Mantan Mafia With Single Mother

Mantan Mafia With Single Mother
Chapter 56


__ADS_3

Gail masih berada di tempat persembunyian, dia sudah dikepung oleh anak buah Leon. Tawaran yang diberikan oleh Leon sangat menggiurkan, jika dia tidak mengenal siapa Leon Pierce mungkin dia akan sangat tergiur dengan tawaran yang diberikan oleh Leon tapi dia tahu siapa Leon.


Di balik tawaran menggiurkan yang dia berikan, ada sebuah rencana licik yang tersimpan. Dia tahu Leon tidak akan sebaik itu dan tidak akan sebodoh itu memberikan tawaran tanpa adanya maksud tersembunyi.


"Keluarlah, Gail. Kita bicara baik-baik jika tidak kau harus melewati mereka semua seperti yang pernah kau lakukan dulu!" ucap Leon.


Gail menghela napas, dia sudah berada di sana maka dia tidak akan mundur sekalipun yang harus dia lewati lebih dari dua puluh lima orang. Senjata api diangkat dan setelah itu Gail melangkah keluar. Dia disambut dengan puluhan senjata api yang terarah tepat ke arahnya. Anak buah Leon tidak saja dua puluh lima orang tapi lebih dari pada itu.  Tiga puluh lima, empat puluh yang pasti lebih dari pada itu dan mereka semua mengepungnya dengan senjata api di tangan.


Gail juga mengarahkan senjata apinya tapi dia mengarahkan senjata apinya tepat ke arah Leon Pierce. Gail menatap pria itu dengan tatapan penuh kebencian, hidup atau mati, hanya dua pilihan yang ada dan dia datang bukan sebagai pengecut.


"Kau sungguh mengecewakan aku, Leon!" ucap Gail.


"Aku melakukan hal ini karena aku ingin kau kembali ke organisasi dan menjadi penggantiku."


"Sudah aku katakan, aku tidak berminat! Aku sudah tidak ingin membunuh siapa pun lagi tapi beraninya kau memaksa aku kembali ke jalan yang sudah aku tinggalkan?" Gail sudah hendak menembak Leon tapi para anak buah Leon menghalangi dan mengangkat senjata api mereka lebih tinggi.


"Kenapa, apa hanya karena satu wanita saja sudah membuatmu seperti ini? Jangan membuat malu, Gail. Begitu banyak wanita di muka bumi ini jadi jangan hanya gara-gara satu orang wanita saja sudah membuatmu menjadi seperti seorang pecundang!"


"Kaulah yang pecundang!" teriak Gail lantang. Api kemarahan semakin menguasai hati, rasanya ingin berlari ke arah Leon lalu menebas kepalanya.


"Aku tidak ingin berdebat denganmu, Gail. Jadi buatlah keputusan yang tepat. Apakah kau mau menerima tawaran yang aku berikan atau tidak?!"

__ADS_1


"Bagaimana jika aku menolak, Leon. Sejak awal aku sudah menolak jadi sampai kapanpun aku akan menolak. Apa yang mau kau lakukan, apa kau ingin membunuhku?"


"Jika memang demikian, aku akan memerintahkan Lucius untuk membunuh anak dari wanita itu karena dia juga tidak menginginkan anak itu!"


"Jangan pernah menyentuh Angela karena kau akan menyesal nanti!" teriak Gail penuh emosi.


"Oh, ternyata dia kelemahanmu. Sekarang juga buat pilihan, jika tidak aku akan menghubungi Lucius untuk membunuhnya!"


"Jangan coba-coba, Leon!" teriak Gail lagi.


"Jadi, apa keputusanmu?"


"kau sudah sangat kelewatan, Leon!" senjata api dilemparkan ke samping lalu dua pedang yang ada di punggung di tarik.


"Turunkan senjata kalian dan lawan aku, Leon ingin aku menjadi penerusnya jadi kalian harus mengetes apakah aku mampu atau tidak menjadi pemimpin kalian selanjutnya. Jika aku kalah dalam pertempuran ini berarti aku tidak layak dan aku siap mati. Kalian pasti tidak ingin memiliki pemimpin yang lemah, bukan?"


Semua anak buah Leon saling pandang. Bos mereka memang menginginkan pria itu menjadi penerusnya dan apa yang dikatakan oleh Gail sangat benar. Mereka harus tahu bagaimana kemampuan pemimpin baru mereka kelak. Secara serempak senjata api diturunkan, para anak buah Leon mengambil tongkat yang akan mereka gunakan untuk melawan Gail.


"Jadi kau ingin menggunakan cara lama, Gail?" tanya Leon mencibir.


"Jagalah kepalamu baik-baik, Leon. Aku bukan orang yang suka barang gratis. Jika aku menginginkan posisimu maka aku akan membunuhmu untuk mendapatkannya!" hanya dengan cara ini dia bisa membunuh Leon walau dia harus melawan puluhan anak buahnya yang memegang tongkat tapi itu lebih baik dari pada melawan puluhan senjata api yang sudah pasti dia tidak mungkin akan menang.

__ADS_1


"Maju, yang dapat mengalahkannya akan mendapat hadiah dariku!" Leon memerintahkan sebagian anak buahnya untuk maju. Gail tidak akan bisa melawan puluhan anak buahnya, dia yakin itu.


Tanpa membuang waktu, teriakan anak buahnya terdengar. Mereka berlari ke arah Gail dengan tongkat berada di tangan. Gail juga berlari ke arah puluhan anak buah Leon, dia seperti kembali ke masa lalu tapi kali ini berbeda. Tujuannya tidak sama seperti dulu, dia tidak peduli akan jadi apa pada akhirnya karena yang dia inginkan hanya kepala Leon Pierce.


Melawan puluhan anak buah Leon tidaklah mudah. Suara benturan tongkat besi dan juga pedang yang saling beradu terdengar. Gail terus menyabetkan pedangnya ke arah anak buah Leon, dia juga menangkis setiap pukulan yang diberikan oleh anak buah Leon.


Leon meminta sebuah kursi pada anak buahnya yang tidak ikut bertarung, dia akan menjadi penonton seperti dulu tapi kini dia akan menyaksikan kekalahan Gail.


Gail tampak kewalahan menangkis pukulan yang diberikan oleh anak buah Leon. Pukulan demi pukulan dia dapatkan, lengan, bahu dan juga bagian tubuh lainnya tidak luput dari pukulan tongkat anak buah Leon bahkan beberapa tendangan dia dapatkan. Dia benar-benar di keroyok tapi walau begitu, dua pedangnya sudah berlumuran darah karena beberapa anak buah Loen sudah terkapar di atas lantai akibat sabetan mata pedangnya yang tajam.


Gail melangkah mundur dan terengah-engah, keringat sudah mengalir di dahi, bajunya bahkan sudah basah akibat keringat. Anak buah Leon juga sama, mereka juga terengah-engah. Ternyata tidak mudah melawan pria itu padahal dia seorang diri bahkan beberapa rekan mereka sudah terkapar di atas lantai.


"Bagaimana, Gail. Apa kau sudah menyerah?"


"Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupku!" Kedua pedang kembali terangkat dan setelah itu dia kembali berlari ke arah anak buah Leon. Dia harus cepat dan menyelesaikan semua ini lalu pergi menyelamatkan Cristal dan Angela. Dia harap mereka baik-baik saja.


Gail menangkis setiap pukulan tongkat dengan membabi buta. Tekad yang kuat membuatnya seperti itu. Dia bahkan mengabaikan rasa sakit akibat pukulan tongkat yang diberikan anak buah Leon. Pedangnya kembali menyabet sana sini, membuat anak buah Leon berguguran. Dia terus maju membuat musuhnya terdesak. Leon mulai cemas melihatnya, jika terus seperti ini maka Gail akan menang dan para anak buahnya yang tersisa bisa langsung berpihak pada Gail.


Suara benturan benda tajam dan benda tumpul memenuhi ruangan. Leon meminta anak buahnya yang tersisa untuk bersiap dengan senjata api. Jika Gail bisa melawan anak buahnya yang sedang bertarung dengannya saat ini maka anak buah yang lain akan menyambutnya dengan senjata api.


Anak buahnya terus terdesak, darah dan keringat sudah membanjiri dahi. Gail berdiri dan sudah terlihat kelelahan, Leon memerintahkan tiga anak buahnya yang lain mengambil tongkat. Ketiga anak buahnya berlari ke arah Gail, mereka langsung menyerang. Dengan kondisinya yang sudah kelelahan, Gail kewalahan menangkis serangan mereka apalagi ketiga orang itu masih memiliki banyak tenaga.

__ADS_1


Pukulan demi pukulan kembali dia dapatkan tapi yang paling fatal adalah, sebuah pukulan keras menghantam bagian belakang kepalanya. Gail terkejut, tubuhnya tumbang ke arah depan dengan pandangan buram. Darah mengalir dari luka di kepalanya, Leon tampak puas melihatnya. Dia menang, dia sudah menang. Cara yang sedikit licik tapi dia sudah menang.


__ADS_2