
πΉπΉπΉ
Luka yg terlalu dalam bisa saja tidak akan sembuh, tapi waktu bisa membuatnya terburai, menguap bersama hembusan angin, mengalir seperti hujan yg tidak bisa dikontrol untuk berhenti begitu saja.
Deka... Lelaki bak cassanova itu masih duduk di depan seorang bartender, meneguk sisa minumannya. Sementara Andre, teman Deka yg juga merangkap sebagai seorang mucikari menghampiri.
"Hey Kaa...lama baru keliatan, ngumpet dimana kamu?"
Memang, sejak bertemu Mawar, Deka tidak lagi datang ke club ini, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di toko, lalu pergi menemui Mawar, hampanya terobati sejak kehadiran gadis kecil itu, tapi 2 hari yg lalu...
πΉπΉ
#flashback On#
Deka menggandeng Mawar, seharian mereka bermain ke taman kota, lalu jalan-jalan ke Mall, mengajaknya ke play ground dan bermain sepuasnya di sana, Mawar terlihat sangat bahagia, Mawar bercerita, tidak pernah sekalipun dia dan ibunya bermain seperti ini, Sekar berjualan dari pagi sampai malam, tidak ada waktu dan cukup uang untuk berfoya-foya.
Deka terus menggandeng tangan Mawar yg tak henti bercerita, dalam hati Deka ingin rasanya berjanji untuk bisa bersama Mawar setiap hari, memberikannya kasih sayang layaknya seorang ayah kepada putrinya, tapi sikap Sekar yg tak juga bersahabat selalu membuat Deka menarik ulur niatnya.
Dan sore itu, saat Deka mengantar pulang Mawar, Deka melihat Sekar bersama seorang pria, wajahnya lumayan, meski tak lebih tampan dari Deka, dan Sekar tersenyum, tersenyum sangat manis, untuk pertama kali bagi Deka melihatnya.
"Om Aliiiif". Mawar melepas genggaman tangan Deka, berlari memeluk pria yg di panggilnya Om Alif itu, mereka berpelukan, Sekar tersenyum menatapnya, Deka hanya terpaku, membeku, seolah berdiri tanpa raga.
Deka yg sedang berusaha membuat Sekar tersenyum untuknya, kini di lihatnya tersenyum untuk orang lain.
Deka berbalik, tanpa pamit dia pergi, tanpa ingin tahu siapa pria itu, dalam benaknya terbesit bahwa Sekar dan Mawar bahagia saat ini tanpa dirinya.
Dan 2 hari ini, tanpa menjumpai mereka, Deka merasa marah pada dirinya sendiri.
#Flashback Off#
πΉπΉ
Andre memesan 1 botol bir, menuangkan lagi ke gelas Deka yg sudah kosong.
"Kenapa Kaa..? ditanya malah bengong gitu".
Andre menepuk bahu Deka, lalu meneguk gelasnya yg terisi penuh bir merk hotel bintang lima itu.
"Nggak tahu Ndre, aku badmood". Mata Deka menatap bartender yg tengah gesit melakukan aksinya menyajikan minuman.
"Mau aku bantu menghilangkan Badmoodmu? Ada barang baru Kaa, masih orisinil, aku kasih harga discount buat kamu". Andre menyeringai, mencoba merayu Deka yg selama ini belum pernah mau mencoba one stand night dengan wanita-wanita panggilannya, bukan sok alim, tapi Deka memang membenci wanita-wanita penggoda itu. Deka hanya menghabiskan malam dengan minuman keras, lalu menghilang dibalik meja perjudian.
Deka tertawa mendengar tawaran Andre.
__ADS_1
"No ****". jawab Deka singkat.
"Cobalah, stresmu akan hilang dan kamu tidak harus bertanggung jawab dengan wanita itu". Kata-kata Andre membuat Deka semakin melebarkan tawanya.
"Kamu tidak tahu artinya tanggung jawab Ndre". Deka bangkit dari duduknya, melangkah keluar, tidak dengan sempoyongan karna hanya beberapa gelas, sampai di pintu club Deka bertabrakan dengan seorang perempuan.
"Deka....!". Deka menyipitkan pandangnya, mencoba mengingat wajah wanita yg mengenali namanya itu.
"Aku Ayu...teman kamu SMA, kamu lupa?". Ayu menarik Deka duduk di beton pembatas di depan club.
Deka mulai mengingatnya, tapi dia hanya mengangguk tanpa menatap wajahnya.
"Cari makan yuk, sambil ngobrol, itung-itung reunian gitu".
"Aku kenyang". jawab Deka singkat.
"Ayolah, aku yg traktir, mumpung ketemu juga, ayolah, plissss". Ayu memohon.
Deka berdiri, berjalan bersama Ayu di sepenjang trotoar.
"Ada warung nasi kucing yg enak didekat alun-alun, kesana yuk...!". Ayu menarik tangan Deka, berjalan sedikit memutar menuju alun-alun. Deka hanya menurut. Dia masih terlalu kalut dengan perasaannya pada Sekar tempo hari.
Warung kucingan itu tidak terlalu ramai, tempatnya tidak begitu jauh dengan gerobak tempat berjualan Sekar.
Sampai Deka memutuskan untuk pulang, Deka berjalan menuju parkiran mobilnya di dekat club, Ayu yg terus mengekor sekarang malah bergelayut di lengannya, sempat Deka menepisnya, tapi Ayu terus mengulanginya.
Hingga sampai di penyebrangan...
"Deg..."
Jantung Deka seakan terpompa, Sekar berdiri di seberang sana, menatanpnya tanpa berkedip, tentu saja Ayu tak lepas dari tatapannya, gadis yg masih melekat di lengan Deka tak menyadari kalau Deka tengah menahan takut setengah mati. Tatapan Sekar seolah menghakimi, Entah kenapa Deka sedemikian ngeri membayangkan apa yg ada dalam pikiran Sekar, apalagi melihat Ayu yg hanya memakai rok jeans sepaha, atasan tanpa lengan yg menampakkan belahan dadanya.
Deka menepis tangan Ayu, tapi Ayu tak mempedulikannya.
Lampu hijau pejalan kaki menyala, Sekar melangkah pasti, tapi tidak dengan Deka, lututnya bergetar, tulangnya seakan remuk redam, Ayu menarik tangan Deka, hingga mereka bertemu ditengah jalan, Deka berhenti, tapi Sekar tetap mantap melangkah tanpa lagi melihat Deka.
Hati Deka bergejolak, hasrat ingin menyapa atau sekedar tersenyum pada Sekar diluar kendali tubuhnya. Deka berbalik, menepis keras tangan Ayu, berlari menyusul Sekar yg sudah beberapa langkah di depannya, Deka menarik lengan Sekar.
"Kita perlu bicara Sekar". Deka menarik lengan Sekar ke tepi jalan raya.
"Lepaskan, aku bukan muhrimmu". Seketika Deka melepaskan tangannya, menatap sayu mata Sekar yg seperti tersulut emosi.
"Ayo ke warungmu, Aku perlu bicara".
__ADS_1
"Tidak ada yg perlu dibicarakan, Lihatlah perempuanmu kemari, aku tidak mau menggangumu". Sekar mencoba berlalu, tapi Deka menahannya.
"Siapa dia Deka". Ayu yg masih terengah mencoba bertanya, siapa perempuan ini? bagaimana Deka mengenalnya?
"Aku bukan siapa-siapa Deka, silahkan lanjutkan". Sekar mencoba menepis tangan Deka, tapi Deka semakin erat menggenggamnya, Deka menatap Sekar tajam.
"Dia calon istriku ". Deka menajamkan retinanya. Sekar membelalakkan manik coklatnya, Ayu membekap mulut dengan kedua tangannya, matanya melotot, semua tercengang, bahkan Deka sendiri tak percaya bisa mengucapkan itu.
"Perempuan kampungan ini" Ayu masih mencoba menyadarkan nalarnya.
"Iya, dia ibu dari anakku, dia calon istriku". Deka menekankan perkataannya.
"Kamu gila". Sekar berlari meninggalkan mereka, sementara Ayu yg tak percaya segera berbalik meninggalkan Deka yg masih menatap kepergian Sekar.
πΉπΉ
( Deka part )
"Perempuan berjilbab abu-abu itu, telah mematahkan semua asumsiku tentang perempuan, dia menjatuhkan hatiku pada satu perasaan, perasaan untuk kembali ingin memiliki, perasaan untuk kembali terikat.
Tidak mudah untuk menyentuhnya, tidak mudah menaklukan hatinya bahkan dengan ketampananku, dengan hartaku, Meski Reva pernah melakukan hal yg sama, Reva tidak peduli saat itu aku miskin, tapi dengan cepat Reva menghianatiku. Sekar bukan Reva, aku harus percaya itu.
Berlarilah Sekar, saat ini aku akan membiarkanmu, tapi tidak esok hari, aku akan mengejarmu, aku akan membuatmu memiliki perasaan yg sama denganku.
2 hari tanpamu dan Mawar membuatku gila, dan aku tidak mau lagi kehilangan untuk kedua kalinya".
πΉ
Cinta selalu punya kesempatan untuk jatuh, terluka, dan kembali hidup. Cinta datang tanpa syarat, cinta datang tanpa tahu waktu.
Deka yg kembali punya harapan, mampukah Deka merebut hati perempuan kampungan bernama Sekar? Atau justru Sekar yg akan kembali mematahkan sisa harapan yg Deka punya?.
πΉ
πΉ
πΉ
Masih setiakah menunggu Deka???
yuuk ah tinggalkan, like dan komennya, biar saya tambah semangat bantu Deka ngejar Sekarπππ
πππ
__ADS_1