
🌹🌹🌹
Pada masa penjajahan Belanda dulu, Semarang memiliki julukan "Venice van Java", karna kota Semarang banyak dilalui sungai seperti di Venicia Italia, sayangnya semakin bertambahnya popupasi manusia, maka sungai-sungai yg dulunya mengalir indah itu kini tertutup oleh kepadatan penduduk, ditambah lagi dengan adanya orang-orang yg kurang peduli terhadap lingkungan, membuang sampah di sungai, menyumbat saluran sungai, dan akhirnya menyebabkan banjir.
Beruntung tempat tinggal Sekar tidak termasuk dalam kawasan banjir, meski hanya rumah kontrakan yg tidak seberapa besar, Sekar bisa merasa tenang di saat musim hujan.
Seperti hari ini, hujan yg terus mengalir dari semalam hingga pukul 7 pagi belum menampakan tanda akan reda. Sekar sengaja tidak membuka warungnya, selain kondisinya yg belum benar-benar pulih, Sekar tidak tega mengajak Mawar hujan-hujanan.
Sekar menemani Mawar menonton film kartun, sesekali memancing Mawar untuk bercerita tentang sekolahnya, teman-temannya, gurunya, dan semua kegiatan di sekolah. Sampai tepat waktunya Sekar harus menanyakan tentang Deka.
"Kalau Mawar sayang nggak sama Om Deka?".
"Sayang banget bu, Om Deka baik, Om Deka perhatian banget sama ibu sama Mawar, Om Deka juga nggak galak kaya bapaknya Ozzil temen sekolahku bu". Sekar tertawa.
"Emang bapaknya Ozzil galak? Mawar tahu darimana?".
" Waktu itu Ozzil dibentak karna minta beli es krim waktu pulang sekolah, kasihan Bu, Ozzil sampai nangis". Mawar menerangkan dengan logat jawanya yg kental.
" Mungkin Bapaknya Ozzil nggak mau Ozzilnya sakit gigi". Sekar memberi alasan. Mawar terdiam, coba menerima alasan ibunnya.
"Tapi kalau Om Deka malah selalu beliin Mawar Es kirim, pokoknya Om Deka baik".
"Mawar mau kalau Om Deka jadi ayahnya Mawar?". Sekar sedikit memelankan nada suaranya.
Mawar langsung menyambut ucapan ibunya dengan rona yg sangat ceria.
"Mau bu, Mawar mau punya Ayah om Deka, tapiiii... apa Om Deka beneran mau jadi ayahnya Mawar?". Mawar mengerucutkan bibirnya.
"Nanti ibu bicara dengan Om Deka". Entah perasaan apa yg membuncah di dada Sekar, ada kelegaan saat mengetahui Mawar benar-benar menyayangi Deka.
"Tok...tok...tok"
Deka sudah terlihat berdiri di depan pintu yg sedikit terbuka, sepagi ini, dalam keadaan basah kuyup karna hujan yg turun memang sangat deras.
"Om Dekaaa...". Mawar langsung beranjak melebarkan pintu rumahnya. Deka tersenyum menyambutnya.
"Om Deka kenapa hujan-hujanan?". Mawar menarik tangan Deka untuk masuk ke dalam rumah, Deka masuk, mensejajarkan badannya dengan Mawar.
"Om Deka kangen kamu". Deka menyentil ujung hidung Mawar. Lalu mengecup keningnya.
Sekar mengulurkan handuk kering.
"Keringkan dulu rambutmu, nanti kamu sakit". Deka tersenyum tipis menerima handuk dari Sekar.
"Baju Om Deka basah bu, kasihan dingin". Mawar menarik ujung baju Deka yg basah, Deka mulai mengusapkan handuk ke rambutnya.
Sekar masuk ke dalam kamar, mengambil satu kaosnya yg berwarna putih dan celana training hitam bergaris putih di tengahnya.
"Adanya ini, kamu pakai saja".
"Ini punya kamu?" Tanya Deka.
"Iya, mungkin pas di pakai kamu, besar kok ukurannya, dan jangan takut, kaos itu bersih". Deka hanya mengangguk, lalu meminta ijin ke kamar mandi.
Sekar membuatkan kopi untuk Deka, Mawar sudah kembali asyik menikmati kartun upin ipin di televisi, sesekali menirukan suara upin yg terdengar lucu.
Deka keluar dari kamar mandi, rambutnya yg setengah basah dibiarkannya tanpa handuk, dia sangat tampan dalam keadaan seperti itu. Sayangnya Sekar tidak tertarik, bahkan sama sekali tidak melirik.
Deka duduk disamping Mawar, mengusap rambutnya, ikut menikmati kartun anak kembar itu. Sekar yg mulai canggung, takut Deka akan berlama-lama dirumahnya mulai memberanikan diri bertanya.
__ADS_1
"Kamu mau apa sepagi ini, hujan-hujanan kesini".
Deka menoleh ke arah Sekar.
"Bukankah kemarin aku bilang butuh jawaban hari ini? Kamu tahu semalaman aku tidak tidur untuk menunggu pagi? aku takut pagi ini kamu sudah berada di warung, hujan-hujanan bersama Mawar". Deka masih menatap Sekar, terlihat Sekar membenarkan duduknya, membenarkan jilbabnya yg sedikit tersibak.
"Aku terserah Mawar, apapun untuk kebahagiaan Mawar, aku rela melakukannya".
Wajah Deka seperti mendapat kemenangan di awal sebelum tahu hasil pengumuman.
Deka mengusap rambut Mawar, menarik bahunya untuk menatap ke arahnya.
"Mawaar..."
"Ya Om". Mawar melihat Deka.
"Mawar mau nggak kalau Om Deka jadi Ayahnya Mawar, Ayah yg beneran, yg setiap hari bisa sama-sama, bisa ngantar dan jemput sekolah Mawar, bisa temeni Mawar kapanpun, kemanapun".
Wajah Mawar berubah seketika, Mawar langsung memeluk Deka.
"Mawar mau Om, Mau banget".
"Jadi...Om Deka boleh nikahi ibunya Mawar?". Mawar mengangguk, terus mengangguk tanpa melepaskan pelukannya pada Deka, Mawar seperti menemukan Ayahnya yg hilang begitu lama, tanpa berkata apapun semua akan tahu melihat ekspresi Mawar yg begitu bahagia.
Deka menatap Sekar yg juga sedang melihatnya, Sekar mengangguk tanpa Deka bertanya lagi, tidak perlu pertanyaan yg berulang-ulang untuk untuk sebuah jawaban yg sudah pasti.
"Nanti setelah reda kita ke rumah ibuku". Ucap Deka kepada Sekar.
"Apakah harus hari ini?". Tanya Sekar kemudian.
"Iya, dan kita akan menikah disana, ibu satu-satunya orang yg kumiliki, dan aku sudah berkali-kali mengecewakannya, aku ingin meminta maaf ke ibu".
"Ibu bukan seorang diktaktor yg mengatur hidup anaknya, ibu terlalu baik untuk anak-anaknya, kamu dan Mawar akan senang jika mengenalnya".
Sekar hanya mengangguk, menunggu hujan reda bagi Sekar seperti mengerjakan sebuah ujian, takut salah, takut dapat nilai jelek, Sekar yg kembali akan di pertemukan dengan yg namanya pernikahan, merasakan dadanya sedikit sesak. Meski bukan karna cinta, tapi Sekar tidak ingin Mawar terluka hanya karna keegoisannya.
🌹🌹
Sementara itu di rumah Bu Nurul, Bayu yg baru saja tiba disambut dengan tangisan yg mengharu biru, Bu Nurul sangat terkejut dengan kedatangan Bayu yg tiba-tiba, setelah dua tahun lamanya, sejak sebuah drama pernikahan atas nama penyelamatan hidup adiknya, Bayu yg dulu berkali-kali terluka karna Deka, kini sudah hidup bahagia bersama Reva dan Nesya.
Bayu terlihat jauh lebih dewasa, rambut tipis mulai menghiasi wajahnya, Badannya yg kekar, parasnya yg tampan, dia tampak seperti lelaki yg berusia 20an, tentu saja sangat cocok bersanding dengan Reva yg cantik dan modis, tidak ada yg tahu kalau usia mereka bahkan terpaut 9 tahun.
"Ibu kira kamu nggak akan pernah pulang ke Indonesia Bayu". Bu Nurul masih memeluk Bayu. Menghapus air matanya yg jatuh karna terharu.
"Bayu akan selalu pulang kesini bu, Bayu selalu merindukan ibu".
"Reva, Nesya cucu ibu, kalian sangat cantik Nak". Bu Nurul ganti memeluk mereka.
"Omaa". Nesya mengeluarkan suaranya masih tampak cidal.
"Iya sayang, ini Oma". Bu Nurul mencium kedua pipi cucunya, menggendongnya.
Mereka benar-benar melepas rindu, saling berbagi cerita dari setiap kerinduan yg dirasakan, sampai tak terasa sudah 2 jam.
Bu Nurul menyuruh Bayu dan Reva beristirahat, Nesya masih dalam gendongan Bu Nurul.
"Biarkan Nesya sama ibu, ibu masih kangen, biarkan Nesya tidur dalam gendongan ibu".
Bayu dan Reva mengangguk, menarik kopor, masuk ke dalam kamar yg di pakai Bayu saat Bayu masih kecil.
__ADS_1
🌹🌹
Deka, Sekar dan Mawar dalam perjalanan menuju rumah Bu Nurul di bagian selatan kota Semarang, butuh 1,5 jam untuk sampai kesana.
Deka mampir di sebuah pusat perbelanjaan, Deka membeli oleh-oleh untuk ibu, membeli celana dan baju untuk dirinya, karna sampai saat ini Deka masih memakai Kaos Sekar. Mawar meminta es krim dan sebuah boneka beruang yg ukurannya hampir sebesar dirinya, boneka yg memang sudah sangat diinginkannya.
Setelah merasa cukup mereka melanjutkan perjalanan, tak lama, mereka sampai di halaman rumah Bu Nurul, Deka memarkir mobilnya disana, mengajak Sekar dan Nurul turun dari mobil.
"Assalamualaikum". Deka mengetuk pintu yg sudah terbuka.
"Waalaikumsalam". Bu Nurul menyahut salam Deka, keluar dari ruang tengah dengan masih menggendong Nesya.
"Dekaaaa...." Bu Nurul membekap mulutnya karna terkejut, tapi langsung berhambur memeluknya. Membuat Nesya sedikit terjepit diantara pelukan mereka.
"Maafkan Deka bu". Deka tak mampu membendung air matanya, segalanya tumpah dalam pelukan ibunya. Bu Nurul mengangguk, Bu Nurul juga menangis, semua serba tiba-tiba, Bayu yg baru beberapa jam lalu tiba, sekarang Deka. Kejutan yg luar biasa.
Nesya yg terlalu lama terjepit akhirnya terbangun, menangis pelan.
"Maafkan Oma sayang..." Bu Nurul berusaha menenangkan Nesya.
"Siapa anak ini bu". Bu Nurul tersentak dengan pertanyaan Deka.
"Diaa....." Bu Nurul menghentikan kalimatnya.
"Dia Nesya anakmu". Bayu muncul dari pintu kamarnya, di susul Reva.
Semua membeku di tempat masing-masing, seribu perasaan saling beradu tanpa kata seru, segala kemungkinan yg akan terjadi menjadi tanda tanya yg sangat besar dalam masing-masing pikiran mereka.
Bayu yg tetap tampak tenang menatap Deka yg juga tajam menatapnya.
Reva gemetar, dadanya bergemuruh hebat, bibirnya kelu, matanya tertunduk, rasa bersalah merayap di sekujur tubuhnya saat melihat Deka, segala bayangan tentang Deka saat terakhir bertemu setahun yg lalu di LA, membuat nyali yg sudah di tata dari kemarin menghilang begitu saja.
Bu Nurul mencoba menahan keseimbangan badannya agar tidak roboh, Bu Nurul senang melihat kedua anaknya disini, tapi segala kemungkinan setelah ini, membuatnya takut akan kembali kehilangan mereka.
Sementara Sekar dan Mawar yg tidak tahu apa-apa hanya mematung di tempatnya, yg Sekar tahu, saat ini Sekar melihat semua keluarga Deka, dan anak dalam gendongan ibu Nurul itu anak Deka, tapi kenapa Deka tidak mengenalinya, dimana ibu dari anak Deka?".
Pikiran sederhana Sekar hanya menangkap bahwa Deka sebenarnya adalah anak orang berada, bukan Deka yg miskin, yg berjuang dari nol sampai bisa kaya, seperti sekarang, apalagi melihat penampilan laki-laki dan perempuan di depan pintu kamar itu.
Sekar meremas rok plisket hitam yg dikenakannya, satu tangannya memegang Mawar.
"Haruskah aku mundur? aku bukan bagian yg pantas dalam hidup mereka". hati kecil Sekar bergumam, keberaniannya seakan hilang ditelan ketegangan, Deka dan lelaki itu masih saling menatap tajam entah kenapa.
🌹
🌹
🌹
(bersambung)
Akhirnya mereka ketemu ya..
besok mau berantem apa pelukan ya kira2..
boleh bantu masukkannya di kolom komentar..
🙏🙏🙏
💕💕💕
__ADS_1