Maximum Delusion

Maximum Delusion
Misi Pertama


__ADS_3

Chapter 26


Misi Pertama


Rafsa berjalan penuh semangat menuju tempat Hokage, dia langsung menuju ruangan hokage. Saat dia membuka pintu masuk sekilas di dalam terlihat sudah ada Ino, Hinata dan Sakura. Tentu saja Rafsa langsung tersenyum senang, misi kali ini pasti akan sangat menyenangkan terlebih dia bersama tiga kunoichi cantik dari Konohagakura.


“Hahaha.. Gin, malang sekali nasibmu. Dia pasti akan sangat iri mendengarnya,” batin Rafsa sambil masuk ke dalam, tapi dia sangat terkejut sebab di sana juga ada Reina.


“Ah Rafsa-kun,” sapa Kakashi.


“Saya datang hokage-sama,” jawab Rafsa sambil menutup pintu kembali.


“He, kamu juga sudah jadi chunin Rafsa-kun,” kata Sakura.


“Omedetou Rafsa-kun,” timpal Hinata dengan senyuman manisnya.


“Oh, jadi dia penulis novel terkenal itu ya?” tukas Ino sambil menatap Rafsa.


“Ah, kalian terlalu berlebihan,” ucap Rafsa sambil senyam senyum sendiri.


“Menjijikan, apa dia baru pertama kali dipuji oleh wanita?” pikir Reina.


“Karena team sudah lengkap jadi akan aku jelaskan misinya, kali ini kalian bertugas untuk mengawal rombongan dagang negara api. Akhir-akhir ini banyak rombongan dagang yang dirampok oleh bandit, dikatakan bahwa para bandit itu juga menguasai ninjutsu. Jadi kali ini rombongan dagang negara api meminta bantuan kepada Konoha,” jelas Kakashi.


“Sudah bisa dipastikan, kalau mereka..” batin Rafsa.


“Adalah user HLF,” pikir Reina yang juga memiliki pemikiran serupa.


“Kali ini Reina yang akan memimpin misi, sebenarnya aku ingin Shikamaru ikut dengannya sebab tujuan pencurian para bandit itu terlalu mencurigakan. Tapi sayangnya saat ini Shikamaru sedang sibuk, jadi Reina merekomendasikan dirimu untuk ikut dalam misi kali ini,” tambah Kakashi.


“Eh? Dia merekomendasikanku?” pikir Rafsa sambil menatap Reina.


“Yah, tapi kelihatannya kali ini aku memang harus berterima kasih kepadanya,” batin Rafsa, dia benar-benar senang bisa satu misi dengan Ino, Sakura dan Hinata.


“Maksud hokage-sama mencurigakan itu apa?” tanya Sakura.


“Dikatakan bahwa bandit yang akhir-akhir ini merampok rombongan dagang dari berbagai negara memiliki kesamaan. Mereka menggunakan ikat kepala dengan lambang tulisan ‘Yami’, mereka juga mengaku berasal dari Yamigakure,” jawab Kakashi.


“Yamigakure?” ujar Hinata.


“Ya, kelihatannya para bandit itu memang sengaja berkumpul membuat desa shinobi baru di dunia ini. Tapi kami masih belum tahu dimana letak Yamigakure itu, yang jelas tugas kalian saat ini adalah mengawal rombongan dagang. Jika bisa aku ingin kalian menangkap salah satu dari mereka, jika kita dapat informasi lebih jelas tentang asal usul mereka maka akan lebih mudah untuk menentukan langkah ke depannya,” jelas Kakashi.


“Baik,” jawab mereka berlima serentak.

__ADS_1


Mereka berlima kemudian pergi meninggalkan Desa Konohagakure untuk menuju tempat rombangan dagang berada. Mereka ditemani oleh seorang perwakilan rombongan dagang yang meminta bantuan dari Konoha, mereka berjalan ke sebelah utara negara api. Letaknya tak jauh dari Desa Konoha.


Setelah sampai di lokasi, tampak banyak kereta kuda berjejer disertai beberapa prajurit negara api yang akan ikut mengawal perjalanan mereka. Tujuan rombongan dagang ini adalah menuju daerah di dekat Takigakure yang ada di utara. Karena perjalanan agak jauh dan melewati hutan serta pegunungan, mereka berlima juga membawa perbekalan masing-masing di dalam tas yang mereka bawa di punggungnya. Sebelum memulai perjalanan, tak lupa Reina segera membagi tugas untuk mereka berlima.


“Rafsa, Hinata akan berada di barisan paling depan. Sementara kami bertiga akan berada di barisan belakang,” perintah Reina diiringi anggukan oleh empat orang lainnya, Rafsa terlihat senyam senyum sendiri saat mendengar dia ditempatkan bersama Hinata di berdua saja di barisan depan.


“Cih, dia pasti senang sekali,” batin Reina yang tampak agak kesal melihat tingkah Rafsa.


“Rafsa, jangan anggap misi ini main-main,” tegur Reina sebelum mereka berpisah sesuai tugas masing-masing.


“Tenang saja,” jawab Rafsa sembari tersenyum, dia tak lupa mengacungkan jempol tangan kanannya dengan penuh percaya diri.


Rafsa dan Hinata segera menuju barisan depan, sejujurnya Rafsa memuji penempatan yang dilakukan oleh Reina. Hinata yang memiliki Byakugan akan mengawasi pergerakan lawan di depan, sedangkan dia akan melindunginya. Sementara Ino yang juga tipe sensor akan mengawasi dari belakang, Sakura dan Reina sendiri yang akan melindunginya.


“Hinata-san, kalau boleh biar aku saja yang membawa tasmu itu,” tawar Rafsa sambil tersenyum. Mereka berlima hanya bisa berjalan kaki seperti para prajurit pengawal lainnya.


“Eh? Terima kasih, tapi tasnya cukup ringan,” jawab Hinata yang terlihat sedikit kaget.


“Tidak apa-apa, lagipula dalam misi kali ini mungkin kamu dan Ino yang akan berperan sangat penting untuk mengawasi keadaan sekitar. Setidaknya aku ingin meringankan bebanmu agar kamu bisa fokus menggunakan byakuganmu,” bujuk Rafsa.


“Tapi..” ujar Hinata agak ragu, dia mungkin tidak enak jika harus membebani Rafsa.


“Tidak apa-apa, aku tidak keberatan kok, kalaupun aku harus menggendongmu selama misi kali ini juga tidak masalah bagiku,” kata Rafsa sambil tersenyum, Hinata hanya bisa tertawa kecil mendengarnya.


“Wuhu.. tas milik Hinata.. keputusan DT Corp memilih latar Naruto Shippuden sebelum Hinata menikah memang tepat!” teriak Rafsa dalam hatinya. Dia terus tersenyum senang, sementara Hinata sesekali menggunakan byakugan miliknya untuk memeriksa keadaan sekitar.


Hingga malam tiba tidak ada satupun tanda-tanda pergerakan dari bandit yang dikatakan selalu merampok rombongan dagang lintas negara. Malam harinya rombongan dagang berhenti di sebuah hutan untuk beristirahat, Reina memerintahkan agar rombongan beristirahat di tempat yang sama dan tidak boleh ada yang berjauhan agar lebih mudah untuk mengawasi dan melindungi mereka semuanya sekaligus.


Reina kembali menempatkan mereka berlima seperti tadi, Rafsa dan Hinata akan mengawasi rombongan dan sekitarnya di arah barat sedangkan Reina, Ino dan Sakura akan mengawasi di arah timur. Rafsa dan Hinata kemudian pergi ke ujung rombongan di sebelah barat, di sana kebanyakan hanya ada kereta kuda berisi barang dagangan saja.


“Kamu sudah makan?” tanya Rafsa sok perhatian.


“Sudah, berkat bantuanmu tadi aku tidak terlalu lapar,” ucap Hinata sambil tersenyum.


“Kamu itu terlalu baik Hinata, lagipula aku tadi hanya membawakan tasmu saja,” kata Rafsa sambil duduk di samping Hinata.


“Oh iya, ini adalah misi tingkat A bagiku,” tukas Rafsa, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ini adalah momen terbaik untuk menggunakan jurus-jurus ampuh ala Katsuragi Keima untuk membuat pertemanan mereka semakin dekat.


“Begitu ya, apa kau gugup?” tanya Hinata.


“Rasanya biasa saja, aku hanya bisa gugup kalau berada di dekatmu saja,” kata Rafsa sambil tersenyum.


“Kamu ini ada-ada saja,” timpal Hinata sambil tertawa kecil.

__ADS_1


“Hinata..” panggil Rafsa seraya menatap langit.


“Ya?” jawab Hinata sambil mengernyitkan keningnya.


“Apa kau tahu kenapa malam ini terlihat begitu gelap?” tanya Rafsa sembari terus menatap langit.


“Mungkin hujan akan turun,” jawab Hinata sambil ikut menengadah ke langit.


“Bukan.. itu bukan jawabannya,” tukas Rafsa.


“Tapi karena sang rembulan yang harusnya ada di langit kini malah ada di sisiku,” sambung Rafsa sambil menatap wajah Hinata yang langsung tertawa mendengar gombalan khas Indonesia yang dilontarkan Rafsa.


“Kamu ternyata suka bercanda juga ya, aku pikir tadinya kau orang yang serius,” tukas Hinata sambil tersenyum.


“Tergantung kamu maunya gimana, aku bisa serius kok,” kata Rafsa sembari menatap wajah ayu Hinata. Namun tiba-tiba saja terdengar suara serigala mengaung di kejauhan, angin yang bertiup mendadak terasa begitu dingin.


“Byakugan!” ucap Hinata sambil berdiri, dia pasti merasa aneh dengan perubahan suasana yang terlalu mendadak.


“Ada empat orang yang menuju kemari, kelihatannya mereka memang seorang shinobi,” ucap Hinata.


“Cih, dasar pengganggu! Mereka tidak tahu apa kalau aku sedang berduaan dengan Hinata!” gerutu Rafsa di dalam hatinya, dia terpaksa berdiri sambil menggenggam pedangnya.


“Apa di sebelah timur juga ada?” tanya Rafsa.


“Mm.. kelihatannya tidak ada,” jawab Hinata sambil menoleh ke arah timur.


“Mereka kelihatannya sangat percaya diri sampai berani menyerang dari satu titik saja,” tukas Rafsa sambil menghunuskan pedangnya dan maju melindungi Hinata.


“Ranton: reiza sakasu!” terdengar suara seorang pria menggunakan jutsunya dari kejauhan.


“Gawat,” ujar Rafsa yang tidak mengira musuh akan menyerang langsung dengan menggunakan jutsu yang hebat.


Hutan yang gelap gulita tersebut kini mendadak silau oleh kilatan-kilatan petir yang melesat menuju ke arah Hinata dan Rafsa. Tapi saat itu juga Rafsa langsung menggunakan sennin mode miliknya dan mulai melakukan segel tangan.


“Kage bunshin no Jutsu!” ucap Rafsa menciptakan satu kage bunshin di dekatnya lalu keduanya kembali melakukan segel tangan dengan sangat cepat.


“Senpou, Futon: Shinkuureppa!” ucap Rafsa dan bunshinnya yang langsung meniup angin di depannya.


Saat itu juga deru angin yang dahsyat dan bergemuruh langsung melesat menuju jutsu ranton milik lawannya. Pepohonan yang terlewati langsung tercabik-cabik bagaikan terkena tebasan-tebasan pedang.


‘Dddhhhoommrrr..’


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2