Mawar Untuk Deka

Mawar Untuk Deka
part.10 ( keberanian )


__ADS_3

🌹🌹🌹


Kandungan Reva memasuki bulan ke 8, kalau semua baik kurang lebih sebulan lagi Reva akan melahirkan. Reva sudah merasa tidak nyaman saat tidur, terkadang merasakan kram perut yg membuatnya meringis menahan sakit, ditambah lagi bayi di dalam perut Reva yg sangat aktif, membuat Reva merasa lebih cepat lelah. Reva menahan semuanya sendiri, tidak sekalipun dia mengeluhkan kepada Bayu. Setiap kali ditanya jawaban Reva selalu baik-baik saja.


Hari ini Bayu berulang tahun yg ke 30, tadi sewaktu sarapan pagi, Reva sengaja tidak mengucapkan selamat karna dia berencana membuat kejutan untuk Bayu di sore harinya.


Reva memesan sebuah cake ulang tahun di sebuah online shop, memasak menu kesukaan Bayu, dan sebuah kado yg dibelinya tadi siang di sebuah Mall yg tidak jauh dari tempat tinggalnya.


Suara mobil Bayu berhenti di halaman, Reva yg mengintip dari jendela, segera menyiapkan semua di meja, Reva lalu berdiri di depan pintu menyambut Bayu.


"Sudah pulang Mas". Reva mengambil tas kerja dari tangan Bayu, sementara Bayu hanya tersenyum, mengacak rambut Reva, lalu berjalan masuk.


Sampai di dapur Bayu dibuat terkejut dengan adanya sebuah cake ulang tahun dengan lilin yg sudah menyala diatasnya, ada beraneka macam makanan di sebelahnya.


"Selamat Ulang tahun Mas". Bayu menoleh ke arah Reva yg sudah berdiri di sebelahnya, Reva menarik tangan Bayu mendekat ke meja makan.


"Semoga Mas Bayu panjang umur, sukses dan makin sayang sama keluarga". Reva mengutarakan doanya. Bayu masih menatap Reva tak percaya. Reva mengingat ulang tahunnya dan menyiapkan kejutan kecil untuknya.


"Ayo Mas ditiup lilinnya, tapi berdoa dulu". Bayu memejamkan mata cukup lama, hal itu tentu saja membuat Reva sedikit berdebar, pesona Bayu saat memejamkan mata membuat Reva harus mengalihkan pandangannya.


Bayu meniup lilin, lalu membuka kado yg diberikan Reva, sebuah jam tangan bermerk yg harganya pasti lumayan merogoh kocek.


"Trimakasih Va, tapi nggak seharusnya kamu beliin aku jam semahal ini, bahkan uang belanjaku ke kamu nggak sebanyak harga jam tangan ini". Bayu masih mengamati jam tangan itu.


"Itu nggak mahal kok Mas, kebetulan ada iklan promo buat merk dan model itu, jadi langsung aku beli". Bayu tersenyum mendengar jawaban Reva.


"Anak konglomerat suka barang promo juga rupanya". Bayu terkekeh sambil mengacak rambut Reva. Reva ikut tersenyum melihat Bayu tertawa.


"Boleh tahu nggak tadi Mas Bayu berdoa apa?". Tanya Reva.


"Rahasia". singkat bayu sambil menyendokan makanan ke mulutnya.


"Mas Bayu pelit". Reva memanyunkan mulutnya.


"Kalau aku kasih tahu memang kamu bisa ngabulin doaku?".


"Tergantung doanya Mas Bayu". Lanjut Reva.


Bayu menghela nafas.


"Aku minta doa supaya Deka cepet sembuh".


Bayu menatap Reva.


"Cuma itu? tadi Mas Bayu menutup matanya lama lho". Reva masih penasaran.


Belum sempat Bayu menjawab terdengar suara bel rumah mereka berbunyi. Reva bangkit, tapi dicegah Bayu.


"Biar aku saja". Bayu meninggalkan Reva, Reva yg penasaran mengekor Bayu.


"Ceklek"..


"Heiiii Bay...." Clara menghambur memeluk Bayu.


"Happy Birthday Bay". Bayu melepaskan pelukan Clara, lalu mengajaknya masuk.


Reva yg melihat segera menutup mulutnya, lalu membalikkan badan berjalan ke dapur, menghabiskan sisa makannya.


"Nonton yuk Bay". Clara duduk disamping Bayu, mengeluarkan 2 tiket bioskop yg sudah dibelinya tadi.


"Aku capek Clara". Bayu berdiri, mengambilkan air minum di dapur yg letaknya dengan ruang tamu hanya di batasi sebuah buffet tinggi, Bayu melihat Reva masih duduk disana, menghabiskan makan malamnya. Bayu hanya memandang, lalu meninggalkan Reva yg juga sengaja tidak melihat kedatangan Bayu.

__ADS_1


"Minumlah". Bayu menyodorkan secangkir kopi ke Clara.


"Ayo dong Bay, hari ini kan hari spesial buat kamu, dan kebetulan sudah lama banget kita nggak hang out, ini mumpung filmnya bagus". Clara sedikit merajuk.


"Kasihan Reva dirumah sendiri, perutnya sudah besar, bisa sewaktu-waktu melahirkan".


Ucapan Bayu sontak membuat Clara sedikit cemberut. Reva kan hanya pacar Deka, tapi Bayu mengorbankan segalanya buat Reva, termasuk hubungan mereka.


Reva yg mendengar ucapan Bayu tadi langsung keluar dari dapur.


"Mas Bayu pergi saja sama Clara, aku nggak papa, lagian lairannya masih sebulanan lagi kok". Clara yg mendengar langsung berdiri memeluk Reva.


"Makasih ya Va, tuh kan Bay, Reva nya aja nggak papa, lagian kan cuma nonton, nggak pergi seharian juga, nanti kalau kenapa-kenapa, Reva kan bisa telpon aku atau kamu".


Reva membenarkan ucapan Clara, tapi tatapan Bayu ke Reva justru menunjukkan ketidak sukaan, akhirnya Bayu mengalah, menuruti ajakan Clara menonton bioskop.


🌹🌹


Film sudah diputar lebih dari 30 menit, Clara menyandarkan kepalanya dibahu Bayu, sesekali mengusap punggung tangan Bayu. Sementara Bayu yg raganya berada disisi Clara, tetapi pikirannya mengelana jauh kembali ke rumah bersama Reva.


Bayu mencemaskan Reva, sejak perut Reva semakin besar, perhatian Bayu juga bertambah, Bayu tak tega melihat Reva yg sudah kepayahan membawa badannya.


Bayu selalu pulang tepat waktu hanya untuk memastikan Reva baik-baik saja.


"Kenapa dia membiarkan aku pergi bersama Clara? haaaah dia benar-benar bodoh". Batin Bayu ingin sekali berteriak, tapi disebelahnya adalah Clara, gadis yg dulu pernah ia kagumi, Clara juga gadis yg baik, mana tega Bayu membuatnya sakit hati.


"Cup.." Bayu tersadar saat sebuah kecupan mendarat dipipinya.


"Ngelamun aja sih Bay, udah selesai tuh filmnya". Bayu tergagap saat Clara sudah berdiri menarik tangannya.


Bayu berjalan disamping Clara, sebelah tangan Clara erat melingkar di tangan Bayu. Clara yg biasanya banyak bicara hari ini sedikit sekali mengeluarkan kata, sampai Clara berani menanyakan apa yg mengganjal dalam hatinya.


"Bay...sejak kepulanganmu dari Indonesia, kamu berubah". Clara berhenti di sebuah bangku panjang di depan gedung bioskop.


"Kamu lebih perhatian ke Reva daripada ke aku". Clara menjauhkan pandangannya, menggesekkan sepatunya di lantai yg menimbulkan decitan pelan.


"Reva memang butuh perhatian, dan kamu tahu itu".


"Tapi perhatian kamu bukan layaknya adik kakak Bay..." Clara menekan nada bicaranya.


"Kamu seperti orang lain..." Clara terhenti.


"Karna aku memang suaminya Clara, bukankah aku sudah cerita semua ke kamu". Bayu meyakinkan Clara.


"Iya...aku lupa kamu suaminya". Clara menekuk wajahnya.


"Aku pulang naik taksi saja". Clara berdiri, berjalan menjauh dari parkiran mobil.


"Biar ku antar pulang Clara". Bayu meneriaki Clara.


Tanpa menoleh Clara hanya melambaikan tangannya, masuk ke dalam sebuah taksi yg berjajar di sepanjang jalanan di depan gedung bioskop.


Bayu masih mematung di sana, benarkah apa yg Clara ucapkan? Pikirannya mulai kemana-mana.


10 menit lamanya, sampai dia tersadar Reva di rumah sendirian. Bayu segera melajukan mobilnya. Reva adalah prioritasnya saat ini, apapun alasannya.


🌹🌹


Lampu diruang tamu sudah mati, mungkin Reva sudah dikamarnya. Bayu membuka pintu, berjalan ke dapur, mengambil sebotol air minum di kulkas. Kue ulang tahun yg bahkan belum terpotong sudah berada di dalam kulkas.


Bayu menghela nafas panjang, masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya untuk meredamkan kekacauan dalam otaknya.

__ADS_1


30 menit, mandi yg cukup lama buat Bayu yg biasanya hanya butuh waktu tak lebih dari 15 menit untuk membersihkan badannya.


Bayu menoleh ke atas, lampu kamar Reva masih menyala, Bayu naik ke atas, mengetuk pintu kamar Reva, tapi lagi-lagi tanpa sahutan.


"ceklek".. tidak dikunci. Bayu menemukan Reva setengah meringkuk di ranjang, dan wajahnya meringis kesakitan.


Reva Kram perut.


Bayu bergegas menghampiri.


"Kamu kenapa Va?". Bayu mengusap dahi Reva yg sudah banyak mengeluarkan keringat.


"Sakit Mas, Reva Kram perut, tapi nanti juga hilang sendiri".


Dengan sigap Bayu meluruskan kaki Reva, menekuk ujung kakinya, lalu memutar-mutarkannya pelan.


"Tarik nafas panjang Va, sebentar lagi kramnya akan hilang".


Bayu melakukannya berkali-kali, dan beberapa saat kemudian kram di perut Reva benar-benar hilang.


Bayu mengambilkan segelas air putih, lalu duduk disamping Reva.


"Tidurlah". Reva mengangguk


"Mas Bayu nggak tidur?". tanya Reva pelan.


Bayu menggeser duduknya ke samping ranjang, lalu merebahkan diri disana, Reva terkejut.


"Tidurlah, aku tidak akan macam-macam, aku hanya memastikan kram perutmu tidak datang lagi".


Reva hanya mengangguk, merebahkan tubuhnya, berbaring membelakangi Bayu.


Bayu berbaring, mensejajarkan diri dengan Reva, Bayu memeluk Reva dari belakang, mengusap perutnya yg sudah besar, mengecup rambutnya berulang kali.


"Massss". Reva sungguh gemetar diperlakukan Bayu seperti itu.


"Ssssttttt...aku janji hanya seperti ini, aku hanya ingin mengusap anak ini, mungkin dia sangat merindukan belaian seorang ayah". Bayu membenamkan kepalanya dirambut Reva.


"Maaf untuk hari ini, harusnya kamu tidak menyuruhku pergi dengan Clara. Apa Kamu mau tahu doaku selain kesembuhan Deka?".


Reva menggeleng pelan, tubuhnya sudah terasa tanpa tulang, apalagi mulutnya.


"Aku ingin tidur memelukmu malam ini, dan Allah mengabulkannya". Dada Reva semakin berdebar, ritmenya semakin tak beraturan. Keringat mulai mengucur di dahinya, dia membeku dalam pelukan Bayu.


🌹🌹


(Bayu part)


Jika ini adalah sebuah kesalahan, ijinkan aku menikmatinya sekali ini saja Deka, kamu boleh memukulku setelahnya, biarkan sekali saja aku tak peduli kepadamu.


Perempuanmu ini... dia istriku Deka, dan aku mulai menggilainya.


🌹


🌹


🌹


( Bersambung )


yg suka dengan part ini..silahkan tinggalkan like dan komennya ya..

__ADS_1


😘😘😘


🙏🙏🙏


__ADS_2