
Chapter 33
Kencan Dengan Ino Yamanaka
Setelah sampai di Desa Konoha mereka berlima langsung menuju tempat Hokage berada untuk melaporkan keberhasilan misi mereka, sesampainya di ruangan Hokage mereka berlima berpapasan dengan tim Naoki, Kiba, Shino dan beberapa shinobi lainnya. Naoki tampak menatap Rafsa saat berpapasan, sedangkan Rafsa langsung memasang wajah bangga. Dia yakin Naoki iri melihatnya satu misi bersama Hinata, Ino dan Sakura.
“Ah Kiba-kun, Shino-kun,” sapa Hinata.
“Yo Hinata, kelihatannya kau juga baru selesai melaksanakan misi ya,” balas Kiba, sedangkan Naoki sudah pergi duluan begitu juga Rafsa dan Reina yang duluan masuk ke dalam ruangan Hokage.
Setelah saling menyapa sebentar akhirnya Ino, Sakura dan Hinata juga masuk menemui Kakashi dan Shizune. Reina selaku ketua tim langsung menjelaskan keadaan misi yang mereka lalui, dia menjelaskan semuanya termasuk pertemuan mereka dengan para bandit dari Desa Yamigakure. Meskipun Reina juga tetap menutupi beberapa hal yang mencurigakan terkait dengan HLF.
Kakashi tampak mengangguk paham, dia mengatakan awalnya dia mengira tujuan para bandit itu memang mengumpulkan uang untuk mendanai Desa Yamigakure yang baru mereka bentuk, namun dia mengatakan mungkin perkiraannya itu salah. Kakashi mengatakan kalau dia beberapa hari yang lalu juga telah menerima laporan dari Mizukage bahwa Desa Yamigakure memang berada di beberapa pulau kecil yang ada di perbatasan Negara Air, lokasinya juga cukup jauh dari Kirigakure.
“Lalu apa Mizukage-sama menjelaskan ada keanehan di desa itu?” tanya Reina.
“Tidak, dia bilang itu hanya desa shinobi biasa. Tapi karena keamanannya masih kurang memadai jadi banyak shinobi yang keluar dari desa dan berbuat onar di tempat lain,” jawab Kakashi sambil tersenyum.
Rafsa dan Reina hanya saling memandang, mereka tentu tidak akan percaya begitu saja. Mereka yakin orang-orang Yamigakure pasti menggunakan kekuatan anime lain untuk mengelabui para karakter di dunia Naruto. Kemungkinan lokasi yang dikatakan Mizukage juga hanyalah rekayasa belaka dari para cheater yang tentunya tidak ingin diserbu oleh para user HLF begitu saja.
Setelah selesai memberikan laporan akhirnya mereka berlima pamit keluar untuk beristirahat setelah menjalankan misi yang cukup panjang. Rafsa sendiri segera bergegas ke kediamannya untuk mempersiapkan acara makan malamnya bersama Ino nanti. Tapi baru saja dia selesai mandi tiba-tiba terdengar suara Reina memanggilnya dari luar, Rafsa buru-buru berganti pakaian dan pergi keluar.
“Ada apa sih?” tanya Rafsa dengan nada agak kesal.
__ADS_1
“Kesel amat, memangnya kedatanganku mengganggu ya?” tukas Reina.
“Hadeh, kau kan tahu nanti malam aku akan makan bersama Ino. Orang serius dan otak petarung sepertimu mana paham,” gerutu Rafsa.
“Iya-iya, aku datang kemari hanya ingin mengatakan kalau kau nanti bertemu dengan Gin. Katakan kepadanya aku akan menunggunya di Kota Kamakura yang ada di dunia Bleach,” kata Reina sambil melangkah pergi.
“Iya, tapi entah kapan aku bertemu dengan Gin lagi,” ucap Rafsa sambil bergerak hendak menutup pintunya.
“Tidak masalah, aku akan berada di Kamakura sampai Gin datang,” balas Reina, tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti membuat Rafsa urung menutupkan pintunya karena berpikir Reina mungkin akan mengatakan sesuatu lagi.
“Oh iya, Terima kasih,” ucap Reina sebelum akhirnya kembali berjalan meninggalkan Rafsa yang melongo bingung.
“Hah? Dia itu mau bertingkah tsundere apa gimana sih?” gumam Rafsa sebelum menutup pintunya kembali.
***
Rafsa akhirnya sampai di depan kedai yakiniku tempatnya akan makan malam bersama Ino, di kejauhan terlihat Ino juga sedang berjalan ke arahnya. Ino terlihat melambaikan tangannya, pakaiannya juga cukup rapi dan yang paling penting, menawan.
“Cantik bener,” pikir Rafsa seraya tersenyum dan balas melambaikan tangan kepada Ino.
“Gomen Rafsa-kun, apa kamu sudah menunggu lama?” tanya Ino.
“Ah tidak kok, lagipula meskipun lama kedatanganmu tetap akan aku tunggu,” jawab Rafsa, Ino hanya tersenyum manis saja meresponnya. Mereka langsung masuk ke dalam kedai.
__ADS_1
“Eh, tumben kedai ini sepi,” ujar Ino saat melihat tidak ada seorangpun pelanggan di dalamnya.
“Tentu saja, malam ini aku sudah menyewa kedai ini untuk kita berdua,” batin Rafsa.
“Mungkin yang lain masih kenyang,” jawab Rafsa sambil mempersilahkan Ino untuk duduk.
Setelah mereka berdua duduk seorang pelayan langsung menghampiri mereka, Rafsa memesan dua porsi besar yakiniku spesial dari daging sapi terbaik yang ada di kedai mereka. Pelayan itu mengangguk lalu pergi ke dapur, tak lama kemudian dia datang lagi ditemani dua pelayan lainnya mereka membawa peralatan panggang dan dua piring daging sapi terbaik beserta bumbu dan makanan pendamping lainnya.
Pelayan lainnya juga menuangkan minuman untuk mereka berdua, Rafsa dan Ino mulai memanggang daging sapinya di atas panggangan. Mata Rafsa setiap detiknya tidak teralihkan dari paras cantik Ino yang kini ada di depannya, kejadian ini seakan mimpi baginya. Dahulu dia hanya bisa membayangkan bisa bertemu semua kunoichi cantik dunia Naruto tapi kini mereka nyata ada di depannya.
“Kamu malam ini terlihat sangat cantik, Ino,” ucap Rafsa sambil tersenyum.
“Kamu ini terlalu berlebihan Rafsa,” jawab Ino seraya tersenyum sambil menaruh dagu tirusnya di telapak tangan kiri sedangkan tangan kanannya sibuk menaruh daging di panggangan.
“Aku sering mendengar pujian seperti itu dari beberapa shinobi aneh yang sok kenal denganku. Tapi orang yang aku harapkan mengatakannya justru tidak pernah menyadarinya,” ucap Ino dengan pelan.
“Woi, woi, aku harap dia tidak membawa bawa Sasuke ke acara makan mala mini,” batin Rafsa yang mulai bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut. Dia tahu yang dimaksud shinobi aneh oleh Ino pastilah user HLF yang berusaha mendekatinya, sedangkan orang yang diharapkan Ino pastinya adalah Sasuke.
“Aku mengerti perasaanmu,” ucap Rafsa yang berharap makan malam kali ini benar-benar menjadi kencan bukan malah menjadi ajang curhat.
“Benar kan? Aku sudah duga pasti kamu merasakannya. Aku lihat kamu sangat sedih saat mendengar Hinata menolak untuk ikut, aku tahu kok kamu pasti suka Hinata,” ucap Ino. Rafsa sejujurnya terkejut karena tidak menyangka Ino akan berkata seperti itu.
“Hancur sudah,” jerit Rafsa di dalam hatinya. Dia yakin makan malam kali ini tidak akan berakhir sesuai dengan harapannya yang begitu indah.
__ADS_1
“Mungkin kamu memang benar, tapi jujur saja aku adalah pria yang gampang jatuh cinta kepada wanita manapun,” ucap Rafsa sambil tersenyum sok tegar, padahal hatinya benar-benar sedih karena acara kencannya tidak sesuai harapan.
Bersambung…