
🌹🌹🌹
Rumah Bu Nurul hari itu menjadi saksi bertemunya Deka, Bayu dan Reva, segala perasaan yg berkecamuk seakan menjadi jeda mereka untuk saling menyapa, dan memang harus saling menyapa, Mereka pernah sakit, mereka pernah kecewa, tapi dari semua kejadian itu mereka bisa menemukan arti cinta yg sesungguhnya, cinta yg tidak egois.
Bayu mendekati Deka, segala kekuatan hati dan raganya telah dia kumpulkan, mungkin ini akan membuatnya siap untuk kembali menerima pukulan Deka, kesalahan yg di perbuatnya bersama Reva tidak akan mudah dihapuskan begitu saja, terlalu dalam dan meninggalkan bekas yg sangat tajam.
Reva menggigit bibirnya, Reva pasrah, apa yg dilakukan Bayu pasti yg terbaik buat mereka, Bayu yg selama ini telah melindunginya, melindungi keluarganya, meski cinta Bayu kepada Reva menjadi sebuah kesalahan yg menghapus semua kebaikannya dihadapan Deka. Reva menundukkan mata, Reva takut melihat kejadian selanjutnya.
"Om Deka kenapa?". Mawar menarik tangan Deka yg terkepal, lalu menggenggamnya, Mungkin Mawar menyadari Deka dalam kondisi hati yg tidak baik.
Deka membuka kepalan tangannya, lalu menggenggam jemari mungil Mawar, ada desiran aneh saat Mawar mengelus tangannya, emosi Deka saat ini, jika terlepas saat ini, mungkin Deka juga akan kehilangan genggaman tangan Mungil ini.
"Papa...". Nesya menarik baju Bayu, matanya masih merah karna air mata, mata itu milik Deka, bibir tipis Nesya juga mirip Deka, semua yg ada pada Nesya mirip Deka.
Deka menatap nanar Nesya yg kini berada dalam gendongan Bayu, tepat dihadapan Deka.
Mata Deka berkaca, kekuatannya tadi menguap ke udara, emosinya tadi jatuh, terbius oleh wajah Nesya yg serupa kaca bagi dirinya.
Bayu mengulurkan Nesya ke Deka.
"Ini Papi Nesya sayang". Ucap Bayu lembut.
"Papiii...?" Deka merengkuh Nesya, memeluk Nesya erat dalam gendongannya. Deka menangis, semua yg terdiam disana menangis, Bu Nurul yg tak kuasa menahan haru langsung memeluk Bayu, segala kekhawatiran yg tadi menghantui pikirannya sirna saat melihat Deka menjatuhkan air mata.
Reva yg tak juga mampu menahan lajunya air mata mendekati Deka.
"Maafkan aku Deka, aku benar-benar minta maaf". Reva berucap sangat lirih, tapi dapat terdengar oleh semua orang yg berdiri disana.
"Aku juga minta maaf, selama ini aku menunggu hari ini tiba, aku salah, aku mengambil Reva darimu, tapi sungguh, aku mencintai mereka dengan sepenuh hati". Bayu kembali menatap Deka yg masih memeluk erat Nesya.
Deka masih tak bersuara, saat ini, semua tindaknnya seperti berada di atas meja perjudian, dalam hatinya ingin sekali saja memukul Bayu sekuat tenaga, mengumpat Reva sesuka hatinya. Tapi Nesya yg saat ini dalam pelukannya membuat Deka lemah, membuat mulut Deka bisu.
Deka membuang muka dari Bayu dan Reva, beralih menatap Sekar, Sekar yg dari tadi mencoba mencerna situasi ini masih dalam posisi semula, membisu. Deka tahu, ada sejuta pertanyaan yg berputar-putar dalam kepala Sekar, dan Deka tidak bisa menjelaskannya dalam waktu yg sesingkat ini.
"Om..Adek ini anaknya Om Deka ya?". Mawar memegang kaki Nesya. Deka jongkok, menghadapkan Nesya pada Mawar.
"Iya sayang...namanya Nesya, dia akan jadi adik kamu". Mawar tersenyum senang, mencubit pipi Nesya pelan.
Sekar ikut mensejajarkan diri dengan Mawar.
"Hallo cantik..." Sekar mengusap rambut Nesya, Nesya tersenyum, dia sangat mirip dengan Deka saat tersenyum.
Bu Nurul menghampiri Deka.
"Kamu namanya siapa sayang?". Bu Nurul mengusap rambut Mawar.
"Mawar Nek, dan ini ibu Mawar, namanya Sekar". Terang Mawar lugu.
"Ayo nak Sekar, Mawar, masuk dulu, duduk di dalam, ayo Deka, ajak mereka masuk".
__ADS_1
Deka berdiri, mengajak Sekar dan Mawar masuk, sejak datang tadi, mereka hanya berdiri di depan pintu.
Sekarang mereka sudah berkumpul di ruang keluarga, Nesya sudah berpindah tangan ke Reva, semua masih diam, tampak canggung.
Bu Nurul mulai membuka suara.
"Selama ini kamu kemana saja Deka?". Tanya Bu Nurul.
"Aku di Semarang juga Bu, maaf kalau tidak pernah pulang". Jawab Deka sambil menatap Nesya yg mulai berlari kesana kemari.
"Lalu Nak Sekar ini Siapa?".
"Dia cakon istriku Bu, aku ingin menikahinya, dan ini Mawar, anak Sekar, suami Sekar meninggal dalam kecelakaan saat Mawar berusia 8 bulan". Deka berhenti cerita. Bu Nurul yg duduk disamping Mawar, langsung mengusap rambutnya lembut. Ada rasa iba dalam hati Bu Nurul.
"Apa Sekar benar-benar menyukai Deka Nak?".
Sekar diam, bagaimana dia akan menjawab pertanyaan Bu Nurul, meski dia tidak mencintai Deka, tapi Sekar tidak mungkin mempermalukan Deka di depan keluarganya.
Sekar mengangguk.
"Lalu kapan rencana kalian akan menikah?" Bayu kali ini mencoba mencairkan suasana antara dirinya dengan Deka.
"Secepatnya". Jawab Deka tanpa menoleh kepada Bayu.
"Tapi Sekarnya tidak sedang..." Bu Nurul menghentikan kalimatnya.
"Sekar bukan perempuan sembarangan bu, bahkan aku tidak di perbolehkan menyentuh tangannya sebelum kami menikah, dan aku tidak mungkin mengulang kesalahan itu untuk kedua kalinya". Kali ini Deka melirik ke arah Reva, Reva spontan menundukkan kepala, dia tahu yg dimaksud Deka adalah dirinya dan Deka.
🌹🌹
"Melihatmu saat ini sangat menakutkan, kamu seperti senapan yg diacungkan ke kepalaku dan siap meledakkannya setiap saat".
"Dan mendengarmu akan menikahi perempuan ini? Benarkah? perempuan berjilbab sedada, dengan pakaian yg sangat jauh dari kata modis ini, benarkah dia calon istrimu?".
"Saat kamu melirikku, tatapan mata itu seperti menghakimiku, dia bukan perempuan sembarangan dan menurutmu aku sembarangan Haah??".
🌹🌹
"Baiklah, ibu suka dengan pilihanmu, kamu bisa atur tanggalnya, ibu akan membantumu menyiapkan untuk acara di rumah". Jawab Bu Nurul.
"Baiklah kalau begitu, Deka pamit Bu, nanti kalau tanggalnya sudah pasti, aku telpon ibu". Deka berdiri, disusul Sekar dan Mawar.
"Kenapa buru-buru Deka?". Bu Nurul mencoba menahan Deka.
"Deka belum merasa terbiasa dengan mereka Bu". Deka menatap Bayu dan Reva bergantian, kini dia mendekati Nesya yg bermain di depan televisi.
"Papi pulang ya Sayang..." Deka mengecup pipi Nesya, memeluknya sebentar, lalu mengecupnya lagi. Deka seakan masih diliputi kerinduan pada putri kecilnya, tapi apa daya, keberadaan Reva dan Bayu bersama di depan matanya kembali membuka luka yg selama ini susah payah dibalutnya. Beruntung dia datang bersama Sekar, setidaknya ada perasaan yg harus dia jaga, dia harus mengalahkan emosinya.
Deka, Sekar dan Mawar sudah ada di depan mobil, saat Deka hendak masuk, Bayu menarik tangan Deka.
__ADS_1
"Aku mau bicara sebentar". Bayu mengajak Deka menjauh.
Deka menatap tajam Bayu yg juga menatapnya tak kalah tajam.
"kenapa mengacuhkanku?". Tanya Bayu.
"Apa pedulimu?".
"Aku hanya ingin kamu memaafkanku Deka". Lanjut Bayu.
"Maaf...? oke aku memaafkanmu, tapi urusan kita belum selesai". sinis Deka.
"Urusan apa?".
"Aku akan mengambil Nesya dari kalian".
"Kita bisa bicarakan itu baik-baik, jangan sakiti Reva, apalagi Nesya". Bayu sedikit mengancam.
"Oya....sebaik kamu mengambil semua milikku haaah?". Deka tampak geram.
Bayu melihat Deka mengepal, bukannya tersulut emosi, Bayu justru memeluk Deka. Deka hendak menepisnya, tapi Sekar dari depan mobil menatapnya tajam.
"Kamu tetap adikku Deka, kamu satu-satunya adikku, dan Nesya adalah putrimu tapi dia juga putri kecilku, biarkan aku merawatnya". Bayu menepuk-nepuk punggung Deka.
Mendengar ucapan itu, hati Deka seakan tercabik, ada sakit, ada bingung, ada hangat. Deka benar-benar tak tahu perasaannya.
"Pulanglah, aku suka pilihanmu, Sekar wanita sholihah, kamu pantas mendapatkannya". Bayu melepaskan pelukan Deka.
Tanpa kata Deka beranjak, kembali ke mobil, langsung masuk, dan berlalu begitu saja.
Semua masih dengan pertanyaan masing-masing, tanya yg tak terucap karna ada banyak perasaan yg harus dijaga, Deka yg menjaga perasaan Sekar, Bayu yg menjaga perasaan Reva, dan mereka berdua yg sama-sama menjaga perasaan ibunya dan kedua anak kecil disana, Nesya dan Mawar.
🌹🌹
Ketika mereka berusaha saling menjaga maka tidak akan ada yg terluka, dan itulah cinta yg sebenarnya, tidak egois.
Jika kata maaf memang tidak bisa terjawab, mungkin karna sembuhnya luka butuh waktu yg lama.
Seperti halnya Deka, yg telah menemukan Sekar, maka tidak lantas melupakan Reva yg kini ada di depan mata, mungkin bukan lagi perasaan cinta, tapi segurat kecewa itu masih ada.
Biarkan waktu yg membuat baik segalanya. Setidaknya sampai detik ini, secara kasat mata, mereka baik-baik saja".
🌹
🌹
🌹
Zikano sekeluarga mengucapkan "Minal Aidzin Wal Faidzin" mohon maaf lahir dan batin. tetap jaga kesehatan, stay at home bersama tulisan saya...😁😁
__ADS_1
🙏🙏🙏
💖💖💖