Maximum Delusion

Maximum Delusion
Sang Iron Butler, Sebas Tian


__ADS_3

Chapter 18


Sang Iron Butler, Sebas Tian


Rafsa langsung menebaskan pedangnya ke depan, tapi Lupusregina dengan tepat menangkis bilah tajam pedang Rafsa dengan tongkat hitamnya. Namun tiba-tiba saja Lupusregina terlihat sangat kaget saat melihat ada delapan bilah pedang lainnya yang melesat hendak menebasnya, dengan segala kemampuannya Lupusregina mencoba mundur untuk menghindari semua tebasan pedang yang dia lihat.


“Ilusi? Tidak, itu nyata!” batin Lupusregina.


‘Tttrrannkk..’


‘Bbbrrrraaakkhh..’


Terdengar suara dentingan senjata beradu saat tehnik yang Rafsa gunakan ditahan oleh tongkat Lupusregina atau mengenai baju maidnya. Sementara lagnit-langit kedai langsung hancur seketika ketika tebasan juga menghantam atap dan dinding kedai yang terbakar. Saat atap kedai hendak rubuh mereka berempat segera menggunakan senjatanya masing-masing untuk melindungi dirinya.


‘Bbbrrrrggghhh..’


Atap kedai runtuh seketika, sebagian lagi berhamburan ke udara karena dihalau oleh keempat orang yang sedang bertarung. Orang-orang di luar yang sejak tadi melihat kedai yang terbakar mendadak langsung berlarian menjauh, mereka mungkin takut kalau empat orang yang berdiri di tengah kobaran api itu adalah prajurit Sorcerer Kingdom yang datang menyerang.


“Gila, itu baju atau baja sih?” batin Rafsa saat mengetahui tehnik pedang yang dia gunakan juga tidak mampu menggores baju maid Nazarick.


“Hmm.. kelihatannya mereka cukup handal juga,” tiba-tiba terdengar suara pria paruh baya di belakang Rafsa, sebagai seorang fans Overlord Rafsa langsung tahu siapa pria yang berbicara begitu dekat di belakangnya. Namun yang jadi masalah adalah dia tidak tahu sejak kapan ada orang lain di belakangnya.


“Sebas-sama,” ucap Lupusregina.


“Iron Butler, Sebas Tian?” batin Rafsa, dia berniat untuk melompat menjauh namun sebuah tendangan Sebas langsung menghantam tubuhnya.


‘Ddddaaaggghh’


“Aaarrkkhh..” pekik Rafsa sambil memuntahkan darah dari mulutnya saat perutnya dihantam tumit Sebas.


“Jadi ini kekuatan NPC level seratus ya?” batin Rafsa sambil meringis kesakitan.


“Seni bela diri: seven deadly knives!” ucap Gin yang langsung melesat menuju Sebas.


‘Ttttrraaannkk..’


‘Bbrrrrsssttt..’


Kedua pisau yang Gin gunakan langsung ditangkis oleh tangan kanan Sebas, namun saat terjadi gesekan antara pisau dan baju Sebas kilatan petir dan kobaran api langsung muncul dari bilah tajam pisau Gin. Tubuh Sebas langsung terbakar dan disengat listrik, tapi semua itu tidak berdampak sama sekali.

__ADS_1


“Physical defend dan attacknya mencapai angka sembilan puluh, sedangkan magical defend nya mencapai tujuh puluh lebih. Tidak heran dia tidak terluka sedikitpun dengan seranganku ini,” batin Gin yang langsung melompat ke belakang sambil membawa tubuh Rafsa yang ambruk di tanah.


“Senjata yang menarik,” ucap Sebas sambil berjalan mendekati Gin dan Rafsa.


“Maafkan kami Sebas-sama,” ucap Solution.


“Iye, aku datang ke sini atas saran Lord-san. Dia bilang ada kemungkinan musuh yang kalian lawan cukup hebat karena kalian belum datang secepat biasanya,” jawab Sebas.


“Ini buruk Gin, aku tidak mau mati,” ucap Rafsa dengan terbata-bata.


“Ya, kita berdua tidak akan mampu melawannya saat ini,” kata Gin yang langsung mengeluarkan dua buah item dari saku bajunya.


‘Ssssshhhh’


“Ehm?” gumam Sebas terkejut saat melihat wujud Gin dan Rafsa mendadak lenyap dari pandangannya.


“Item kah?” ujar Sebas sambil memeriksa bekas tempat Gin dan Rafsa.


“Apakah kita harus mengerahkan pasukan untuk mengejar mereka, Sebas-sama?” tanya Solution yang berjalan mendekati Sebas bersama Lupusregina.


“Iye, kita tidak bisa melacak keberadaannya. Mereka tidak menggunakan sihir teleportasi, melainkan item,” jawab Sebas sambil menatap ke arah yang jauh.


“He, andaikan kita diperbolehkan membunuh mereka tentunya akan lebih mudah,” timpal Solution.


“Mereka memang terlihat cukup tangguh. Sebaiknya kita segera kembali untuk melaporkannya kepada Albedo-sama,” ujar Sebas sambil berjalan lagi ke arah Sorcerer Kingdom.


Sementara itu di tempat lain di sebuah hutan, Rafsa tergeletak lemas merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Sedangkan Gin sedang berdiri memeriksa keadaan di sekitar mereka karena khawatir pihak Sorcerer Kingdom mengirimkan pasukan pelacak untuk mencari jejak mereka berdua.


“Kelihatannya mereka tidak mengirimkan pasukan pelacak,” tukas Gin sambil berjalan ke mendekati Rafsa.


“Kenapa kau tidak segera mengobati lukamu itu? Bukankah kau juga mengambil job priest?” tanya Gin dengan tatapan heran.


“Cure Moderate Wounds,” ucap Rafsa sambil menempelkan tangan kanannya di perut, gradasi warna hijau langsung muncul dan menyembuhkan luka yang didapat oleh Rafsa.


“Ternyata physical defend yang aku miliki saat ini masih belum mampu meringankan tendangan NPC level seratus dengan physical attack sembilan puluh lebih,” kata Rafsa sambil membuka pelindung kepalanya, mendadak saja wajahnya berganti. Ternyata dia sejak awal memang menyamarkan wajahnya.


“Paladin, Fighter, Priest, selain itu apalagi job yang kau pilih Raf?” tanya Gin yang juga membuka penutup wajahnya.


“Woi, woi, woi. Apa kau juga ingin menjual informasi orang yang sudah membantumu ini? Kalau kau tadi yang menerima tendangan Sebas langsung remuk tulangmu itu,” gerutu Rafsa.

__ADS_1


“Hahaha.. tidak, meskipun ada yang mau beli tapi kalau harganya murah tidak akan aku jual. Khusus informasimu akan aku jual dengan harga paling tinggi,” ucap Gin sambil tertawa.


“Dasar kau ini. Yah, tapi dari pertarungan ini aku juga bisa dapat informasi tambahan tentangmu. Assasins, master assasins, blacksmith? Atau weapon smith?” tukas Rafsa.


“Hahaha.. sayang sekali, aku tidak mengambil job class dengan kategori production,” jawab Gin.


“Ho, begitu ya ternyata kau juga punya teman yang handal juga. Apakah dia ketua SS?” tanya Rafsa mencoba menguak informasi dari Gin.


“Hahaha.. aku tidak akan terpancing Raf. Tapi satu hal yang perlu aku beritahu adalah aku tidak tahu siapa Ketua SS sebenarnya, aku belum pernah bertemu dengannya. Kami hanya saling berkirim email saja,” jawab Gin.


“Begitu ya, ternyata masih banyak misteri tentang HLF sendiri,” gumam Rafsa sambil berdiri.


“Lalu apa yang akan kita lakukan? Apa kita akan tetap menuju Sorcerer Kingdom, atau kita akan menaikan level dulu sampai level seratus?” tanya Rafsa sambil bangkit dari duduknya.


“Sampe level seratus ya, berapa tahun ya kita sampai level seratus?” ujar Gin seraya ikut berdiri.


“Saat ini aku mungkin akan melaporkannya dulu, lagipula melihat situasinya kita tidak mungkin bisa masuk dengan gegabah lagi. Lain kali jika aku sudah menyusun rencana yang tepat akan langsung menghubungimu lagi, saat ini yang kita tahu di server Overlord memang sudah ada user HLF yang dekat dengan pihak Nazarick,” sambung Gin.


“Nicknamenya Lord ya, kayak nama makhluk di game moba saja,” tukas Rafsa.


“Tapi jika memang dia dalang dibalik kejadian tiga bulan yang lalu, aku tidak akan takut meski harus berhadapan dengan seluruh Nazarick sekalipun!” sambung Rafsa.


“Widih.. ngomongnya udah kayak tokoh utama di serial anime saja, padahal ditendang Sebas satu kali saja sudah muntah darah. Apalagi dihantam sihir super tier magic milik Ainz,” ledek Gin.


“Jadi orang harus optimislah. Kau lihat saja nanti, seluruh Nazarick akan aku kuasai. Albedo, Shalltear, Rubedo dan karakter wanita lainnya akan menjadi pendampingku,” kata Rafsa seraya tertawa kecil.


“Dasar maniak waifu, ambil saja sekalian noh Rigrit sama Gagaran,” ledek Gin sambil menepuk pundak Rafsa.


“Yah, pilih-pilih juga kali nggak mungkin diembat semua,” ucap Rafsa sambil tertawa lagi, dia benar-benar senang hari ini sebab setelah sekian lama akhirnya dia bisa berduel kembali dengan salah satu karakter anime asli.


Mereka berdua berniat kembali pulang ke Baharuth Empire, Gin berniat melaporkan kejadian ini kepada atasannya. Sedangkan Rafsa berniat untuk melanjutkan kegiatannya kembali yang tadi sempat tertunda yaitu membeli rumah baru di server Seishun Buta Yarou yang lokasinya ada di dekat sekolah Sakuta dan Mai.


***


“Gin sialan! Gara-gara dia ngajak ke server Overlord rumahnya sudah ada yang beli!” teriak Rafsa dengan kencang di kediamannya yang ada di server Seishun Buta Yarou.


"Berisik!" terdengar tetangga apartemennya menyahut kencang.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2