Maximum Delusion

Maximum Delusion
Duel Babak Kedua Ujian Chunin


__ADS_3

Chapter 10


Duel Babak Kedua Ujian Chunin


“Sebaiknya kau simpan kekesalanmu itu untuk lawanmu nanti,” ucap Dans dengan santainya.


“Selamat datang di babak kedua ujian chunin. Di ronde kali ini setiap peserta akan diundi untuk bertarung satu lawan satu dengan peserta lainnya secara adil. Peserta yang kalah maka dinyatakan gugur dan akan langsung tereliminasi dari event kali ini. Peserta yang menang maka akan kembali bertarung dengan peserta lainnya satu lawan satu sesuai bagan yang sudah disusun,” tiba-tiba terdengar suara sistem HLF di tengah keributan Hanz dan Dans.


“Satu orang yang pada akhirnya menjadi pemenang akan dinyatakan lulus sebagai jounin di server Naruto Shippuden. Sedangkan lima belas peserta lainnya yang gagal tetap dinyatakan lulus sebagai chunin di server Naruto Shippuden. Kami akan menampilkan bagannya untuk kalian, nanti kami juga akan mengundi nomor ID kalian,” sambung suara sistem HLF.


Di langit tiba-tiba muncul bagan pertarungan dengan 16 kotak kosong di bagian paling bawah, kotak itu adalah tempat ID peserta yang akan diundi. Tak lama kemudian angka-angka mulai muncul di kotak tersebut secara acak dan sangat cepat, semua orang yang ada di tempat itu langsung menengadah ke langit kecuali satu orang yang ada di sebelah Hanz.


“Byakugan ya?” gumam Rafsa saat melihat pria yang ada di dekat Hanz tidak menggerakan kepalanya sedikitpun, hanya urat-urat di dekat matanya yang putih saja terlihat tegang layaknya pengguna byakugan pada umumnya.


Angka-angka yang ada di 16 kotak akhirnya berhenti, semua orang tidak ada yang berbicara sedikitpun. Selain Reina dan Hanz yang tadi mengatakan nomor ID miliknya, semua orang di tempat itu tidak tahu siapa orang yang akan dilawan olehnya. Dua orang pertama yang akan bertarung adalah pemilik ID 74 dan 105.


Di pertandingan kedua adalah Rafsa yang memiliki ID 100 melawan ID 261. Lalu ada ID 863 vs 98, ID 10.782 vs 35.789, ID 36.722 vs 207.548, ID 58.645 vs 357.334, ID 258.168 vs 11, ID 144.635 vs 146.258. Jadi total akan ada 8 pertandingan yang akan berlangsung.


Rafsa berada di kelompok yang cukup sulit karena ada dua orang beta tester yang berada di bagan yang berdekatan. Sedangkan Reina berada di kelompok lain. Memang nomor ID yang menunjukan kemampuannya hanyalah berlaku kepada beta tester saja, sebab nomor ID 100 sampai ratusan ribu hanya diurutkan dengan waktu pemesanan perangkat HLF yang mereka lakukan. Jadi meskipun nomor ID nya ratusan ribu tapi kemampuannya bisa saja setara dengan yang memiliki nomor ID ratusan.


“Nyatanya banyak juga orang dengan ID HLF sampai ratusan ribu yang berhasil lolos ke babak ini dan menjadi chunin,” batin Rafsa melihat ada user yang memiliki nomor ID ratusan ribu.


“Apakah ini artinya hanya ada tiga beta tester saja yang ikut ujian chunin kali ini? Atau mungkin ada beta tester lain yang ikut tapi kalah dalam babak battle royal tadi?” pikir Rafsa.


“Hah, kita akan segera bertemu Dans! Aku harap kau sudah mempersiapkan diri!” teriak Hanz sembari menunjuk Dans.


“Reina, apa kau mengalahkan Sebastian?” tanya Dans yang sama sekali tidak menghiraukan ucapan Hanz.


“Aku tidak mengenalnya,” jawab Reina dengan enteng.

__ADS_1


“Cih. Dasar!” gerutu Dans yang masih terus menatap ke langit.


“Apa itu artinya ada beta tester lain yang ikut ujian ini tapi gagal di tahap pertama?” batin Rafsa sambil memperhatikan tingkah laku Dans yang dia curigai sebagai user dengan nomor ID 74.


“Nomor ID kalian sudah diundi. Peraturan ujian babak kedua ini sangatlah sederhana, kalian akan bertarung satu lawan satu dengan lawan yang sudah ditentukan, orang yang tubuhnya lenyap dinyatakan kalah,” terdengar suara sistem HLF kembali berbicara.


“Pertandingan pertama. Nomor ID 74 melawan nomor ID 105 silahkan dimulai,” lanjut suara sistem HLF.


Dans langsung melangkahkan kakinya masuk ke arena, semua orang di sana langsung mengalihkan perhatinnya kepada Dans. Tak lama kemudian dari sisi Rafsa berdiri majulah seorang pria dengan caping dikepalanya serta bagian hidung dan mulutnya yang ditutupi oleh kain hitam hampir mirip seperti gaya Kakashi.


“Jadi kau user dengan ID 105 ya,” ucap Dans seraya menatap pria yang baru naik ke dalam arena.


“Kelihatannya tidak ada aba-aba mulai ya,” ujar pria dengan ID 105. Tangan kanannya langsung menghunuskan sebuah kunai.


“Ya, kau bisa maju kapanpun kau mau,” tukas Dans tanpa rasa takut sedikitpun.


‘Bbbssshh’


Semua orang yang ada di tempat itu tertegun diam. Mereka tidak pernah menyangka jika pria yang menjadi lawan Dans akan mengeliminasi dirinya sendiri, Dans bahkan terlihat sangat kaget padahal sejak tadi dia sudah bersiap untuk bertarung.


“Orang gila,” tukas beberapa orang yang ada di tempat itu.


“Meskipun ini hanyalah virtual reality tapi pasti butuh keberanian besar melakukan hal seperti itu. Apa dia tidak khawatir kalau dia beneran akan mati?” gumam Rafsa yang juga sangat kaget melihatnya.


“Nomor ID 74 memenangkan pertandingan, nomor ID 105 sudah tereliminasi.” Terdengar suara sistem HLF kembali bersuara, saat itulah Dans baru menggerakan tubuhnya. Dia perlahan turun dari arena pertandingan dengan raut wajah seakan tidak percaya jika musuhnya malah mengeliminasi dirinya sendiri dari pertandingan.


“Kelihatannya dia sangat takut berhadapan dengan beta tester seperti kita Dans,” tukas Hanz dengan bangga.


“Tidak, dari wajahnya tidak terlihat rasa takut sedikitpun. Aku yakin sejak awal dia memang berniat mengundurkan diri dari babak kedua ini,” batin Reina.

__ADS_1


“Nomor ID 100 akan berhadapan dengan nomor ID 261. Silahkan memulai pertarungan,” terdengar suara sistem HLF kembali memberikan arahannya.


Rafsa langsung masuk ke dalam arena, diikuti oleh seorang pria yang berdiri di sisi Reina. Pria bertubuh tinggi itu langsung menatap Rafsa yang sudah naik ke arena terlebih dahulu. Kini perhatian orang-orang tampaknya sudah teralihkan dari kejadian aneh tadi, mereka mulai mengalihkan pandangannya ke tengah arena di mana akan segera dimulai pertandingan kedua.


“Aku Leonard,” ucap pria itu sambil menatap Rafsa.


“Aku Rafsa,” balas Rafsa sembari menatap balik pria bernama Leonard tersebut.


“Dans aku pegang Leonard, taruhannya seratus ribu ryo,” tantang Hanz mengajak taruhan.


“Aku terima!” jawab Dans seraya menatap Rafsa dari kejauhan.


“Cih, mereka memperlakukan kita layaknya barang,” ujar Rafsa dengan raut wajah kesal.


“Aku tidak keberatan,” kata Leonard sembari melesat maju dengan sebuah kunai terhunus.


Rafsa dengan cepat berhasil mengelak ke samping kanan tanpa beranjak dari posisi berdirinya, bahkan hanya sekejap mata saja Rafsa melakukan serangan balasan dengan mengayunkan tinju tangan kanannya ke arah perut Leonard. Tapi lawannya ternyata cukup gesit, dia mampu menghindarinya dengan menggerakan tubuhnya ke samping kiri.


Kini tubuh mereka saling berhadapan, Rafsa dengan cepat menunduk lalu mengayunkan kakinya setengah lingkaran mengincar kaki lawan, akan tetapi Leonard menahan hantaman kaki Rafsa menggunakan telapak kaki kirinya. Dari bawah Rafsa melemparkan shuriken ke arah dada lawannya.


“Shuriken: kage bunshin!” ucap Rafsa, satu shuriken yang dilemparkannya mendadak menjadi belasan yang langsung melesat hingga berhasil mengenai tubuh lawannya.


‘Phhoffh..’


Namun tubuh Leonard mendadak hilang tepat saat belasan shuriken milik Rafsa mengenai rubuhnya.


“Bunshin? Sejak kapan?” batin Rafsa.


“Jinton: genkai hakuri no jutsu!” tiba-tiba terdengar suara Leonard dari atas langit.

__ADS_1


“Kekkei Tota milik Onoki?” batin Rafsa sebab kaget mendengar suara Leonard yang sudah ada di langit, kepalanya langsung menengadah melihat sebuah kilatan cahaya putih yang melesat ke bawah.


Bersambung…


__ADS_2