
🌹🌹🌹
Deka menggengam sekaleng soft drink, di tangan kanannya sebatang rokok yg masih menyala dibiarkanya terkikis angin malam.
Di sebuah kafe di samping simpang lima kota Semarang tanah kelahirannya, Deka memilih kembali. Los Angeles baginya adalah sebuah neraka yg membakar mimpinya, cintanya, menghancurkan perasaannya. Tempat yg pertama dan terakhir untuk dikunjunginya.
Deka sudah tidak peduli lagi dengan cinta, dunia Deka yg hambar, Deka kembali ke dunia lamanya, uang dari hasilnya bekerja habis untuk minuman keras dan meja perjudian. Deka menggila, bahkan Bu Nurul yg susah payah menasihatinya tak lagi di gubris. Ibu yg membesarkannya lebih memilih melindungi Bayu anak angkatnya daripada Deka darah dagingnya sendiri.
Beberapa teman tampak tertawa melihat seorang gadis di tengah mereka, bergantian saling menggoda, pakaian gadis itu bahkan hampir telanjang, tapi mereka menikmatinya, "menjijikan" pikir Deka.
Semua perempuan baginya sama, Deka jijik melihatnya.
Deka berjalan meninggalkan tempat itu, duduk di sebuah bangku di alun-alun kota, jam di tangannya sudah menunjukkan hampir jam 10 malam, tapi Deka enggan pulang ke rumah. Pikirannya masih kembali ke 1 tahun yg lalu, dimana dia kembali di campakkan oleh dunia. Kekasih dan Kakaknya yg tega menghianatinya. Deka rindu Nesya, bahkan dia belum sempat menggendongnya, putri kecil yg sangat di rindukannya.
Sudut air mata Deka basah, hatinya kembali terkoyak, dia tergugu mendekap kedua kakinya yg mulai gemetar.
"Om...om kenapa? Om nangis ya?". Seorang anak kecil menepuk bahu Deka. Deka mengusap air matanya, menatap nanar ke arah gadis kecil dengan poni dan rambut sebahunya yg mengkilat terkena cahaya lampu kota.
Deka mengusap puncak rambut gadis kecil itu.
"Kamu siapa Dek? kenapa malam-malam disini?" Deka mengusap pipi cabi gadis itu.
"Namaku Mawar Om, aku bantu ibu jualan didepan gedung bioskop itu". Tangan Mawar menunjuk arah berlawanan dimana Deka duduk.
"Umur kamu berapa hem?". Deka kembalj bertanya.
"Enam tahun Om, tahun ini aku masuk SD". Mawar tersenyum manis, Deka tidak habis pikir, bagaimana di jam sekarang, anak kecil dibiarkan berkeliaran di tempat seperti ini.
"Mawar kenapa belum pulang?". Deka mendekatkan wajahnya, sejajar dengan tinggi tubuh mawar.
"Ibu baru beres-beres, Mawar bantu ibu nitipin kursi di belakang Mall itu, tapi Mawar liat Om nangis, jadi Mawar samperin".
"Emang Mawar nggak takut diculik? ini sudah malam sayang". Deka kembali mengusap rambutnya. Mawar menggeleng.
"Ibu lagi sakit Om, jadi Mawar harus bantuin Ibu, kasihan Ibu".
"Bapak Mawar kemana?". Deka semakin penasaran.
"Bapak meninggal kecelakaan Om, waktu itu kata ibu, umur mawar baru 8 bulan".
Deg...
Dada Deka seperti terhantam, gadis kecil yg manis ini ternyata seorang anak yatim.
"Mawaaaaar". Seorang perempuan muda, berjilbab biru tua memanggil Mawar.
"Itu Ibu Mawar Om..!" Mawar menunjuk perempuan yg berjalan mendekati mereka.
"Mawar kok lama sih, ibu khawatir sayang". Perempuan itu jongkok mensejajarkan diri dengan putrinya.
"Maaf bu, tadi Mawar denger, Om ini nangis, Mawar kasihan sama Om ini bu".
__ADS_1
Deka sedikit malu dengan penuturan Mawar. Deka segera mengulurkan tangannya.
"Nama saya Deka, maaf tadi saya memang ada sedikit masalah, dan kebetulan Mawar lewat".
Perempuan itu hanya mengangguk. Lalu menggandeng tangan Mawar.
"Ayo Mawar kita pulang".
"Om Mawar pulang dulu ya". Deka mengusap lembut rambut Mawar. Perempuan itu hanya mengangguk, bahkan tanpa tersenyum.
"Lain kali jangan ngobrol dengan orang tidak dikenal ya sayang". Sayup Deka masih mendengar perempuan itu menasihati Mawar.
Deka menatap mereka pergi, dan entah kenapa kaki Deka ikut berjalan ke arah yg sama. Deka hanya ingin memastikan mereka aman. Entahlah kenapa Deka melakukannya.
Melihat Mawar, mengingatkannya pada Nesya, putrinya juga pasti secantik Mawar, putri kecilnya yg mungkin tidak akan mengenalnya sebagai ayah. Lagi-lagi mata Deka berair. "Nesya..Papa kangen kamu Nak". Deka bergumam sangat pelan.
Deka masih mengamati Mawar dan ibunya, dari jarak dimana mereka tidak tahu kalau Deka membuntutinya.
Setelah hampir 500 meter dari alun-alun kota, mereka masuk ke sebuah gang kecil disamping minimarket.
Deka berhenti disana, tampak berjajar rumah petak bercat biru muda, seperti rumah kontrakan, Deka melihat Mawar masuk di salah satu pintu di rumah itu, lalu menghilang setelah pintu itu kembali di tutup.
"Selamat malam Mawar, semoga mimpimu indah". Gumam Deka tersenyum dengan kekonyolannya sendiri, mengikuti gadis kecil yg baru dikenalnya beberapa menit yg lalu, memastikannya pulang kerumah dengan selamat.
🌹🌹
Deka memiliki sebuah rumah kecil dipinggiran kota Semarang, sepulang dari LA setahun yg lalu Deka menjual tanah warisan almarhum bapaknya, tentu saja dengan ijin Bu Nurul ibunya, Bu Nurul hanya menyisakan rumah yg ditinggalinya dan beberapa petak sawah yg ia gunakan sebagai penghasilan, selain uang pensiun almarhum ayah Deka.
Deka merebahkan tubuhnya di sofa, sekilas bayangan Mawar terlintas, "gadis kecil yg manis". Ucap Deka lirih, mengiring senyum tipis yg tiba-tiba tersungging sudut bibir.
Malam yg biasanya habis dengan aroma alkohol dan asap rokok, kini berakhir dengan senyuman, meskipun tipis, tapi Deka yakin, Mawar akan kembali membuatnya tersenyum esok hari.
Deka bertekad menemuinya lagi dan lagi, perhatian gadis kecil itu saat dirinya menangis, sedikit memberinya nafas pada harapannya yg pupus.
Deka ingin kembali mengenal dunia, tidak semua membuangnya seperti sampah, Mawar membuktikannya, dia memberi aroma wangi yg membekas di hati Deka malam ini.
🌹🌹
Pagi sekali Deka telah sampai di depan gedung bioskop tempat ibu Mawar biasanya berjualan.
Sebuah gerobak kecil bertuliskan "Mawar" masih tertutup rapat.
gerobak sekecil ini? berapa uang yg didapatnya dari berjualan disini?
Deka mengerutkan keningnya, Deka yg merasa hidupnya selalu berat, kini justru merasa miris, "Hidup Mawar pasti lebih berat". Deka mendekati gerobak itu, duduk di trotoar disampingnya, sampai seseorang yg dilihatnya semalam berjalan mendekatinya.
"Kamu..." Perempuan itu menyipitkan mata menatap Deka. Deka bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu, sangat mirip dengan Mawar.
"Iya, aku Deka yg semalam bertemu dengan Mawar".
"Mau apa?". Nadanya sedikit ketus.
__ADS_1
"Aku ingin ketemu Mawar".
"Mau apa ketemu Mawar?" Perempuan itu sedikit menekan nadanya.
Deka bungkam, dia bingung mau menjawab apa, karna kedatangannya kesini pun sebenarnya tanpa alasan yg jelas.
"Mawar membuatku merindukan anakku". Perempuan itu diam, membuka gerobaknya, mulai merapikan dagangnya.
"Heeiii Om Dekaaaa". Mawar berlari ke arah Deka
"Hei cantik". Deka mengusap rambut Mawar.
"Om Deka ada perlu apa?". Mawar yg sudah menggunakan seragam Tk dengan rambut dikuncir dua duduk di bangku sambil terus menatap Deka.
"Om Deka kangen Mawar, boleh Om Deka main sama Mawar?".
"kata ibu, Mawar nggak boleh main sama orang asing". Mawar melirik ibunya.
"Tapi Om Deka bukan orang jahat sayang". Deka mengusap pipi Mawar.
"Om Deka bilang dulu ke ibu, Mawar takut dimarahi ibu". Mawar menundukan mukanya.
Deka mendekatkan wajahnya ke telinga Mawar.
"Tapi Om Deka nggak tahu nama ibu kamu sayang, mau minta ijinnya gimana?". Bisik Deka ke telinga Mawar, Ibu Mawar meliriknya.
"Ibu aku namanya Sekar Om". Sekarang giliran Mawar yg berbisik ke telinga Deka, Deka menganggukkan kepala.
"Maaf Sekar, bolehkan aku main dengan Mawar sepulang sekolah nanti?". Deka mendekati Sekar yg masih sibuk beres-beres.
"Maaf Sekar....". Deka berhenti berkata.. Sekar menatapnya tajam.
Mata perempuan itu seperti manik berwarna coklat, umurnya mungkin 2 atau 3 tahun di atas Deka, cantik, tapi ada beberapa bintik hitam di wajahnya, mungkin karna sinar ultraviolet matahari yg setia membakar kulitnya, dia memakai jilbab ungu dengan motif bunga di bawahnya, kaos panjang krem dan rok panjang hitam, dia tidak banyak bicara, mukanya bahkan tidak pernah tersenyum, tapi tatapan matanya ke Deka sangat menusuk.
Entah rasa sakit, entah rasa benci, entah rasa takut, mata itu begitu mengerikan bagi Deka.
Perempuan bernama Sekar yg saat ini berdiri di hadapan Deka, dia membuat dada Deka berdegup cepat, dan mulut Deka tergagap.
Deka ingin segera berbalik pergi, tapi Mawar gadis yg menggelayut di sampingnya, membuatnya tetap berdiri, meski tanpa daya.
🌹
🌹
🌹
Maaf agak lama Up nya...harap maklum ya, persiapan mau lebaran, jadi agak sibuk..
🙏🙏🙏
💖💖💖
__ADS_1