
🌹🌹🌹
Sekar masuk kamar lebih dulu, sementara Deka masih mengobrol dengan ibu, Sekar tahu, Deka berhak atas semua yg ada pada dirinya, hidup dan matinya, tapi Sekar masih terlalu takut untuk memulai, Setelah bertahun-tahun hidup sendiri, kini Sekar harus kembali berbagi dengan seorang lelaki yg semuanya di awali tanpa perasaan cinta.
Sekar merapatkan selimutnya, dingin mulai menyusup sungsum tulangnya, Sekar mendengar suara pintu di buka, dia lantas memejamkan matanya.
Deka merebahkan tubuhnya tepat dibelakang Sekar yg tidur membelakanginya, Sekar yg tertidur masih lengkap dengan jilbabnya. Deka ragu, Deka takut Sekar masih menolaknya, pelan, Deka mengusap punggung Sekar, Sekar yg merasakannya hanya bisa menahan laju jantungnya yg tak terkendali, sebisa mungkin menahan getaran hebat dalam dirinya, mengendalikan reflek tubuhnya yg tidak sinkron dengan pikirannya.
Deka bergeser, merapatkan tubuhnya pada tubuh Sekar, mengeratkan tangannya diatas pinggang Sekar, Deka mulai bisa merasakan ritme jantung Sekar yg memburu. Deka tersenyum.
"Kamu belum tidur?". Deka membisikan kalimat itu di telinga Sekar, lirih, dan itu membuat sekar bergidik. Sekar tetap terdiam.
"Baiklah, aku tidak akan memintanya darimu sekarang, aku tahu, aku masih belum pantas untukmu". Deka menggeser kembali tubuhnya, sekarang mereka saling membelakangi.
Sekar masih terlalu bingung dengan pikirannya, tapi setiap kali membayangkan bahwa Deka adalah suami sahnya, hati Sekar seakan teriris, bagaimana dia merasa berdosa dengan menunda setiap kali Deka meminta haknya.
Sekar membalikkan badannya, menatap punggung Deka yg kokoh, sekarang Sekar melakukan hal yg sama, mengusap punggung Deka pelan, sama seperti saat Sekar mengusap punggung Mawar saat hendak tidur, dan membuatnya terlelap. Bukannya terlelap, Deka malah tersenyum.
"Maaf". Ucap Sekar sangat lirih, suaranya bahkan hampir tak terdengar oleh Deka.
Deka masih tetap dalam posisinya, dia menunggu apa yg akan dilakukan Sekar selanjutnya.
15 menit, detak jarum jam seolah berjalan sangat lambat, Deka masih menunggu, seandainya dia bisa terlelap dan bangun di pagi harinya tanpa sadar Sekar ada di sampingnya. Sayang, semua itu hanya seandainya, Deka masih begitu sadar dengan menahan setiap gejolak yg memburu dalam hatinya.
Tak berapa lama, Sekar merapatkan tubuhnya, memeluk pinggang Deka perlahan, dia menahan wajahnya di punggung suaminya, Deka tersenyum, inilah yg dia inginkan, tanpa paksaan, tanpa penolakan, meski Deka tahu, semuanya perlu tahapan.
Deka memutar tubuhnya menghadap Sekar, Sekar sedikit terkejut, tapi Sekar menahannya, Deka bahkan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sekar, menatapnya, lalu mengusap wajahnya.
"Bolehkah aku melihat rambutmu". tatapan memohon Deka membuat Sekar menganggukkan kepala.
Pelan Deka menarik jilbab pink yg dipakai Sekar. Rambutnya hitam dan tebal, aroma shamponya langsung ikut keluar.
"Kamu cantik, sangat cantik". Deka mengecup kening Sekar, lalu pipi, dan berhenti sebentar di bibirnya. Deka bisa merasakan tubuh Sekar berguncang, Deka menarik kembali dirinya. Merengkuh Sekar dalam pelukannya, membenamkan wajah Sekar dalam dada bidangnya.
"Tidurlah..." Deka tersenyum, Deka ingin membuat Sekar jatuh cinta dengan dirinya, dan menyerahkan seutuhnya hidupnya tanpa beban, ini adalah proses, bukan kesempatan untuk merebut semua yg Sekar punya. Cukup untuk malam ini, kecupan singkat dibibir Sekar sudah bisa membuat Deka sangat bahagia.
Sekar merubah sedikit posisi tidurnya, Deka terlalu kuat mendekapnya.
"Diamlah, jangan banyak bergerak, atau aku benar-benar tidak bisa menahannya". Deka kembali merengkuh tubuh Sekar. Kata-kata Deka membuat bulu kuduk Sekar kembali meremang,
Sekar diam, dia mematung, membekukan dirinya, tubuhnya yg terkunci oleh ucapan Deka, sebenarnya Sekar telah rela jika malam ini Deka meminta haknya, tapi Sekar beruntung, karna Deka masih menundanya.
Hujan yg semakin deras turut menyelimuti perasaan mereka yg tengah jatuh cinta, cinta diusia yg telah matang, cinta yg kembali datang setelah sama-sama merasakan kehilangan, cinta sederhana mereka yg tanpa tuntutan.
🌹🌹
Semua sudah siap menuju bandara, Deka dan Bayu duduk didepan, dua cassanova putra Bu Nurul itu terlihat begitu mempesona, di belakangnya Sekar dan Reva, lalu Bu Nurul dan dua cucunya duduk di jok belakang, keluarga yg lengkap, meski sebelumnya begitu banyak pertikaian di antara mereka, tapi pada akhirnya mereka menemukan jalan menuju kebahagiaan masing-masing, hanya segurat wajah yg masih tak henti menatap Deka, ada rasa bersalah, ada rasa cemburu, atau mungkin ada sisa perasaan yg Reva punya untuk Deka, entahlah...
__ADS_1
Satu-satu saling berpamitan, Nesya masih dalam gendongan Deka, Deka seolah tak rela melepaskan kepergian putrinya, berkali-kali menciumnya, matanya pun mulai berkaca-kaca.
Bayu memeluk Bu Nurul, bergantian dengan Reva, lalu mereka berdua menyalami Sekar, memeluk Mawar, suasana haru tercipta, sampai pada saat Bayu menghampiri Deka.
"Sekali lagi maafkan aku Kaa". Bayu memeluk Deka, Deka mengangguk, tapi Deka belum juga melepaskan Nesya, Nesya yg dari kemarin tidak mau dengan Deka, entah kenapa sekarang erat dalam gendongan Deka, tanpa protes tanpa menangis.
Reva menghampiri Deka, Reva mengulurkan tangannya menyalami Deka, tapi Deka tidak membalasnya, lalu Reva meminta Nesya dari gendongan Deka.
"Echa mau bilang apa ke papi?" Reva membisikan kalimat itu ke telinga Nesya.
"Echa sayang papi". Nesya mengatakannya dengan terpatah-patah.
Deka spontan kembali memeluk Nesya yg sudah berada dalam gendongan Reva, air matanya jatuh, perasaannya luruh, jaraknya yg begitu dekat dengan Reva membuatnya kembali tersadar, Deka menarik dirinya, tapi Reva membisikkan sesuatu, sangat pelan, tapi tertangkap dengan baik oleh telinga Deka...mengubah mimik muka Deka, sedikit muram, bukan...lebih tepatnya sedikit marah, dan Sekar tahu, setiap kali mata Deka tersulut emosi Sekar bisa menangkapnya.
Sekar mendekati Deka, menggengam erat tangannya, lalu mengucapkan salam kepada Nesya dan Reva.
Bayu, Reva dan Nesya, berlalu bersama suara pesawat yg menghilang di balik awan.
Mereka kembali ke tempat di mana seharusnya mereka berada, karna kebaradaan Reva, selamanya akan menjadi luka yg tak akan pernah sembuh dalam hati Deka.
🌹🌹
Usai mengantar Bu Nurul pulang, Deka, Sekar dan Mawar pun bergegas pulang.
Senja yg mulai membias, membius jingga untuk membuatnya indah, tanpa pelangi tentunya, karna hujan tidak menjatuhkan diri siang tadi, tapi cukup membuat mata terpesona oleh warnanya yg turut serta menenggelamkan sang surya.
Bibir Deka tersenyum, berkah yg luar biasa, laba penjualan tokonya meningkat lebih dari 30%, rejeki Sekar dan Mawar pikir Deka.
Deka menutup Laptopnya, setengah berlari menuju dapur, menggendong Mawar yg berdiri disamping Sekar, merangkul pundak Sekar.
"Ayah kenapa tersenyum gitu?" Mawar merasa aneh melihat Deka yg terus saja tersenyum.
"Alhamdulillah sayang, toko Ayah semakin laris, ini berkat doa kalian berdua". Deka mencium pipi Mawar.
"Alhamdulillah...." Sekar dan Mawar mengucapkannya hampir bersamaan.
"Kamu ingin hadiah apa sayang". Deka mendudukan Mawar di kursi, lalu ikut duduk disampingnya.
"Eeehhhhmmmm". Mawar masih berpikir, menyangga wajah dengan dua tangannya, manik kecilnya menatap langit-langit rumah.
"Kalau kamu ingin membeli apa Sekar". Kini giliran Sekar yg ditanya, Sekar menaruh sayur yg telah matang, memindahknnya ke meja makan, lalu ikut duduk bersama mereka.
"Aku nggak mau apa-apa Mas, uangnya di tabung saja, atau sebagian kamu sumbangkan ke panti asuhan". Sekar mengambilkan nasi untuk Deka dan Mawar.
Deka tersenyum, Panggilan baru untuknya sudah benar-benar bisa di dengarnya, Deka menyukainya.
"Iya Yah, gimana kalau kita sumbangin ke panti asuhan tempat ibu dulu tinggal". Deka langsung mengiyakan ajakan Mawar.
__ADS_1
"Oke...minggu depan kita ke panti asuhan, Mawar juga boleh membeli hadiah buat anak-anak disana, kamu bisa ajak ibu sepulang sekolah". Deka menyerahkan kembali sebuah kartu Atm ke Sekar.
"Kamu bawa ini, nomor pin nya tanggal pernikahan kita, besok kamu ajak Mawar belanja, aku nggak bisa antar karna ada meeting dengan suppliyer".
"Tapi...." Sekar ragu.
"Aku suamimu Sekar, kewajibanku memberikan nafkah buat kamu, aku kerja buat kamu dan Mawar, simpan, dan pakailah sesukamu, itu uangmu". Ucap Deka sambil menyantap makanannya.
"Yah, boleh nggak Mawar minta sesuatu". Mawar tiba-tiba berucap disela makannya.
"Apa sayang? Apapun buat kamu, asal itu buat kebaikan pasti Ayah belikan". Sahut Deka.
"Bener Yah, apapun yg Mawar mau?". Mawar menghentikan makannya, menaruh sendoknya dipiring.
"Mawar mau adik Yah...temen-temen Mawar punya adik, tapi Mawar nggak punya Adik".
Deka dan Sekar reflek berpandangan, Sekar sempat tersedak mendengar permintaan Mawar. Deka tersenyum sangat lebar.
"Uang Ayah kan banyak, kata temenku kalau ibu minum susu hamil, maka adik bayi bisa hidup di perut ibu, nah mulai besok, Mawar nggak usah dikasih uang jajan Yah, uangnya buat beli susu hamil saja biar ibu cepet punya adik bayi". Kali ini Deka tertawa lalu mencubit hidung Mawar.
"Iya sayang, besok Ayah kasih kamu adik yg banyak". Deka kembali tertawa, apalagi saat menangkap rona memerah di wajah Sekar. Mawarpun bersorak senang.
🌹🌹
Mawar sudah terlelap, Sekar yg sudah ikut berbaring disebelah Mawar belum juga bisa memejamkan mata, Sekar masih diliputi rasa penasaran tentang ucapan Reva kepada Deka saat di bandara tadi pagi, apa yg Reva ucapkan sampai Deka kembali tersulut emosi, beruntung Bayu tidak melihatnya. Sekar harus tahu.
Sekar mengetuk pintu kamar Deka, Deka yg masih dengan laptopnya terheran melihat Sekar masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf Mas..masih sibuk?". Deka menutup laptopnya, menaruhnya dimeja samping ranjangnya.
"Kemarilah". Deka menepuk sisi tempatnya duduk, sekar menurut.
"Boleh tanya?" Deka langsung mengangguk.
"Reva bilang apa di bandara tadi?". Deka reflek memeluk Sekar, mencium setiap bagian wajah Sekar, lalu membaringkan tubuh Sekar diranjangnya.
"Berhenti membahas Reva, apapun itu, dan siapapun dia, aku hanya ingin kamu, dan aku ingin segera mengabulkan permintaan Mawar, memberikan adik untuknya".
Deka melepaskan semua yg tertahan, meminta haknya dan memiliki Sekar seutuhnya, Sekar pun tak ingin lagi menolak, kedatangan Sekar yg ingin menanyakan perihal Reva justru berakhir dengan pergulatan panjang. Melepaskan setiap kerinduan dari sebuah perasaan yg tertahan.
🌹
🌹
🌹
(bersambung)
__ADS_1