
Chapter 32
Melanjutkan Misi
Guncangan tanah mulai berhenti, Reina yang sudah dalam wujud full bijuunya kini kembali menjadi manusia. Namun air yang dia keluarkan tadi masih tetap ada dan mulai mengisi jurang-jurang yang tercipta dari efek gura gura no mi yang digunakan oleh Shiroyasa. Rafsa sendiri kembali menyarungkan pedangnya sambil melihat keadaan mengerikan yang terjadi di hutan tempat mereka bertarung tersebut.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Rafsa sambil menghampiri Reina yang terlihat kelelahan.
“Aku baik-baik saja,” jawab Reina sambil duduk di batang pohon yang sudah hancur.
“Pasti sangat sulit untuk mengendalikan chakra milik bijuu,” kata Rafsa.
“Tidak perlu khawatir, aku sudah berteman baik dengan Isobu,” ucap Reina sembari berdiri membersihkan pakaiannya.
“Baguslah, itu artinya suatu saat nanti pertarungan kita akan lebih sengit dari sebelumnya,” tukas Rafsa sambil tertawa kecil.
“Saat itu terjadi, kau bahkan tidak akan bisa tertawa seperti itu lagi,” ejek Reina, meski begitu sebenarnya dia sadar bahwa saat ini Rafsa masih belum menunjukan seluruh kemampuannya. Padahal dirinya sendiri tadi hampir menggunakan seluruh kartu as yang disembunyikannya selama ini.
“Itu lebih baik,” ujar Rafsa sambil tersenyum, tangan kanannya langsung memegang bahu Reina. Saat itu juga tubuh mereka lenyap dari tempat itu, Rafsa menggunakan hiraishin miliknya dan sudah tiba di rombongan kereta kuda pedagang dari negara api.
“Rafsa-kun, Reina-san,” ucap Hinata yang terlihat khawatir, dia langsung datang menghampiri.
“Kalian baik-baik saja kan?” tanya Sakura sambil memeriksa keadaan Rafsa dan Reina.
“Aku baik-baik saja, tapi Reina kelihatannya butuh istirahat sebentar,” jawab Rafsa.
“Di belakang sana ada kereta kuda yang kosong, Reina-san bisa menggunakannya,” tutur Ino yang menunjuk sebuah kereta kuda paling belakang.
Rafsa langsung membawa Reina ke dalam kereta kuda tersebut, Sakura juga menemaninya dan langsung mengobati Reina. Sementara itu Rafsa kembali kepada Hinata dan Ino lagi, sangat wajar jika Reina begitu kelelahan karena dia tadi memang menggunakan mode full bijunya untuk meredam dampak kekuatan gura gura no mi milik Shiroyasa.
“Rafsa-kun apa kau tidak istirahat bersama Reina?” tanya Hinata dengan wajah cemas.
__ADS_1
“Tenang saja, melihat kalian saja sudah membuatku pulih kembali,” jawab Rafsa sembari tersenyum sok manis.
“Kau ini ternyata cukup mirip dengan Naruto-kun,” ujar Hinata sambil tersenyum.
“Gile, manis bener,” batin Rafsa.
“Ya, tapi Naruto itu lebih bodoh,” timpal Ino sambil tertawa kecil.
“Wah, coba kalau tiap hari begini. Bisa jadi fulltime HLF aku,” pikir Rafsa.
“Hehehe.. Aku tidak pantas dibandingkan dengan pahlawan perang shinobi,” sanggah Rafsa.
“Itu tidak benar, sikapmu yang tidak kenal lelah dan mengutamakan teman itu sangat mirip dengannya,” tutur Hinata.
“Yah, aku hanya melakukan yang menurutku benar,” tukas Rafsa sambil tertawa.
“Ya, sejak kecil orang tuaku mengajarkanku untuk melakukan hal yang benar, membantu orang lain dan menjauhi keburukan. Meski nyatanya aku tidak sepenuhnya bisa memenuhi harapan mereka berdua. Aku tahu bahwa tidak ada satupun orang tua di dunia ini yang menginginkan anaknya tumbuh di dalam kebusukan dunia, tapi tetap saja banyak orang yang lebih senang berbuat buruk di dunia ini,” batin Rafsa.
Perjalanan mereka terus berlanjut hingga akhirnya sampai di kota yang ada di dekat Takigakure. Setelah selesai melakukan perdagangan barulah mereka kembali pulang, di dalam perjalanan pulang kali ini terasa lebih damai. Tidak ada satupun bandit yang mencoba menghalangi jalan mereka lagi, misi mereka akhirnya selesai dengan sukses.
“Malam nanti bagaimana kalau aku traktir kalian makan yakiniku sepuasnya?” tawar Rafsa sambil tertawa kecil.
“Eh, kau yakin? Si Ino ini makannya banyak loh,” jawab Sakura sambil meledek Ino.
“Kau ini! Sebanyak-banyaknya aku makan aku tidak pernah sebanyak Choji,” gerutu Ino sambil mendelikan matanya menatap Sakura.
“Yah, tapi makanku tidak sia-sia karena tumbuh dengan sesuai. Aku tidak sepertimu ataupun Nona Tsunade,” balas Ino sambil membusungkan dadanya.
“Apa kau bilang? Dasar Ino!” ledek Sakura.
“Dasar curang! Pettan curang!” balas Ino. Hinata dan Rafsa hanya tertawa saja mendengarnya, sementara Reina tidak terlihat jelas ekspresinya karena wajahnya ditutupi oleh topeng yang selalu dipakainya.
__ADS_1
“Aku kelihatannya tidak bisa, ada urusan yang harus aku urus,” ucap Reina.
“Begitu ya,” kata Rafsa yang agak kecewa, tapi dia masih memaklumi karena mungkin Reina ingin pergi ke dunia anime yang lain.
“Maaf Rafsa-kun, kelihatannya aku juga tidak bisa,” ucap Hinata agak malu-malu.
“He? Jangan-jangan kau ingin menyelesaikan rajutanmu segera ya? Naruto pasti suka,” ucap Sakura, saat itu juga Hinata terlihat gugup.
“Eh Sakura-san kamu jangan bilang begitu,” kata Hinata, Ino dan Sakura hanya tertawa saja. Rafsa sendiri sejujurnya agak sedih, dia benar-benar cemburu. Tapi apalah daya, dia hanya pura-pura ikut tertawa.
“Maaf Rafsa-kun, kelihatannya aku juga tidak bisa. Aku ingin membantu Tsunade sama setelah ini untuk mengembangkan sel Hashirama,” ucap Sakura, dia memang ingin segera menyelesaikan tangan dari sel Hashirama dan menghadiahkannya kepada Sasuke.
“Tidak apa-apa kok, aku bisa mengerti,” jawab Rafsa sambil tersenyum meskipun sebenarnya hatinya pedih.
“Ya, mendapatkan mereka secara alami memanglah sulit. Mereka sejak awal sudah mencintai pilihan mereka masing-masing, akan sangat sulit untuk orang baru sepertiku masuk di hati mereka. Tidak heran jika malah banyak orang yang menggunakan cara salah untuk mendapatkan mereka, mungkin itu juga merupakan salah satu tujuan para cheater,” batin Rafsa sambil menghela nafas dalam.
“Dia memang menyedihkan, patah hati hanya karena mereka. Apa di dunia nyata dia memang sengenes itu?” pikir Reina saat melihat tingkah Rafsa.
“Sayang sekali, kalau begitu daging bagian mereka kita bagi dua saja?” tawar Ino sambil tersenyum. Rafsa agak terkejut mendengarnya, dia pikir Ino juga akan menolak ajakannya.
“Ya, tentu saja. Kalau perlu kita pesen saja daging buat seratus orang lalu kita bagi dua,” tukas Rafsa sambil tertawa, sinar harapan yang tadi seakan redup kini mulai menyala kembali.
“Ya, tapi aku mungkin tidak akan sanggup kalau sebanyak itu,” kata Ino sambil tersenyum manis.
“Ya ampun, ini teh benaran ya? Serasa mimpi euy,” batin Rafsa.
“Ah jangan bohong!” timpal Sakura yang langsung ikut tertawa bersama Hinata, kini giliran Reina yang terkejut bukan main.
“Apa ini? Apa karakter anime memang bisa bersikap seperti ini? Apa mereka benar-benar memahami hati manusia nyata?” pikir Reina.
“Rafsa, apa kau sadar? Mereka juga ikut merasakan kekecewaanmu dan kesedihanmu tadi,” batin Reina sambil menatap Rafsa yang masih tertawa senang.
__ADS_1
“Waduh berdua dong sama Ino, apa rasanya emang seseneng ini ya kalau mau nge-date?” batin Rafsa.
Bersambung…