
Chapter 20
Kasus Pembunuhan di Tengah Malam (part 2)
Rafsa di bawa ke ruangan apartemen korban, tampak keadaan di dalam apartemen sangat berantakan seolah sudah terjadi perampokan. Jasad korban masih tergeletak di dekat pintu yang menuju balkon apartemen dengan bersimbah darah, namun di dekat jasad itu terlihat tulisan dari darah. Seorang anak kecil yang tadi berbincang dengan Conan tampak menatap Rafsa dengan tajam.
“User HLF ya? Ternyata ada user yang sudah berada cukup dekat dengan Conan dan yang lainnya. Tapi dengan menjadi anak kecil seperti itu sebenarnya apa yang dia incar di server ini?” batin Rafsa saat pendangannya bertemu dengan anak kecil yang tadi berbincang dengan Conan.
“Inspektur Megure, ini dia salah satu penghuni apartemen yang tinggal di sebelah Yumi,” ucap Sato.
“Ah, kalau tidak salah namanya.. Rafsa ya?” tukas Inspektur Megure sambil menatap Rafsa.
“Benar Inspektur,” jawab Rafsa.
“Seperti yang kamu lihat, di apartemen ini sudah terjadi pembunuhan. Korban bernama Takaoka Mitsushima berusia dua puluh tiga tahun dia tewas dengan luka tusukan pisau di perut dan dadanya. Menurut kesaksian tetangga mereka yaitu Yumi terdengar suara kaca yang pecah sangat keras dari apartemen ini, saat dilihat ternyata pintu apartemen sudah dibobol secara paksa dan ada tali di balkon apartemen yang menuju ke bawah,” jelas Inspektur Megure.
“Lalu Conan-kun dan temannya sedang apa di sini Inspektur?” tanya Rafsa seolah tidak peduli dengan kasus pembunuhan yang terjadi.
“Eh? Kau kenal Conan-kun?” tanya Megure.
“Ah tidak, hanya saja Yumi-san pernah bilang kalau dia itu anggota detektif cilik SD Teitan yang sering membantu polisi,” jawab Rafsa.
“Oh, mereka baru saja menyelesaikan kasus bersama Yumi. Tapi karena sudah larut malam jadi Yumi membawa mereka ke apartemennya untuk menginap,” sela Sato.
“Oh,” gumam Rafsa sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ngomong-ngomong apa yang sedang anda lakukan pukul dua belas malam ini sampai kami datang kemari?” tanya Megure dengan tatapan tajam.
“Aku sedang tidur waktu itu. bahkan waktu Yumi-san teriak saja tadinya aku pikir itu hanyalah mimpi jadi tidak buru-buru bangun. Barulah setelah ramai orang diluar aku langsung keluar apartemen,” jawab Rafsa.
“Ne.. kak Rafsa bilang kalau seminggu ini pergi ke luar negeri kan?” celetuk Conan.
“Iya, memangnya ada apa Conan-kun?” tanya Rafsa.
__ADS_1
“Lalu kapan kakak kembali ke apartemen?” tanya Conan lagi dengan tatapan lebih tajam.
“Eto.. hari ini aku baru kembali ke sini,” jawab Rafsa, dia tahu saat ini sedang menjadi target penyelidikan sanga detektive jadi dia tidak boleh gegabah dalam menjawab.
“He.. kak Yumi bilang tadi pagi masih belum melihat kakak,” cecar Conan.
“Oh, aku kembali sore hari waktu Yumi-san sedang patroli, soalnya aku tidak bertemu dengannya. Aku juga tidak keluar dari apartemen sejak itu dan memilih istirahat saja,” jawab Rafsa.
“He.. kapan-kapan aku boleh kan main ke rumah kakak. Aku juga sangat suka baca novel misteri loh,” kata Conan dengan riang.
“Ya, tentu saja,” jawab Rafsa. Dia paham kalau Conan sudah bertingkah seperti itu, artinya dia sudah mendapatkan jawaban yang dia cari tentang targetnya. Rafsa kembali mencoba mengingat-ingat setiap kata-kata dari mulutnya yang keluar apakah ada yang mencurigakan atau tidak.
“Kamu tidak keberatan bukan jika kami memeriksa tempat tinggalmu?” tanya Megure lagi.
“Ya, silahkan saja,” jawab Rafsa.
Rafsa dan Sato serta Inspektur Megure dan beberapa polisi lainnya keluar dari TKP menuju tempat tinggal Rafsa. Hal itu bisa Rafsa maklumi sebab dia memang yang paling mencurigakan dalam kasus ini, mau tidak mau dia harus menerimanya dengan pasrah. Conan dan temannya juga mengikuti mereka dari belakang.
“Conan-kun apa kau mencurigai pria bernama Rafsa tadi?” tanya anak kecil yang ikut disebelahnya, dia adalah seorang user HLF bernama Mirai Naofumi.
“Ya, Aku yakin kau juga mencurigainya bukan?” tanya Conan.
“Memang benar, dia sangat mencurigakan. Tapi aku masih belum paham dengan dying message yang ditinggalkan korban, kelihatannya itu memang petunjuk penting kasus ini,” jawab Mirai.
“J. A. D. I. T. A. K. U. T,” ucap Conan mengeja pesan kematian yang ditinggalkan korban di dengan menggunakan darahnya sendiri.
“Sejauh ini aku sudah paham kalau korban memang belum tewas setelah ditusuk pisau itu ketika pelakunya sibuk mengobrak abrik rumah agar terlihat seperti perampokan. Lampu di apartemen ini juga dalam keadaan mati, jadi tidak heran kalau pelaku memang tidak melihat korban yang belum mati menuliskan pesan,” sambung Conan.
“Aku juga berpikir seperti itu. Tapi tulisan yang ditinggalkan korban juga kelihatannya merupakan sebuah kode untuk menunjukan identitas pelakunya, aku yakin dia khawatir kalau menuliskan langsung namanya malah akan disadari pelaku,” timpal Mirai.
“Ya, tapi rasanya ada yang janggal bagiku. Saat mengingat kembali suara kaca pecah itu rasanya ada yang aneh,” batin Conan sambil memegang dagunya.
“Saat terdengar suara kaca pecah itu Aku, Mirai dan juga Yumi-san langsung ke sana, tapi tali yang digunakan pelaku sama sekali tidak bergerak. Seharusnya jika memang pelaku saat itu masih ada dan menuruni tali itu maka tali harus masih bergerak terlebih TKP berada di lantai lima, kecuali jika pria bernama Rafsa itu pelakunya,” pikir Conan.
__ADS_1
“Jika pria bernama Rafsa itu memiliki keahlian parkour mungkin saat dia memecahkan kaca, dia langsung melompat ke balkon Yumi dan ke balkonnya. Tali itu hanyalah alibi untuk mengalihkan perhatian kami,” batin Conan lagi. Rafsa buru-buru mendekati pintu apartemennya lebih dulu.
“Lock Off,” ucap Rafsa pelan agar tidak terdengar yang lainnya, yang mencoba mematikan pengamanan sistem HLF sebab dia khawatir kalau Mirai benar-benar user, akan sangat mencurigakan jika mereka mendengar alarm sistem HLF di kamarnya berbunyi saat mereka masuk.
“Silahkan masuk, mohon maaf jika banyak debu. Soalnya aku belum sempat bersih-bersih,” ucap Rafsa. Megure, Sato, Yumi, beberapa polisi ditambah Conan dan Mirai langsung masuk ke dalam.
“Ne.. boleh aku ke balkon?” tanya Conan.
“Silahkan saja,” jawab Rafsa sambil tersenyum. Dia sudah mengerti apa yang sedang dipikirkan sang detektive itu.
“Ayo Mirai, aku yakin pemandangannya lebih indah dari balkon kak Rafsa,” ajak Conan yang langsung pergi menuju balkon bersama Mirai.
“Sudah aku duga, anak kecil itu memang user HLF,” batin Rafsa sambil melihat Mirai.
“Kelihatannya kau memang baru sampai ke sini,” ucap Megure yang menyeka debu di lemari.
“Ya, aku memang belum sempat bersih-bersih,” jawab Rafsa.
“Kelihatannya kamu tipe orang yang sangat teliti dan rapi,” puji Sato saat melihat isi dari lemari Rafsa yang tertata rapi.
“Ah, aku kebetulan saja tidak terlalu suka melihat barang berantakan,” jawab Rafsa, sementara beberapa polisi terlihat mondar-mandir ke sana kemari di apartemen Rafsa. Mungkin mereka memang mencoba mencari jejak atau bukti yang bisa memberatkannya sebagai pelaku.
Sementara itu Conan dan Mirai yang berada di balkon hanya terdiam merenung, terutama Conan yang terlihat sangat bingung. Di balkon Rafsa yang berdebu tidak ada satupun jejak manusia di sana seakan memang sudah lama berdebu. Dia bingung karena saat tadi pukul sebelas malam melewati apartemen Rafsa juga terlihat gagang pintu masuknya berdebu seakan sudah lama tidak dipegang.
“Ada apa Conan?” tanya Mirai.
“Aku tidak mengerti, sebenarnya darimana dia masuk ke dalam rumahnya ini? Di balkon tidak ada jejak sedikitpun, padahal tadi waktu kita datang juga rasanya tidak ada jejak di pegangan pintu masuk apartemen ini,” jawab Conan sambil memegang dagunya.
“Ah, mungkin kau hanya salah lihat sebab sudah mengantuk. Lagipula mustahil ada orang yang tiba-tiba muncul di dalam rumah,” ucap Mirai sambil tertawa, sejak awal dia sudah bisa menebak bahwa Rafsa adalah seorang user HLF, terlebih setelah melihatnya buru-buru mendekati pintu masuk terlebih dahulu.
“Mungkin saja,” tukas Conan seraya ikut tertawa kecil, saat ini dia memang belum bisa memecahkan kasus tersebut. Mungkin dia harus menunggu Takagi yang sedang pergi menjemput orang yang juga dicurigai oleh Yumi.
Bersambung…
__ADS_1