
🌹🌹🌹
Sekar terbangun setelah lebih dari 3 jam pingsan, menurut dokter yg sedang memeriksa, Sekar mengalami dehidrasi dan trombosit darahnya menurun, dalam 2 hari kedepan kondisinya akan membaik, tapi harus dirawat inap agar bisa beristirahat total. Awalnya Sekar menolak untuk opname, tapi Deka meyakinkannya, Deka akan membantu merawat Mawar.
"Kamu makan dulu, dari tadi pagi kamu belum makan". Deka mengambil bubur di atas nakas disamping ranjang Sekar.
"Aku bisa sendiri". Sekar mengambil bubur dari tangan Deka. Mawar yg melihat ibunya kesusahan, naik ke ranjang duduk disamping Sekar.
"Biar Mawar yg suapin bu, ibu nyandar saja kalau masih pusing".
Sekar menarik tubuhnya, dengan dibantu Deka menyandarkan bantal di punggung untuk menahan tubuhnya yg masih lemah.
Mawar dengan telaten menyuapi ibunya, wajah Sekar masih pucat, tapi dia tetap berusaha menelan makanannya. Pemandangan yg sangat menyejukkan mata, kasih anak kepada ibunya, dan perjuangan seorang ibu membesarkan anak seorang diri.
Mereka bukan artis sinetron di televisi, tapi mereka memainkan peran dengan penuh penjiwaan, bahasa tubuh yg tak bisa dilukiskan dengan kata, mimik wajah-wajah polos tanpa rekayasa atau panduan akting lainnya.
Tiba-tiba Deka merindukan Bu Nurul, pernah kecewa, hingga tak pernah mengunjunginya, tapi Bu Nurul adalah ibu kandungnya, satu-satunya keluarga yg masih dia miliki.
"Satu hari nanti aku akan mengajak Sekar dan Mawar mengunjungi ibu". gumam Deka dalam hati.
Usai makan, Mawar memberikan obat kepada ibunya, lalu membantu merebahkan tubuh Sekar di ranjang, menaikan selimut hingga menutup dada Sekar.
"Kamu istirahatlah, aku akan mengajak Mawar makan, dia juga belum makan dari tadi".
"Kemana?". Sekar mencoba mencari tahu.
"Cuma di kantin Rumah Sakit, aku dan Mawar akan segera kembali". Sekar mengangguk, Mawar turun dari ranjang, pamit pada ibunya, lalu menggandeng tangan Deka keluar dari ruang rawat inap Sekar.
Sekar memandang mereka sampai menghilang di balik pintu, Sekar tahu, Mawar putri kecilnya sangat menyayangi Deka, dan Deka begitu perhatian dengan putrinya, tapi apakah perhatian Deka tulus? mungkinkah Deka benar-benar menyayangi Mawar?
Sekar mencoba memejamkan mata, segala kebaikan Deka dan kedekatannya dengan Mawar tergambar di pelupuk mata, tapi Sekar masih ragu pada kebaikan Deka, saat bertemu dengannya malam itu, Deka bersama perempuan yg sangat seksi, dan pada saat dia bicara, bau alkohol tercium dari mulutnya.
Sekar mencoba menerka, hubungan antara Deka dan perempuan itu, jika kemarin-kemarin Sekar tidak mau tahu, tapi entah kenapa sekarang dia ingin tahu. Apakah karna teringat perkataan Deka diakhir pertemuan itu? Deka mengatakan bahwa dia adalah calon istrinya?
Sekar masih memutar retina matanya meski terpejam, menandakan bahwa ia tidak tertidur, Sekar hanya berusaha memejamkan matanya, tapi tidak dengan pikirannya.
🌹🌹
Deka dan Mawar sudah terbaring di Sofa Rumah sakit, Sekar yg sudah tertidur dari habis isya' terbangun di tengah malam, Sekar bangun, menghampiri Mawar putrinya, membenarkan selimut yg merosot jatuh ke lantai, sementara Deka tampak mendekap tangannya, mungkin Deka merasakan dingin menyerang, tapi tadi Deka hanya membeli satu selimut untuk mawar, Deka melupakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Sekar yg merasa tidak tega, mengambil jaketnya dari dalam nakas, menyelimuti separo tubuh Deka dengan melebarkan jaketnya, lama Sekar memandang wajah Deka begitu tenang dalam tidurnya.
"Maaf sudah merepotkanmu". guman Sekar lirih, Sekar lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
Deka tersenyum, rupanya dia terbangun saat Sekar menyelimuti dirinya, dia sengaja tidak membuka mata, Deka tidak ingin merusak suasana hati Sekar, karna jika Deka membuka mata saat itu juga, maka Sekar akan berjalan menjauhinya.
Deka seperti sudah sangat mengenal Sekar, meski baru 3 bulan lamanya, Sekar tidak akan menyentuh laki-laki yg bukan muhrimnya, bahkan hanya untuk menatap lama matanya, sebisa mungkin Sekar akan menghindarinya.
Aroma tubuh Sekar yg menempel pada jaket yg di gunakan untuk menyelimuti tubuh Deka, kini bisa tercium dengan jelas, aroma sabun yg iklannya sering bersliweran di televisi, harga sabunnya yg bahkan tidak lebih dari 10 ribu rupiah, tapi bisa menghipnotis Deka untuk membayangkan setiap detil wajah Sekar, di pelupuk matanya dia melukis perempuan yg selalu menggunakan jilbab lebar, baju besar, dan mata yg selalu tertunduk saat Deka menatapnya, Sekar bukan perempuan malam yg antri untuk menggodanya, Sekar perempuan yg berjuang sampai malam untuk memanjangkan hidupnya, hidup Mawar, anak semata wayangnya.
Deka teringat kanvasnya, Deka ingin segera melukis disana, menempatkan Sekar di salah satu sudut lukisannya, sudut istimewa dalam bingkai hidupnya.
🌹🌹
2 hari kemudian...
Dokter sudah mengijinkan Sekar pulang, Deka berkemas dan menyelesaikan administrasinya. Mawarpun dengan sigap membantu ibunya, menggandeng tangan Sekar di sepanjang lorong Rumah sakit sampai ke mobil Deka. Mereka berlalu menuju rumah kontrakan Sekar.
Rumah kontrakan yg ditinggalkan Sekar selama 3 malam, satu malam dalam gerobak dan 2 malam di Rumah sakit. Bau apek karna tidak tercium sinar matahari memenuhi ruangan itu, Deka membantu membuka semua jendela, mengelap debu yg menempel di sudut-sudut ruangan, Mawar menyapu lantai, memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang di kamar mandi, Sedangkan Sekar memasak air, lalu membuatkan minum untuk Deka dan Mawar.
Beberapa saat kemudian mereka rebah diatas karpet bulu di ruang tamu, rumah Sekar yg tanpa sofa ataupun kursi bisa membuat Deka nyaman mengistirahatkan dirinya. Deka meneguk kopi hitam buatan Sekar, rasa yg selalu sama, seperti saat pertama Deka mencicipinya.
"Makasih Deka, untuk semua bantuanmu selama ini". Ucap sekar sambil mengusap lembut rambut Mawar.
"Aku ingin menikahimu Sekar". Deka berucap sesaat lalu menghentikannya, Deka melihat ekspresi wajah Sekar berubah.
"Secepat itu?". Sekar meragukan Deka.
"Iya...aku tidak bisa membiarkanmu dan Mawar seperti ini, aku tidak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi". Deka mengusap-usap bibir cangkir yg basah setelah diteguknya tadi.
"Tapi aku tidak bisa".
"Kenapa?"
"Karna aku tidak mencintaimu". Sekar menegaskan.
Deka menghela nafas panjang, menyandarkan punggungnya di dinding.
"Bukan untuk kita Sekar, tapi untuk Mawar, Mawar butuh orang yg bisa melindunginya".
__ADS_1
"Aku bisa melindunginya, dan selama ini aku bisa melakukannya sendiri". Jawab Sekar tegas.
"Oya...seperti kemarin? bahkan kamu tidak bisa melindungi dirimu sendiri".
Kali ini Sekar bungkam, Deka benar.
Sekar mengusap pipi Mawar yg sudah terlelap karna kelelahan.
"Cobalah pikirkan lagi, jangan terlalu lama, hidup dijalanan terlalu berbahaya untukmu, apalagi Mawar, dia masih sangat kecil untuk setiap hari melihat kejamnya jalanan di malam hari, kamu tidak butuh mencintaiku, aku bahkan tidak peduli itu, aku hanya ingin Mawar tumbuh layak seperti anak seumurannya, ingat Sekar, aku juga punya seorang anak perempuan, yg bahkan sampai saat ini belum mengenalku, dan aku sangat menyesal tidak bisa ikut membesarkannya".
Bayangan Nesya membuat Deka berkaca-kaca, tapi Deka berusaha menahan laju air matanya.
Sekar bisa menangkap dengan benar semua ucapan Deka, haruskah Sekar menerimanya demi Mawar? Entahlah, dia ingin melakukan sholat istiqhoroh dulu untuk meyakinkan hatinya.
"Aku pamit, aku ingin jawabanmu besok, aku ingin segera membawamu dan Mawar menemui ibuku, jangan pikirkan perasaan antara kita, Mawar adalah prioritas, aku tidak mau dia besar di jalanan". Deka berlalu meninggalkan kontrakan Sekar.
Untuk sebuah kepastian besok, Deka meninggalkan sejuta pertanyaan dalam hati Sekar, satu jawaban yg akan membawa dirinya dan Mawar pada kehidupan baru, atau tetap bertahan dengan kehidupannya yg sekarang.
🌹🌹
LAX, Bandara International New York, penerbangan pertama hari ini, Bayu menggendong Nesya, Reva berjalan dibelakangnya, berjalan menaiki tangga pesawat, sebuah perjalanan yg akan kembali mempertemukan mereka pada potongan masa lalu yg belum selesai.
Masa lalu yg kadang dirindukannya, masa lalu yg kadang membuatnya takut kembali ke tanah airnya.
23 jam lagi mereka akan kembali dipertemukan, apakah akan baik-baik saja? atau justru sebaliknya? kita tunggu saja.
🌹
🌹
🌹
( bersambung)
seperti lamanya penerbangan Bayu dan Reva, kita tunggu jawabannya di next part ya..
makasih yg masih tetap stay sama saya.
🙏🙏🙏
__ADS_1
💖💖💖