
πΉπΉπΉ
Hari ini Bayu sengaja tidak masuk kerja, bukan hanya karna semalaman dia tidak tidur, tapi karna hari ini Bayu berniat mengajak Reva memeriksakan kandungannya.
"Mas Bayu nggak kerja?" Tanya Reva saat melihat Bayu masih dengan kaos oblong dan celana pendeknya.
"Aku mau antar kamu periksa".
"Reva bisa sendiri kok Mas, Mas Bayu nggak perlu bolos kerja cuma buat nganter Reva".
"Emang kamu tahu dimana Dokter kandungannya? yg ada malah kamu nyasar, ujung-ujungnya aku yg repot". Kata Bayu sambil memainkan ponselnya.
Reva hanya diam, semakin Reva banyak bicara, maka akan semakin ketus Bayu menanggapinya. Bayu bukan orang yg mudah untuk diajak negosiasi, dia lebih mendominasi, bantahan dan tolakan hanya akan menjadi sia-sia jika sudah berhadapan dengannya.
Reva kembali ke dapur, menata sarapan di meja, Bayu yg melihat langsung ikut membantunya, lalu duduk di sana untuk sarapan bersama.
"Kapan kamu kenal Deka?". Bayu mulai memecah keheningan diantara mereka berdua.
"5 tahunan yg lalu, waktu aku SMA dan Deka sudah kerja jadi sopir taksi". Sahut Reva tanpa melihat Bayu.
"Langsung pacaran? Suka apanya dari Deka?".
Reva merubah mimik muka, dia mulai tidak suka Bayu mengulik masa lalunya.
"Kamu tahu Deka seperti apa dulunya?". Reva menangguk, memang Deka pernah menceritakan jalan hidupnya yg kelam, bahkan saat menjalin hubungan dengan Reva pun Deka masih menunjukkan sisa kenakalannya dulu, Deka masih mengkonsumsi alkohol.
"Dan Kamu tetap suka?". Bayu masih ingin jawaban dari mulut Reva, bukan hanya anggukan kepala.
"Mas Bayu kenapa? yg terjadi sama aku dan Deka bukan semuanya menjadi urusan Mas Bayu". Reva mulai berani.
Bayu menaruh sendoknya ke piring, tangannya saling berpagut diatas meja, dia menatap Reva tajam.
"Sudah berapa lama kita menikah?" Bayu mulai mengintimidasi Reva dengan pertanyaan yg tak pernah Reva duga sebelumnya.
"Dua bulan lebih". Reva menjawab pelan.
"Bagaimana perasaanmu setelah hidup denganku selama dua bulan?".
Reva menaruh sendoknya, tangannya turun ke bawah, meremas ujung bajunya. Reva ragu untuk menjawab pertanyaan Bayu, Reva hanya terus menunduk dan diam.
"Kalau aku pacaran dengan Clara disaat kita masih terikat pernikahan, bagaimana perasaanmu?" Belum sempat Reva menjawab pertanyaan yg tadi, Bayu sudah memberinya pertanyaan yg semakin sulit untuk di jawab.
Perlahan Reva menaikkan pendangannya.
"Mas Bayu baik, Mas Bayu sudah menolong Reva, Deka, dan anak dalam kandunganku, Mas Bayu tidak perlu terlalu merasa terikat dengan pernikahan ini, Mas Bayu berhak bersama Clara, karna dari awal memang hanya Clara yg berhak bersama Mas Bayu". Reva gemetar, dia tidak siap dengan apa yg akan dikatakan Bayu setelah mendengar jawabannya.
"Kamu bodoh, kamu bahkan merelakan suamimu bersama orang lain disaat kamu masih sah menjadi istrinya". Bayu bangun dari duduknya.
__ADS_1
Reva bingung, dia masih mencoba menerka apa maksud dari perkataan Bayu barusan.
"Ganti bajumu, aku tunggu di mobil". Bayu berlalu meninggalkan Reva, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Reva.
πΉπΉ
Hari masih pagi, Bayu tidak langsung mengajak Reva ke Dokter kandungan, Bayu mengajak Reva mengelilingi Los Angeles, setelah beberapa lama perjalanan mereka sampai di kota Anaheim, orange country, kota di bagian Barat LA, tempat Disneyland berdiri.
Reva menganga tak percaya Bayu membawanya ke sini. Reva bahkan lupa kalau di LA California ada disneyland, bukan hanya Hollywood.
Bayu membeli dua tiket masuk, Reva seperti seorang putri yg kebingungan mencari purinya, semua resort disana tampak indah, sayangnya Reva hamil, kalau tidak Reva benar-benar ingin memuaskan diri menikmati semua wahana yg ada disana.
"Aku ingin kesini lagi setelah anakku lahir Mas, aku ingin melihatnya dimalam hari, pasti lebih indah". Kata Reva sambil menyeruput satu cup jus yg dibelikan Bayu.
Bayu hanya tersenyum datar. Saat anak Reva lahir nanti, apa Reva kesini lagi bersama dirinya? Pikiran Bayu mulai jauh, sejak Bayu memeluknya, sejak Bayu merasa selalu khawatir dengan perasaan Reva, Bayu mulai mengkhawatirkan perasaannya sendiri.
Kejadian beberapa tahun lalu tidak boleh terulang, kejadian yg membuat Deka menjauhinya, bahkan membencinya, meski keadaan yg sebenarnya tidak sama dengan apa yg Deka pikirkan. Salah paham yg tidak pernah bisa diluruskan.
πΉπΉ
Usai berkeliling Disneland, Bayu mengajak Reva ke Dokter kandungan, kembali ke Monterey Park, kurang lebih 45km jarak yg harus ditempuh untuk kembali ke Monterey, Bayu sengaja hanya mengajak Reva ke satu tempat, kondisi kehamilan Reva membuat Bayu takut Reva terlalu capek.
Sekarangpun Reva tertidur di mobil. Sesekali Bayu menoleh ke arahnya dan tersenyum, kekasih adiknya ini telah memporak porandakan perasaannya. Bayu kembali teringat Deka.
#Flashback On#
"Brengsek, nggak tau diri, mau kamu apa sebenarnya haaah". Deka masih dengan amarahnya melotot ke arah Bayu. Bayu mengusap darah disudut bibirnya, dia tersenyum memandang Deka yg baru saja menghajarnya, Deka, yg baru 17 tahun, hari itu masih mengenakan seragam putih abu-abu, bersama seorang gadis yg menurutnya manis, tapi sayang, gadis yg dipuja Deka justru jatuh hati pada Bayu kakaknya.
Berulang kali Bayu mencoba jelaskan, bahwa dia tidak pernah membalas perasaan Karin, tapi Deka tidak mau tahu, bagi Deka, Bayu adalah orang yg selalu merebut apa yg menjadi miliknya, Bapak, ibu, dan sekarang Karin.
Puncaknya saat Deka menyatakan perasaannya ke Karin, dengan terus terang Karin bilang mencintai Bayu.
Perseteruan yg tidak pernah usai, Deka yg tidak pernah bisa mengendalikan emosinya, dan Bayu yg harus selalu mencoba mengalah, mengingat posisinya yg hanya anak angkat di keluarga itu.
#flashback off#
πΉπΉ
Bayu memarkirkan mobilnya, mereka sudah sampai di Dokter kandungan, Reva masih terpejam. Bayu menyandarkan kepalanya di atas kemudi, memandang Reva, tak tega untuk membangunkannya.
15 menit kemudian Reva terbangun, sempat tergagap karna Bayu yg masih melihatnya dari kemudi.
"Sudah sampai mana Mas? Maaf aku ketiduran". Reva membenarkan duduknya, merapikan rambut dan wajahnya yg sudah pasti kusut karna bangun tidur.
Bayu hanya tersenyum, membuka pintu mobil lalu keluar tanpa menghiraukan Reva yg masih terlihat bingung.
Reva membaca tulisan di depan sebuah rumah yg lebih mirip ruko, Dokter spesialis kandungan, begitu Reva menerjemahkan tulisan yg ada di papan.
__ADS_1
Reva menyusul Bayu yg sudah lebih dulu masuk, mendaftarkan Reva, lalu duduk di kursi tunggu.
Begitu namanya dipanggil, Reva dan Bayu segera masuk.
"Selamat sore Nyonya Bayu Syailendra". Reva tersenyum, panggilan yg asing dan terasa aneh buat Reva.
Dokter mempersilahkan Reva dan Bayu duduk.
Dokter memeriksa kondisi kesehatan Reva dan bayinya. Bayu menyimak dengan seksama, sesekali menanyakan hal yg Bayu tidak mengerti.
Perhatian Bayu seolah-olah Reva adalah istrinya dan anak itu adalah anak mereka. Reva sempat terlena, Reva lupa bahwa Bayu hanyalah dewa penyelamatnya, Reva melupakan Bayu yg perkataannya kadang melukai hatinya. Reva melupakan Clara.
πΉ
( Reva Part )
"Seandainya dia Deka, seandainya dia Papamu Nak". Batin Reva sambil mengusap perutnya.
πΉ
( Bayu Part )
"Seandainya aku mengenalmu lebih dulu dari Deka, seandainya kamu benar-benar istriku, dan seandainya anak di dalam kandunganmu adalah anakku". Bayu melihat Dokter yg memeriksa perut Reva.
"Meski kamu halal bagiku, tapi menyentuhmu lebih menegangkan dari pada maju ke medan perang".
πΉ
Perasaan tanpa nama...
gelisah tanpa arah...
dan luka tanpa darah...
Semua yg tidak pernah berawal tapi harus memiliki sebuah akhir, mampukah Reva dan Bayu bertahan hingga akhir? dengan segala perasaan yg rapat mereka sembunyikan?
πΉ
πΉ
πΉ
semoga suka dengan part ini ya..
maaf kalau masih banyak typo, harap dimaklum ya, masih pemulaπππ
yuuuk ah tinggalkan like dan komennya...
__ADS_1
ππππ