
πΉπΉπΉ
Akhir November di Los Angeles, Musim gugur hampir berakhir, daun-daun yg cantik warnanya mulai berguguran, udara dingin mulai menusuk, musim dingin di Los Angeles bisa mencapai suhu 0Β° celcius, puncaknya akan berada di bulan Desember - Februari, tapi Los Angeles adalah salah satu kota di Amerika yg tidak punya salju di musim dingin, untuk kedua kalinya Reva menyambut winter, jika satu tahun yg lalu Nesya masih bayi, sekarang Nesya sudah bisa berlari.
Dan selama itu juga Bayu dan Reva tidak kembali ke Indonesia.
Bayu mengusulkan untuk pulang ke Indonesia saat ini, melewatkan tahun baru di Indonesia, pulang ke Semarang dimana Bu Nurul tinggal, selama ini Bayu hanya menghubungi Bu Nurul melalui Video Call, bahkan saat Bayu melakukan ijab Qobul untuk kedua kali dengan Reva, Bu Nurul hanya menyaksikannya melalui Video.
Sepeninggal Deka ketika itu, Bayu kembali melamar Reva, melamar dengan Cinta, melamar dengan niat untuk menjadikan Reva pendamping hidupnya, Bayu sadar, ketika Bayu menikah dengan Reva saat itu Reva sedang mengandung, dan setahu dia, pernikahan itu harus diulang ijab qobulnya setelah anak itu lahir, dan mereka menikah lagi. Bayu benar-benar pasangan suami istri, bukan hanya pasangan hitam diatas putih.
Bayu merengkuh tubuh Reva dari belakang, Reva yg masih menidurkan Nesya mencoba menyingkirkan tangan Bayu dari pinggangnya.
"Maaass, nanti Nesya bangun lagi". Bisik Reva, Bayu berdehem tak mau melepaskan pelukannya.
"Makanya diam saja, aku juga akan diam". Bisik Bayu pelan di telinga Reva, menghembuskan nafasnya, membuat Reva merinding.
Mereka Diam untuk waktu yg cukup lama sampai Nesya benar-benar tertidur pulas.
"Vaa, kita jadi ya ke Semarang". Bayu melepaskan pelukannya, mendudukan dirinya ke sisi ranjang.
"Aku masih takut untuk ketemu Deka Mas". Reva menyelimuti Nesya, turun dari ranjang, menyalakan penghangat ruangan.
"Biar aku yg bicara dengan Deka, kita nggak bisa seperti ini terus, aku merindukan ibuku, kalau papa bisa ke sini, tapi kalau ibu nggak bakalan mau aku ajak kesini.
Reva menatap wajah suaminya yg mulai murung, seperti kerinduan yg memuncak, Reva benar-benar tidak tega melihatnya.
"Lalu bagaimana dengan Nesya? Bagaimana kalau Deka mengambilnya?" Reva mencoba membuat banyak pertimbangan buat Bayu.
"Nesya masih kecil, terlalu kecil untuk mengerti semua, tapi kalau memang Deka butuh pengakuan, kita beri tahu Nesya kalau Deka memang papanya". Reva mengangguk.
"Baiklah aku ikut Mas Bayu saja, kita memang harus menghadapi Deka apapun yg terjadi".
"Jadi kamu setuju kita pulang?".
Reva mengangguk.
"Baiklah, besok aku akan mengajukan cuti, kita bisa lama di Indonesia, karna satu tahun ini aku tidak pernah mengambil jatah cutiku". Rona bahagia terpancar dari wajah Bayu, sebegitu rindunya Bayu pada Indonesia, tanah kelahirannya.
"Sebenarnya aku ingin main salju bersama Nesya". Reva tiba-tiba kembali membuat alasan, Bayu mendekatinya, mengusap rambutnya, memeluknya erat.
"Sepulang dari Indonesia kita ke New york, salju di sana sangat indah, kamu dan Nesya bisa main sepuasnya".
"Mas Bayu janji?".
"Iya, aku akan membawamu keliling New York, aku janji".
__ADS_1
Reva tersenyum, mengeratkan pelukannya. Bayu mengecup kening Reva. Bayu merasa begitu bahagia.
πΉπΉ
(Bayu part)
"Indonesia, apa kabarmu? Tempat aku dilahirkan oleh seorang ibu yg menemaniku hanya sampai umurku 4th, aku tidak tahu siapa ayah kandungku, dan aku yg tidak pernah berusaha mencari tahu, aku tidak peduli dan tak pernah mau peduli, Bu Nurul sudah sangat cukup bagiku, cukup membuatku dibesarkan dengan penuh kasih sayang, meski Deka sering membuatku terlibat dalam masalah, tapi aku merasa dengan cara itu aku bisa membalas jasa bu Nurul membesarkanku, dan aku bersyukur, karna kesalahan Deka, Reva kini benar-benar menjadi milikku.
Seperti saat ini, aku tak lagi takut memeluk Reva, aku tak lagi takut meminta hakku sebagai suaminya, dan Reva melayaniku dengan sepenuh hatinya.
Terimakasih Deka, kamu memberikan dua bidadari cantik dalam kehidupanku, aku akan membalasnya, aku akan membalas semua kebaikanmu".
πΉπΉ
Semarang, hujan deras di pukul 21.20.
Alun-alun yg sudah sepi, gedung bioskop yg 10 menit lagi juga akan tutup. Sekar masih mendekap lututnya di dalam gerobak kecil itu, tubuh Sekar menggigil.
Mawar telah tertidur sejak hujan turun usai maghrib tadi, pembeli juga hanya beberapa yg masih mampir di tengah hujan yg cukup deras menghantam bumi. Tapi Sekar belum juga menutup warungnya, sekar merasakan sakit di kepalanya, dia tidak mau menambah menyakiti dirinya dengan nekat hujan-hujan, Sekar juga tidak tega jika harus membangunkan Mawar.
Sekar hanya mendekap dirinya sendiri,air mata merembes di ujung mata, Sekar merindukan suaminya, seandainya dia tidak meninggal, suaminya tidak akan membiarkan dirinya dan Sekar kedinginan di tepi jalan, kehujanan, dan bersahabat dengan sepinnya malam. Sekar kembali mengusap Luh yg terus saja luruh, dikatupkan wajahnya pada kedua lutut kakinya yg ditekuk.
"Mbak Sekar". Satpam gedung bioskop itu mengetuk pintu gerobak yg separo terbuka, Sekar menoleh pelan.
"Mbak Sekar belum pulang?".
"Sebentar lagi Pak, nunggu agak reda, Mawar tidur, kasihan kalau diajak hujan-hujanan".
"Tapi ini sudah malam Mbak, gerbangnya mau saya tutup, nanti yg jaga malam ganti orang Mbak, atau Mbak Sekar mau saya antar?".
"Ngaak usah Pak, terimakasih, ditutup saja Pak gerbangnya nanti kalau saya mau pulang, biar saya menemui yg jaga malam, maaf Pak, merepotkan".
"Ow ya sudah kalau begitu, saya pulang dulu Mbak".
Sekar hanya mengangguk.
Sekar diijinkan jualan di halaman gedung bioskop karna pemilik gedung bioskop itu adalah teman almarhum suaminya, dulu Sekar sempat ditawari pekerjaan, tapi Sekar menolak, Sekar tidak bisa meninggalkan Mawar dalam asuhan orang lain.
Hari semakin malam, tapi hujan tak juga mereda, sakit kepala Sekar juga semakin menyiksa, Sekar mengambil obat pereda nyeri, menutup rapat pintu gerobaknya, jendela kecil dibagian samping dibiarkannya sedikit terbuka. Sekar meringkuk disamping Mawar, gerobak yg ukurannya hanya sekitar 1x2 meter itu dijadikannya tempat bermalam bersama putri kecilnya, Sekar menaikkan kain tipis untuk menutupi tubuh mawar dan dirinya.
"Selamat Malam dunia, kupasrahkan segala hidupku padaMu ya Rabb". Sekar memejamkan mata, bulir bening merembes di ujung matanya. Sekar dan Mawar, terlelap dalam derasnya hujan, didalam gerobak dipinggir jalanan kota.
πΉπΉ
Pagi datang lebih awal, aroma tanah yg basah masih tercium, sebuah mobil silver berhenti tidak jauh dari gerobak Sekar, membuka pintu lalu berjalan mendekati gerobak itu.
__ADS_1
"Tok...tok...tok..."
Deka mencoba mengetuk pintu gerobak yg masih tertutup rapat, Deka melihat jendela kecil disampingnya terbuka, Deka mengintip dari sana dan apa yg dilihatnya sungguh membuat hatinya remuk, dua perempuan yg akhir-akhir ini mengisi pikirannya sedang meringkuk disana, Mawar dalam dekapan Sekar yg kakinya sedikit tertekuk, karna sebagian tempat dalam gerobak itu dipakainya untuk menaruh sisa dagangan.
"Sekaaaaar....Sekaaaaar" Deka mencoba membangunkan Sekar.
Sekar menggeliat, Mawar langsung membuka matanya, melihat Deka dari balik jendela.
"Ooomm..." Mawar bangun membuka pintu gerobak, disambut pelukan Deka.
Sekar hanya menyipitkan matanya, mencoba mendudukkan dirinya, bersandar pada dinding gerobak.
"Kenapa Mawar tidur disini Sayang?" Deka masih memeluk mawar, mengusap rambut panjangnya. Mawar hanya menggeleng.
"Tadi Om Deka mampir ke rumah Mawar, tapi kata tetangga sebelah Mawar nggak pulang". Deka menahan air matanya yg hampir jatuh, Deka membayangkan bagaimana mereka berdua melewatkan malam dengan hujan yg deras sekali semalam. Tidur di tempat ini.
Sekar menyeret pelan tubuhnya keluar, wajahnya pucat, bibirnya membiru, saat melewati Deka dan Mawar..
"Bruuugkk". Sekar roboh, Deka dengan sigap menangkapnya, Mawar langsung berteriak memanggil ibunya, tubuh Sekar demam, dia bahkan menggigil dalam keadaan pingsan.
Deka segera menggendongnya masuk kedalam mobil, pikirannya panik, Mawar terus saja menangis di samping ibunya, yg Deka inginkan saat ini hanya secepatnya sampai ke rumah sakit.
πΉ
(Deka part)
"Aku bodoh, kenapa tidak dari semalam kesini, melihat mereka berdua seperti itu terasa lebih menyakitkan daripada saat aku harus kehilangan Reva, Selamatkan Sekar Tuhan, beri aku kesempatan untuk menebus dosa-dosaku dengan membahagiakan mereka, aku mohon ya Tuhan, jangan ambil Sekar dariku, aku tidak akan mampu kehilangan lagi untuk kedua kali"
Air mata Deka tak berhenti mengalir, rasa penyelasan terus saja menghujam dadanya. Bayangan mereka meringkuk dalam gerobak tak juga hilang dari pikirnya.
Deka semakin yakin perasaannya pada Mawar dan Sekar bukan hanya sekedar rasa iba, tapi mereka telah membuat Deka kembali menemukan cinta.
πΉ
πΉ
πΉ
(Besambung)
Yg kemarin kangen Bayu, sudah saya kabulkan..dikit dulu ya..biar Deka nggak kalah lagi sama Bayu...
Jujur penulisnya mewek pas nulis part ini, semoga kalian tidakππ
Tinggalkan jejak, like dan komennya ditungguππππππ
__ADS_1