
Cristal benar-benar cemas di dalam kamar mandi, tidak ada yang bisa dia gunakan sebagai senjata untuk melawan Lucius. Dia benar-benar sudah kehabisan akal, dia sungguh tidak mau melayani naf*u bejat Lucius. Lebih baik dia mati dari pada harus melayani pria itu tapi dia tidak berdaya karena dia harus memikirkan keadaan putrinya.
Lucius sudah tidak sabar, bajunya bahkan sudah dilepaskan. Cristal benar-benar lama, mengulur waktu sampai membuatnya kesal. Lucius berjalan menuju pintu, menggedor pintu dengan kencang sampai membuat Cristal terkejut di dalam sana.
"Jangan membuat aku menunggu lebih lama lagi, Cristal Aaron!" teriaknya marah.
Cristal ketakutan, habislah dia. Sepertinya Gail benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi dengan mereka. Dia juga sudah tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi.
"Jika dalam waktu lima menit kau tidak keluar, mayat putrimu akan segera dibawa masuk kemari!" teriak Lucius lagi.
Cristal memejamkan mata, air mata pun mengalir. Yang terjadi biarlah terjadi asalkan Angela baik-baik saja. Jika dia tahu pada akhirnya akan jadi seperti ini, dia akan menerima penawaran yang Lucius berikan dan jika dia menerimanya maka ibu mertuanya tidak akan mati terbunuh.
"Cepat!" bentak Cristal lagi.
Air mata dihapus dengan cepat, Cristal menyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja. Pintu pun terbuka, dia berusaha tersenyum untuk menggoda Lucius. Setelah semua ini berakhir, dia akan mencari kesempatan untuk membawa Angela pergi yang jauh. Dia juga tidak akan kembali kepada Gail karena dia sudah kotor.
Semoga saja Gail memaafkan dirinya, semoga saja pria itu bisa mengerti jika dia melakukan hal itu karena terpaksa. Lucius menarik tangannya, dia sungguh sudah tidak sabar. Dalam hati Cristal hanya bisa meminta maaf pada Gail, dia benar-benar akan ternoda sebentar lagi tapi sesungguhnya Gail sudah berada di luar sana untuk menyelamatkan dirinya.
Gail masih mengarahkan senjata apinya ke arah tiga mobil yang berhenti di hadapannya. Dia sudah hampir kehabisan waktu tapi orang-orang yang entah siapa begitu berani menghalangi langkahnya. Dia akan menembak siapa saja yang keluar tapi ketika melihat dua pria yang turun terlebih dahulu, Gail terkejut dan menurunkan senjata apinya.
"Sir, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Gail karena yang datang adalah bosnya beserta rekan bisnisnya.
"Wow, apa yang kau bawa?" Orland terkejut melihat kepala Loen yang ada di tangan Gail.
"Kepala mantan bosku!" jawab Gail, dia bahkan mengangkat kepala Leon lebih tinggi untuk memperlihatkannya pada Orland.
"Tenyata kau di luar dugaan," Jonathan menghampirinya, sepertinya sang asisten rekan bisnisnya bukan orang biasa.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Gail mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku belum mengucapkan terima kasih padamu karena kau sudah membuat putriku senang," jawab Jonathan.
"Tapi, Sir?" Gail sangat heran. Bagaimana mereka bisa tahu dia berada di sana?
Sesungguhnya saat dia pergi dan mengatakan jika Angela sedang dalam bahaya, Orland tahu ada yang tidak beres. Sebagai orang yang pernah mendapat bantuan dari Gail saat istrinya sedang dalam bahaya tentu saja membuat Orland cemas dan memutuskan untuk kembali dan sebagai orang yang selalu membalas budi baik orang lain, Jonathan Smith juga melibatkan diri.
Mereka segera bergegas sambil meretas cctv untuk melihat apa yang Gail lakukan. Mereka tiba saat Gail sedang menyerang Leon dan begitu melihat Gail pergi dari tempat Leon karena sudah selesai, mereka mengikuti Gail. Keadaan Gail yang sudah babak belur saat ini memang tidak memungkinkan dirinya untuk menyerang Lucius seorang diri.
"Sekarang katakan padaku, siapa yang hendak kau bunuh? Sebagai balas budi karena sudah membuat putriku senang, maka aku akan membantumu mengambil kepala musuhmu!" ucap Jonathan.
"Aku sangat berterima kasih tapi aku tidak mau melibatkan siapa pun apalagi jika sampai ada yang celaka."
"Apa kau meremehkan aku?"
"Tidak, Sir. Aku tahu siapa dirimu, sejak dulu pria ini takut denganmu!" Ucap Gail kembali mengangkat kepala Leon.
"Sepertinya kau cocok menjadi asisten salah satu adikku!" ucap Jonathan bercanda.
"Aku hanya bercanda, Tuan Dmytry. Sepertinya kita bertiga bisa menjadi sahabat baik."
"Oh, tidak. Aku hanya amatiran saja!" walau dia sudah belajar dari Gail tapi dia masih amatiran.
"Terima kasih kalian sudah mau datang, sekarang aku harus menyelamatkan Angela dan Cristal serta mendapatkan kepala orang yang sudah menculik mereka!" ucap Gail karena dia harus cepat.
"Jadi, siapa saja yang akan kau bunuh?" tanya Jonathan.
"Semua yang ada di sana kecuali kedua wanita milikku!"
Jonathan memberikan isyarat pada anak buahnya yang ikut serta, para anak buah sudah berdiri di belakang mereka dengan senjata api di tangan.
__ADS_1
"Kalian dengar, bunuh semua dan selamatkan sandera!" perintah Jonathan.
"Yes, Sir!" jawab semua anak buahnya.
Gail melangkah terlebih dahulu, dia sangat bersyukur ada bantuan karena dia tahu jika dia tidak mampu melawan Lucius seorang diri dengan keadaannya yang sudah babak belur. Sekarang tidak saja mengambil kepala Lucius, tapi dia akan menghancurkan semuanya.
Mereka melangkah maju, para anak buah berada di belakang. Gail berada di tengah, Jonathan di sebelah kanan sedangkan Orland berada di sisi kirinya. Mereka sudah hampir tiba tapi lagi-lagi langkah Gail harus terhenti karena anak buah Leon.
"Apa kalian masih ingin melawanku?" senjata api sudah di arahkan ke arah mereka.
"Tidak, kami datang untuk membantu!" jawab anak buah Leon.
Gail tidak bersuara, dia kembali melangkah mendekati markas Lucius, sedangkan anak buah Leon yang datang bergabung dengan mereka. Di dalam sana, Cristal sudah terbaring pasrah karena dia sudah tidak punya pilihan. Lucius sedang menciumi tubuhnya, Cristal berharap semua segera berakhir.
Air mata mengalir tiada henti\, dia benar-benar tidak tahan dengan semua sentuhan Lucius. Bukan tidak tahan karena na*su tapi dia merasa begitu jijik bahkan dia benci dengan dirinya sendiri yang telah melakukan hal itu. Apa bedanya dirinya dengan seorang ja*ang saat ini?
"Tolong cepat lakukan!" pinta Cristal sambil menutupi wajahnya.
"Kau benar-benar tidak sabar!" Lucius mendekatinya, hendak mencium bibirnya tapi Cristal segera berpaling karena dia tidak mau.
Lucius mengumpat, tapi hal itu tidak penting. Lucius segera turun dari atas ranjang karena dia hendak membuka celananya. Dia tampak buru-buru karena na*su yang begitu tinggi. Cristal sudah tidak mau memikirkan apa pun, dia benar-benar pasrah bahkan dia diam saja saat Lucius kembali mendekatinya.
"Jadilah wanita penurut jika tidak mau putrimu mati!" ucap Lucius,
Cristal tidak menjawab, Lucius sudah siap melakukan perbuatan keji itu namun sebelum hal itu terjadi, dia dikejutkan oleh teriakan seseorang di luar sana yang begitu nyaring.
"Lucius!!"
Lucius terkejut, begitu juga dengan Cristal. Lucius belum juga mengerti dengan situasi namun tiba-tiba sebuah ledakan terjadi dan teriakan anak buahnya disusul dengan suara tembakan terdengar. Umpatannya terdengar, siapa yang berani mengganggu kesenangannya? Akan dia bunuh, siapa pun itu. Lucius hendak beranjak namun hal itu tidak di sia-siakan oleh Cristal sehingga satu tendangan mematikan dia berikan di bagian terlarang milik Lucius.
__ADS_1
Pria itu berteriak kesakitan, Cristal menyambar apa pun yang bisa dia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang telanjang dan berlari keluar namun sayangnya, di balik rasa sakit yang Lucius rasakan, sebuah pistol sudah berada di tangan dan timah panas di tembakan ke arah Cristal. Jika dia tidak bisa memiliki wanita itu maka yang lain juga tidak.