
Setelah berpisah dengan Gail, Jonathan dan Orland bergerak ke arah kanan bersama dengan anak buahnya. Mereka mencari sandera walau mereka tidak pernah melihat rupa sandera tapi beruntungnya Orland pernah bertemu dengan Angela.
Mereka juga dihadang oleh anak buah Lucius, para anak buah itu sudah mendapat tugas untuk membunuh siapa saja yang masuk ke dalam. Sebab itu mereka sudah siap menyambut musuh.
Orland yang masih amatiran tidak terlihat takut. Lagi pula dia sudah pernah melewati hal seperti itu saat menyelamatkan istrinya. Dia justru menjadi tertantang melakukan aksi itu walau berbahaya. Selama ini dia hanya sebagai pembisnis biasa, dia justru bersemangat apalagi dia tidak akan selalu melakukan hal berbahaya seperti itu.
Mereka berdua melangkah maju sambil menembak musuh. Tentunya anak buah Jonathan melindungi mereka karena mereka berdua tidak bersembunyi atau apa pun. Mereka bahkan berdiri bersama-sama sambil menembaki musuh yang menembaki mereka dari persembunyian.
"Apa kau pernah membunuh orang sebelum ini, Tuan Dmytry?" tanya Jonathan sambil menembak karena dia tahu Orland hanya pembisnis biasa.
"Tentu saja pernah, Tuan Smith. Walau aku amatiran tapi aku pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya," Orland juga menembak, sungguh sangat menyenangkan. Semoga Cristin tidak tahu apa yang dia lakukan saat ini.
"Wow, benarkah?"
"Yeah, waktu itu aku harus menyelamatkan istriku, tentunya Gail yang membantu dan mengajari aku untuk membunuh pertama kalinya."
"Di mana kau mendapatkan asistenmu itu? Dia pasti bukan orang biasa, bukan?"
"Aku menemukannya di jalan, dia bagaikan kucing yang baru saja kalah berkelahi karena kalah memperebutkan kucing betina!"
Jonathan terkekeh, mereka berbicara sambil menembak. Mereka bahkan saling melindungi. Anak buah Lucius mulai kesal, mereka tidak bisa mengenai musuh sama sekali karena setiap kali mereka berusaha menembak, mereka selalu di hujani oleh timah panas.
"Jadi kira-kira seperti apa sandera yang harus kita selamatkan?" tanya Jonathan.
"Yang aku tahu seorang gadis kecil seusia putrimu."
"Baiklah, kita temukan gadis itu dan habisi mereka semua lalu kita kembali membahas bisnis!"
__ADS_1
"Deal," jawab Orland.
Aba-Aba diberikan oleh Jonathan, dia dan Orland sepakat untuk berpencar. Anak buahnya juga memecah diri menjadi dua kelompok. Satu kelompok mengikutinya dan satu kelompok mengikuti Orland. Bangunan yang cukup besar tidak memungkinkan mereka untuk bersama, jangan sampai saat mereka menemukan Angela, gadis itu sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Suara tembakan dari ruangan lain terdengar, itu suara tembakan dari senjata otomatis yang dipasang oleh anak buah Lucius untuk menghabisi Gail. Setelah suara tembakan, terdengar pula suara ledakan sampai-sampai mereka bisa merasakan getaran akibat ledakan tersebut.
Orland melangkah maju sambil menembak, Jonathan juga melakukan hal yang sama. Dua anak buah Lucius sudah siap menghadang mereka dengan senjata otomatis, senjata itu akan menembak dengan kecepatan tinggi dan akan menembakkan puluhan timah panas dalam hitungan detik saja.
Kedua anak buah itu akan mencegat mereka di sebuah lorong, lorong itu adalah jalan yang akan membawa mereka ke tempat di mana Angela berada. Di dalam ruangannya, Angela terus berteriak dan menangis. Angela sangat takut, apalagi ibunya tidak kunjung kembali.
"Mommy, Angela takut. Uncle, kenapa belum datang!" teriaknya. Tangan kecilnya menutup kedua telinga karena suara tembakan yang terus terdengar.
Suara teriakan Angela dapat didengar oleh Orland dan Jonathan walau samar. Mereka menuju ke arah datangnya suara, mereka yang tadinya sepakat untuk berpencar kini kembali bergabung. Mereka melangkah dengan terburu-buru dia mana suara Angela semakin terdengar dengan jelas. Tentunya mereka sangat berhati-hati namun setelah mereka semakin dekat, dua orang pria berbadan besar berdiri di ujung lorong dengan dua senjata otomatis yang mematikan.
"Sial, sembunyi!" teriak Jonathan namun mereka sudah di hujani dengan timah panas.
Mereka akan menghampiri musuh lalu menghabisi mereka. Mereka tidak akan bisa lari dari timah panas yang terus di tembakan, kedua pria itu pasti akan mati bersama dengan anak buahnya. Suara dentingan selongsong peluru kosong yang berjatuhan di atas lantai terdengar, suara langkah kaki kedua orang itu pun semakin terdengar mendekat.
Orland dan Jonathan saling pandang, mereka berdua butuh rencana karena saat kedua orang itu sudah mencapai mereka maka mereka semua akan menjadi sasaran empuk dari timah panas yang tidak juga berhenti di tembakan.
Derap langkah kaki semakin terdengar mendekat begitu juga suara dentingan selongsong peluru kosong yang jatuh ke atas lantai. Dengan bahasa isyarat, Orland bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang? Keluar mati, tidak keluar juga akan mati. Hanya menunggu waktu saja tapi selama ada kesempatan, mereka bisa membuat sebuah rencana yang matang.
Jonathan sedang berpikir, sangat disayangkan dia tidak membawa senjata peledaknya yang canggih. Jika saat ini berada di California, kedua orang itu tidak akan bisa menembak lebih lama. Dia pastikan itu. Tapi bukan berarti dia akan kehabisan akal. Dia juga membawa sesuatu, sudah saatnya menggunakan benda itu untuk uji coba.
Sebuah bola yang berbentuk kelereng di keluarkan dari saku celana, Orland menatapnya heran. Jangan katakan Jonathan ingin bermain kelereng dalam situasi seperti itu karena itu tidaklah lucu. Jonathan memandangi Orland dan memperlihatkan kelereng itu, dia juga mengatakan pada Orland jika benda itu akan meledak dengan isyarat tangan. Orland mengangguk, benda kecil yang sangat berbahaya.
Kedua anak buah Lucius masih menembak, Jonathan berjongkok dan setelah itu tombol kecil yang ada di kelereng di tekan. Kelereng itu seperti magnet, benda itu akan tertarik dengan sendirinya menuju objek seperti besi. Kelereng di letakkan di atas telapak tangan, benda itu seperti mencari objek besar yang bisa ditempeli dan karena kedua senjata otomatis yang dibawa anak buah Lucius terbuat dari material besar jadi kelereng itu langsung tertarik ke arah senjata api dan menempel di benda itu.
__ADS_1
Anak buah Lucius tidak menyadari, suara tembakan membuatnya tidak sadar jika dentingan kecil akibat benturan sebuah benda terdengar. Dia terus menembak dan melangkah maju namun suara yang berbunyi 'biipp' membuatnya heran.
Tembakan dihentikan namun sayang sudah terlambat dan sebelum menyadari keberadaan bom yang berbentuk kelereng itu, ledakan dahsyat terjadi. Senjata api hancur, tubuh sang anak buah Lucius juga hancur dan berserakan di mana-mana. Rekannya yang lain terkejut, pada saat itu pula Jonathan dan Orland keluar menyerang bersama dengan anak buahnya.
Mereka terus melangkah maju dan menembak, dalam sekejap mata mereka sudah menguasai situasi. Anak buah Lucius kalah telak sehingga mereka bisa menyelamatkan Angela. Gadis itu ketakutan namun ketika melihat Orland, Angela berlari ke arahnya dan memeluk kakinya sambil menangis.
Tentunya hal itu membuat Orland iba. Angela digendong, dia juga mencoba menghibur tapi siapa yang menyangka tiba-tiba saja anak buah Lucius masuk ke dalam. Pria itu tidak berkutik, ludah ditelan dengan susah payah. Dia diancam sehingga mau tidak mau dia mengantarkan Jonathan dan Orland di mana Lucius berada.
Lucius masih tertawa terbahak, dia benar-benar senang melihat kekalahan Gail. Sebentar lagi pria itu akan menjadi pecundang karena kematian Cristal dan putrinya tapi sebelum itu dia akan membuat sebuah pertunjukan terlebih dahulu.
"Jika kau ingin dia hidup, potong salah satu lenganmu dan lemparkan kemari, Gail Bernard!" teriak Lucius.
"Jangan, Gail. Jangan lakukan!" pinta Cristal memohon. Jika mereka berdua mati, lalu bagaimana dengan putrinya?
"Diam kau!" teriak Lucius seraya memukul wajah Cristal menggunakan gagang pistol.
Gail semakin marah, rasanya ingin segera menembak Lucius tapi dia masih berusaha menahan diri mengingat Cristal dan Angela masih berada di tangan Lucius. Sebuah pedang di lemparkan ke bawah kaki Gail, dia harus memotong satu tangannya menggunakan pedang itu.
"Lakukan!" teriak Lucius.
Gail tidak bergeming namun dia melihat sesuatu, sesuatu seperti sebuah isyarat. Gail memungut pedang yang ada di bawah kaki, Cristal berteriak sambil menangis agar Gail tidak melakukannya.
"Jangan lakukan, Gail. Jangan!" teriaknya.
Gail melihat ke arah Cristal, dia tahu Cristal pasti ketakutan tapi dia melakukan hal itu untuk mengecoh Lucius.
"Lakukan sekarang dan lihat baik-baik pria yang kau pilih, dia tidak lebih dari pada seorang pecundang!" Lucius memegangi dagu Cristal dan memaksanya melihat ke arah Gail. Cristal menenangis terisak. Gail sudah mengayunkan pedangnya. Cristal memejamkan mata, dia sungguh tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Lucius tersenyum lebar, pada akhirnya dialah pemenang dari pertarungan itu. Seperti yang dia duga, Gail bukanlah apa-apa dan sekarang, dia akan menikmati kekalahan pria itu.
__ADS_1
#Aks Jonathan segini aja ya, ntar bagian seru di kisahnya pas lagi aksi sama istri kedua. wkwkwkkw....#