Mawar Untuk Deka

Mawar Untuk Deka
ex.part 2


__ADS_3

🌹🌹🌹


Deka kembali di sore harinya, memarkir mobilnya di halaman gedung bioskop, tapi Deka tak lantas keluar, diliriknya kaca spion, ada seribu keraguan dalam hatinya untuk menghampiri Sekar, sikap sekar tadi pagi, tatapan mata itu, seolah menguliti keberanian Deka. Deka yg terlalu biasa dengan dunia malam dan berbagai jenis wanita, sekarang seakan mati kutu dihadapan seorang Sekar, yg bahkan cara berpakaiannya sangat jauh dari kata modern, "Dia kampungan" dia selalu memakai pakaian yg menurut Deka sedikit kedodoran, celana lebar, kaos besar, dan jilbab yg menutupi hingga dadanya, dada yg biasa diumbar wanita untuk menarik perhatian lawan jenisnya, tapi Sekar berbeda, penampilannya yg serba biasa justru menarik perhatian Deka, Deka yg mungkin secara terang-terangan malu mengakuinya.


Sekar sedang melayani beberapa pembeli, membuatkan minuman, mengambilkan nasi dan lauknya, dengan wajah datarnya tidak membuat pembeli enggan makan di tempatnya.


Deka melirik ke belakang gerobak kecil itu, Mawar duduk disebuah bangku kecil dan pendek, anak kecil itu sedang mencuci piring, mulutnya tampak komat kamit, sepertinya dia sedang bernyanyi, Deka tersenyum, menyapu mulutnya yg selalu refleks tersenyum saat melihat gadis kecil itu.


Selama setahun ini, tidak ada yg bisa menarik bibir deka untuk tertawa, pikirannya seolah menemukan sebuah mainan, mainan yg membuatnya kecanduan, Mawar gadis yg manis, dan Sekar ibunya, perempuan itu, entah kenapa membuat Deka takut untuk menatap matanya, dia tidak sama dengan perempuan yg ditemuinya di club malam atau kafe tempat biasa Deka tongkrong, bahkan Sekar sangat berbeda dengan Reva. Reva, kekasih yg pernah dipujanya, ibu dari Nesya anaknya.


Deka membuka pintu mobilnya, melambaikan tangan ke arah Mawar yg menoleh ke arahnya, anak itu tertawa, berlari ke arah Deka.


"Om Deka dari mana? Katanya mau kesini setelah Mawar pulang sekolah, ini kok sampai sore?". Mawar menggengam tangan Deka.


"Maaf, tadi toko Om Deka Ramai, jadi harus nunggu sampai agak sepi". Deka mengusap lembut pipi Mawar.


"Om Deka punya toko?".


"Iya sayang, Om Deka juga jualan kaya ibunya Mawar". Mawar mengangguk tanda mengerti.


"Ayo Om duduk disana". Mawar menunjuk bangku panjang di belakang gerobak.


Sekar yg menyadari kedatangan Deka hanya melirik, tadi pagi saat Deka meminta ijinnya, dia tidak melarang tapi tidak juga mengiyakan. Dan ternyata Deka nekat datang, Sekar diam, wajahnya tetap kecut, tak ada senyum, apalagi sapaan.


🌹🌹


Mawar dan Deka ngobrol dengan asyiknya, Deka membelikannya es krim dan beberapa makanan ringan, Sekar membuatkan Deka segelas kopi hitam, tanpa suara, Sekar menyajikannya di meja tempat Deka dan Mawar bercanda.


"Makasih". Deka mencoba membuka suara, Sekar hanya mengangguk, kebetulan sedang tidak ada pembeli di warung Sekar, Sekar duduk di sisi Mawar yg sedang menikmati es krimnya.


"Kamu sudah lama jualan disini?" Deka bertanya, mencoba mencuri pandang ke arah Sekar.


"Iya, 5 tahunan". Ketus Sekar.


"Kata Mawar suami kamu meninggal?".


Sekar menghela nafas panjang, dimainkannya rambut Sekar yg mengkilat dengan ujung jari telunjuknya.

__ADS_1


"Iya, saat Mawar masih 8 bulan, aku jualan untuk menyambung hidup". Sekarang Deka yg menghela nafas.


"Orang tua kamu?".


"Aku besar di panti asuhan, aku tidak tahu siapa orang tuaku".


Deg...


Dada Deka kembali terhujam, ada desir rasa sakit yg tiba-tiba datang.


"Jangan kesini lagi, aku tidak mau Mawar menyukaimi dan bergantung padamu". Ucap Sekar tanpa memandang Deka.


"Kenapa?". Deka mengerutkan dahi.


"Karna kami sudah terbiasa berdua, Kedatanganmu akan membuat Mawar membagi perhatiannya".


"Ibu nggak suka ya sama Om Deka". Mawar menyela, menatap sendu ibunya.


"Bukan begitu sayang, Ibu takut kamu mulai tergantung dengan Om Deka". Sekar mencoba menjelaskan.


"Tapi Om Deka baik Bu, Mawar sayang sama Om Deka". Mawar menundukkan mukanya.


Deka mengusap rambut mawar.


"Om Deka juga sayang sama Mawar".


"Mawar pengen punya ayah kaya temen-temen Bu". Mawar mulai terisak.


Jantung Deka kembali berdegup kencang, ingin rasanya memeluk Mawar saat itu juga, tapi Mawar masih dalam dekapan ibunya.


"Mawaaaar". Mawar menoleh melihat Deka yg memanggilnya.


"Mawar boleh kok anggap Om Deka Ayah".


"Beneran Om?". Mata Mawar berbinar, dia melepaskan pelukan Mawar beralih memeluk Deka.


"Iya sayang". Deka menyambut pelukan Mawar, mengusap punggungnya, dia merasakan hangatnya menjadi seorang ayah, meski bukan Nesya dalam dalam pelukannya.

__ADS_1


Sekar berjalan meninggalkan mereka, membenahi dagangan, mengelap meja, melakukan apapun untuk tidak lagi menanggapi percakapan mereka, Sekar tidak tahu kenapa Mawar begitu tertarik dengan Deka.


🌹🌹


(Sekar part)


"Untuk sementara ibu membiarkanmu Mawar, ibu sudah terlalu lama membiarkanmu haus akan kasih sayang seorang Ayah, maafkan ibu, bukannya ibu tidak mau memberikanmu seorang Ayah, tapi sampai saat ini, belum ada yg bisa menggantikan posisi Ayahmu dalam hidup ibu".


"Kamu terlihat begitu bahagia saat bersama Om Dekamu itu, dan ibu tidak tega merenggutnya, biarlah, kamu menikmatinya sebentar, ya...hanya sebentar saja, sampai ibu bisa mengembalikanmu seperti semula".


🌹🌹


(Deka part)


"Seandainya sungguh kamu putri kecilku? Memelukmu seperti ini sangat membuatku bahagia Mawar, kehidupan kemarin yg rasanya gelap seolah terang karna tawamu, tapi ibumu...? Aku tahu dia tidak menyukaiku, dia bahkan tidak pernah memandangku, apakah aku tidak menarik, bukankah aku tampan? Setiap malam di club, belasan wanita setengah telanjang bahkan rela mengantri untuk mendapatkan perhatianku, tapi kenapa kamu tidak? kalau dari mata lelaki normalku, kamu sangat jauh dari tipeku, kamu kampungan, aroma tubuhmu bahkan tidak sewangi sabun mandi, wajahmu lusuh, tanpa bedak, atau faundation yg bisa membuat wajah perempuan lebih mengkilat.


Apakah sungguh hanya karna Mawar aku disini? jika melihat wajah Mawar serasa ada wajahmu disana, wajah lelahmu, aku menyukai wajah lelahmu yg berkali-kali kau usap dengan ujung jilbabmu, kamu menarik".


"Aku tiba-tiba membayangkan tubuh Reva yg ideal, gaya pakaiannya yg modern, aroma white lily yg menempel ditubuhnya, rambut terurai dengan aroma sampho mahalnya, Reva yg pernah membuatku gila".


"Seandainya Sekar mengijinkanku menjadi ayah Mawar, apakah aku juga harus menikahinya? Menikahi wanita yg jauh dari kata idaman pria? tapi membuatku tak berdaya saat harus menatap kedua matanya.


Ataukah aku harus kembali menunggu waktu? Seperti saat aku menunggu bangun dari tidur panjangku, dan aku kehilangan segalanya?".


🌹


Deka masih memeluk Mawar, tapi matanya memberanikan diri menatap Sekar yg ternyata juga sedang menatapnya, hanya sebentar, lalu menundukkan wajahnya, ada semburat merah dari wajah Sekar yg tertangkap mata Deka saat mereka beradu tatap.


"Aku menemukan itu Sekar". batin Deka lirih, tersenyum penuh kemenangan.


🌹


🌹


🌹


(bersambung)

__ADS_1


maaf kemalaman, masih mode sibuk ya, harap maklum..🙏🙏🙏


__ADS_2