
**🌹🌹🌹
Semua acara pernikahan telah disiapkan oleh Pak Hadi, acara yg sederhana, mengingat kondisi Reva yg sedang berbadan dua tidak mungkin untuk menggelar pesta resepsi yg mewah.
Sebelum berangkat ke rumah Reva, Bayu dan Bu Nurul menyempatkan diri untuk mampir ke rumah sakit, Bu Nurul terlihat berkaca-kaca, segala macam rasa menjadi satu. Melihat Deka putra kandungnya yg tengah terbaring koma, dan Bayu harus rela menggantikan Deka untuk menikahi Reva. Apakah takdir ini begitu rumitnya?.
"Maafkan aku Deka, aku hanya menjaga apa yg menjadi milikmu, aku janji akan menjaganya dengan baik, cepatlah sembuh, dan aku akan mengembalikannya padamu".
Bayu menggengam erat tangan Deka, ibu terisak disebelahnya.
🌹🌹
Reva terlihat sangat cantik, paduan kebaya putih dan riasan di wajahnya tampak sempurna, semua mata tertuju padanya, Reva berjalan menuruni tangga di gandeng Pak Hadi menuju meja ijab Qobul.
Bayu menatap sekilas, lalu mengalihkan pandangannya, Reva kekasih adiknya, dia hanya penyelamat putranya, dia tidak boleh terpesona dengan kecantikan Reva.
Ijab Qobul berjalan lancar, Bayu dan Reva bergantian memasangkan cincin pernikahan mereka, Reva mencium punggung tangan Bayu, Bayu mencium kening Reva, hanya sebatas itu, hanya sebagai formalitas agar tamu undangan tidak curiga dengan pernikahan itu, pernikahan sementara untuk menyelamatkan Reva dan bayi yg dikandungnya.
Pak Hadi mulai mengenalkan Bayu kepada koleganya, meski Bayu bukan dari kalangan pebisnis tapi Pak Hadi terlihat bangga mengenalkan Bayu dan profesinya.
Hampir jam sembilan malam, Acara pernikahan itupun selesai, Ibu pamit untuk kembali ke rumah sakit menjaga Deka, Bu Nurul diantar Supir ke rumah sakit, karna Bayu tidak mungkin meninggalkan Reva di hari pertama pernikahannya, Pak Hadi bisa memarahi mereka habis-habisan, setidaknya mereka harus bisa bertahan sampai Deka bangun dari komanya.
Reva sudah selesai membersihkan riasan, mengganti baju pengantinnya dengan piyama. Bayu mengambil kaos dari kopornya, lalu masuk ke kamar mandi tanpa sepatah katapun saat Reva menatapnya.
Bayu menghabiskan waktu yg cukup lama disana, kepalanya berdenyut, seakan begitu cepat semua ini terjadi, cutinya kali ini berujung pada pernikahan yg belum pernah dia bayangkan sebelumnya, setelah ini dia harus segera mengurus perihal pernikahan ini ke Kantor Dinasnya. Semua begitu cepat, bahkan terlalu cepat. Bayu bahkan tidak pernah mengenal Reva sebelumnya, dan kini dia menjadi istrinya.
Keluar dari kamar mandi, Bayu melihat Reva sudah tertidur pulas di ranjang, Bayu menghampirinya, menaikkan selimut sampai dada Reva, lalu mengambil bantal dan selimut, merebahkan diri di sofa.
"Mudahkan semua ini Ya Alloh, sembuhkan Deka, kembalikan seperti semula".
Bayu memejamkan mata, menutup hari yg melelahkan, berdoa semoga semuanya cepat berlalu.
🌹🌹
Pagi harinya, Bayu masih meringkuk di sofa, Reva sudah lebih dulu bangun, hari ini Reva ingin mengajak Bayu menjenguk Deka.
Reva membuka tirai kamarnya, matahari belum keluar dari peraduannya, karna memang ini masih jam 5.
Bayu menggeliat, Reva menatapnya dari ranjang, menyadari hal itu Bayu langsung duduk, merapikan selimut yg sudah jatuh ke lantai.
"Kamu sudah bangun?". Ucap Bayu memecah kekakuan.
__ADS_1
"Iya Mas".
"Sudah sholat?".
Reva menggeleng, sholat? bahkan dia hampir melupakannya selama ini. Pernah dulu ketika sekolah, jauh sebelum mengenal Deka, dan itupun kadang-kadang.
"Aku mandi dulu, lalu kita sholat bareng". Bayu masuk kamar mandi, Reva masih bergeming ditempatnya, dia hampir lupa dimana menaruh mukenanya. Sampai dia mengingatnya, lalu bergegas mengambilnya.
Hal menarik pertama yg dilihat Reva dari Bayu, Bayu mengajaknya Sholat, setelah bertahun-tahun dia tak pernah menjalankannya.
Bayu keluar, rambutnya masih lumayan basah dan dia membiarkan airnya kemana-mana.
Reva menelan ludahnya, bergegas masuk ke kamar mandi karna takut berpikiran macam-macam terhadap Bayu. Bayu adalah kakak Deka, meski tidak bisa dipungkiri Bayu memiliki daya tarik yg berbeda dengan Deka, tapi mereka tetaplah saudara, Reva tidak boleh menghianati Deka yg tengah berjuang melawan komanya.
Usai sholat subuh Reva memberanikan diri bicara.
"Mas Bayu mau ke rumah sakit jam berapa?".
"Pagi ini, kasihan ibu tidak ada yg gantian jaga Deka".
"Aku ikut". Reva mendekati Bayu yg tengah menyeruput secangkir kopi di sofa.
"Kalau aku cuti kuliah sampai anak ini lahir bagaimana?". Reva mencoba meminta pendapat Bayu.
"Coba tanya Papamu, dia yg lebih berhak mengatur hidupmu". Suara Bayu terasa dingin.
"Tapi kamu suamiku Mas". Lanjut Reva
"Aku hanya menjagamu dan anak Deka sampai Deka sembuh, jangan terlalu bergantung padaku, kamu bebas memilih masa depanmu, karna masa depanmu bukan aku". Bayu berdiri, menatap keluar jendela kamar.
Reva diam, apa yg dikatakan Bayu benar, Bayu hanya suami sementara, dia tidak perlu bertanya mau apa dan bagaimana, yg ingin dia tahu hanyalah anak Deka sehat, lahir dengan selamat.
"Non Reva, sarapan sudah siap, ditunggu Tuan dibawah". Suara Bibi memecahkan keheningan antara Reva dan Bayu.
"Ayo Mas, ditunggu Papa sarapan".
Bayu mengikuti Reva, Pak Hadi sudah lebih dulu duduk di meja makan. Sarapan pagi tanpa ada percakapan apapun, semua larut dalam pikiran masing-masing, sampai piring kami kosong, Pak Hadi mulai membuka suara.
"Apa rencanamu setelah ini". Pak Hadi menatap Bayu.
"Hari ini saya mau menjenguk Deka Om, lalu mengurus perubahan data di kantor, kemarin belum lapor ke kantor kalau saya sudah menikah, mungkin akan ada sedikit kendala, karna dalam kesatuan kami harus ada laporan sebelum menikah, nanti saya akan coba bicara dengan atasan".
__ADS_1
"Lalu keberangkatanmu ke LA?" Pak Hadi kembali bertanya.
"Mungkin minggu depan".
"Kamu sendiri bagaimana Va?"
"Reva mau cuti kuliah sampai anak Reva lahir". jawab Reva.
"Baik, Papa akan urus cuti kuliah kamu, kamu bisa ikut Bayu ke LA".
"Reva nggak mau Pa, Reva nggak mungkin tinggalin Deka, Deka butuh Reva Pa". Mata Reva mulai berkaca.
"Yang dibutuhkan Deka dokter, bukan kamu, kemarin Papa ketemu Dokter yg menangani Deka, Deka belum tentu bisa bangun dari koma, kalaupun bisa, itu butuh waktu bertahun-tahun, dan kamu tahu berapa biayanya?". Pak Hadi meneguk segelas air putih. "Seluruh tabungan suamimu bisa habis untuk membiayai pengobatan Deka". Lanjutnya
Bayu tertegun, sampai sebegitu jauhnya ternyata Papa Reva menyelidiki keluarganya, sampai seberapa besar tabungan Bayu, Pak Hadi tahu setiap detailnya.
Bayu hanya diam, yang Bayu takutkan saat ini adalah, apakah Pak Hadi juga tahu kalau pernikahan Reva dan dirinya hanya sementara, kalau Pak Hadi sampai tahu bisa jadi nyawa Deka jadi taruhannya.
"Bayu, bawa Reva ke LA, biar Reva melahirkan disana, Papa nggak mau kolega bisnis Papa tahu Reva hamil diluar nikah, aku sudah bicara dengan ibumu kemarin, dia menyetujuinya, aku akan kirim orang untuk membantu ibumu menjaga Deka".
"Tapi Paaa". Reva kembali memotong.
" Papa akan menanggung semua biaya rumah sakit Deka asal kamu ikut Bayu ke LA. kalau kamu menolak, Papa nggak berani jamin Deka bisa sembuh dari komanya".
Bayu dan Reva saling menatap, mungkin ada banyak hal yg ingin mereka bicarakan, bahwa rencana menikah sementara ternyata tidak berjalan dengan mulus sesuai rencana.
Pak Hadi ternyata bukan orang yg dengan mudah bisa dikalahkan.
🌹
Sekarang Bayu dan Reva semakin jauh terseret dalam sandiwara pernikahan, dengan latar belakang "penyelamatan" namun justru pada akhirnya mereka berdualah yg terjebak, terjebak oleh keadaan, dan mungkin akan terjebak dalam sebuah perasaan.
🌹
🌹
🌹
yg masih semangat bisa tinggalin like dan komennya biar saya juga tambah semangat...
diusahakan up setiap hari, jadi diharap sabar ya😘😘**😘🙏🙏🙏
__ADS_1