Mawar Untuk Deka

Mawar Untuk Deka
ex.part 11


__ADS_3

🌹🌹🌹


Deka mulai belajar kembali, dari yg lupa diingatkan, dari yg belum tahu digali, saat semua butuh proses, pelan dan sabar Deka menjalaninya. Sekar dan Mawar serupa malaikat tanpa sayap yg dikirim Tuhan untuk meluruskan jalan hidup Deka yg pernah salah arah. Perhatian dan ketulusan mereka membuat Deka sadar, betapa pernah terlalu dalam dirinya terjatuh dalam kubangan dosa, Deka tak akan pernah tahu apakah perbaikan dirinya diterima Tuhan, tapi setidaknya Deka mencoba, biarlah, urusan diterima atau tidaknya adalah keputusan Sang Maha Pemilik Kehidupan.


Tepat sebulan pernikahan Deka dan Sekar, tapi mereka masih hidup seperti di awal pernikahan, Deka dengan dunianya yg mencintai Sekar dan Mawar, dan Sekar yg masih takut untuk menyerahkan segalanya pada Deka, sebenarnya Sekar hanya menunggu Deka kembali meminta, tapi Deka yg sedari awal tahu Sekar masih mencintai almarhum suaminya justru menunggu Sekar berjalan dengan sendirinya, memeluk dirinya.


Jadi mereka hanya saling menunggu, tanpa ada yg berani memulai, mereka sama-sama takut menghadapi penolakan.


Pagi ini Bu Nurul menelpon Deka..


"Apa kabarmu Nak?". Suara Bu Nurul terdengar bersemangat


"Alhamdulillah Deka dan keluarga baik Bu, ibu Sehat?"


"Iya Nak, ibu Sehat, besok Nesya akan pulang ke LA, tidakkah kamu mau menemuinya?"


Deka terdiam, hatinya tentu ingin menemui Nesya, karna jika Deka tidak menemui Nesya hari ini, maka Deka akan menunggu setahun lagi untuk bertemu dengan Nesya. Dan itu berarti Deka harus kembali bertemu dengan Reva, perempuan itu, orang yg pernah begitu lama dicintainya dan lalu menghianatinya, Deka belum bisa menerima keberadaannya sebagai kakak iparnya.


Sekar yg samar mendengar percakapan Deka dengan Bu Nurul, menghampiri Deka, yang masih diam memegang ponselnya.


Mawar memegang tangan Deka, lalu meminta ponsel Deka.


"Assalamualaikum Ibu...ini Sekar".


"Waalaikumsalam Sekar, kamu sehat Nak?". Sahutan Bu Nurul terdengar sedikit berat.


"alhamdulillah Bu, nanti Sekar sama Mas Deka akan kerumah ibu, tapi mungkin agak siangan, nunggu Mawar pulang sekolah, kalau sabtu Mawar nggak terlalu siang kok pulangnya, nanti habis jemput Mawar, Sekar sama Mas Deka langsung kesana". Ucap Sekar tanpa menunggu persetujuan Deka.


"Ibu senang mendengarnya Sekar, Ibu tunggu ya, Ibu sudah masak makanan kesukaan Deka".


"Iya Bu, maaf malah jadi merepotkan Ibu". Sahut Sekar.


"Ibu nggak repot sayang, ya sudah, Ibu tutup dulu telponnya, sampai nanti ya Sekar, assalamualaikum".


"Waaalikumsalam". Sekar mematikan ponsel, lalu menyerahkan ke Deka, Sekar baru sadar, sebelah tangannya masih memegang Deka, dan Deka menatapnya sangat tajam.


"Maaf..." Sekar menarik tangannya, tapi sekarang justru Deka yg menariknya.


"Maksud kamu apa?". Deka yg sedari tadi bungkam akhirnya buka suara.


"Kamu harus menemui Nesya, bagaimanapun dia putrimu, kecuali kamu ingin kehilangan dia sebagai putri kandungmu". Jawab Sekar yg kini berani menatap mata Deka.


"Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku menghadapi Reva".


"Aku tahu, bahkan sangat tahu, tapi Reva adalah bagian dari masa lalumu, dia ibu dari anakmu, kalau kamu menghindarinya kamu akan kehilangan pengakuan Nesya sebagai ayah kandungnya, karna pada kenyataannya Nesya lebih mencintai Bayu daripada kamu, sama seperti ibunya". Sekar beranjak, tapi tarikan tangan Deka begitu kuat, dan itu membuat Sekar jatuh di pangkuan Deka.


Deka mengatupkan kedua tangannya pada tubuh Sekar, lalu meletakkan kepalanya pada ceruk leher Sekar.

__ADS_1


"Kuatkan aku untuk menemui Reva.... Sekar, aku takut terlalu membencinya, tapi aku takut kehilangan Nesya".


Sekar yg mendapatkan serangan dadakan seperti itu, tentu saja membuat tubuhnya reflek bergetar, tapi Sekar berusaha menetralkannya, Deka membutuhkannya saat ini.


"Tentu Deka, aku akan menemanimu". Sekar mengusap kepala Deka, yg hampir menempel di wajahnya, hanya terbatasi sedikit jilbab yg terlipat karna Deka mendekapnya dengan tiba-tiba.


"Kenapa memanggil namaku? Aku suka kamu memanggilku Mas seperti tadi waktu bicara dengan Ibu". Deka mulai menggoda, membuat semburat merah muncul dipipi Sekar.


"Ibuuuu.... Ibu di mana?". Suara Mawar terdengar dari dapur, Sekar segera melepas tangan Deka dari tubuhnya, lalu berdiri meninggalkan Deka yg terkekeh.


"Kamu manis Sekar". gumam Deka, meraup kasar wajahnya, lalu berjalan menyusul Sekar dengan tidak berhenti tersenyum.


Mereka melewatkan sarapan seperti biasa, hanya Mawar dan Deka yg sesekali bercakap, Sekar lebih suka diam dengan pikirannya, melihat dua orang didepannya bahagia sudah membuat Sekar bahagia.


Deka mengantar Mawar sekolah, lalu mampir ke toko untuk menyelesaikan pekerjaannya, karna hari ini dan besok sudah bisa dipastikan Deka tidak akan kembali ke toko, Deka sengaja menelpon salah satu pegawai kepercayaannya untuk datang lebih pagi juga, menyerahkan semua tugasnya hari ini kepada Danang, Danang karyawan terlama dan orang yg paling dipercaya Deka saat Deka harus pergi dan tidak bisa datang ke toko.


Setelah semuanya beres, Deka bergegas kembali ke sekolah Mawar, sudah ada beberapa anak yg keluar dari gerbang sekolah. Mawar juga sudah kelihatan, berlari ke arah Deka yg sudah berdiri di depan mobilnya.


"Hei Ayah..."


"Hallo Sayang..." Deka mencium kening Mawar, lalu membukakan pintu mobil untuknya.


Mereka berlalu dari sekolah, dalam perjalanan pulang, Deka selalu menanyakan bagaimana Mawar di sekolah, bagaimana ibu guru dan teman-temannya, semua tak pernah terlupa dari pertanyaan Deka, dan sepertinya, itulah bentuk pengawasan dan perhatian Deka kepada Mawar, menjadi teman dan pendengar yg baik saat lelah usai pulang sekolah.


Sekar sudah menunggu didepan pintu, Sekar juga sudah menyiapkan semua keperluan untuk dibawa ke rumah Ibu.


Mawar sudah berganti pakaian, Sekar juga sudah rapi, penampilan Sekar sekarang sebenarnya tidak banyak berubah, hanya wajahnya yg terlihat bersih dan terawat, tentu saja karna sekarang Sekar tidak perlu lagi berjemur di bawah teriknya sinar matahari, Deka membelikannya beberapa krim wajah yg bisa di gunakan Sekar dirumah, awalnya Sekar menolak, tapi Deka hanya bilang ke Sekar untuk memanjakan dirinya sendiri, mengisi waktu luang dirumah saat Mawar belum pulang dari sekolah. Akhirnya Sekar mencoba, dan akhirnya menjadi rutinitas, bukan untuk terlihat cantik, hanya untuk merawat kesehatan kulitnya, karna pada dasarnya Sekar memang sudah cantik, bahkan tanpa make up.


🌹🌹


Mobil Deka masuk ke halaman rumah Bu Nurul, Bu Nurul yg sedang menemani Nesya bermain ayunan segera menggendong Nesya dan menghampiri mobil Deka.


"Heeeiiii sayaaaang". Deka bergegas meminta Nesya dari gendongan Bu Nurul.


"Papi...?" Nesya menatap wajah Deka terheran, Nesya ingat siapa Deka, tapi mimik mukanya seolah takut pada Deka.


"Ya sayang, ini papi". Deka mencium pipi Nesya, disusul Sekar yg sudah berdiri disamping Deka, sementara Mawar sudah berada dalam pelukan Bu Nurul.


"Ayo Deka, Sekar, masuk dulu". Bu Nurul menggandeng Mawar membawanya masuk, Nesya dalam gendongan Deka, dan Sekar mengekor dibelakangnya.


Bayu keluar dari ruang tengah.


"Papaa..." Nesya yg melihat Bayu langsung mengulurkan tangannya yg langsung di sambut Bayu.


"Huuuh anaknya papa kenapa minta gendong hem, sudah besar harusnya jalan sendiri". Bayu mencubit pipi Nesya yg di balas ciuman oleh Nesya di pipinya.


Deka yg melihatnya sedikit cemburu, ya...kenyataan Bayu yg selalu membuat Deka Cemburu.

__ADS_1


Mereka duduk diruang tengah, suasana antara Deka dan Bayu juga mulai mencair, Nesya, Sekar dan Mawar yg menjadi penengahnya, sampai Reva yg dari tadi di dalam kamar memutuskan ikut bergabung, duduk di samping Sekar.


Bayu melirik Reva, begitu juga Deka, semua menjadi canggung, sampai Reva memberanikan diri mengawali.


"Sekar apa kabar?". Reva yg terlihat gugup tertangkap mata Bayu.


"Baik Mbak...Kata Ibu besok Mbak Reva sudah mau balik ke LA ya?".


"Iya...Mas Bayu sudah harus masuk kerja, cutinya hanya sebulan, ini sudah lewat seminggu". Lanjut Reva.


"Kapan kalian ke LA?". Bayu ikut membuka suara. "Kita bisa ngajak Nesya dan Mawar ke Disneyland".


"Waaah...LA kan jauh Mas Bayu, Sekar takut nyasar". Bayu yg mendengar ucapan polos Sekar tertawa.


"Ajak Deka dong, dia mahir bahasa inggris, waktu sekolah bahasa inggrisnya selalu dapat nilai diatas 90". Bayu sedikit memuji Deka dan itu berhasil membuat Deka tersenyum kecut.


Deka hanya mahir bahasa inggris dan Matematika, tapi nilai pelajaran lainnya selalu dibawah nilai Bayu.


Suasana benar-benar mulai mencair, Sekar dan Bayu menjadi pengendali yg baik hari ini, meski Deka tak banyak bicara begitupun Reva, tapi terkadang mereka bisa tertawa bersama melihat tingkah lucu Nesya dan Mawar yg mulai bisa akrab satu sama lainnya.


Hingga malam menjelang, selepas Isya Deka berniat pamit kepada Bu Nurul, tapi hujan diluar turun dengan derasnya, Bu Nurul meminta Deka untuk menginap, Mawar juga sudah terlelap bersama Nesya di kamar Bayu.


"Sudah menginap saja, hujannya deras sekali, kasihan Mawar" Ucap Bu Nurul


Deka masih diam, seakan minta persetujuan Sekar, manik matanya melirik Sekar, tapi Sekarpun hanya menunduk.


"Besok sekalian antar kakakmu ke Bandara, jam 9 pagi mereka sudah harus sampai di bandara". Lanjut Bu Nurul.


Akhirnya Deka setuju, tapi Sekar sedikit beringsut, mungkin satu hal yg belum Bu Nurul tahu, kalau dirinya dan Deka, belum pernah tidur satu kamar. Sekar meremas ujung kemejanya.


"Kamar kamu sudah Ibu bersihkan, kamu dan Sekar bisa beristirahat, Mawar nggak usah dipindah, biar tidur sama Reva dan Bayu, kamar Bayu ada dua tempat tidur, biar Mawar tidur disana".


Skak Mat, itulah perasaan yg dirasakan Sekar saat ini, antara gugup dan takut, tapi jika dia menolak tidur satu kamar dengan Deka, maka Ibu akan tahu semuanya, bukan hanya Ibu, tapi Bayu dan Reva, dan itu akan melukai harga diri Deka. Harga diri yg sudah coba dibangunnya sekokoh mungkin.


Sementara Deka dengan pikirannya yg tentu saja berbunga..


"Terimakasih Ibuku sayang, untuk kesempatan yg sangat langka". Batin Deka seakan melompat-lompat, desiran darahnya terpompa, Deka layaknya anak yg berumur belasan tahun yg sedang jatuh cinta.


Di bungkamnya mulutnya, seolah semua biasa saja, Deka takut Sekar menangkap basah rona bahagianya.


🌹


🌹


🌹


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2