Mawar Untuk Deka

Mawar Untuk Deka
ex.part 15


__ADS_3

🌹🌹🌹


Sebulan sejak meninggalnya Clara, sepulang kerja Bayu masih sering mengunjungi makam Clara, memberikan ucapan selamat sore dan setangkai mawar putih kesukaan Clara, Bayu akan lama di sana, bercerita tentang hubungannya dan Reva yg sudah tidak semanis dulu, tentang pekerjaannya, tentang penyesalannya karna terlambat menemui Clara.


Disana, Bayu akan banyak mengurai air mata, mengeja setiap rasa sakit yg ia pendam, Clara menjadi satu-satunya tempat untuk berbagi, di saat masih hidup, dan saat kini Clara sudah tiada, Clara menjadi pelabuhan terakhirnya, dan kini Bayu sadar, tidak ada yg mencintainya lebih tulus dari Clara.


"Seandainya aku bisa menemuimu sekarang juga Clara, kamu tahu? kamu membuatku terjaga bahkan saat mataku terpejam, kamu curang Clara, kenapa kamu tidak mengajakku pergi bersamamu? Hanya sampai disinikah perasaanmu untukku? Bahkan kamu belum pernah memperjuangkan perasaan itu, kamu menyerah begitu saja pada Reva.


Maafkan aku Clara".


Bayu meracau setiap hari, saat dia terlalu cepat melepaskan, kini dia butuh waktu yg lama untuk sebuah penyesalan, Bayu baru tahu sakitnya kehilangan orang yg tulus mencintainya, yg justru tidak jadi pilihan hatinya.


🌹🌹


Selepas Maghrib Bayu baru pulang, Reva bahkan belum pulang, seminggu lalu dia sudah mulai masuk kuliah, dan setiap jam 8 malam baru sampai kerumah.


Bayu menghampiri Nesya.


"Maafkan Papa sayang". Bayu mencium kedua pipi Nesya lalu memeluknya, mereka lantas bercanda bersama, dengan telaten Bayu menyuapi Nesya, menggantikan Bik Siti yg sedang membersihkan dapur.


"Bapak mau makan dulu atau nunggu ibu pulang?" Suara Bik Siti membuat Bayu menoleh.


"Nanti saja Bik, tolong ambil air untuk Nesya". Bik Siti bergegas ke dapur mengambilkan air untuk Nesya yg sudah selesai makan.


"Papa, echa mau bobok". Nesya menarik tangan Bayu.


"Non Echa sama Bik Siti ya boboknya, kasihan Papa capek, biar Papa istirahat dulu". Sahut Bik Siti.


"Nggak mau, Echa mau sama Papa". Nesya merajuk.


"Iya sudah ayo sama Papa, tapi nggak boleh Rewel". Bayu menaikkan Nesya ke gendongannya. "uuuhhh beratnya anak Papa sekarang sudah besar". Sesekali Bayu mencium Pipi Nesya, lalu membawanya ke kamar Nesya.


Bayu membacakan sebuah buku dongeng, satu tangannya mengusap kepala Nesya yg mulai terkantuk, sungguh pemandangan yg manis, seorang laki-laki yg bisa melakukan apapun untuk keluarganya, Bayu memiliki semua itu.


Tak berapa lama Nesya terlelap, Bayu ikut merebahkan diri disana, Bayupun ikut terlelap.


Bik Siti merapatkan pintu kamar Nesya, membiarkan Bayu tidur disana.


"Kasihan Pak Bayu". gumam Bik Siti sambil mengggelengkan kepala.


Tepat jam 9 malam, Reva baru pulang, Reva langsung ke kamar, kamarnya kosong, Reva lantas ke kamar Nesya, melihat putri kecilnya dan suaminya terlelap membuat hati Reva sedikit merasa bersalah, Reva berjalan menghampiri Bayu.


"Maaasss". Reva mengguncangkan tubuh Bayu pelan.


"Heemm". Bayu hanya menggeliat, tanpa membuka matanya.


"Pindah ke kamar Mas, tempat tidur Nesya jadi sempit kalau Mas Bayu tidur disini, maaf baru pulang". Lirih Reva berucap.


"Biarkan aku tidur disini". Bayu kembali memiringkan tubuhnya, memeluk Nesya, sebenarnya Bayu sudah terjaga, tapi Bayu enggan kembali ke kamar bersama Reva.


Setelah mendengar suara Reva keluar kamar, Bayu menggeser tubuhnya, menyandarkan tubuhnya di dinding ranjang. Sejak mengetahui perasaan Reva untuk Deka, Bayu enggan menyentuh Reva, bahkan dia sudah tidak pernah lagi meminta haknya sebagai suami, dia merasa aneh jika harus bercinta dengan istrinya yg masih mencintai adiknya, benar, Reva memang bekas Deka, tapi dengan seiring berjalannya waktu Bayu berharap Reva bisa tulus mencintainya, tapi nyatanya tidak, pernyataan cinta Reva pada Deka saat di Bandara membuat dada Bayu sesak.


Helaan Nafas panjang Bayu sedikit mengisi sunyinya malam, Bayu kembali menutup mata dengan sebelah tangannya, hampir di setiap malam, air mata itu merembes di sudut matanya.


🌹🌹

__ADS_1


Pagi di Semarang...


Sekar yg tengah memasak tiba-tiba merasakan mual menyerang, berkali-kali Sekar mengeluarkan isi perutnya di wastafel dapur, Deka yg baru turun dari kamar kaget melihat Sekar yg sudah lemas, menyandarkan dirinya di pintu dapur.


"Kamu kenapa Sekar". Deka memegang dahi Sekar, lalu menempelkan tangan ke dahinya, tidak panas, tapi kenapa Sekar terus saja muntah.


"Kita ke rumah sakit sekarang". Deka memapah Sekar, tapi Sekar menolaknya. Sekar menggeleng, sambil memegang perutnya, Sekar duduk di kursi.


Deka dengan wajah panik ikut duduk disampingnya.


"Ayolah Sekar...kamu pucat sekali". Deka terus memaksa.


"Nggak papa Mas, aku cuma..." Sekar menghentikan ucapannya.


"Kamu kenapa?" Deka menatap panik.


"Aku hamil Mas". Sontak Deka berseru, mengucapkan syukur lalu memeluk erat Sekar.


"Trimakasih Sekar, akhirnya Mawar akan segera punya adik". Deka kembali memeluk Sekar, merasakan bahagia yg membuncah, Kehamilan Sekar memang bukan yg pertama buat Sekar, bukan yg pertama juga buat Deka, tapi ini anak pertama Sekar dan Deka, setelah mereka sama-sama jatuh cinta dan saling mencintai.


"Nanti kita periksa, setidaknya kamu mendapat vitamin dan obat untuk kamu dan anakku". Ucap Deka.


"Anakku juga Maass".


"Iyaaa anak kita". Deka terkekeh, mendekap Sekar lalu membawanya ke kamar.


"Kamu istirhat saja, biar aku yg melanjutkan memasak".


"Emang Mas Deka Bisa?". Sekar meragukan.


"Bisa dong, tinggal dimasuk-masukkan selesai, bikin anak saja aku bisa, masak cuma bikin nasi goreng nggak bisa". Ucapan Deka memaksa Sekar tersenyum, kadang Deka memang bersikap konyol, tapi itulah salah satu daya tarik Deka, Deka yg apa adanya.


Selesai, Deka menatanya dengan apik, seindah perasaannya pagi ini.


"Lho kok Ayah yg masak, Ibu kemana?" Mawar menarik satu kursi, lalu duduk disana.


"Ibu lagi nggak enak badan sayang, di perut ibu sudah ada adek bayinya, jadi ibu nggak boleh capek-capek".


"Benarkah...Mawar mau punya adik?" Mawar membesarkan bola matanya.


"Iya sayang". Jawab Deka, mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Mawar.


"Horeeeeee...Mawar punya adik". Deka gemas melihat Mawar yg terlihat sangat senang menyambut kedatangan calon adiknya, Deka mencubit pipinya.


🌹🌹


Menurut dokter, kandungan Sekar sudah masuk 5 minggu, di masa trimester pertama kandungan sangat rentan, Sekar harus banyak beristirahat, apalagi tadi tes hemoglobin Sekar hanya di angka 8,7. sementara untuk normalnya ibu hamil minimal harus diangka 11, karna itu akan memungkinkan Sekar sering mual, muntah dan pusing, Deka harus lebih memperhatikan kondisi Sekar, dan tidak membiarkan Sekar terlalu lelah.


Deka menangguk antusias mendengarkan penjelasan dokter, bukan anak pertama, tapi pengalaman pertama Deka untuk merawat istrinya yg sedang hamil, karna saat Reva hamil dulu, Deka tidak punya kesempatan itu.


Deka menghubungi Bu Nurul, memberi kabar kehamilan Sekar, dan meminta Bu Nurul untuk mencarikan Asisten Rumah Tangga untuknya, Deka butuh ART yg mau menginap, membantunya merawat Mawar, Sekar dan Rumah.


Deka tidak akan tega membiarkan Sekar mengurus semuanya sendiri.


Usai menutup panggilan telpon Bu Nurul, sebuah nomor baru memanggil.

__ADS_1


"Haloo". Suara perempuan terdengar dari seberang.


"Assalamualaikum". Deka mengulang salam.


"Waalaikusalam Deka". Suara yg tidak begitu asing, Deka mengingatnya, tanpa pikir panjang Deka menutupnya.


Panggilan itu kembali berdering, sampai mati sendiri, lalu berdering lagi.


Dengan geram Deka mengangkatnya.


"Apa maumu". Deka langsung menekan nada bicaranya.


"Kamu kenapa Deka? aku ibu dari anakmu? tidakkah kamu mau tahu pertumbuhan anakmu?".


"Aku bisa mengetahuinya dari Mas Bayu, bukan darimu". Saat hendak menutup telpon terdengar suara yg membuat emosi Deka meluap.


"Kalau kamu tidak mau mengangkat telponku, aku akan menceraikan Mas Bayu". Suara penggilan ditutup dari seberang.


Apa maunya perempuan itu? tidak cukupkah dia menyakitiku? tidak cukupkah penghianatan itu? Andai tidak ada Sekar, Mawar, Nesya, yg harus aku jaga perasaannya, yg harus aku perjuangkan hidupnya, sudah bisa kupastikan aku akan kembali mendekam di penjara karna perempuan itu.


Deka mengepalkan lengannya, perempuan itu sekarang sudah mirip papanya.


"Haaaahhh... seandainya aku tidak pernah mengenalnya, jatuh cinta padanya, dan punya anak darinya". Deka memukul tembok sampingnya, sampai kembali terdengar ponselnya bergetar.


Nomor yg sama, tanpa nama, tapi membuat Deka dilema, segala pertaruhan kini ada di depan matanya, berhubungan lagi dengan perempuan yg di bencinya, atau membiarkan kehidupan Bayu kakaknya hancur karna ancaman perempuan itu. Dan bagaimana dengan Nesya anaknya??


Deka membiarkan getar ponselnya berhenti sendiri.


"Tiiiing" Notif sms masuk.


"Kamu sengaja menantangku Deka"


Deka melempar gelas kopi yg isinya masih setengah hingga membentur pintu pagar rumah Deka.


Sekar yg terkejut, segera berlari keluar ke teras dimana Deka masih bergeming.


"Kenapa Mas" Tanya Sekar gugup.


"Nggak papa sayaang, tadi ada anjing berhenti didepan pagar dan kencing di sana, jadi aku lempar pake gelas". Bohong Deka.


Deka menatap mimik lega dari wajah Sekar, Deka lantas mengajak Sekar masuk.


Sekar tidak boleh tahu, dia tidak boleh menjadi korban dari perempuan itu.


🌹


🌹


🌹


bersambung...


mohon untuk meninggalkan like nya ya..jangan jadi silent rider...


like kalian penhargaan besar buat penulis...

__ADS_1


makasih..


😘😘😘😘😘


__ADS_2