
🌹🌹🌹
Los Angeles...
Sepulang dari kantor, Bayu menyempatkan diri mampir ke restoran tempat Clara bekerja, tapi sesampainya di sana Bayu tidak menemukan Clara, menurut seorang teman Clara, sudah hampir 2 bulan clara berhenti bekerja, clara pindah ke Malibu, sebuah kota kecil di dekat pantai yg letaknya di bagian utara Los Angeles. Jarak dari Monterey Park sekitar 57 km, dan bila ditempuh dengan kecepatan rata-rata waktu yg dibutuhkan kurang lebih 45 menit.
Menurut seorang pegawai resto disana, clara berhenti bekerja karna sakit, Bayu yg mendengarnya langsung meminta alamat baru Clara, dan beruntung pegawai itu bahkan punya nomor baru ponsel clara.
Tanpa pikir panjang, Bayu tancap gas menuju Malibu. Perjalanan yg terasa sangat panjang buat Bayu, selama ini dia hampir melupakan Clara, tapi entah kenapa tiba-tiba Bayu ingin mampir ke tempat Clara bekerja, dan Bayu mendapat sebuah fakta, bahwa Clara telah meninggalkan Monterey Park. Gadis blesteran itu bahkan hidup seorang diri, menghidupi dirinya sendiri, bertahan hidup, dan kini dia sakit.
Pikiran Bayu flashback dimasa clara menjadi satu-satunya orang tempatnya berbagi saat harus berada di negri asing, Clara yg humble, Clara yg baik, dan Clara yg juga menjadi korban kisah cintanya dengan Reva. Jika Deka bisa memaafkannya, maka Clarapun bisa. Bayu berharap seperti itu.
Malibu di malam hari, udara di malibu tak begitu dingin meski di kota lain suhunya bisa minus 0°. Bayu merapatkan jas mantolnya, dengan mudah Bayu menemukan tempat tinggal Clara, serupa tempat kos kalau di Indonesia, sebuah gedung yg kanan kirinya terdapat kamar tidur, dan Bayu berjalan didalam lorong itu, hingga sampai ke nomer kamar yg tertera di secarik kertas pemberian teman Clara di resto tadi.
"Tok...tok...tok". Bayu mengetuk pintu kamar bernomor 202. Terdengar suara batuk dengan ritme yg beruntun dari dalam kamar.
Tak berapa lama kemudian pintu terbuka...
Gadis berambut coklat itu berwajah pucat, tubuhnya kurus kering, bola mata yg biasanya melebar saat melihat Bayu, kini tampak cekung dan menyipit.
Clara menyandarkan dirinya di pintu.
"Kamu Bay..." Clara berjalan masuk, Bayu mengikutinya.
"Kamu kenapa Clara, aku dengar kamu sakit, sudah ke dokter?".
Clara mengangguk.
"Kamu kesini sendiri? Mana istrimu?". Clara masih menyipitkan matanya, dia merebahkan dirinya di ranjang kecil, Bayu duduk di sebelahnya.
"Reva di rumah, sekali lagi aku minta maaf Clara". Clara tersenyum kecut.
"Untuk apa? bahkan umurku tidak akan lama lagi". Ucap Clara, Bayu menatap kejujuran dari mata Clara.
"Jangan bilang seperti itu, kamu pasti bisa sembuh Clara, ayo aku antar ke rumah sakit".
"Aku sudah bosan ke rumah sakit Bay...dan kamu tidak perlu datang lagi kemari, pulanglah, sudah malam, kasihan anak istrimu".
"Tapi aku nggak mau kamu sakit seperti ini Clara, dan kamu sendirian, your alone....please Clara, follow me...!!" Bayu melihat Clara kembali tersenyum, senyum yg tampak begitu sakit.
"Apa pedulimu Bayu...kamu sudah membunuhnya 2 tahun lalu".
Deg...kata-kata Clara menusuk hati Bayu, kembali membuatnya teringat pada Deka, sedemikian sakitkah mereka, bahkan kata maaf tidak cukup untuk menyembuhkan setiap goresan yg telah Bayu dan Reva buat.
Bayu berdiri dari duduknya.
"Besok pagi aku akan kembali, aku akan membawamu ke rumah sakit".
Bayu meninggalkan Clara yg sudah lebih dulu berbaring membelakanginya, Clara terlalu lelah untuk mengeluarkan air mata, dan Bayu kembali memaksanya untuk menangis. Bayu, orang yg pernah sangat dicintainya, dan masih dicintainya.
🌹🌹
Lampu ruang depan rumah Bayu sudah mati, sudah jam 10 malam dan Bayu baru sampai dirumah, Bayu membuka pintu pelan, saat hendak naik ke kamar langkahnya dihentikan oleh panggilan Reva dari dapur.
__ADS_1
"Dari mana Mas...?".
"Clara". Hanya sepatah kata itu dan Bayu melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Reva sedikit terkejut, dia bergegas mengikuti Bayu. Bayu menemui Clara, kenapa?
"Ow... jadi pulang sampai semalam ini karna Clara?". Reva duduk di sofa, menatap Bayu yg sedang mengganti pakaiannya.
"Sudahlah, aku capek, jangan ngajak ribut, aku mau istirahat".
"Kamu tega Mas". Reva mendekati Bayu yg sudah merebahkan tubuhnya.
"Aku tega kenapa, aku bahkan bicara jujur aku pergi menemui Clara".
"Tapi Clara itu mantan pacarmu?".
"oyaa, lalu siapa Deka bagimu?". Bayu mencoba membalikkan kata.
"Okee...aku salah ngomong waktu di bandara, aku minta maaf". Reva kini menyandarkan dirinya di ujung ranjang.
"Sayangnya aku tidak percaya". Bayu membelakangi Reva.
"Dan kamu membalasnya dengan pergi menemui Clara?" Reva menekankan nadanya.
"Clara sakit...kamu boleh ikut menemuinya besok". Bayu membenamkan dirinya dalam selimut, dia tidak ingin lagi berdebat dengan Reva, dan Reva melakukan hal yg sama, tapi pikiran Reva masih saja bicara tentang clara, tentang Deka, tentang perusahaan papanya, terlalu banyak yg Reva pikirkan, seolah Reva kembali serakah, ingin memiliki semuanya.
🌹🌹
Reva cemburu, setiap Deka menatap mesra Sekar, bahkan saat Deka berada dalam satu kamar bersama Sekar. "Harusnya aku". Semalaman Reva memikirkan itu.
Dan saat mendapat kesempatan berdekatan dengan Deka di bandara Reva bilang "Aku masih mencintaimu, dan akan terus mencintaimu". Reva berharap Deka kembali pada perasaannya yg dulu, cintanya yg hanya untuk Reva.
Sayang...Bayu mendengarnya, dan itu menjadi buah simalakama bagi Reva, Bayu yg juga mulai berubah, Bayu yg seakan menjauhinya.
Tapi Reva masih tidak menyadari itu, bagi Reva dialah segalanya, dia lebih dari Sekar, bahkan Clara.
🌹🌹
Bayu tidak menggunakan baju dinasnya, dia memang sengaja libur untuk kembali menemui Clara dan membawanga ke rumah sakit.
Dengan cepat Bayu menghabiskan sarapannya, lalu menghampiri Nesya yg masih disuapi bik Siti, Reva yg mengamati gerak gerik suaminya akhirnya angkat bicara.
"Aku ikut kerumah Clara". Reva bangkit dari duduknya, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Bayu hanya sekilas melirik Reva, lalu kembali menggoda Nesya yg semakin lancar bicara, bahasa inggrisnya mulai fasih, Nesya sangat mirip Deka.
Reva keluar dari kamarnya, lalu menghampiri Bayu. Setelah berpamitan dengan bik Siti dan menitipkan Nesya, Bayu dan Reva segera berangkat ke Malibu.
Perjalanan yg sunyi, karna masing-masing dari mereka enggan mengeluarkan suara.
50 menit kemudian, Bayu sudah sampai di parkiran rumah kos Clara.
Bayu langsung menuju kamar Clara, mengetuk pintunya berkali-kali tapi tak ada sahutan dari dalam, Bayu mencoba menarik knop pintunya dan ternyata tidak terkunci.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya Bayu dan Reva saat melihat tubuh Clara sudah terkapar di lantai di samping ranjang, darah keluar dari hidung dan ujung bibirnya, dengan sedikit histeris Bayu berkali-kali memanggil nama Clara dan mengguncang tubuhnya, Clara membuka mata, Bayu segera membopong tubuh Clara, berlari melewati lorong menuju mobilnya, mulut Bayu terus meracau, meminta Clara untuk bertahan. Reva yg masih terkejut hanya bisa mengekor Bayu dan membantu Bayu memegang Clara di mobil.
Clara masih diruang emergency, Bayu mondar mandir sambil sesekali menggigit ujung jarinya, Reva berusaha menenangkannya, namun tak berhasil, kepanikan Bayu tak bisa ditepiskan oleh apapun, termasuk kehadiran Reva.
"Keluarga Nona Clara?". Seorang perawat berdiri di depan pintu ruang emergency. Bayu bergegas menghampiri. Perawat itu menyuruh Bayu dan Reva masuk.
Bayu melihat Clara masih memejamkan matanya, Bayu mendekat, mengusap buku jarinya yg pucat, pelan Clara membuka mata.
Bayu melirik electrokardiograf yg terhubung dengan tubuh Clara, tekanannya semakin melemah. Tanpa suara, Clara mengambil secarik kertas dari sakunya, menyerahkannya ke Bayu, lalu menatap Reva, tersenyum, lalu kembali memejamkan mata, tak sampai hitungan menit, electrokardiograf yg terhubung dengan tubuh Clara berbunyi nyaring, grafiknya yg semula naik turun kini hanya menunjukkan sebuah garis lurus.
Dokter mendekat, menepuk bahu Bayu yg langsung tersadar bahwa Clara telah tiada.
Tubuh Bayu terkulai, Clara bahkan belum memaafkannya, dan kini Clara meninggalkannya untuk selamanya, Bayu tergugu, memukulkan tangannya ke tembok berkali-kali, segala rasa menjadi satu dalam perasaannya. Reva merengkuh Bayu dalam pelukannya, untuk pertama kali Reva melihat Bayu begitu terguncang. Dan itu menakutkan.
🌹🌹
Usai pemakaman Clara, Bayu mengurung dirinya di ruang kerjanya, terlalu singkat Clara singgah dalam hidupnya, tapi setiap kebaikan Clara adalah salah satu hadiah terbaik yg pernah Bayu terima, Clara yg tulus mencintainya.
Bayu membuka kertas pemberian Clara perlahan-lahan.
Heeii Bay...
Aku senang kamu akhirnya kembali mencariku, tapi aku terlalu sedih dengan perasaanku yg tidak pernah bisa membencimu. Aku memaafkanmu Bay...sungguh aku memaafkanmu.
Ingin rasanya suatu saat kembali ke pantai bersamamu, sayangnya, leukimia lebih dulu membunuhku.
Terimakasih pernah menjadi bagian dari hidupku.
Kamu cinta pertamaku Bay...
Dan kamu juga cinta terakhirku...
Clara.
Bayu meremas kertas itu, lalu mendekap wajah pada kedua lututnya, Bayu kembali tersedu, Clara...
Bayangan gadis cantik berambut coklat itu kembali menari-nari dalam pikirannya.
"Tenanglah di surga Clara, maafkan aku".
segores sesal kembali datang dalam hati kecil Bayu yg terlalu terluka saat harus kehilangan Clara.
🌹
🌹
🌹
(bersambung)
masih tetap ditunggu like nya ya..
🙏🙏🙏
__ADS_1