
Chapter 3
Pergerakan ANBU Konoha
“Kelihatannya dia benar-benar fans itachi,” ucap Gin sambil tertawa kecil.
“Tapi aku tidak menyangka jika dia akan mengambil nickname yang direkomendasikan oleh system,” timpal Rafsa.
“Kelihatannya dia adalah pengguna yang lumayan baru. Walau begitu dia tidak sepenuhnya salah juga. karena membuat nickname yang sama memang tidak bisa di server manapun.”
Mereka berdua terus memperhatikan gerak-gerik si huciha itu yang masih menatap tajam si pelayan. Namun dalam sekejap si huciha itu terlihat ketakutan, tubuhnya gemetar, cengkramannya sampai lepas lalu ambruk tak berdaya dengan tatapan ketakutan.
“Sebaiknya anda jangan pernah melakukan yang sama lagi,” ucap si pelayan sambil berdiri.
“Mangekyou Sharingan?” gumam Rafsa terkejut.
“Tsukuyomi?!” ucap Gin yang juga terkejut melihat mata si pelayan pria itu.
“Begitu ya, jadi dia salah satu fulltime HLF yang ada di desa ini. Menarik juga,” tambah Gin sambil mengeluarkan buku catatan miliknya.
“Tsukuyomi? Bukankah itu salah satu genjutsu kuat milik itachi?” Tanya Rafsa.
“Ya, hanya saja untuk menguasainya tidaklah mudah terlebih belum tentu sharingan yang dia miliki bisa cocok untuk menggunakan genjutsu itu,” jawab Gin.
“Kamu sendiri bisa menggunakannya, Gin?”
“Tidak, lagipula bakatku dalam genjutsu kurang mumpuni. Andaikan saja dulu kamu memilih klan uchiha kemungkinan kamu bisa menguasainya. Genjutsu sangat bergantung dengan kecerdasan penggunanya.”
“Begitu ya, sebenarnya dahulu ketika pertama masuk ke server ini aku memang tertarik dengan klan uchiha, hyuga, senju dan beberapa klan lainnya. Hanya saja aku yakin akan ada banyak pengguna HLF yang memilih klan-klan populer, karena itu aku memilih menjadi shinobi biasa tanpa klan,” jawab Rafsa.
“Kelihatannya kamu memang suka tantangan,” ledek Gin.
“Sebenarnya kurang tepat juga, sejak awal niatku membeli HLF ini hanya untuk hiburan dan juga mencari bahan untuk tulisanku. Jadi aku tidak terlalu peduli jika aku jadi orang lemah.”
“He, benarkah? Kelihatannya sejak beberapa minggu yang lalu kamu sudah bertambah kuat lagi, terlebih katanya akhir-akhir ini kamu sering mengunjungi server anime dengan genre olahraga,” kata Gin dengan tersenyum.
“Broker informasi HLF memang hebat. Aku memang tidak masalah jika jadi orang lemah. Tapi aku adalah orang yang tidak suka jika kelemahanku menjadi alasan kenapa aku jadi orang lemah,” jawab Rafsa.
“Hahaha benar juga. Tapi menurutku dengan kecerdasanmu sebagai penulis kamu akan lebih banyak mendapatkan uang jika menjadi SS di HLF.”
“Hahm.. aku tidak tertarik dengan pekerjaan merepotkan seperti itu,” ucap Rafsa sambil menghela nafas.
Tak berapa lama beberapa polisi konoha datang ke kedai itu setelah menerima laporan adanya kegaduhan. Setiap server anime pada dasarnya memang sudah memiliki system keamanan sendiri. Terlihat si pelayan menceritakan kronologi kejadian di kedainya itu kepada para ninja keamanan.
“Kelihatannya keputusanmu untuk mampir kemari membuahkan hasil juga ya,” ledek Rafsa saat melihat Gin menulis di bukunya.
__ADS_1
“Ya, walaupun sebenarnya niatku kemari adalah untuk melepas rindu dengan para waifuku di konoha,” jawab Gin sambil tertawa lebar.
“Oi jangan anggap mereka itu milikmu sendiri. Lagipula orang yang lebih sering mengembara sepertimu hanya punya peluang kecil untuk mendapatkan mereka. Jika kamu setiap hari di sini pasti paham saat melihat banyak pengguna HLF yang terus mencoba mendekati mereka setiap waktu tanpa henti.”
“Hahaha jangan salah, pengembara sepertiku akan memiliki nilai lebih di mata mereka. Jadi kesempatanku akan lebih besar daripada orang-orang pengganggu yang suka menempel itu, lagipula aku yakin, sebenarnya semua karakter membenci orang-orang yang selalu mengganggu mereka,” jawab Gin dengan bangga.
“Percaya diri sekali, hati-hati nanti kalau ditolak jangan sampai nangis,” ledek Rafsa.
“Yah kelihatannya aku lebih baik daripada orang pesimis sepertimu,” balas Gin.
“Ngomong-ngomong siapa wanita yang ingin kamu incar di sini? Jangan bilang tidak ada jika kamu laki-laki normal,” Tanya Gin.
“Aku normal lah! Siapa ya, mungkin kalau bisa semuanya ingin aku miliki,” jawab Rafsa dengan tawa menakutkan.
“Ish kamu lebih cocok jadi raja iblis kayaknya. Serakah juga ternyata ya.”
“Ya menurutku itu wajar-wajar saja.”
“Lalu apa rencana yang akan kamu jalankan untuk mewujudkan impianmu itu?”
“Entahlah, aku saat ini lebih suka menikmati kehidupanku. Lagipula kalau memang jodoh tidak akan kemana kan?” jawab Rafsa sambil tertawa. Gin juga ikut tertawa mendengarnya.
Setelah puas berbincang dan membayar makanan, mereka berdua beranjak pergi dari kedai itu, Rafsa mengantar Gin untuk mencari toko pakaian di konoha. Di perjalanan mereka tanpa sengaja berpapasan dengan Sakura dan Hinata.
“Rafsa-kun!” panggil Sakura dan Hinata sambil melambaikan tangan.
“Bagaimana bisa mereka mengenalmu? Jangan-jangan pakai guna-guna ya?” Tanya Gin penasaran.
“Hehe, sudah kubilang kalau jodoh tidak akan kemana,” jawab Rafsa dengan bangga.
“Cih, dasar tukang pamer,” gerutu Gin.
“Oh Sakura-san, Hinata-san. tumben kalian ke daerah sini?” sapa Rafsa.
“Ah, itu katanya Hinata ingin diantar ke beberapa toko untuk mencari sesuatu,” jawab Sakura.
“Sesuatu?” Tanya Rafsa dengan mengerutkan keningnya.
“Ya, katanya hadiah untuk Naru-“
“Sakura-san!” potong Hinata dengan wajah malu-malu.
“He.. jadi begitu ya. Ganbate Hinata-san, kelihatannya akhir-akhir ini memang banyak wanita yang memberikan hadiah kepada Naruto ya,” goda Rafsa.
“Ya begitulah, karena itu Hinata tidak mau kalah,” timpal Sakura.
__ADS_1
“Oi gue juga ada di sini!” gerutu Gin dalam pikirannya.
“Kalian ini,” kata Hinata tersipu malu.
“Kelihatannya bukan hanya Naruto dan yang lainnya saja yang populer, kelihatannya kalian juga banyak yang membuntuti ya,” ucap Rafsa sambil melihat ke beberapa titik di belakang mereka berdua.
“Ya begitulah, kami benar-benar lelah,” ucap Sakura.
“Kalau begitu kami pergi dulu ya, Rafsa-kun. Oh iya novel yang baru kamu terbitkan itu benar-benar bagus sekali ceritanya. Rasanya benar-benar kisah yang sedang aku alami,” kata Sakura.
“Ya, memang referensinya juga dari kisahmu dan Sasuke,” pikir Rafsa.
“Syukurlah, aku harap pembaca yang lain juga senang,” jawab Rafsa.
“Oi oi jadi orang ini juga jualan novel di dunia lain?” batin Gin.
“Aku rasa semuanya juga akan berpikiran serupa, aku juga menikmatinya Rafsa-kun,” timpal Hinata.
“Ah, terimakasih,” kata Rafsa.
“Dah.. kami pergi dulu,” kata Sakura sambil berlalu pergi bersama Hinata.
“Hah.. jadi sampai akhirpun kehadiranku benar-benar tidak dianggap,” gerutu Gin sambil menghela nafas.
“Hahaha, kelihatannya karena terlalu sering berpetualang di alam, maka kehadiranmu sudah seperti angin saja,” ledek Rafsa.
“Cih, katanya tidak punya rencana tapi ternyata sudah sampai sejauh itu rencanamu Raf,” ujar Gin.
“Lagipula aku tidak berniat memikat mereka dengan untaian kata-kataku. Aku hanya ingin menjual karyaku di dunia ini juga. Kalau mereka tertarik ya itu bonus namanya,” jawab Rafsa sambil tersenyum.
“Pantas saja banyak yang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan waifunya. ternyata susah juga menarik perhatian mereka,” kata Gin sambil kembali berjalan bersama Rafsa.
“Ya, karena itu banyak yang menggunakan cara aneh ataupun mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan fitur menarik.”
“Atau bahkan menggunakan cheat,” sela Gin.
“Memangnya bisa?” Tanya Rafsa kaget.
“Katanya memang bisa, hanya saja mereka harus membayar banyak kepada yang bisa mengajarkannya, kalau tidak punya uang maka kita harus mengikuti setiap perintah mereka. Hanya saja saat ini aku belum dapat informasi bagaimana, siapa, dan berapa bayarannya yang bisa mengajarkan cheat itu,” jawab Gin.
“Itu wajar, aku rasa dia tidak akan mengumbar informasi sebebas itu. terlebih jika memang bisa menggunakan cheat, mungkin saja keseimbangan HLF akan terancam,” ucap Rafsa.
Diperjalanan terlihat mereka berdua sesekali melirik ke beberapa titik di jalanan dengan wajah serius. Mereka sadar kalau ada beberapa orang ANBU yang sedang bergerak di jalanan. Setelah ANBU agak jauh akhirnya Gin menghela nafas.
“Tujuh orang ya, aku tidak tahu ada apa, tapi kalau sebanyak itu kelihatannya masalah yang cukup serius,” ucap Gin.
__ADS_1
“Ya, kelihatannya aku harus mencari informasi dari yang lain,” kata Rafsa dengan wajah serius.
BERSAMBUNG…