
🌹🌹🌹
Seberapa besar perbedaan antara cinta dan hanya sekedar obsesi semata?
Reva hanya memandang Bayu, matanya mencoba menembus pikiran Bayu suaminya, apa yg akan dilakukan Bayu setelah ini?
Tiba-tiba Reva merasa takut, Bayu yg sudah lebih dari 2 tahun menjadi pelindungnya itu kini berdiri di depannya, lalu berjalan mendekatinya, duduk di sampingnya. Bu Nurul menyambut Nesya duduk dipangkuannya.
Bayu meraih tangan Reva, lalu menggenggamnya, semua yg ada di ruangan itu sama sekali tidak ada yg membuka suara.
"Apa yg ingin kamu katakan hari ini Va?" ucap Bayu pelan, tanpa melepaskan genggaman tangan Reva.
Lutut Reva gemetar, tangannya yg berada dalam genggaman Bayu mengeluarkan keringat dingin, Reva menunduk setelah lebih dulu melirik ke arah Deka yg menyandarkan dirinya di tembok, dengan memasukkan ke dua tangan ke dalam saku celananya.
Reva masih diam...lama...
"Kenapa Va? Kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita? Sekarang kamu bisa ngomong, ada aku, ada Deka, kita keluarga Va, aku dan Deka kakak adik, ada Nesya anakmu dan anak Deka, ada Sekar yg sedang mengandung anak Deka, aku harus bagaimana...? katakan padaku Va?" mata Bayu mulai berkaca, bahkan Sekar tanpa sadar mengusap air mata dengan jilbabnya.
"Apa kamu sungguh menginginkan semua ini berakhir?" Bayu semakin kuat menggenggam Reva, air matanya tak lagi tertahan, Bu Nurul yg ada di sebelahnyna hanya bisa mengusap bahu putranya sambil sesekali menyeka air matanya sendiri.
Reva masih tanpa suara.
"Kita memang pernah saling mencintai Va, tapi itu dulu, kita hanya bagian masa lalu, dan jika aku bisa mengucapkannya dari dulu, aku ingin sekali mengucapkannya Va." Deka menghela nafas, berjalan, duduk di samping sekar, merangkul bahunya, melihat Sekar yg tak henti mengeluarkan air mata membuat Deka tak tega.
"Aku membencimu Va, tapi kenyataan kamu ibu dari anakku tidak bisa aku hindari, kamu juga istri dari kakakku yg berkali-kali menyelamatkan hidupku, aku berusaha menepis rasa benci itu, aku sudah sangat bahagia hidup bersama Sekar dan Mawar, tapi kamu kembali merusaknya, kamu kembali membuatku membencimu."
Reva masih menunduk, tangannya bergerak mengusap wajahnya yg mulai basah oleh air mata, apa yg sedang Reva pikirkan? Semua yg duduk di tempat itu bahkan tidak bisa menebaknya. Setiap mata bergantian saling menatap, mereka menunggu Reva mengambil sikap, menunggu Reva berucap.
"Maafkan aku." Reva melepaskan genggaman tangan Bayu, memeluk Nesya yg masih duduk di pangkuan Bu Nurul, sebentar, Reva berdiri mematung di sana.
"Maafkan aku." Reva berlari keluar rumah, berlari tanpa menghiraukan Bayu yg memanggil namanya, Reva terus saja berlari tanpa arah, dia malu, dia merasa menjadi penjahat dalam keluarga itu, dia merasa tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga itu.
Bayu masih berusaha mengejar Reva, sampai di gang masuk desanya Bayu melihat orang-orang berkerumun di pinggir jalan, sebuah mobil putih terparkir di sebelahnya, Bayu mendekat.
"Revaaaa... Yaa Allah Vaaaa." Bayu memeluk tubuh Reva yg bersimbah darah.
🌹
__ADS_1
Beberapa menit yg lalu saat Reva berlari, sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang menabrak Reva yg menyebrang tanpa menoleh kiri dan kanan, Reva terpental beberapa meter ke pinggir jalan, mulut dan beberapa bagian tubuh yg lain mengeluarkan darah, Reva masih sempat tersadar, lalu pingsan.
🌹
Bayu masih berdiri di depan Unit Gawat Darurat, tak berapa lama kemudian, Deka dan Sekar juga sudah sampai di sana, hanya Bu Nurul yg harus menjaga Nesya dan Mawar di rumah.
"Gimana kondisi Reva Mas?" Sekar mencari tahu, Bayu hanya menggeleng, raut mukanya terlalu panik dan takut.
"Mas Bayu sudah memberi tahu Pak Hadi?" Deka teringat Papa Reva, Bayu mengangguk, Bayu masih tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, Bayu baru saja kehilangan Clara, dia sungguh takut kehilangan Reva, hatinya menangis, menjerit, tapi ditahannya dengan membekap wajah dengan kedua tangannya.
Dua jam kemudian...
Bayu melihat seorang perawat memanggil namanya, Bayu lantas diminta ke ruang dokter.
"Bagaimana kondisi istri saya Dok?"
"Alhamdulillah, Ibu Reva sudah melewati masa kritisnya, tapi lengan kanan Bu Reva patah, dan ada memar di beberapa bagian tubuhnya yg diakibatkan oleh benturan, nanti setelah kondisi Bu Reva lebih baik kita akan melakukan operasi pemasangan pen." Bayu sedikit bernafas lega, setidaknya luka Reva tidak membahayakan nyawanya.
"Sekarang Bu Reva sedang dipindahkan ke ruang rawat inap, Pak Bayu bisa menemui Bu Reva disana." lanjut dokter itu seraya menyerahkan beberapa resep obat yg harus Bayu ambil di apotik.
"Terimakasih Dok". Bayu meninggalkan ruang Dokter yg menangani Reva, menuju bangsal tempat Reva dirawat.
🌹
Saat Reva membuka mata, Reva melihat Bayu duduk di sampingnya, menggengam erat tangannya, di sudut lain, ada Deka dan Sekar, dengan Deka yg masih merangkul pundak istrinya.
Reva menggerakkan tangannya pelan, membuat Bayu melonggarkan genggamannya.
"Kamu sudah sadar Vaa?" Bayu mendekatkan jarak tubuhnya.
Reva mengangguk sangat pelan, beberapa luka lebam di wajahnya membuat wajah Reva sedikit bengkak, ada beberapa goresan juga di sana.
"Maafkan aku Mas." Reva mencoba menggerakkan sebelah tangannya, tapi ngilu dan sakit menyerangnya tiba-tiba.
"Aaaagggghhhh." Reva meringis kesakitan, Bayu setengah bangkit mencegah Reva menggerakkan tangannya.
"Jangan banyak bergerak, tanganmu patah, besok dokter sedang merencanakan operasi pemasangan pen, kamu akan sembuh Va."
__ADS_1
Reva kembali mengeluarkan air mata, suaranya tertahan di tenggorokan, jika ada yg menjual ribuan maaf, maka Reva akan membelinya saat ini juga.
Kalau kesalahannya bisa di maafkan hanya dengan berlutut di kaki Bayu, Reva ingin melakukannya sekarang juga.
Reva sadar, Reva semakin mengerti bahwa dirinya sangat takut kehilangan Bayu, tapi hasratnya saat melihat Deka entah kenapa kembali membuatnya buta.
Meskipun akhirnya Bayu memaafkannya, Reva berpikir pasti perasaan Bayu kepada dirinya akan berubah, kesalahannya telah merubah bentuk perasaan Bayu.
"Vaa." Deka berjalan mendekat, duduk di samping ranjang.
"Kita pernah melakukan kesalahan, aku tidak ingin kamu kembali melakukan kesalahan yg sama, Nesya butuh kita, terutama Mas Bayu, Nesya bahkan lebih mencintai Mas Bayu dari pada aku papi kandungnya, dan kamu tahu bagaimana besarnya cinta Mas Bayu ke kamu dan Nesya?"
Reva semakin tergugu, matanya tak mampu lagi melihat Deka, air mata membuat kabur semuanya, hati Reva yg seperti di tusuk ribuan jarum saat ini terasa lebih sakit dari luka ditubuhnya.
"Aku mencintai Sekar, dan aku yakin kamu mencintai Mas Bayu, kamu hanya melihatku bagian dari kepingan masa lalumu yg tidak selesai, dan sekarang mari kita selesaikan."
Deka memegang bahu kakaknya, Sekar mendekati Deka, memegang Reva.
"Kita keluarga Reva, aku memaafkanmu dan Mas Bayu, mari mulai semuanya dari awal, biarkan aku dan Sekar hidup bahagia, seperti saat aku melepasmu untuk Mas Bayu, mari besarkan anak-anak kita dengan cinta, mereka masih butuh kita semua." satu tangan Deka merangkul Sekar, Sekar yg merasa begitu terharu langsung memeluk Deka.
Reva masih terisak, disela tangisnya Reva mengucap maaf, berkali-kali mengucapkannya, Bayu mengusap air mata Reva, meyakinkan bahwa semua akan kembali seperti semula.
🌹
Belum begitu lama rasa haru dan lega memenuhi ruang jiwa mereka, seorang lelaki paruh baya muncul di depan pintu, wajahnya tampak geram, kedua tangannya mengepal, dia berjalan mendekati Deka yg sudah berdiri di samping ranjang.
"Buuuggggghhhhh." sebuah bogem mentah mendarat di wajah Deka, membuat Sekar seketika teriak histeris.
Deka terhuyung ke belakang beberapa langkah, memegang ujung bibirnya yg mengeluarkan darah, Deka masih berdiri, seolah siap kembali menerima pukulan lelaki paruh baya yg kini berdiri di depannya, menatapnya penuh benci dan emosi.
🌹
🌹
🌹
( bersambung )
__ADS_1
Tetap tinggalkan jejak ya...
😘😘😘