Maximum Delusion

Maximum Delusion
Beta Tester No. 11


__ADS_3

Chapter 7


Beta Tester No. 11


“Doton: cho doryuheki!” ucap Rafsa, setelah menggunakan segel tangan dia langsung menghantamkan dua telapak tangan kanannya ke tanah, saat itu juga di keempat sisi Rafsa langsung tercipta tembok tanah besar yang menjulang tinggi.


‘Bbrrrkkk’


‘Bbbggghh’


Bebatuan yang tadi bergerak akan menghimpitnya kini hanya menghantam tembok besar hingga terdengar benturan hebat, sedangkan semburan api berbentuk naga yang melesat ke arahnya juga hanya menghantam tembok tanah sampai hancur. Rafsa sendiri dengan santai berdiri di atas tembok tanah yang masih utuh melihat lawan-lawannya yang tertegun.


“Kalau tidak salah, itu adalah bentuk lebih kuat dari jutsu tembok tanah biasa,” ucap pria yang menggunakan semburan api.


“Ya, aku juga pernah melihat Kakashi menggunakannya di anime, kalau tidak salah waktu perang dunia menghadapi edo tensei tujuh shinobi pedang kirigakure,” sambung yang lain.


“Kalian ternyata lumayan juga, padahal aku tadinya hanya berniat mencari beta tester saja. Tapi apa boleh buat, aku akan sedikit memperlihatkan kemampuanku,” tukas Rafsa yang langsung melemparkan empat shuriken ke arah empat musuhnya.


“Shuriken: kage bunshin!” ujar Rafsa, saat itu juga empat shuriken yang melesat mendadak berlipat ganda sampai puluhan dari setiap buahnya.


“Minggir!” ucap seorang pria yang langsung maju untuk menggunakan jutsunya. Tapi belum sempat dia bergerak tiba-tiba sebuah shuriken meledak di dekatnya sampai tubuhnya terpental dan lenyap.


“Ada kertas peledak di semua shurikennya!” ucap seorang pria yang mencoba memperingatkan dua orang user lainnya.


‘Bbbhhaamrr..’


‘Ddddhhoommrr..’


‘Brrrr’


‘Dhhaammnnrr..’


‘Bhhoomrrr..’


Seluruh shuriken itu meledak seketika bagaikan kembang api, empat orang yang menjadi lawan Rafsa langsung lenyap seketika bersamaan dengan pasir-pasir yang berhamburan ke udara. Tak jauh dari sana terlihat wanita yang tadi berjalan tampak gemetar melihat empat orang pria di depannya lenyap seketika.

__ADS_1


“Kesalahan kalian adalah meremehkan hal kecil seperti shuriken, mereka lupa bahwa jutsu bukanlah satu-satunya cara mengalahkan musuh di dunia Naruto,” ucap Rafsa yang langsung melompat ke bawah dan menghampiri gadis yang terlihat ketakutan.


“Ampun..” ucap si gadis dengan terbata-bata, wajahnya terlihat begitu pucat saat melihat Rafsa mendekatinya.


“Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitimu,” ucap Rafsa buru-buru karena khawatir kalau gadis itu akan semakin takut.


“Tapi..” ujar gadis itu dengan lirih seraya melihat cekungan-cekungan gurun bekas ledakan yang terjadi tadi.


“Oh, mereka tidak apa-apa. Ini hanyalah event virtual reality, jadi nyawa mereka tidak akan melayang meskipun mati di dalam dunia ini. Mereka baru akan mati jika nyawa mereka lenyap di dunia HLF bukan di event virtual reality,” jelas Rafsa sambil tersenyum.


“Virtual reality?” gumam gadis itu seakan masih bingung.


“Biar aku tebak, kamu baru saja membeli perangkat HLF dan tanpa sengaja mengikuti instruksi di email yang masuk dan terdampar di ujian chunin ini,” tebak Rafsa sambil mengulurkan tangan membantu gadis itu bangkit.


“I.. iya..” jawab gadis itu perlahan seakan masih curiga kepada Rafsa, meski begitu dia tetap meraih tangannya dan kembali berdiri.


“Hmmh.. pantas kalau begitu, aku sarankan sebaiknya kau log out sekarang dari event ini dan juga dunia Naruto shippuden. Setelah itu kau baca baik-baik panduan perangkat HLF yang ada di website atau buku panduan,” tutur Rafsa.


“Memangnya ada panduannya?” tanya gadis itu.


“Aku tidak tahu, ini hanya hadiah ulang tahun dari seseorang. Dia bilang kalau menggunakan perangkat ini aku bisa masuk ke dunia lain yang lebih menyenangkan,” jawab si gadis.


“Memang bisa seperti itu ya? Rasanya baru kali ini mendengar kejadian seperti itu,” batin Rafsa.


“Baiklah apapun itu yang terpenting aku sarankan kau untuk log out dan jangan masuk dulu ke dunia HLF sebelum membaca seluruh panduan dari DT Corp di websitenya,” jelas Rafsa.


“Alamat webnya apa?” tanya si gadis yang terlihat sudah tidak ketakutan lagi.


“Kau bisa mengunjunginya di email yang kamu terima barusan, ada tulisan alamat webnya di bagian paling bawah. Oh iya satu hal lagi, aku sarankan kamu tidak usah masuk ke server HLF yang berbahaya. Kamu bisa melihat informasi tentang rekomendasi server yang menarik bagi perempuan di web HLF, di sana kamu akan lebih aman,” jelas Rafsa panjang lebar, entah kenapa dia tiba-tiba teringat dengan kejadian 3 bulan yang lalu.


“Terima kasih banyak. Oh iya namaku Leafa, kalau boleh tahu nama kamu sia-“ belum sempat gadis itu berbicara tiba-tiba tanah bergetar hebat, sebuah naga air mendadak melesat di udara.


“Mundur!” ucap Rafsa yang langsung berdiri di depan Leafa.


“Doton: Doryuheki!” ujar Rafsa sambil menghantamkan tangannya ke tanah, saat itu juga naga air yang melesat langsung menghantam tembok tanah yang diciptakan Rafsa sampai hancur lebur, tapi diluar dugaan ditengah percikan air dan serpihan-serpihan tanah yang berhamburan di udara tampak puluhan burung api melesat ke arahnya dan Leafa.

__ADS_1


“Sial,” gerutu Rafsa yang langsung membalik badan untuk membawa Leafa, tapi gadis yang ada di belakangnya sudah terkena shuriken entah dari mana, tubuhnya langsung lenyap seketika.


‘Bbbrrrgghh’


Terdengar hantaman-hantaman burung dan shuriken menghujani bekas tempat berdiri Rafsa dan Leafa hingga debu-debu berhamburan ke udara. Sementara itu dari arah lain tampak seorang perempuan berjalan dengan santai ke arah tumpukan bebatuan bekas tembok tanah yang diciptakan Rafsa, meskipun wajahnya tertutup topeng tapi postur tubuhnya menunjukan bahwa dia memang perempuan.


“Aku tidak menyangka kau masih bisa selamat dari serangan seperti itu,” ucap wanita yang menggunakan topeng tersebut sambil menatap Rafsa yang sudah berdiri agak jauh dari tempatnya dan Leafa tadi.


“Tenanglah.. tenanglah.. ini tidak seperti tiga bulan yang lalu.. Gadis itu pasti masih hidup.. ini hanyalah event virtual reality,” gumam Rafsa kepada dirinya sendiri sambil menghela nafas dalam. Detak jantungnya terdengar berdegup kencang, dari raut wajahnya terlihat jelas kalau Rafsa sedang menahan amarahnya, tatapan tajamnya tertuju kepada wanita yang mengenakan topeng.


“Kelihatannya kau sangat marah karena pacarmu tadi aku lenyapkan. Tapi aku harap kau juga tahu kalau di event seperti ini bukanlah waktu yang pas untuk pacaran,” ucap wanita itu lagi seolah tahu kalau Rafsa sedang menahan amarahnya.


“Hah.. sayangnya kami tidak sedang pacaran, aku hanya sedang memberitahunya beberapa hal kecil tentang dunia ini,” jawab Rafsa setelah dirinya agak tenang.


“Begitu ya, tapi aku masih belum paham bagaimana kau bisa selamat dari serangan bertubi-tubi seperti tadi?” tanya wanita itu sembari menatap tajam Rafsa.


“Jawabnya ada di ujung langit. Mungkin sepenggal lirik itu tidak pas untuk menjawabnya, tapi dipaksapun aku tidak ingin mengatakannya. Terlebih kepada seorang beta tester sepertimu,” jawab Rafsa sambil menghunuskan kunainya.


“Dia tahu aku beta tester?” batin wanita yang menggunakan topeng.


“Aku tidak mengingat aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya,” ucap wanita itu sembari mengambil kunai dari tas peralatan ninja miliknya.


“Ya, ini mungkin pertama kalinya kita bertemu. Tapi aku rasa kau mengenal Gin, beta tester sepertimu,” jawab Rafsa yang sudah kembali tenang.


“Si keparat itu, jadi dia juga menjual informasi tentang diriku ya,” batin wanita bertopeng menggerutu di dalam hatinya.


“Aku tidak kenal dengan orang yang kau sebutkan itu,” jawab wanita bertopeng dengan ketus.


“Ho.. begitu rupanya, tapi ciri-ciri yang dia sebutkan tentangmu hampir semuanya tepat. Beta Tester nomor 11, Reina!” ucap Rafsa, sekejap saja dia mengambil shuriken dari tas peratalan ninja miliknya lalu dilemparkan ke arah lawannya.


“Dia bahkan tahu nickname dan juga ID user HLF milikku. Gin, kau akan kubuat babak belur nanti kalau bertemu!” ancam Reina di dalam hatinya.


“Shuriken: kage bunshin!”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2