tahu bagaimana keadaan yang ada di sana. Dia harap Alston dapat menguasai situasi tapi sayang kepergian dirinya sudah diketahui oleh musuh dan mereka sudah memiliki rencana agar tujuan mereka tercapai.
"Bagaimana dengan keadaan di sana, Alston?" tanya Gail.
"Kau tidak perlu khawatir, Gail. Situasi aman. Lagi pula tidak ada yang tahu kau pergi, kau tidak perlu khawatir."
"Jangan meremehkan musuh, Alston. Apa saja bisa terjadi jadi waspadahal. Aku sangat mempercayaimu sebab itu jangan mengecewakan aku!"
"Aku tahu, kau tidak perlu mengulanginya. Aku pasti akan menjaga mereka dengan baik dan mempertaruhkan nyawaku demi persahabatan kita!"
__ADS_1
"Baiklah, aku percaya padamu!" rasanya sedikit lega, dia tahu jika Alston bisa menjaga Cristal dan juga Angela tapi bagaimana jika ada yang berkhianat?
Benar yang dia katakan, apa saja bisa terjadi dan malam itu, rumahnya sudah diintai oleh pihak musuh. Dua kubu yang menjadi satu itu tidak menyia-nyiakan kesempatan, malam itu mereka sudah mengintai dan akan bergerak untuk melakukan aksi mereka.