
Chapter 30
Bankai di dunia Naruto
Tanah di sekitar tempat mereka bertiga langsung bergetar hebat, pedang yang dipegang oleh Violet tampak bercahaya memancarkan sinar warna biru di sekitarnya. Debu-debu dan kerikil di sekitar tubuh Violet langsung beterbangan ke udara saking kuatnya tekanan tenaga yang mengalir di sekitar tubuh Violet, namun meski tahu kalau musuhnya akan menggunakan bankai dengan cara yang curang, tapi Reina dan Rafsa tampak tidak ingin mundur sedikitpun.
‘Wwwrrrr’
“Kyobona Kujiramaru!” ucap Violet setelah pedang yang dia pegang berubah bentuk, kini dibawah telapak kaki Violet muncul lapisan air tipis yang mengapung diatas permukaan tanah. Sementara gagang pedang Violet sekarang sudah berbentuk layaknya kepala paus, dari bilah tajamnya mengucur tetesan air tanpa henti.
“Zanpakuto tipe elemental jenis air ya,” tukas Rafsa yang malah tersenyum, dia langsung menghunuskan pedangnya sembari berjalan maju.
“Ya, kelihatannya ini akan semakin seru,” timpal Reina yang tidak terlihat cemas sedikitpun meski kini mereka berdua berhadapan dengan user yang jelas-jelas menggunakan cheat agar bisa memakai kekuatan dunia Bleach di dunia Naruto.
“Ban..kai!” teriak Rafsa sambil memegang gagang pedangnya dengan kedua tangan, Violet terlihat sangat kaget mendengar teriakan Rafsa.
Violet langsung waspada dan menatap Rafsa, tapi setelah sekian lama keadaan malah hening. Tidak terjadi apapun dengan pedang yang Rafsa pegang. Saat itu juga Reina langsung maju dan memukul kepala Rafsa dengan tangannya.
“Baka! Apa yang kau lakukan!” gerutu Reina yang terus mengomel di samping Rafsa yang meringis kesakitan.
“Adududuh.. aku hanya ingin memastikan saja, mungkin saja aku juga bisa menggunakan kekuatan anime Bleach di dunia ini jika sedang melawan cheater,” jawab Rafsa dengan wajah kesal.
“Dasar aneh, sudah jelas-jelas mereka menggunakan cara khusus agar bisa melakukannya. Tapi jika kau memang ingin bisa melakukannya sebaiknya segera tangkap dia,” ucap Reina.
“Hmm.. aku benar-benar kaget, aku pikir dia seorang cheater,” gumam Violet sambil menghela nafas dalam.
“Aku tidak menyangka kalian tidak melarikan diri setelah tahu siapa yang sedang kalian lawan. Apa kalian pikir masih bisa menang melawanku?” kata Violet.
“Jangan bercanda,” jawab Rafsa dan Reina hampir bersamaan.
“Ini adalah kesempatan terbaik menguji pengetahuan dan kemampuanku, aku tidak akan takut berhadapan dengan orang-orang curang seperti kalian,” kata Rafsa sambil meletakan bilah pedangnya di pundak, dari gayanya dia terlihat sangat santai menghadapi Violet.
__ADS_1
“Aku hanya akan menodai nama beta tester jika aku melarikan diri dari orang pengecut sepertimu, aku tahu kalian menginginkan kekuatan yang dahsyat. Tapi cara pintas seperti itu sama sekali tidak ada dalam pilihan hidupku!” tegas Reina sambil mengepalkan kedua tangannya di pinggang.
“Sayang sekali, tapi kelihatannya kalian memang tidak waras. Mungkin aku harus menghabisi kalian di sini,” ucap Violet seraya menghunuskan pedangnya ke depan.
“Kau yakin tidak lari dari sini, Reina? Kau bisa saja terbunuh di sini,” ucap Rafsa.
“Ada alasan kenapa aku menjadi beta tester terkuat kesebelas, salah satunya aku tidak akan mundur dari situasi seperti ini! Justru aku yang mengkhawatirkanmu, riwayatmu mungkin akan berakhir di sini Rafsa,” balas Reina.
‘Ddddrrrr’
Tanah kembali bergetar hebat, tapi kini bukan Violet yang melakukannya. Kini tanah yang bergetar akibat luapan chakra Reina, perlahan tubuh Reina mulai diselimuti oleh chakra tebal berwarna merah tua. Chakra itu bukan hanya menyelimuti tubuh Reina melainkan juga membentuk tiga ekor yang panjang di belakang tubuh Reina.
“Jadi ini alasannya kenapa dia waktu itu bisa menggunakan jutsu air tingkat tinggi di tengah padang pasir. Jinchuriki Sanbi rupanya,” gumam Rafsa sambil tersenyum, dia yang tidak mau kalah langsung mengambil beberapa kunai hiraishin dari peralatan ninja miliknya.
“Kau? Jadi kau adalah Jinchuriki bijuu ekor tiga ya!” ucap Violet.
“Ya, kita lihat siapa yang menguasai elemen air lebih baik. Bankai milikmu, atau jutsu air milikku,” jawab Reina sambil menjulurkan tinjunya ke depan.
“Jangan berlagak kalau kau akan bertarung sendirian!” gerutu Rafsa sambil melemparkan sepuluh kunai hiraishin miliknya ke berbagai titik di tempat itu, kini matanya juga sudah berubah kembali pertanda dia berada dalam sennin mode.
“Majulah!” teriak Rafsa dan Reina secara bersamaan.
Saat itu juga dari arah Violet muncul seekor paus yang terbuat dari air, ukurannya sangatlah besar melesat menuju ke arah Reina dan Rafsa yang tidak mundur sedikitpun. Alih-alih ketakutan mereka berdua malah menyeringai seaakan sangat senang, Rafsa adalah yang paling dahulu melesat menuju ke arah paus air Violet. Pedang yang Rafsa pegang tiba-tiba saja diselimuti oleh petir yang mengkilat, dia langsung menebaskan pedangnya langsung ke tubuh paus yang datang tepat di depannya.
‘Wwrrr’
‘Ddddhhooommmrrr’
Terdengar suara kilatan petir menyambar, terdengar juga suara ledakan dahsyat saat pedang Rafsa menghantam tubuh paus air raksasa yang melesat di depannya. Mendadak saja ombak air langsung muncul dari titik ledakan membanjiri tempat itu, tubuh Rafsa sudah tidak terlihat. Ternyata dia sudah berpindah tempat ke kunai hiraishin yang dia lemparkan tadi.
“Apa hanya itu saja kemampuan bankai zanpakuto milikmu itu?” ledek Rafsa yang dengan santainya jongkok menatap Violet dari arah belakangnya.
__ADS_1
“Jangan senang dulu!” bentak Violet yang langsung memutarkan pedangnya.
Saat itu juga dari permukaan air yang membanjiri tempat itu muncul puluhan titik air yang langsung membentuk paus-paus kecil, semua paus itu langsung berputar di udara mengelilingi tubuh Violet. Semua paus itu langsung melesat terbagi ke dua tempat, sasaran mereka adalah Reina dan Rafsa.
‘Tap’
‘Tap’
‘Dddhhaamrr..’
‘Bbbhhoommrr’
Dengan mudah Rafsa berhasil menghindari setiap ekor paus yang mengincarnya dengan berpindah tempat menggunakan hiraishin, tapi setiap paus yang menghantam tanah langsung meledak seketika dengan hebat. Tanah yang terkena ledakan bahkan bergetar dan berhamburan, sementara itu Reina langsung menjulurkan kedua telapak tangannya yang terbuka ke depan.
Saat itu juga muncul titik berwarna merah tua dan biru yang langsung menyatu membentuk bijuudama, Violet terlihat terkejut karena dia tahu yang hendak Reina ciptakan adalah bijuudama. Reina langsung menutup titik bijuudama itu dengan tangannya, saat dibuka lagi tiba-tiba saja sinar cahaya merah melesat cepat mengahntam paus-paus yang menyerangnya.
“Dia menggunakan bijuudama seperti itu? beta tester memang selalu membuat banyak kejutan,” batin Rafsa yang langsung menghindar agar tidak terkena dampak serangan bijuudama yang melesat bagaikan laser.
‘Ddddrrrrr’
‘Bbbbhhaaammrrr..’
Tanah bergetar hebat saat sinar bijuudama itu melesat menghantam puluhan paus yang akan menyerang Reina, Violet yang melihat bijuudama melesat ke arahnya segera menancapkan zanpakuto miliknya ke tanah. Saat itu juga titik-titik air muncul di sekitar tubuh Violet membentuk paus raksasa, Violet kini seakan berada di tengah-tengah tubuh paus air yang tercipta. Suara dentuman hebat terdengar saat sinar bijuudama menghantam paus raksasa yang melindungi Violet.
Bijuudama seakan langsung terbagi menjadi dua karena tidak sanggup menembus pertahanan Violet, kini sinar bijuudama itu melesat di samping kiri dan kanan Violet. Hingga akhirnya saat bijuudama Reina selesai menyerang kini tercipta cekungan tanah di bekas sinar bijuudama itu melesat sampai di sebelah kanan dan kiri Violet.
“Aku tidak menyangka jika bijuudama bisa digunakan seperti itu,” ucap Rafsa yang sudah kembali ke dekat Reina. Kini di tempat itu debu-debu mulai beterbangan menghalangi pandangan, namun Rafsa masih bisa merasakan kalau Violet masih hidup dan tetap berdiri di depannya.
“Itu artinya pengetahuanmu tentang anime masih sangat rendah, pantas kau gagal menjadi beta tester,” ejek Reina dengan bangga, Rafsa terlihat begitu kesal. Dia menyesal sudah mengatakan hal seperti itu kepada Reina.
“Kalian berdua memang monster, tapi kekuatan kalian masih belum cukup untuk mengalahkanku!” teriak Violet.
__ADS_1
“Hado no 4: Byakurai!” ucap Violet sambil merentangkan jari tangan kanannya ke depan. Saat itu juga sebuah kilatan petir menyambar dari setiap jari tangan Violet, petir-petir itu bergabung membentuk sambaran petir berwarna biru terang yang melesat menyerang Rafsa dan Reina yang malah terlihat tersenyum gembira.
Bersambung…