
Lucius tidak melepaskan tatapan matanya dari mangsa yang sudah sangat dia inginkan. Tubuh Cristal yang setengah telanjang saat sedang menari striptis membayanginya. Lekukan tubuh indahnya dan dua dadanya yang berisi juga membayanginya.
Rasanya sudah tidak sabar untuk kembali melihat dua benda indah itu lalu menyentuhnya dan menikmatinya. Api gairah semakin berkobar, Lucius bahkan meneguk minumannya sampai habis akibat dahaga yang dia rasakan tapi dahaga itu tidak bisa dilegakan dengan minuman.
"Kenapa tidak juga membuka bajumu, apa kau ingin melihat satu anggota tubuh putrimu berada di sini?" tanya Lucius.
"Bu-Bukan begitu, kau lihat," Cristal menunjukkan kedua tangannya yang masih terborgol.
"Kau ingin aku melepaskan pakaianku tapi bagaimana aku bisa melakukannya sedangkan tanganku terborgol seperti ini," ucapnya lagi.
"Oh, kenapa kau tidak bilang sejak tadi?" Lucius beranjak dan melangkah mendekatinya.
Cristal berusaha bersikap tenang, dia harus bisa mengulur waktu sebisa mungkin. Rantai borgol ditarik sehingga tubuh Cristal mendekat. Tatapan mata Lucius tidak berpaling dari wajahnya, tatapan matanya bahkan turun ke bawah di mana Cristal hanya menggunakan pakaian tidur saja.
"Akhirnya aku mendapatkanmu, Cristal Aaron. Jika kau tidak menolak tawaranku waktu itu, ibu mertuamu tidak akan mati bahkan aku akan membiayai pengobatannya. Kau dan putrimu juga tidak akan mengalami hal seperti ini. Salahkan dirimu yang lebih memilih Gail Bernard dari pada memilihku!" ucap Lucius.
"Sejak awal aku bukan ja*ang, kau hanya pria yang terobesi dan rela melakukan apa saja!" Cristal menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Salahkan dirimu yang begitu menggoda!" Lucius mengusap wajahnya, Cristal segera berpaling dengan perasaan jijik.
"Kau tidak perlu membunuh ibu mertuaku, bukan? Dia sudah tua, tidak salah apa-apa tapi kenapa kau membunuhnya dengan racun? Aku sungguh tidak terima dengan perbuatan yang kau lakukan ini!"
"Sudah aku katakan!" rantai kembali ditarik sehingga tubuh Cristal semakin tertarik. Kedua kakinya bahkan sudah berjinjit, jarak wajahnya dan wajah Lucius semakin dekat bahkan ujung hidung mereka sudah hampir menyentuh.
"Semua salahmu, Cristal! Aku tidak akan membunuh wanita tua itu jika kau bersedia menjadi pemuas nafsuku sejak awal!"
Cristal menatapnya dengan penuh kebencian dan karena amarah, Cristal meludahi wajah Lucius. Pria itu pantas mendapatkannya bahkan dia merasa sangat ingin memukul wajahnya sampai puas. Mata Lucius terpejam saat ludah menyembur ke wajahnya, wanita itu benar-benar begitu berani dan tidak mengenal situasi.
"Beraninya kau meludahi wajahku?!" teriak Lucius marah. Tubuh Cristal didorong namun pegangan rantai tidak dilepaskan dan setelah itu, dua pukulan keras didapatkan oleh Cristal di wajahnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak mengerti situasi, Cristal Aaron!" teriaknya dan lagi-lagi Cristal mendapatkan pukulan keras di wajahnya.
Teriakan Cristal terdengar, wajahnya terasa sangat sakit. Dia merasa wajahnya seperti ditempeli oleh benda panas, darah bahkan mengalir dari bibirnya yang robek. Sakit, tapi dia berusaha menahannya. Bagaimanapun dia harus mengulur waktu sampai Gail datang menyelamatkan mereka tapi bagaimana jika Gail tidak datang?
Bisa saja saat ini Gail masih berada di California tanpa tahu apa yang terjadi karena tidak ada yang memberitahunya. Sebelum mereka dibawa ke tempat itu, dia melihat Alston mendapat banyak tembakan dan dia sangat yakin pria itu tidak bisa tertolong lalu bagaimana jika Gail tidak tahu apa pun mengenai kejadian itu?
"Apa kau masih berani melakukannya?" tanya Lucius dengan sinis.
Cristal menggeleng dengan air mata berderai. Sepertinya dia sudah tidak memiliki jalan lain lagi. Dia juga tidak bisa menghubungi Gail. Tapi dia tidak boleh menyerah, dia harus bisa melawan dan membawa Angela pergi bagaimanapun caranya.
"Jika sekali lagi kau berani melakukannya?" rantai borgol ditarik sehingga Cristal kembali mendekat, "Aku tidak ragu memerintahkan anak buahku untuk memotong satu tangan putrimu dan membawanya ke sini!" ancam Lucius.
"Jangan, jangan lakukan! Aku minta maaf, aku terbawa emosi karena kau membunuh ibu mertuaku!" pinta Cristal sambil menangis.
"Bagus, jangan membuang waktuku!" kunci borgol diambil dari saku celana dan setelah itu borgol yang membelenggu tangan Cristal dibuka.
"Jangan coba-coba melakukan sesuatu yang sia-sia karena aku tidak main-main dengan perkataanku!" ancam Lucius.
"Aku sudah tidak punya pilihan, memangnya apa yang bisa aku lakukan?" Cristal memalingkan wajahnya.
"Jika begitu segera buka! Jika kau tidak mau membukanya maka aku akan membukanya dengan paksa!" ucap Licius seraya memegangi dagu Cristal.
Cristal mencari akal, dia harus menemukan cara untuk mengulur waktu walau kemungkinan Gail akan datang menyelamatkan mereka hanya satu persen saja tapi dia harus menaruh harapan pada satu persen kemungkinan itu.
"Sebelum kita melakukan hal itu, bukankah lebih baik aku mandi terlebih dahulu?" Cristal memeluk lengannya dan berpaling. Wajahnya bahkan merona, dia harus mencoba menggoda Lucius walau sesungguhnya dia sangat muak dan jijik.
"Jangan coba-coba mencari kesempatan untuk kabur, Cristal Aaron!"
"Kabur? Ke mana aku akan pergi sedangkan putriku berada di tanganmu? Aku hanya belum mandi dari semalam jadi aku rasa lebih baik aku mandi terlebih dahulu agar kau bisa menikmati tubuhku tanpa mencium sesuatu yang tidak kau sukai," ucapnya. Cristal memberanikan diri mengusap wajah Lucius agar pria itu yakin dan mengijinkannya mandi karena peluang sekecil apa pun akan dia manfaatkan.
__ADS_1
"Hng, awas jika kau berani melakukan sesuatu atau melarikan diri. Aku akan langsung membunuh putrimu!" ancam Lucius.
"Sudah aku katakan, aku sudah tidak memiliki jalan lain lagi. Bukankah kau bisa melihatnya, aku sudah tidak bisa lari darimu!"
"Baiklah, mandilah yang bersih. Aku akan menunggu. Lagi pula tidak ada yang akan mengganggu kesenangan kita!"
"Asal kau memperlakukan putriku dengan baik maka aku akan memuaskan dirimu."
"Bagus!" Lucius menunjukkan kamar mandi untuk Cristal. Sesungguhnya dia sudah tidak sabar tapi membiarkan wanita itu mandi bukanlah pilihan buruk. Sambil menunggu, dia ingin tahu apakah Gail sudah mendatangi Leon atau belum.
Ponsel Leon berbunyi, seseorang menjawabnya dan dia adalah tangan kanan Leon Pierce. Setelah ditinggal pergi oleh Gail, mereka semua membereskan rekan mereka yang sudah mati dan mengobati yang terluka akibat tebasan pedang Gail. Tubuh Leon dan Putrinya juga mereka bereskan.
Bangunan yang runtuh akan mereka bangun kembali karena mereka akan bersiap-siap menyambut pemimpin baru mereka nanti.
"Ada apa, Tuan Lucius?"
"Di mana Leon, kenapa kau yang menjawab teleponnya?" tanya Lucius.
"Maaf, Tuan Leon sedang sibuk. Aku memang selalu ditugaskan untuk menjawab telepon miliknya jika dia sedang sibuk," dusta sang asisten.
"Baiklah, sekarang katakan padaku. Apakah Gail Bernard datang ke sana?" dia harus tahu akan hal ini. Jangan sampai tiba-tiba Gail sudah mendatanginya.
"Tidak!" sang asisten kembali berdusta.
Lucius merasa heran, apa Gail tidak tahu apa yang terjadi? Itu mungkin saja karena anak buahnya membantai semua yang ada di rumahnya. Bagus, itu sangat bagus. Saat Gail sudah kembali dia hanya akan mendapati rumahnya yang porak poranda. Dengan begini tidak ada yang mengganggu dirinya untuk menikmati tubuh Cristal Aaron.
Ini benar-benar keuntungan untuknya tapi sayangnya saat itu Gail sudah tiba di markasnya, mobil dihentikan agak jauh agar tidak ada yang tahu kedatangannya. Keadaannya sudah lebih baik setelah beristirahat sebentar. Dia tidak takut mati asalkan dia bisa menyelamatkan Cristal dan Angela. Dia harap mereka berdua baik-baik saja terutama Angela.
Semua senjata yang dia bawa diambil, Gail melengkapi dirinya dengan perlengkapan senjata api dan setelah itu, kepala Leon diambil.
__ADS_1
Sambil membawa kepala Leon dan satu senjata otomatis, Gail melangkah menuju markas Lucius namun langkahnya harus terhenti karena tiba-tiba saja beberapa mobil berhenti di hadapannya. Senjata otomatis diangkat, dia akan menghabisi siapa saja yang berani menghalangi langkahnya.