Mantan Mafia With Single Mother

Mantan Mafia With Single Mother
Chapter 54


__ADS_3

Gail kembali tanpa membuang waktu, dia benar-benar marah. Dia harap bosnya mau mengerti dan tidak marah tapi jika bosnya akan memecatnya nanti karena dia pergi begitu saja padahal tugasnya belum selesai maka dia tidak akan keberatan. Yang paling dia pikirkan saaat ini adalah keselamatan Angela dan juga Cristal. Ternyata dugaannya sangatlah tepat.


Dia sudah tidak sabar ingin tahu, dia juga berharap Alston baik-baik saja walau dia tahu sepertinya tidak karena dia harus melawan dua kubu sekaligus. Gail bahkan membeli tiket pesawat dari orang lain yang hendak kembali ke New York. Dia membeli tiket itu dengan harga dua kali lipat. Semua itu tidak jadi masalah yang penting dia bisa kembali dengan cepat.


Lamanya perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih enam jam. Saat pesawat yang dia tumpangi mendarat, waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Gail kembali ke rumahnya dengan terburu-buru. Dia terkejut saat mendapati rumahnya sudah porak poranda. Semua hancur karena ditembaki oleh anak buah Lucius dan Leon.


"Alston!" Gail berteriak memanggil sahabatnya.


Gail melangkah masuk, melewati beberapa mayat yang terkapar di lantai rumahnya. Sebagian mayat-mayat itu adalah anak buah Alston dan sebagian lagi anak buah Lucius dan Leon. Bisa dia lihat jika baku tembak terjadi di rumahnya.


"Angela, Cristal!" Gail berlari menuju kamar, dia harap mereka bersembunyi di dalam kamar dan tidak tertangkap.


Pintu kamar terbuka, kamar juga tampak berantakan. Gail melangkah masuk mencari sana sini tapi dia tidak menemukan siapa pun di kamar itu. Semua lemari pun dibuka, dia harap setidaknya Cristal menyembunyikan Angela di sana tapi tidak ada siapa pun.


Kedua tangan sudah mengepal erat, amarah semakin memenuhi hati. Gail melangkah keluar, dia ingin mencari Alston untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Alston mungkin ada di rumahnya jika dia tidak terbunuh tapi bagaimana jika dia sudah mati?


"Alston!" Gail kembali berteriak. Suaranya sampai menggema di dalam ruang yang sudah porak poranda.


Alston yang sudah terluka parah terbangun saat mendengar teriakan Gail. Dia kira dia sudah mati akibat luka tembak yang dia dapatkan tapi ternyata dia masih hidup namun keadaannya sudah lemah akibat kehabisan darah.


"Alston!" Gail kembali berteriak sambil melangkah mengikuti ceceran darah di atas lantai.

__ADS_1


Sebuah pistol sudah berada di tangan, bagaimanapun dia harus waspada karena bisa saja masih ada musuh yang tersisa dan menembaknya secara tiba-tiba. Gail masih terus mengikuti ceceran darah yang mengarah ke ruang tamu. Pistol diangkat, dia benar-benar waspada.


"Alston," Gail kembali memanggil sahabatnya.


"Ga-Gail," terdengar suara Alston memanggilnya dengan lemah.


Gail segera berlari menuju ke arah datangnya suara. Alston terbaring di atas lantai dengan genangan darah yang sudah mengering di sisinya. Gail terkejut melihatnya, sungguh dia sangat marah melihat keadaan sahabatnya.


"Apa yang terjadi, Alston?" senjata api diletakkan di atas lantai, Gail berlutut di sisi Alston.


"Maafkan aku, Gail. Aku membawa seorang pengkhianat yang telah membocorkan semuanya pada Lucius dan Leon."


"Ya, semua karena kelalaianku tapi aku sudah menghabisinya," ucap Alston. Siapa yang akan menduga jika salah satu anak buahnya mengenal anak buah Lucius? Kepergian Gail dan semua informasi yang ada dijual pada anak buah Lucius. Sebab itulah anak buah Lucius bisa mendapatkan informasi akan kepergian Gail ke Califronia.


"Apa yang terjadi, Alston. Ke mana Angela dan Cristal?"


"Maafkan aku," Alston berhenti sejenak. Walau dia mati tidak jadi soal yang penting Gail tidak salah paham sehingga membencinya, "Aku tidak bisa mencegah saat mereka membawanya pergi," ucap Alston lagi.


Dia juga tidak menyangka akan diserang saat mereka sedang tidur dengan nyenyak. Alston bahkan terkejut saat orang-orang Lucius dan Loen menyerang mereka. Sebab itu dia terpukul kalah tapi dia masih bisa membunuh di pengkhianat yang tiba-tiba berdiri di pihak musuh.


"Tidak perlu minta maaf, aku akan membawamu ke rumah sakit," Gail hendak beranjak namun Alston menahan tangannya.

__ADS_1


"Tidak, Gail. Jangan membuang waktu!" Gail kembali memandanginya, Alston tampak sudah tidak bisa tertolong lagi.


"Aku kira aku sudah mati, tapi sepertinya aku diberi kesempatan untuk bertemu denganmu agar kau tidak salah paham dan tidak membenciku. Aku... Aku," ucapan Alston terhenti.


"Jangan banyak bicara! Sebaiknya aku membawamu ke rumah sakit."


"Se... Selematkan mereka, Gail. Selamatkan...," Alston mencengkeram lengan Gail dengan erat.


"Alston," Gail memanggil, mata Alston sudah tampak naik ke atas dan tidak lama kemudian, cengkeraman tangan Alston terlepas dan kepalanya jatuh ke samping.


Gail diam saja, tidak perlu mencari tahu dengan susah payah yang pasti dia sudah tahu apa yang telah terjadi di sana. Kemarahan semakin memenuhi hatinya, dia sungguh tidak terima Alston harus menjadi korban padahal pria itu hanya membantunya saja. Mata Alston yang masih melotot diusap agar menutup. Tangan Gail gemetar karena amarah, pistol yang ada di atas lantai diambil dan setelah itu Gail beranjak. Dia masih berdiri di sisi Alston yang sudah tidak bernyawa, kedua tangan mengepal dengan erat bahkan darahnya terasa berdesir di otaknya. Tidak akan dia maafkan, Leon Pierce dan Lucius, tidak akan dia maafkan.


"Aku akan membalas kematianmu, Alston. Mereka berdua akan menemanimu di neraka nanti!" setelah berkata demikian, Gail melangkah pergi menuju kamarnya.


Kamarnya terlihat baik-baik saja, sepertinya anak buah Lucius dan Leon tidak masuk ke dalam kamarnya. Bagus, semua senjata aman. Gail mengganti baju yang dia gunakan dan setelah itu dia melangkah menuju lemari dan menarik sebuah tuas yang tersembunyi sehingga sebuah pintu ruangan rahasia terbuka.


Dalam ruangan itu dipenuhi dengan senjata api. Layaknya seseorang yang hendak pergi ke medan perang, Gail mengambil beberapa senjata yang dia miliki. Dua pisau berada di pinggang, dua pedang pendek berada di punggung. Tidak saja benda tajam, dua senjata api laras panjang berada di punggung. Belum juga cukup, beberapa pistol berada di pinggang tapi itu masih tidak juga cukup. Ratusan peluru di selempangkan ke dada, dua senjata otomatis diambil dan beberapa peledak di masukkan ke dalam kantong celana. Dua tas juga diisi dengan senjata api sampai penuh.


Dia hanya seorang diri melawan Lucius dan Leon, dia tahu tidak akan mudah sebab itu dia memerlukan semua sumber daya yang dia miliki untuk melawan dua kubu itu. Sekarang, dia harus kembali menempuh jalan yang sudah dia tinggalkan.


Walau dia tidak pernah mau kembali ke jalan itu lagi, tapi Lucius dan Leon memaksanya untuk kembali. Dia akan membunuh mereka semua, tidak akan dia sisakan walau satu orang pun. Setelah semua sudah siap, Gail keluar dari kamar dengan dua tas penuh senjata api di tangan, seluruh tubuh pun dipenuhi dengan senjata api. Sepertinya Leon dan Lucius meremehkan dirinya, akan dia tunjukkan pada mereka jika dia bisa membunuh mereka walau dia hanya seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2