
Chapter 22
Alibi Pelaku Pembunuhan
“Are, kenapa kau juga membawa nona Kasumi kemari? Bukankah Yumi hanya mengatakan nyonya Nabata dan pak Kakuma saja?” tanya Inspektur Megure.
“Ah jadi ceritanya saat aku mengunjungi rumah tuan Kakuma dia baru saja datang setelah bekerja, lalu aku menjelaskan situasinya. Namun dia mengatakan bahwa pada pukul dua belas malam sampai pukul satu dia mengantar penumpangnya, untuk memastikannya aku juga membawa penumpangnya yaitu nona Kasumi,” jelas Takagi.
“Sedangkan nyonya Nabata bilang kalau saat pukul dua belas malam dia sudah tertidur sampai kami mengunjungi rumahnya, tapi karena dia tinggal sendiri jadi kami tetap membawanya kemari sebab tidak ada yang membuktikan perkataannya,” jelas Takagi.
“Sudah aku bilang bukan, coba saja cek CCTV depan rumahku. Aku sama sekali tidak keluar pada pukul dua belas malam, tapi kalian tetap memaksaku datang kemari,” sanggah Nabata sedikit sewot.
“Menghindari CCTV sangatlah mudah, dengan keluar lewat jendela misalnya,” celetuk Rafsa sambil berjalan mendekat.
“Eh? Siapa dia Inspektur?” tanya Takagi yang terlihat kaget.
“Oh, dia adalah tetangga Yumi. Tapi yah seperti yang kau lihat, sifatnya juga hampir mirip Kudo-kun,” jawab Megure sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Hee? Bukankah dia sedang di luar negeri?” teriak Takagi tampak kaget.
“Ah, dia baru pulang tadi sore katanya,” kali ini Sato yang menjawab.
“He? Kalau begitu orang yang paling mencurigakan adalah dia?” gumam Takagi.
“Hah.. kami juga berpikir begitu tapi kami sudah menggeledah rumahnya dan tidak menemukan hal yang mencurigakan sedikitpun,” ucap Megure sambil menghela nafas dalam.
“Ekhem.. kita kesampingkan itu dulu, lalu apa nona Kasumi memang bisa membuktikan bahwa pak Kakuma memang mengantarkan anda?” tanya Rafsa sambil berdehem.
“Ya, waktu itu kalau tidak salah aku memang naik ke taksinya, dan pukul satu malam baru sampai di rumah,” jawab Kasumi.
__ADS_1
“He? Sampai satu jam ya? Rumah kakak ternyata jauh juga,” celetuk Conan dengan gaya khasnya.
“Ah sebenarnya setelah aku sempat tertidur di dalam mobil dan kembali dibangunkan oleh pak Kakuma tapi ternyata dia salah alamat, kami kemudian kembali ke alamat yang benar jadi waktunya agak lama. Tapi pak Kakuma juga sangat baik sebab tidak menambahkan ongkosnya, aku juga rasanya baru kali ini sampai ketiduran di taksi,” jelas Kasumi.
“Ya, waktu itu nona Kasumi memang tertidur. Saat saya tanya di mana rumahnya dia bilang di Kota Haido jadi saya langsung ke sana, tapi setelah sampai saya tanya lagi dia bilang di Kota Beika. Saya balik lagi setelah itu nona Kasumi tiba-tiba berbicara sendiri, setelah saya lihat ternyata dia sudah tertidur. Saya baru tahu ternyata nona Kasumi sedang mengigau, saya langsung membangunkannya dan menuju ke rumahnya yang asli,” timpal Kakuma sambil tertawa kecil.
“Aku juga tidak mengira kalau waktu tidur ternyata suka mengigau, tapi untungnya pak Kakuma tidak memberikan tarif tambahan,” ucap Kasumi lagi.
“Oh iya Yumi-san, kenapa mereka dicurigai?” tanya Rafsa sambil menatap Yumi.
“Eto.. aku pernah melihat bu Nabata beberapa kali datang ke apartemen Takaoka-san. Aku juga mendengar mereka selalu berdebat tentang naskah novel dan semacamnya, rumahnya juga tidak terlalu jauh dari sini. Sedangkan pak Kakuma juga pernah ke sini, beberapa tetangga bilang kalau pak Kakuma juga sering sekali menghentikan mobilnya di dekat gedung apartemen ini,” tutur Yumi.
“Sudah aku bilang kalau kami bertengkar memang hanya berselisih paham saja sebagai sesama penulis. Tapi tidak mungkin aku membunuh orang hanya karena pertengkaran kecil,” sanggah Nabata.
“Ya, itu memang tidak mungkin. Tapi kenyataannya kebanyakan masalah besar juga awalnya berasal dari masalah yang sepele Oba-san,” sela Mirai.
“Saya juga tidak mungkin membunuh orang lain, saya berhenti karena hanya ingin mencari udara segar saja. Di depan gedung ini ada tempat teduh, saya sering berhenti di sana hanya untuk merasakan semilir angin,” bantah pak Kakuma.
“Eh? Uso. Padahal tadi jamnya sudah sama dengan yang ada di taksi pak Kakuma loh,” ujar Kasumi sambil menatap jam tangannya. Saat itu juga Rafsa, Conan dan Mirai langsung tersenyum.
“Tidak salah lagi. Pelakunya adalah dia,” batin Conan, Rafsa dan Mirai sambil menatap orang yang sama.
“Hanya saja aku masih belum bisa memecahkan arti dari tulisan acak korban,” pikir Conan sambil berjalan mendekati tulisan acak.
“Kelihatannya itu memang dia, tapi jika tulisan itu belum terungkap maka misteri ini masih belum bisa diselesaikan,” batin Mirai.
“Sampai belut buluan juga mereka berdua tidak akan bisa memecahkan arti dari tulisan itu,” pikir Rafsa yang akhirnya sudah mengerti semua jawaban dari misteri pembunuhan yang ada.
Rafsa kemudian melangkahkan kakinya menuju ke balkon korban, dia memerlukan beberapa kepingan puzzle terakhir untuk menguak misteri tersebut. Rafsa kemudian menengadah ke atas dinding, ke samping dan memeriksa setiap celah di balkon. Conan dan Mirai hanya menatapnya dengan tajam mereka paham apa sebenarnya yang dicari oleh Rafsa, mereka sudah menemukannya duluan hanya tinggal memecahkan arti dari kata-kata acak saja.
__ADS_1
Rafsa menundukan tubuhnya serta tangannya meraba-raba bagian bawah tembok balkon, tak lama kemudian dia tersenyum. Dia akhirnya menemukan potongan puzzle terakhir dari misteri pembunuhan yang terjadi saat ini. Rafsa segera memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan menghampiri Inspektur Megure dan para polisi yang masih menanyakan berbagai hal kepada tersangka.
“Kelihatannya semua potongan puzzle sudah tersusun sempurna,” tukas Rafsa sambil bersender ke dinding memasang gaya cool.
“Eh?” ujar semua orang yang terkejut mendengar ucapan Rafsa, saat itu juga mereka mengalihkan perhatiannya kepada Rafsa.
“Checkmate! Hannin wa omae da!” ucap Rafsa dengan lantang seraya menggerakan jari telunjuknya mengarah kepada salah seorang yang dibawa Takagi ke tempat itu.
“Kakuma-san!” sambung Rafsa sambil tersenyum.
“Eh? Dia sudah mengetahuinya?” batin Mirai.
“Apakah dia sudah memecahkan misteri dari dying message ini?” pikir Conan yang terlihat sangat kaget.
“Eh watashi?” tukas Kakuma sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Ya, sejak awal kau datang kemari aku sudah menduganya,” jawab Rafsa dengan tenang, tubuhnya masih bersender ke dinding dengan santai.
“Pesannya, apa kakak sudah memcahkan arti kata-kata acak itu?” tanya Conan dengan antusias.
“Iye, sejak awal itu bukanlah kata-kata acak. Tapi sudah tersusun menjadi sebuah kata,” jawab Rafsa sambil beranjak dan berjalan mendekati Kakuma.
“Trik yang kau gunakan memang sederhana dan hampir sempurna, tapi kau membuat kesalahan besar. Akuma-san,” ucap Rafsa.
“Tidak, sudah aku bilang aku tidak membunuhnya! Kau juga memanggilku apa hah?!” bentak Kakuma yang sangat marah saat mendengar perkataan Rafsa.
“Kau pantas dipanggil seperti itu, sebab manusia sejati tidak akan pernah membunuh sesamanya sendiri. Orang-orang yang tega menghabisi sesamanya sendiri sudah sepatutnya dipanggil iblis,” ucap Rafsa seraya kembali ke tempat bekas jasad Takaoka terbaring.
“Di sinilah kau menghabisinya, di sini pula kau harus mengakuinya. Jika tidak, maka aku yang akan mengungkapnya,” sambung Rafsa tanpa berbalik sedikitpun, tatapannya tegak lurus menatap keluar kaca apartemen.
__ADS_1
“Pasti terlihat keren parah sih,” batin Rafsa sambil senyam senyum sendiri.
Bersambung…