Mawar Untuk Deka

Mawar Untuk Deka
ex.part 17


__ADS_3

🌹🌹🌹


Deka dan Sekar masih berpandangan, lalu Sekar memutuskan untuk membuka sms itu...


"Minggu depan aku pulang ke Indonesia, jemput aku di bandara".


"Shiiiit". Deka mengumpat, tapi Sekar kembali memeluknya, tiba-tiba Sekar merasa begitu ingin ikut dalam pertarungan ini, Deka suaminya, meski Reva ibu dari anak Deka.


"Jemput Reva Mas, aku akan ikut bersamamu, dan sebelumnya kamu harus memberi tahu Mas Bayu, Mas Bayu harus tahu, tidak ada yg boleh berakhir dalam kisah ini".


Deka mencium kening istrinya, dia bersyukur, Sekar telah kembali seperti Sekar yg kemarin, Sekar yg bijaksana.


"Kamu tidak takut?". Deka menatap Sekar tanpa melepas tangannya dari pinggang Sekar.


"Aku takut kenapa Mas?"


"Kamu tidak takut Reva merebutku darimu".


Sekar mencubit pinggang Deka yg spontan membuat Deka mengaduh.


"Itu sih tergantung kamu Mas maunya gimana, kalau kamu memang mau sama Reva, aku akan menyerahkanmu" kini Sekar cemberut, membuat Deka kembali mengecup pipinya.


"Bahkan jika ada seribu Reva didunia ini, aku hanya akan memilih satu Sekar yg sekarang ada di hadapanku". Kini Sekar yg tersenyum mendengar gombalan Deka.


"Sudah sana berangkat kerja". Sekar melepaskan tangan Deka dari pinggangnya, tapi tentu saja itu tak berhasil.


"Udah tanggung, biar Danang yg urus toko, aku sudah telpon tadi".


"Iya deh yg bos, bisa bolos seenaknya". Ucap Sekar yg entah mengejek atau memuji.


"Aku ingin kerja sama kamu". Deka menyeringai.


"Pagi-pagi gini Mas?". Sekar membelalakan mata.


"Semalam nggak mau, sekarang nggak mau". Deka mengerucutkan bibirnya.


"Ada Mbak Santi Mas". Sekar milirik pintu yg terbuka karna dobrakan Deka tadi.


Deka menutup pintu yg tidak bisa dikunci karna rusak.


"Maaasss...nanti kalau Mbak Santi masuk gimana". Sekar masih mencoba mencari alasan saat Deka mulai melancarkan aksinya.


"Biarin". Deka tak lagi mempedulikan alasan Sekar. Ranjang Mawar yg berukuran single itu menjadi tempat Deka dan Sekar melepaskan setiap emosi yg meluap tadi, melepaskan rasa takut kehilangan, meluapkan rasa cemburu Sekar yg sempat menyerang, mereka semakin merasakan nikmatnya cinta setelah pertengkaran.


Mbak Santi yg ternyata menyadari kedua majikannya sedang memadu kasih hanya bisa senyum-senyum sendiri. "Setelah bertengkar pasti begitu". Mbak Santi masih cekikikan di kamar mandi, menyumpal telinganya dengan headset ponselnya, memutar lagu didi kempot kesayangannya, tangannya masih terus menggosok lantai kamar mandi yg sebenarnya sudah bersih dari tadi.


Selalu ada pelangi setelah badai...demikian yg Deka dan Sekar rasakan, meski tak lama lagi, mungkin mereka akan menghadapi bahaya badai yg lebih besar, tapi Sekar dan Deka telah bertekad untuk saling bergandengan menghadapinya.


🌹🌹


Bayu masih menidurkan Nesya, Nesya memang lebih dekat dengan Bayu daripada dengan Reva, dan setiap malam Nesya selalu merengek untuk tidur bersama Bayu.


Bayu hampir terlelap saat sebuah pesan Whatshap menggetarkan ponselnya.


Deka : "Malam Mas Bayu

__ADS_1


apa kabar?".


Bayu: "Baik Kaa, kamu gimana?"


Deka : "Baik Mas, Nesya sehatkan?"


Bayu : "Nesya sehat, ini sedang tidur


bersamaku, atau kamu mau VC?"


Deka : "Nggak usah Mas, biar Nesya tidur, apa benar besok minggu Mas Bayu mau pulang ke indonesia?".


Bayu : "Tidak Deka, bahkan aku belum dapat jatah cuti".


Deka : "Tapi Reva bilang begitu, dia memintaku menjemput di bandara".


Bayu: "Benarkah?".


Deka: "Mas ada yg tidak benar dengan Reva, Mas Bayu harus tahu itu, Reva menerorku, mengancamku".


Bayu : "Aku tahu Deka".


Deka :"Mas Bayu tahu dan membiarkannya?".


Bayu : "Baiklah, kita selesaikan ini di Indonesia, saat kamu menjemput Reva bawa dia ke rumah ibu, pastikan dia tidak pergi dari sana, Aku dan Nesya akan ikut di penerbangan selanjutnya, jangan beritahu Reva kalau aku menyusul, kita selesaikan di sana".


Deka : "Baik Mas...aku tunggu, jangan sakiti siapapun, apalagi Sekar, dia sedang mengandung anakku".


Bayu : "Benarkah? Selamat Deka, aku ikut senang".


Deka : " Iya Mas makasih, aku tunggu hari minggu".


"Baru pulang Va". Reva mengangguk, Bayu bangun dari ranjang Nesya, mencium kening istrinya.


Reva pun lalu menggelayut manja ditangan Bayu, mereka meninggalkan kamar Nesya menuju kamar pribadi mereka.


Malam yg kembali menjadi panjang buat Bayu, ada rasa senang saat mendengar Deka akan kembali memiliki anak, sementara dirinya belum tahu kapan akan punya anak dari benihnya sendiri, selama ini Reva menggunakan alat kontrasepsi dengan alasan kasihan Nesya kalau harus punya adik diusia yg masih kecil, dan Bayu bisa menerima itu, sekarang Nesya sudah berumur 2 tahun lebih, dan Reva lebih memilih sibuk dengan kuliahnya, sudah bisa dipastikan dia akan menolak jika Bayu menginginkan anak darinya.


Helaan nafas Bayu semakin memanjangkan rasa kecewanya, saat Bayu tahu Reva dengan sengaja ingin kembali ke indonesia tanpa memberi tahu dirinya, entah alasan apa yg akan Reva buat untuk berpamitan dengannya nanti. Bayu hanya bisa menunggu.


🌹🌹


Sabtu pagi, saat yg benar-benar Bayu tunggu saat Reva pamit, Reva bilang akan mengikuti workshop ke New York, dia mendapat tugas dadakan dari Dosen, untuk menggantikan salah satu mahasiswa yg tidak bisa berangkat karna sakit, dan kebetulan dalam acara itu Papanya juga ikut diundang, mungkin hanya 2 hari, Reva mengucapkannya dengan penuh kepastian, seolah Bayu tidak mengetahui kebohongannya.


Bayu hanya tersenyum, memberinya ijin, memeluknya lama, lalu mengecup keningnya, mereka memang tampak seperti pemain drama yg handal, semua bermain sesuai perannya.


"Aku berangkat dulu Mas". Reva berlalu melambaikan tangannya.


Bayu ikut melambaikan tangannya tanpa menghentikan senyumnya.


"Tunggu aku Va, aku pastikan kita akan bertemu di Indonesia".


Bayu berkemas, dengan dibantu Bik Siti Bayu juga mengemasi pakaian Nesya.


Tak berapa lama kemudian, Bayu dan Nesya pun ikut berangkat ke bandara.

__ADS_1


🌹


Pesawat Reva mendarat tepat pukul 10 pagi, Reva menghubungi Deka, yg ternyata sudah berdiri di pintu keluar bandara.


"Hey Kaa". Reva berjalan mendekat hendak memeluk Deka, tapi langsung ditepis oleh Deka.


"Kenapa?" Reva memicingkan matanya.


Deka tak menjawab, Deka berjalan menuju mobilnya, Reva mau tak mau mengikutinya.


Perjalanan panjang buat Deka, jengah rasanya melihat Reva yg berkali-kali menggoda dengan mengingatkan Deka akan kenangan saat mereka masih pacaran, menghabiskan malam dirumah kontrakan Deka yg kecil, Deka muak, seandainya dia tidak berjanji dengan Mas Bayu untuk menyelesaikan ini, mungkin Deka sudah menampar wanita yg kini duduk disampingnya.


"Lhoo kok kesini?". Raut muka Reva berubah saat mulai tahu kalau jalan yg dituju bukan jalan menuju hotel yg dia pesan.


"Diamlah, aku hanya mampir sebentar, kamu nggak perlu keluar mobil kalau takut ketemu ibu". Deka langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumah Bu Nurul.


Sekar dan Mawar sudah didalam, Bu Nurul sudah mendengar semua cerita dari Deka dan Sekar, Rumah tangga Bayu dan Reva harus diselamatkan, kesalahan ini harus segera diluruskan.


Sesaat setelah Deka masuk, Bu Nurul segera keluar, mengetuk pintu mobil, Reva tampak panik, dia tidak menyangka Bu Nurul akan keluar dan menemuinya.


"Deka sialan". Reva menggumam, lalu membuka pintu mobil.


Bu Nurul langsung memeluk Reva, bukan marah, bukan emosi, bukan tamparan atau cacian, tapi sebuah pelukan, seperti itu cara Bu Nurul memperlakukan anak-anaknya, tanpa kekerasan, kasih sayangnya yg sungguh luar biasa, bahkan setelah Bu Nurul tahu kedua putranya pernah terluka karna perempuan ini.


"Masuk dulu Va". Bu Nurul merangkul pinggang Reva, mengajaknya masuk, Reva yg diperlakukan seperti itu justru merasa sangat aneh, tapi Reva hanya bisa menurut, karna Reva tidak tahu harus bagaimana lagi.


Reva dan Bu Nurul duduk diruang tamu, belum sampai mereka mengobrol, Reva kembali dikejutkan dengan munculnya Sekar, Sekar keluar membawa 3 gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng.


"Apa kabar mbak Reva?". Sekar mengulurkan tangannya. Reva yg masih terheran pun ikut mengulurkan tangannya.


Sekar lalu duduk disamping Reva, Reva melirik perut Sekar yg sudah terlihat membuncit, kini hati Reva yg serasa di cubit, Sekar hamil, Deka menjemputnya, dan Deka mengajaknya kesini untuk menemui mereka,


"Ini pasti rencana Deka...sialan". pikiran Reva masih mengumpat.


"Kenapa datang kesini sendiri Va, mana Bayu dan Nesya?". ibu ikut menimpali.


Reva terdiam, dia bingung harus menjawab apa, sementara Deka masih belum juga keluar, Deka menunggu waktu yg tepat untuk keluar.


"Revaaaa". Ibu kembali membuka suara setelah lama tak mendengar jawaban keluar dari mulut Reva.


"Ibu tahu masalah kalian, kamu dan Deka, kamu dan Bayu, mereka berdua putra ibu, dan kamu juga anak ibu, ada Nesya yg masih butuh kamu, ada calon anak Deka yg ada di perut Sekar, tidakkah kamu memikirkan itu sayang?". Bu Nurul bicara sehalus mungkin agar tidak membuat Reva tersinggung.


"Tapi bu..." Reva tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat Bayu yg menggendong Nesya sudah ada di depan pintu, Reva membekap mulutnya, dan disaat itu juga Deka keluar dari kamarnya.


"Mamaaa". Suara Nesya memecah hening diantara mereka, tapi tidak mengurangi ketegangan yg kembali terjadi diruangan itu.


Bayu dan Deka, kini mereka menatap Reva, Reva seolah terdakwa yg sedang menghadapi sidang putusannya, lututnya gemetar, dadanya berdebar, saat kemarin Reva mencoba menyulut api, saat inilah api itu tengah berkobar...


Akankah padam?? Atau membakar habis semuanya?? kita tunggu saja.


🌹


🌹


🌹

__ADS_1


masih tetap ditunggu like dan komennya untuk mereka ya....


😘😘😘😘


__ADS_2