Maximum Delusion

Maximum Delusion
Dunia Lain


__ADS_3

Chapter 2


Dunia Lain


Seorang pria dengan pakaian rapi berjalan keluar dari sebuah toko buku. Sesekali dia menatap langit yang terlihat mendung. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir. Dia kemudian mempercepat langkah kakinya menjauh dari toko buku. Tangan kanannya menggenggam erat sebuah kantong plastik berisi buku-buku yang barusan dia beli.


“Huh.. untung saja nggak keburu turun hujan,” ucap pria itu sambil mengatur nafasnya setelah sampai di depan pagar sebuah bangunan. Dari luar tampak jelas kalau itu kompleks kontrakan yang cukup besar dengan dua lantai.


“Baru pulang a?” tanya seorang wanita di belakangnya.


“Eh Mela, iya nih. Tumben siang-siang begini sudah pulang kerja?” Tanya pria itu dengan ramah sambil membuka pintu pagar dan mempersilahkan wanita itu masuk dahulu.


“Lah ini kan hari sabtu a. biasanya juga Cuma setengah hari kok,” jawab wanita itu sambil tersenyum.


“Eh iya ya. Lupa saya,” jawab pria itu sambil tertawa kecil.


Wanita itu pergi masuk ke dalam kontrakan miliknya. Sedangkan pria itu naik ke lantai dua lalu masuk ke kontrakan paling ujung. Beberapa kali pria itu menghela nafas dalam setelah mengeluarkan buku-buku yang barusan dia beli.


Kontrakan tempat tinggalnya memang terbilang lumayan besar dari kontrakan biasanya. Hal itu sepadan dengan harga sewanya yang sedikit lebih mahal dibandingkan kontrakan lain di daerah itu. di komplek itu terdapat dua belas kamar saja. Enam di atas dan enam lainnya di bawah. Lantai dua dihuni oleh para laki-laki, sedangkan di bawah adalah kontrakan untuk perempuan. Setiap kamarnya memiliki kamar mandi masing-masing.


“Mela ya, dia kelihatannya sangat baik. Cantik juga,” gumam pria itu sambil merebahkan tubuhnya di kursi.


“Hmm.. tapi wanita seperti dia pastinya sudah punya pacar,” gumamnya lagi sambil menghidupkan komputer di meja kerjanya.


Sebuah lagu sountrack anime terdengar jelas dari ponselnya yang bergetar. Di layar tampak nama ‘Gin’ yang menelepon dirinya. Dengan raut wajah heran pria itu segera menerimanya.


“Ada apa Gin?”


“Hoi Raf. Kapan kamu mau ke HLF?” kata seorang pria malah bertanya balik.


“Sebentar lagi, memangnya kenapa?”


“Aku tunggu di konoha ya, kebetulan savepoint terakhirku sudah di dekat konoha. Sekalian lah kita makan siang di sana.”


“Oh, oke tunggu saja di kedai biasa.”


“Oke.”


Panggilan telepon berakhir. Pria itu kemudian bangkit dari kursi. Dia kemudian mengunci pintu kontrakannya lalu melangkah mendekati sebuah lemari. Di kontrakan miliknya terdapat dua buah lemari, satu lemari berukuran agak kecil sedangkan satu lemari lagi lumayan besar, kira-kira dapat dimasuki oleh manusia setinggi dua meter lebih.


Tampak sebuah tabung transparan yang tinggi dan berbentuk lingkaran, saat lemari besar itu dibuka. Pria itu membuka pintu transaparan yang berada di dalam tabung itu lalu masuk ke dalamnya.

__ADS_1


“HLF on!” ucap pria itu.


Tampak tabung itu bercahaya dan menampilkan beberapa data tepat di depan mata pria itu. di sana tertulis nama lengkap pria itu. Arya Wijaya. Tampak juga muncul beberapa nama server setelah informasi pribadi pria itu hilang.


“Naruto Shippuden,” kata Arya.


“Teleportation Start” kata suara mesin yang berasal dari tabung itu. seketika tubuh Arya lenyap dari dalam tabung.


Arya membuka matanya. Dia sudah berada di sebuah ruangan yang berbeda, dengan suasana yang khas dengan dunia naruto. Dia kemudian segera berganti pakaian dengan yang sesuai di dunia itu, ikat kepala konohagakure yang sudah lusuh dia masukan ke dalam jaketnya. saat ini dia sudah berada di apartement yang ada di dunia naruto. Apartment ini berhasil dia beli setelah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit.


Jika para pengguna HLF baru yang belum memiliki tempat tinggal. Lalu masuk ke dunia yang dituju biasanya akan muncul di beberapa titik secara acak di dunia itu. perlahan Arya membuka jendela dan menatap tajam ke arah patung para hokage. Saat ini konoha sudah dipimpin oleh hatake kakashi, tepatnya setelah perang besar shinobi melawan kaguya.


Kebanyakan dunia anime yang ada di server HLF memang berdasarkan season anime terakhir yang tayang. Namun ada juga beberapa anime yang tidak seperti itu. server naruto sendiri saat ini di HLF sudah ada tiga. Yaitu, naruto, naruto shippuden dan boruto.


“Aku tidak pernah habis pikir akan bisa hidup di dunia seperti ini,” gumam Arya. Perlahan dia keluar dari apartment miliknya. Di pintu apartement itu tertulis ‘Ryuzaki Rafsa’ alias namanya di server naruto shippuden ini.


“Ah Rafsa-kun selamat siang,” sapa pemilik toko yang bersebelahan dengan apartment miliknya.


“Selamat siang pak,” jawab Rafsa dengan ramah.


“Kelihatannya hari ini cukup tenang juga, apa belum ada pengguna yang berbuat kekacauan ya,” gumam Rafsa. Namun belum lama sejak dia bergumam tiba-tiba ada suara teriakan dari kejauhan.


“Hahm.. kelihatannya memang hal seperti itu sulit diharapkan,” ujar Rafsa sambil bergegas menuju ke arah suara itu. tampak dua orang pria sedang berdebat di depan toko.


“Heh lu nantang gua hah?” balas seorang pria dengan pakaian ala sunagakure.


“Kita duel saja di hutan sebelah sana untuk menentukan siapa yang pantas mendapatkan Hinata!” tantang pria yang berasal dari konoha itu sambil menunjuk ke arah hutan.


“Siapa takut!” jawab pria dari sunagakure sambil berjalan menuju hutan itu.


Orang-orang di sana mulai membubarkan diri sambil membahas masalah tersebut. Dilihat dari kelakuan dan perkatannya Rafsa tahu kalau mereka adalah pengguna HLF yang masuk ke server ini. Salah satu keistimewaan HLF adalah setiap perkataan pengguna atau karakter yang menggunakan bahasa berbeda akan terdengar seperti sama dengan bahasa yang digunakan pengguna yang mendengarkan, begitu pula sebaliknya.


Jadi meskipun penggunanya berasal dari Negara yang berbeda, dia dengan mudahnya akan bisa berkomunikasi dengan pengguna yang berasal dari Negara lainnya seolah sedang berbincang dengan orang yang berasal dari Negara yang sama. Setiap pengguna tidak bisa mengetahui data pribadi pengguna lainnya selain dari saling memberitahu masing-masing.


Untuk penampilan sendiri setiap pengguna bisa bebas menentukannya saat pertamakali akan masuk ke suatu server sekaligus menentukan nickname mereka juga. Setiap pengguna dapat merubah bentuk wajah, rambut, postur tubuh dan sebagainya. Untuk baju sendiri bisa dibeli di toko ataupun hasil pertukaran sesama user. Hanya satu hal yang tidak bisa pengguna rubah yaitu suaranya.


“Tapi dari gerak tubuh mereka, kelihatannya kekuatan mereka tidak terlalu kuat,” gumam Rafsa sambil pergi menuju tempat pertemuannya dengan Gin.


“Hei Raf!” sapa seorang pria dengan pakaian yang agak lusuh di depan sebuah kedai makanan yang cukup besar dibandingkan yang lainnya.


“Oh Gin. Bajumu sudah lusuh juga rupanya,” kata Rafsa.

__ADS_1


“Hahaha namanya juga petualang, lagipula aku belum keburu membeli baju baru dari toko. Niatnya di konoha ini aku akan mampir dulu sebelum melanjutkan perjalanan.”


Mereka berdua masuk ke dalam kedai. Seorang pelayan pria datang menghampiri untuk menanyakan pesanan. Setelah mencatatnya dia kembali lagi ke dapur untuk memberitahukan pesanan para tamu. Tak lama pesanan Gin dan Rafsa sudah datang. Mereka dengan lahap mulai menikmati makanannya.


“Wah, makanan di dunia lain memang enak juga,” kata Gin.


“Hus, nanti kalau ada karakter yang mendengar perkataanmu itu, kamu akan dipandang aneh tau,” kata Rafsa memperingatkan.


“Hahaha benar juga, sorry Raf kelepasan tadi.”


“Dasar, memang enak sih. Siapapun di tahun-tahun lalu pastinya tidak akan ada yang menyangka kalau manusia biasa akan bisa mencicipi makanan di anime secara langsung.”


“Ya, Teknologi tanpa terasa melaju dengan sangat pesat. Oh iya sejauh ini server mana saja yang sering kamu kunjungi Raf?”


“Banyak juga sih, tapi kelihatannya tidak sebanyak fulltime HLF sepertimu,” ledek Rafsa.


“Hahaha aku juga nggak di dunia lain terus kok,” bela Gin.


“Ya kamu Cuma ke dunia nyata untuk pindah server doang kan?”


“Ya mau gimana lagi Raf, aku terlanjur jatuh cinta dengan dunia anime. Lagipula di dunia nyata aku sendiri hanya pengangguran, tidak punya orang tua ataupun saudara.”


“Memang benar juga, tapi sebaiknya kamu jangan terlalu lama-lama di sini. Nanti kamu malah seumur hidup lagi di dunia ini.”


“Sebenarnya sih bagiku tidak masalah Raf.”


Percakapan mereka terhenti ketika seorang pria tiba-tiba menggebrak meja. Semua pengunjung di sana segera menatapnya tajam termasuk Rafsa dan Gin. Seorang pria dengan pakaian rapi tampak sedang berdebat dengan pelayan pria.


“Maaf tuan, tapi anda harus bayar makanan anda. Toko kami tidak menerima hutang,” ucap pelayan pria dengan sopan.


“Hah? Apa lu ngajak ribut? Padahal Cuma karakter rendahan!” bentak pria itu sambil mencengkram kerah baju pelayan.


“Maaf tuan. Tapi anda sudah seharusnya membayar makanan yang anda beli,” tegas pelayan itu.


“Sharingan!” gumam pria yang mencengkram pelayan. Matanya berubah menjadi merah dan ada satu titik hitam di setiap matanya.


“Sharingan?” gumam Gin dengan tatapan tajam.


“Asal lu tahu, gua keturunan klan uciha yang terhormat! Nama gue huciha hitachi475!” bentak pria itu dengan penuh amarah.


“Huciha?” gumam Gin kaget sambil menahan tawanya.

__ADS_1


“Hitachi475?” ujar Rafsa sambil tersenyum.


BERSAMBUNG…


__ADS_2