Mawar Untuk Deka

Mawar Untuk Deka
ex.part 9


__ADS_3

🌹🌹🌹


Pagi menyapa, Deka menggeliat, menyipitkan matanya, aroma nasi goreng tercium hingga masuk ke dalam kamarnya. Deka merasa berhalusinasi, tidak mungkin ada aroma nasi goreng sepagi ini dirumahnya, sampai suara pintu kamarnya di ketuk, Deka masih merasa enggan beranjak, menutupi telinganya dengan bantal, dengan posisi tengkurap Deka mencoba kembali terlelap.


Sekar yg tak mendapatkan respon dari Deka langsung masuk, Sekar menggelengkan kepala melihat posisi tidur Deka.


Sekar membuka tirai, membuka lebar-lebar jendela kamar Deka, membiarkan sejuknya udara pagi yg mengiringi terbitnya matahari ikut membangunkan Deka.


Deka tetap bergeming, Sekar memberanikan diri mendekat, menurunkan bantal yg menutupi sebagian wajah Deka.


"Bangun Deka...sudah siang...!". Ucap Sekar, menurunkan selimut yg hampir menutupi seluruh tubuh Deka kecuali kepalanya.


Deka membuka mata pelan, perlahan memiringkan tubuhnya menghadap Sekar.


"Selamat pagi istriku....aaaaggggghhhhh..."


Deka kembali menggeliat, menuruni ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sekar hanya bisa menggelengkan kepala, melipat selimut dan merapikan tempat tidur Deka. Setelah rapi, Sekar meninggalkan kamar itu.


Deka yg telah selesai mandi dan berpakaian rapi, segera menuju meja makan, sepiring nasi goreng dengan telor ceplok dan segelas kopi hitam, Mawar sudah ikut duduk disana.


"Pagi Om". Sapa Mawar


"Pagi sayang, tidurmu nyenyak hem?"


"Nyenyak banget Om, kasurnya empuk, ada AC nya lagi, jadi Mawar nggak kegerahan". Jawab Mawar dengan wajah yg ceria.


"Syukurlah, dan mulai hari ini, Mawar nggak boleh panggil Om lagi, panggilnya harus Ayah". Deka mendekatkan wajahnya ke wajah Mawar, Mawar mengecup pipi Deka.


"Oke Ayaaaah". Deka dan Mawar tersenyum senang, lalu menyantap nasi goreng buatan Sekar, yg menurut Deka rasanya tidak kalah dengan rasa nasi goreng restoran mewah.


"Makasih Sekar, masakanmu enak". Puji Deka, Sekar mengangguk.


"Maaf hanya masak itu, tidak ada bahan makanan di kulkas, aku belum tahu daerah sini, tidak tahu dimana warung tempat belanja".


"Biasanya ada abang sayur yg lewat, tapi nanti sekitar jam 9, atau kalau kamu mau nanti siang aku antar kamu belanja, setelah Mawar pulang sekolah".


"Kamu nggak kerja?". Sekar mencari tahu, dia masih merasa canggung jika harus bersama Deka terus, akan lebih nyaman jika Deka bekerja, besok dia juga akan mulai berjualan, jadi hanya akan bertemu Deka pada malam harinya.


"Tokoku buka nanti jam sembilan, ada sekitar 10 orang yg bekerja di sana, kalau tidak begitu ramai, aku hanya menghabiskan waktuku untuk melukis".


"Kamu punya toko?" Sekar sedikit terkejut.


"Memangnya kamu tidak tahu pekerjaan suamimu? Aku bahkan pernah bercerita pada Mawar waktu itu". Mawar yg mendengar hanya mengangguk. Mawar ingat, Deka pernah bilang kalau Deka punya toko.


"Maaf, aku memang tidak pernah berusaha mencari tahu tentangmu, yg aku perlu aku tahu hanyalah kamu menyayangi Mawar". Sekar menunduk, memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Nanti aku akan mengajakmu kesana". Lanjut Deka.


"Besok aku mau jualan".


"Tidak Sekar, kamu tidak boleh jualan lagi..!"


"Kenapa? kamu malu? aku sudah jualan disana lebih dari 5 tahun, sayang kalau harus berhenti". Sekar mencoba mencari alasan.


"Bukan karna malu Sekaaar, aku tidak mau setiap hari kamu dalam bahaya, aku juga bisa menafkahimu, kamu cukup mengurus rumah, mengurusku dan Mawar, aku bisa menafkahimu, dan aku menikahimu bukan untuk membiarkanmu berjualan lagi ditempat itu". Ada penekanan dalam nada bicara Deka.


Sekar tertunduk.

__ADS_1


"Bukankah kamu menikahiku karna Mawar? bukan karna aku?". Sekar meremas ujung jilbab hitamnya yg terjuntai di bawah meja makan.


"Dulu memang iya, tapi sekarang aku benar-benar mau kamu menjadi pendamping hidupku".


Deka beranjak, menaruh sendoknya sembarangan hingga menimbulkan bunyi berdecit karna bertabarakan dengan piring yg masih menyisakan sedikit nasi gorengnya.


"Ayo Mawar, Ayah antar kamu sekolah". Deka menggandeng tangan Mawar tanpa menghiraukan Sekar. Mawar melepaskan genggaman tangan Deka, lalu berlari ke ibunya.


"Mawar pamit ya Bu..." Sekar mengangguk, mencium kedua pipi Mawar.


Sekar masih duduk di tempatnya, menatap kepergian Deka dan Mawar, hanya menatap, tanpa mengantarnya.


Hari pertama yg gagal menjadi istri, hati Sekar berkata seperti itu, meski tanpa pertengkaran, tapi Sekar menangkap rasa kecewa Deka saat di meja makan tadi.


Suami adalah surga bagi seorang istri, tapi untuk mencapai surga itu bukanlah hal yg mudah bagi Sekar.


Pernikahan dengan Deka yg hanya dikenalnya dalam hitungan bulan, memulai segalanya dari belajar beradaptasi...yg gagal pagi ini...


🌹🌹


Sekar masih sibuk mengelap setiap benda yg ada dirumah Deka, semua yg tak pernah tersentuh wanita, hanya seorang IRT yg dibayar Deka untuk datang 3 hari sekali, Sekar begitu sibuk sampai tidak menyadari kedatangan Deka.


"Kok belum siap?" Deka yg muncul tiba-tiba membuat Sekar reflek terkejut, lalu memegang dadanya.


"Siap kemana?". Sekar tampak gugup.


"Aku akan mengantarmu belanja, sekalian jemput Mawar, setengah jam lagi Mawar pulang sekolah". Deka mendudukan dirinya di sofa di seberang Sekar berdiri.


"Baiklah aku ganti baju dulu". Sekar masuk ke dalam kamarnya, tak butuh waktu lama Sekar sudah keluar kembali, tidak ada yg berubah, hanya sedikit lebih rapi.


Deka menjual banyak sekali baju branded, tapi jika melihat pakaian yg dikenakan Sekar saat ini, tidak akan ada yg percaya bahwa Sekar adalah istri seorang Deka.


Mobil Deka berhenti di halaman sekolah Mawar, masih 15 menit, Sekar mulai tampak salah tingkah, sangat berbeda dengan Deka yg pura-pura sibuk melihat ponselnya, padahal Deka tahu, Sekar sedang sangat merasa gerah dengan keadaan mereka.


Ingin rasanya Deka tersenyum, melihat Sekar berkali-kali mengusap wajah dengan ujung jilbabnya, sementara AC mobil Deka sangat terasa dingin. Deka hanya menahan, menunggu seberapa kuat Sekar dengan gengsinya, toh Deka bukan lelaki yg bukan muhrimnya, Deka suaminya.


"Boleh tanya?" Sekar mencoba membuang canggungnya.


"Hmm". Jawab Deka singkat.


"Kenapa kamu tidak mencari istri yg sepadan denganmu, atau setidaknya secantik dan semodis Reva, aku yakin kamu bisa mendapatkannya".


"Tentu aku bisa, bahkan bisa mendapatkan wanita yg cantiknya 10x lipat dari Reva". Deka mencoba membuat Sekar cemburu.


"Lalu kenapa aku?".


Deka mendekatkan wajahnya, Sekar yg mulai gugup menarik mundur wajahnya hingga kepalanya menyentuh jendela mobil, Deka berhenti disana, berhenti tanpa menarik wajahnya, Deka seolah-olah sedang mengamati setiap inci bagian wajah Sekar yg mulai basah oleh keringat dingin, Sekar gemetar, Deka tahu itu. Deka menambah dekat jarak wajahnya, hingga nafas Sekar yg mulai terengah bisa Deka rasakan.


Deka tersenyum, Deka senang melihat ekspresi Sekar.


"Kamu Unik". Deka menarik wajahnya tanpa melakukan apapun, dengan dua kata itu Deka bisa membuat wajah Sekar merona, Deka tersenyum, lalu keluar dari mobilnya.


"Cukup untuk kali ini". Gumam Deka, yg tak bisa menahan bibirnya untuk terus tersenyum, karna bisa melihat wajah Sekar dengan jarak yg begitu dekatnya. Jika harus ditanya apa yg Deka rasakan? Dekapun hampir menggila karna hampir tak mampu menahan debaran dalam dadanya.


Deka menangkap Mawar yg berlari ke arahnya, lalu mendekap dalam gendongannya.


"Ibu mana Yah?". Mawar celingukan mencari Sekar.


"Ibu ada di mobil, ayo sekarang kita belanja, Mawar bisa beli apapun yg Mawar mau". Ucap Deka yg ditanggapi dengan senyum ceria Mawar.

__ADS_1


🌹🌹


Pertama kali buat Sekar belanja di tempat seperti ini, hanya untuk membeli sayur dan buah mereka masuk ke dalam pusat perbelanjaan yg terkenal di kota Semarang, Sekar dan Mawar sibuk memilih bahan makanan dan perlengkapan dapur yg mereka butuhkan, Deka mendorong troli mengekor dari belakang, Deka meminta Sekar mengambil keperluan yg juga Deka butuhkan, sampai semua di rasa cukup, Deka menyerahkan sebuah kartu kepada Sekar.


"Kamu pakai ini untuk membayar, aku dan Mawar akan membeli es krim di ujung sana".


Deka dan Mawar meninggalkan Sekar yg masih mengantri di depan Kasir.


Seseorang menepuk bahu Sekar dari belakang.


"Sekaar...?"


"Mas Aliiif". Sekar terkejut, salah satu sahabat suaminya itu kini berdiri tepat di depannya.


"Kamu apa kabar Sekar...?"


"Baik Mas, Mas Alif kemana saja? lama nggak mampir ke warung". Tanya Sekar.


"Aku pindah ke Solo Sekar, maaf tidak memberitahumu, kamu sendiri?". Alif sedikit terheran melihat belanjaan Sekar yg satu troli penuh.


"Aku baru saja menikah Mas, aku kesini bersama suamiku dan Mawar".


"Benarkah...?" Ada gurat tak percaya dari wajah Alif.


Sementara dikejauhan Deka mulai menyipitkan matanya, dia melihat Sekar dengan lelaki itu, lelaki yg sama yg dilihatnya beberapa bulan lalu di warung Sekar, Lelaki yg bisa membuat Sekar tersenyum dengan riang. Deka mengepalkan tangannya, tapi Deka mencoba menahannya.


Deka berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Sekar, tapi Sekar tak menyadarinya.


"Kamu bohong kan Sekar? kamu tidak mungkin menikah, bahkan setelah berkali-kali menolakku...!" Alif mengenggam lengan Sekar, tanpa tahu pria yg di belakang Sekar adalah suaminya.


Deka berjalan ke depan Sekar, menarik krah baju Alif.


"Aku suaminya...kenapa?" Deka mendekatkan wajahnya dengan wajah Alif.


Sekar tahu, Deka tidak pernah baik bila beurusan dengan emosi, Sekar mengambil inisiatif untuk memeluk Deka dari belakang.


"Cukup Deka, jangan diteruskan, jangan membuat keributan". Deka yg merasakan hangat tubuh Sekar mendekap tubuhnya, entah kenapa menjadi tak berdaya, dia melepaskan cengkramanannya ke Alif, Alif membenarkan bajunya, dengan sinis dia berlalu meninggalkan Sekar yg masih memeluk Deka dari belakang.


"Jangan berbicara lagi dengan laki-laki itu, aku tidak suka". Deka membalikkan tubuhnya menatap Sekar, Sekar mengangguk.


Beberapa orang disana masih menatap kejadian yg baru saja mereka tangkap mirip dengan sebuah adegan di drama korea. Lalu bubar setelah Sekar dan Deka meninggalkan tempat itu, kembali ke mobil dimana Mawar sudah lebih dulu terlelap di dalamnya.


Deka menstater mobilnya, tapi tidak lantas melajukannya.


Deka menatap Sekar. Sekar menatap jauh ke depan, Sekar tahu Deka menatapnya, lututnya gemetar..


"Sekar...lihat aku...!!" pelan Sekar menolehkan wajahnya.


"Jangan lagi membuatku cemburu, aku bisa mati karnanya". Tanpa meminta jawaban, Deka melajukan mobilnya cepat, secepat dan sebanyak pengakuannya hari ini kepada Sekar, dan masih sangat terasa pelukan Sekar yg menghipnotis emosinya untuk mengalah tanpa harus kalah.


🌹


🌹


🌹


Masih ditunggu supportnya ya,,komen dan like kalian membangun semangat saya untuk terus menulis...


🙏🙏🙏

__ADS_1


💖💖💖


__ADS_2