Maximum Delusion

Maximum Delusion
16 Orang yang Tersisa


__ADS_3

Chapter 9


16 Orang yang Tersisa


“Senpou, Suiton: suijinheki!” ucap dua kage bunshin Rafsa.


“Senpou, Suiton: bakusui shouha,” ucap satu kage bunshin Rafsa yang tersisa. Sementara Rafsa asli berada di belakang ketiga bunshin itu.


Saat gemuruh air muncul di depannya Rafsa langsung melemparkan kunai ke udara sekencang mungkin, tampak di dekat pegangannya sudah diikatkan bola asap dan sebuah tanda di ujungnya. Ketiga bunshin Rafsa langsung lenyap seketika saat dinding air terbentuk ditambah dengan luapan air yang semakin meninggi, mata Rafsa juga tampak sudah kembali seperti biasa.


“Kelihatannya dia sudah mencapai batasan sennin modenya. Tidak mengherankan sebab dia menggunakan dua jutsu pelindung air dan juga jutsu ledakan gelombang air yang pernah digunakan Kisame. Ketiga jutsu itu pasti menguras senjutsunya,” pikir Reina sambil tersenyum karena dia tahu kalau ketiga jutsu itu masih belum tandingan jutsu api yang digunakannya.


‘Ddddrrrrr..’


‘Bbbbsssshhh..’


Terdengar suara benturan air dan api yang saling hantam, jutsu air yang digunakan oleh Rafsa langsung menguap seketika hingga menyebabkan kabut. Tapi perhatian Reina malah tertuju kepada ledakan kunai yang ada di langit, tampak asap hitam mengepul di langit. Sementara tempat Rafsa kini sudah terlalap jutsu api yang digunakannya.


“Ledakan apa itu? Apa itu serangan terakhirnya yang meleset sebelum dia tertelan api?” gumam Reina sambil menghentikan jutsunya.


‘Bbbsssttt..’


Dari langit tampak puluhan titik-titik hitam melesat turun ke arahnya, sekilas saja Reina tahu bahwa itu adalah puluhan kunai yang melesat cepat menuju ke arahnya. Tidak sampai di situ, Reina kembali dikagetkan dengan lima kunai yang melesat dari bekas reruntuhan tembok tanah tempat Rafsa dan Leafa berdiri tadi, tempat itu sama sekali tidak terjamah oleh jutsu api yang dikeluarkannya tadi.


“Apakah yang sejak tadi aku lawan adalah bunshin miliknya? Tidak, yang aku lawan jelas-jelas orang yang asli. Kalau bunshin tentu akan langsung lenyap setelah terkena seranganku tadi,” batin Reina yang langsung membentuk segel tangan.


“Doton: cho doryuheki!” ucap Reina sambil menghantamkan kedua tangannya ke tanah, saat itu juga dari keempat sisi tubuh Reina langsung muncul tembok tanah yang berhasil melindunginya dari semua kunai yang melesat ke arahnya. Tapi tanpa di duga sebuah kunai dari udara masih ada yang melesat ke arahnya.


“Apa jutsuku tidak mampu menutupi semua jangkauan kunai itu? Itu mustahil, lagipula kunai ini datang lebih lambat dari kunai lain yang sudah tertahan tembok tanah. Kunai ini jelas-jelas dilemparkan agak lama setelah kunai lainnya melesat ke arahku,” batin Reina yang langsung menghindari kunai itu dengan melompat ke belakang. Tapi matanya tiba-tiba terbelalak saat sosok Rafsa kini sudah berada di depannya tepat sambil memegang kunai yang tadi akan dia hindari.


“Chekmate,” ucap Rafsa sambil tersenyum dengan menghunuskan kunai tepat ke arah jantung Reina.

__ADS_1


“Sial! Tanda itu? Hiraishin no jutsu?” gumam Reina tanpa sadar. Perhatiannya tertuju kepada tanda yang ada di ujung kunai yang digenggam Rafsa.


Reina tidak mungkin bisa mengelak lagi, tubuhnya sudah terlanjur bergerak untuk menghindari kunai, dia tidak menyangka jika Rafsa ternyata juga mampu menguasai Hiraishin no jutsu yang dimiliki Tobirama dan Minato. Namun tepat sebelum ujung kunai Rafsa menyentuh tubuh Reina, mendadak saja tubuh mereka berdua tidak bisa digerakan sedikitpun. Perlahan tubuh mereka mulai memudar.


“Ini?” gumam Rafsa saat merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak dan mulai memudar.


“Kelihatannya pertandingan kita akan dilanjutkan di babak selanjutnya, Rafsa,” ucap Reina yang juga mulai memudar.


“Sayang sekali. Mungkin di lain waktu saja,” jawab Rafsa sambil tersenyum sebelum akhirnya tubuh mereka lenyap seketika.


Kini tubuh Rafsa sudah berada di tempat lain. Di hadapannya kini terdapat sebuah arena bertarung yang cukup besar layaknya arena Tenkaichi Budokai di anime Dragon Ball tapi lebih besar empat kali lipat. Di keempat sisi arena terdapat empat orang user yang sedang berdiri berjauhan. Jadi total ada 16 user HLF yang lolos ke babak ini setelah melalui babak battle royale.


Rafsa berdiri bersama dua orang pria dan satu orang lagi perempuan. Sementara di sisi seberangnya ada Reina yang berdiri dengan tiga pria, di sisi lainnya ada dua pria dan dua wanita lalu di sisi terakhir ada tiga pria dan satu wanita. Mereka semua tampak saling pandang seolah ingin mengukur kemampuan lawan masing-masing, terlebih babak ini adalah pertarungan satu lawan satu untuk menentukan satu pemenang yang berhak menjadi jounin sedangkan sisanya hanya menjadi chunin.


“Sayang sekali pertandingan tadi tidak sampai selesai, aku tidak menyangka babak battle royale akan selesai dalam waktu singkat,” batin Rafsa yang agak kesal sebab tadi dia hampir bisa menang melawan Reina.


“Padahal aku sudah menyusun rencana itu sedemikian rupa,” gerutu Rafsa sambil menatap Reina yang ada di sisi seberangnya, meski Reina mengenakan topeng namun Rafsa pikir Reina juga sedang menatapnya dari kejauhan.


“Aku tidak menyangka jika dia ternyata bisa menggunakan hiraishin no jutsu. Nyatanya aku memang terlalu meremehkannya, andai saja tadi waktu ujian tahap pertama masih berlanjut mungkin aku sudah kalah. Yah, meskipun keberuntungan juga termasuk bagian dari kekuatan,” pikir Reina yang masih menolak untuk mengaku kalah.


Sekarang Reina mengerti bahwa Rafsa melemparkan kunai yang sudah ditandai hiraishin ke langit untuk meloloskan diri dari jutsu api miliknya, sementara tiga bunshinnya yang menggunakan jutsu air hanyalah pengalihan saja agar kewaspadaannya berkurang. Reina bisa menebak bahwa di saat api menabrak dinding air dan bola asap meledak di langit Rafsa pasti menggunakan hiraishin untuk berpindah ke kunai yang dia lemparkan di langit, dia memang tidak bisa melihat tubuh Rafsa sebab tertutupi asap hitam.


Lalu Rafsa menyerangnya dengan puluhan kunai untuk membuatnya lengah dan tidak berpikir tentang pergerakan lawannya, saat itulah Rafsa berpindah ke tempat reruntuhan tembok tanahnya yang sudah sempat dia tandai sebelum meloloskan diri dari tiga serangan beruntunnya. Rafsa pasti langsung melemparkan lima kunai itu dari sana untuk membuat perhatiannya ke langit teralihkan.


Reina yakin setelah perhatiannya tertuju ke kelima kunai yang datang dari arah yang berbeda Rafsa langsung kembali ke kunai yang ada di langit, saat itulah tanpa memperhatikan apa-apa lagi Reina menggunakan jutsunya untuk bertahan. Saat itu juga Rafsa kembali melemparkan kunai terakhir dari langit yang tentunya sudah ditandai oleh hiraishin. Semua itu menjadi masuk akal bagaimana ada sebuah kunai yang masih melesat ke arahnya sedangkan kunai lainnya tertahan oleh tembok tanah yang digunakannya.


“Jika semua yang aku perkirakan itu memang benar, maka kecerdasannya memang luar biasa. Tapi.. kenapa dia tidak lolos menjadi beta tester?” batin Reina sembari terus memperhatikan Rafsa yang ada di seberangnya.


“Aku tidak menyangka ternyata ada Beta Tester No. 11 ikut dalam ujian chunin kali ini,” celetuk seorang pria yang berada di sisi samping kanan Reina atau samping kiri kalau dari tempat Rafsa berdiri. Pria itu berkata sambil menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk Reina.


“Beta Tester No. 11?” gumam tiga user di samping Rafsa.

__ADS_1


“Siapa kau?” tanya Reina seraya menggerakan kepalanya menatap pria yang menunjuknya dari sisi kanan. Kini Reina menjadi pusat perhatian di tempat itu, sebab semua orang sangat terkejut mendengar ada beta tester terkuat kesebelas ikut ujian chunin hari ini.


“Hei kau jangan pura-pura lupa begitu! Lihat mataku!” tegas pria itu sambil memelototkan matanya. Tampak matanya merupakan mata klan uchiha alias Sharingan.


“Sharingan?” gumam beberapa user lain saat menatap mata pria itu.


“Ada apa dengan matamu? Kelilipan?” tanya Reina dengan dingin.


“Ternyata kalau mendengar orang lain yang diperlakukan seperti itu lumayan lucu juga,” batin Rafsa sambil tertawa kecil. Beberapa user lainnya juga terlihat tertawa, meski ada beberapa orang yang tampak menahan tawanya.


“Kurang ajar kau! Sesama Beta Tester seharusnya kau tahu nama teman-temanmu! Aku Uchiha Hanz! Beta Tester No. 98!” tegas pria itu sambil kembali menunjuk Reina.


“Dia beta tester juga?” bisik-bisik user lainnya.


“Nomor 98 ya, akan aku ingat baik-baik,” gumam Rafsa sembari menatap pria bernama Hanz itu dengan tajam.


“Oh pantas saja. Aku pikir kau beta tester yang lebih kuat dariku,” tukas Reina yang langsung mengalihkan perhatiannya lagi kepada Rafsa.


“Hahaha..” terdengar beberapa user tertawa mendengarnya, Rafsa juga hanya tersenyum sendiri. Kelihatannya sikap Reina memang seperti itu kepada semua orang, entah kenapa Rafsa agak merasa lega karenanya.


“Awas saja kau!” gerutu Hanz yang mulai bergerak hendak mendekati sisi Reina.


“Dasar bocah!” ucap seorang pria yang ada di sisi samping kanan Rafsa atau sisi samping kiri dari Reina.


“Apa kau bilang? Dans!” teriak Hanz yang kali ini memelototi pria yang tadi berbicara.


“Bocah! Pertandingan masih belum dimulai tapi sudah mau ribut saja,” jelas pria yang bernama Dans itu dengan suara lebih kencang seolah disengaja.


“Tanda di dahinya itu, apa dia memilih klan yang sama dengan Kimimaro?” batin Rafsa sambil menatap pria yang berdebat dengan Hanz.


“Terlebih jika mereka saling mengenal, mungkin saja dia juga seorang beta tester,” sambung Rafsa.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2