
Chapter 28
Kemampuan Seorang Pria Sejati
“Shuriken kage bunshin!” ucap Rafsa sambil melemparkan satu shuriken miliknya, seketika itu juga shuriken yang dilemparkan Rafsa langsung menjadi puluhan melesat menuju Sam Raikiri.
‘Trrrannkk..’
“Bodoh! Serangan seperti ini tidak akan melukai kami!” ejek Sam sambil menangkis semua shuriken yang Rafsa lemparkan. Namun Rafsa langsung melesat ke depan dengan pedang terhunus.
Sam langsung bergerak menghindar ke samping, Rafsa kembali melayangkan pedangnya mengincar leher Sam. Tapi lawannya dengan gesit langsung melompat mundur, saat itulah Reina menghantamkan tinjunya ke tanah hingga tanah yang mereka pijak bergetar. Hinata kali ini langsung melesat mengincar Pier, tapi Ryuu langsung menghadapi Hinata.
‘Dddsshh..’
‘Dddggghh..’
Terdengar suara benturan serangan mereka yang saling menyerang satu sama lain, gerakan mereka sangatlah mirip karena sama-sama berasal dari klan Hyuga. Sakura langsung ikut melesat menuju Magnat, dia kelihatannya sudah memiliki cara untuk menghadapi elemen magnet milik lawannya.
Pier sendiri langsung melesat menuju Ino, tapi Reina menghadang pergerakannya hingga terjadi duel sengit diantara mereka berdua. Rafsa yang mencoba mengayunkan pedangnya berhasil dihalau oleh Sam, tapi Rafsa langsung mengaktifkan sennin mode miliknya. Sam tampak terkejut melihat perubahan bagian mata milik Rafsa.
Rafsa langsung melayangkan pukulan tangan kirinya, tapi Sam menunduk. Tangan kanan Rafsa yang memegang pedang tidak diam, dia mengayunkan pedangnya ke samping mengincar bahu kiri lawan. Namun Sam berhasil menghindar kembali dengan memiringkan tubuhnya. Rafsa hanya tersenyum karena dia langsung memutar tubuhnya ke belakang dengan kaki kirinya siap menghantam dagu Sam.
‘Dddaagghh..’
Sam mencoba menghindar dengan menengadahkan kepalanya, tapi energy alam yang memadat menyelimuti tendangan Rafsa masih berhasil mengenai dagunya, dari mulut Sam mulai keluar darah. Rafsa tidak membiarkan kesempatan pergi begitu saja, dia langsung menendang tubuh Sam kembali hingga dia terpental menghantam batang pohon yang tumbang.
‘Ddduukkhh..’
Terdengar suara benturan Sam dengan batang pohon itu cukup keras, di sisi lain Hinata yang sedang melawan Ryuu juga terlihat lebih unggul hingga beberapa kali Ryuu terlihat terkena serangan dari Hinata. Magnat yang juga pengguna elemen magnet terlihat agak kesusahan menghadapi Sakura yang bertarung dengan tangan kosong. Pier bahkan beberapa kali harus terkena pukulan telak dari Reina, meski tubuhnya terus menerus pulih kembali namun serangan Reina memaksanya untuk menjauh karena kelelahan.
“Hahaha.. ternyata mulut kalian saja yang banyak bacot, nyatanya pengetahuan dan kemampuan kalian memang tidak seberapa,” ejek Rafsa.
“Apa yang dikatakan oleh Rafsa memang benar, orang yang memiliki byakugan itu tampaknya memiliki tehnik Hyuga yang lebih rendah daripada Hinata. Pria dengan elemen magnet juga tampaknya tidak terlalu bisa memaksimalkan kemampuannya. Orang yang aku lawan juga hanya memiliki tehnik penyembuhan yang hebat saja, tapi tehnik taijutsunya tidaklah seberapa,” pikir Reina.
“Diam kau banci sok suci!” bentak Sam sambil berdiri.
__ADS_1
“Ranton: reiza sakasu!” ucap Sam seraya menggunakan kembali jutsunya.
“Mundur!” ucap Rafsa sambil melakukan segel tangan. Sakura, Hinata dan Reina langsung mundur ke belakang Rafsa.
“Senpou, Futon: Shinkuureppa!” ucap Rafsa sembari meniup angin di depannya, saat itu juga deru angin yang bergemuruh langsung terdengar. Kilatan-kilatan petir bagaikan laser langsung melesat menuju Rafsa dan yang lainnya, tapi deru angin yang bergemuruh juga melesat ke arah kilatan-kilatan petir.
‘Dddhhhoommrrr..’
Tanah bergetar saat benturan angin dan petir terjadi, tanah kembali berhamburan ke udara bersama batang-batang pohon yang sudah hancur berkeping-keping. Cekungan tanah kini langsung tercipta diakibatkan efek ledakan yang terjadi.
“Elemen angin memang adalah lawan yang cocok untuk elemen petir,” batin Sakura yang kagum dengan pengetahuan serta keterampilan Rafsa.
“Hei, hei orang kotor. Apakah hanya jutsu itu saja yang bisa kau gunakan hah? Apa kau tidak tahu bagaimana cara melakukan segel tangan untuk jutso kuro pansa milik Darui?” ledek Rafsa.
“Diam kau! Orang sok suci sepertimu jangan sok mau mengajariku!” balas Sam.
“Hah? Apa otakmu itu sudah terlalu kotor hingga tidak bisa mencerna perkataanku? Kelihatannya memori otakmu sudah penuh oleh hal-hal kotor sampai lupa cara menggunakan segel tangan jutsu lainnya,” tukas Rafsa lagi sambil tertawa.
“Itu memang benar, kelihatannya pengetahuan lawan tentang tehniknya sendiri memang sangat rendah. Tapi apa yang membuat mereka bisa sepercaya diri itu menyerang kami dari satu titik? Atau mereka memang orang yang bodoh?” batin Reina, dia yakin ada alasan dibalik para user dengan keterampilan rendah itu berani menyerang mereka dari satu titik tanpa rencana yang matang.
“Kalau karakter sih sudah jelas, mereka pasti lebih berpengalaman. Terlebih mereka juga termasuk karakter utama di anime ini. Tapi aku tidak menyangka jika kedua user itu juga hebat,” timpal Ryuu.
“Ya, wanita bertopeng itu memiliki kekuatan yang sama dengan Sakura. Sedangkan pria sok suci itu bisa menggunakan sennin mode, aku tidak mengerti bagaimana cara mereka mendapatkannya,” tukas Pier.
“Kalian berempat menyedihkan. Sebaiknya kalian segera pulang saja ke desa, biarkan aku yang mengurus sisanya,” tiba-tiba terdengar suara wanita menggema di tengah gelapnya malam.
“Apakah ini ninjutsu?” batin Rafsa dengan waspada.
“Kelihatannya waktu kami sudah selesai, kita akan bertemu lagi pria sok suci!” teriak Sam.
“Aku ingin menanyakan satu hal kepada kalian sebelumnya, apakah kalian pernah membunuh manusia?” tanya Rafsa.
“Kalau iya memangnya kenapa? Kami bahkan sering membunuh pria sok suci sepertimu,” jawab Magnat tanpa ragu.
“Reina!” ucap Rafsa.
__ADS_1
“Aku tahu, mereka adalah orang-orang yang tidak pantas ada di dunia ini,” timpal Reina sambil melakukan segel tangan.
“Katon: Gouka Mekkyaku!” ucap Reina. Saat itu juga api menggulung-gulung tinggi meluas di depan Reina, semua orang di sana terlihat kaget terkecuali Rafsa.
“Aku akan menggunakan jutsu doton, mendekatlah!” tukas Pier sambil melakukan segel tangan, memang satu-satunya cara untuk selamat mungkin dengan masuk ke dalam tanah. Sebab jangkauan jutsu yang digunakan Reina itu sangatlah besar. Tiba-tiba saja tubuh Rafsa lenyap dari tempatnya, Hinata, Ino dan Sakura tampak kaget.
“Aku tidak akan pernah membiarkan pembunuh seperti kalian pergi begitu saja, kami para user biasa sudah sepakat untuk menghabisi para user killer dimanapun kami bertemu dengan mereka. Itu adalah salah satu cara untuk membuat dunia HLF bebas dari para pembunuh seperti kalian!” ucap Rafsa yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Sam.
“Apa yang terjadi?” ujar Ryuu yang terlihat kaget.
‘Brrrreessstt’
“Akh..” teriak Pier saat pedang Rafsa dengan telak menembus jantungnya. Darah langsung keluar dari luka di dadanya, ketiga temannya terlihat begitu ketakutan.
“Keparat!” bentak Ryuu sambil menghantamkan tinjunya.
“Kalianlah yang keparat, kalian tanpa ragu menghabisi user sesama kalian. Padahal kalian tahu kalau mereka juga manusia yang ingin bersenang-senang di dunia ini sama seperti kalian,” balas Rafsa. Tepat sebelum tinju Ryuu mengenai tubuhnya tiba-tiba saja tubuh Rafsa sudah lenyap kembali, kini tubuh Rafsa sudah berada di posisi sebelumnya di dekat Hinata.
“Mustahil..” gumam Ryuu.
“Dia bahkan menguasai Hiraishin no jutsu?” timpal Sam.
‘Bbbbrrr’
“Aaakkhh..”
“Arrrghh..”
Terdengar suara Sam, Ryuu dan Magnat yang menjerit kesakitan saat tubuhnya dilalap oleh jutsu api yang digunakan oleh Reina. Satu-satunya harapan mereka untuk kabur adalah dengan carap Pier, tapi temannya itu sudah dihabisi oleh Rafsa terlebih dahulu. Tubuh mereka langsung hangus terpanggang bersama batang-batang pohon, tanah dan bebatuan di hutan itu. asap kebakaran yang terjadi bahkan bisa disaksikan oleh rombongan dagang dari kejauhan.
“Pria ini bernama Rafsa ini, apa yang dia lakukan? Aku sekilas tadi merasakan chakranya di dekat keempat bandit itu,” pikir Ino seraya memandang Rafsa.
“Ini mustahil, tadi aku melihat Rafsa berada di dekat mereka dengan jelas. Apakah ini jutsu yang sama seperti yang dimiliki ayah Naruto-kun?” batin Hinata yang juga terus menatap Rafsa.
“Hahahaha.. Sai, Naruto, Sasuke, kalian bertiga tidak akan aku biarkan mendapatkan mereka! Lihatlah saat ini mereka bahkan sedang terpana melihatku,” batin Rafsa sambil senyam senyum sendiri, dengan penuh gaya dia langsung menyarungkan pedangnya kembali.
__ADS_1
Bersambung…