
Chapter 5
Kabar Mengejutkan, Ujian Chunin!
“Aku ingin kalian menyelidiki jejak penyusup itu. aku memang sudah mempercayakan pengejaran kepada ANBU. Tapi tetap saja aku khawatir kalau penyusup itu berhasil menghindari mereka,” jelas Kakashi.
“Intinya anda ingin kami jadi mencari jejak penyusup itu sebagai antisipasi kalau dia berhasil mengelabui para ANBU?” Tanya Shino.
“Ya. Sebenarnya aku tadinya ingin kalian berdua bersama Hinata yang melakukannya. Tapi aku ingin memberikan misi yang lain kepadanya. Terlebih kemampuan Naoki juga bisa diandalkan,” jawab Kakashi. Mendengar hal itu Naoki tampak tersenyum.
“Anda terlalu berlebihan Hokage-sama,” kata Naoki.
“Jika dilihat dari segi potensi, kelihatannya dia memang bisa setara dengan Neji,” batin Shino.
“Baiklah. Kami akan segera menjalankan misi ini, anda jangan kecewa jika malah kami yang menangkap penyusup itu. benar kan Akamaru,” kata Kiba.
“Guk,” jawab Akamaru.
“Itu lebih baik,” kata Kakashi.
Shino, Kiba dan Naoki pergi keluar dari aula pertemuan itu. Kakashi menghela nafas dalam sambil merenung. Sementara itu Shikamaru terlihat memegang dagunya tanda sedang berpikir.
“Ada apa Shikamaru?” Tanya Shizune.
“Bagiku rasanya masih ada yang janggal dalam masalah ini,” jawab Shikamaru.
“Ya, jika dilihat dari situasinya entah kenapa penyusup itu dapat dengan mudahnya masuk ke tempat ini tanpa ada yang mengetahuinya,” timpal Kakashi.
“Jadi anda juga memikirkannya?” Tanya Shikamaru.
“Ya, bagiku sehebat apapun orang itu tapi menyusup ke tempat ini dan mengelabui semua ANBU yang berjaga adalah hal yang sangat sulit.”
“Memang benar juga,” kata Shizune.
“Entah kenapa beberapa bulan ini terlalu banyak kejadian-kejadian yang membingungkan,” ucap Kakashi sambil memegang kepalanya.
“Apa mungkin orang yang terlibat dalam kejadian ini adalah orang yang sama dengan yang berbuat gaduh tiga bulan yang lalu ya,” kata Shizune.
“Tidak, menurutku keduanya memiliki gerak gerik yang cukup berbeda. Walau sampai saat ini pelaku pembunuhan berantai tiga bulan yang lalu masih belum ditemukan juga,” jawab Shikamaru.
***
Rafsa berjalan menuju toko pakaian untuk bertemu dengan Gin kembali. Namun dia tidak menemukannya. Dia piker mungkin saja Gin sudah kembali pergi untuk melanjutkan perjalanannya. Sambil menghela nafas dalam Rafsa berjalan menuju taman di desa konoha sambil mengeluarkan buku untuk melanjutkan novel barunya.
“Padahal aku ingin meminta informasi lebih detail terkait Naoki,” gumam Rafsa.
“Kelihatannya orang itu cukup berbahaya juga,” batin Rafsa.
Dia berhenti berjalan saat melihat beberapa genin sedang berkumpul di dekat taman. Tangannya tanpa sadar memegang jaketnya sambil menghela nafas dalam. Dia kemudian duduk di bangku taman sambil menatap pohon-pohon yang ada di sana lalu mulai menulis beberapa kata di dalam bukunya.
__ADS_1
“Cilok, Cilok,” terdengar suara pria tepat di belakang tempat duduk Rafsa.
“Eh? Cilok? Aku lagi mimpi nih?” gumam Rafsa sambil menoleh ke belakang.
Tampak seorang pria sedang melayani beberapa anak-anak yang berdiri di sekitarnya. Tampak si pria sedang sibuk di depan gerobak dagangannya. Karena penasaran akhirnya Rafsa dating menghampiri pedagang itu.
“Cilok?” Tanya Rafsa seolah ingin memastikan apa yang dia dengar tadi.
“Iya, mau beli?” jawab pedagang itu dengan ramah.
“Boleh. Berapa ryo?”
“200 ryo sudah dapat sepuluh.”
“10 saja deh.”
“Oke, silahkan di tunggu,” ucap pedagang itu dengan cekatan melayani anak-anak yang sudah terlebih dahulu memesan.
“Ini ciloknya,” kata pedagang sambil memberikan pesanan Rafsa yang sudah dikemas rapi di dalam bungkusan.
“Kelihatannya berjualan makanan seperti ini cukup menguntungkan ya. Aku rasa karena penasaran dan rasanya enak mungkin orang-orang akan terus membelinya. Ada kemungkinan juga nantinya akan menjadi sangat popular,” kata Rafsa sambil menikmati pesanannya.
“Begitu ya. Tidak heran jika kamu tidak banyak Tanya soal makanan ini. Rupanya user juga,” jawab pedagang itu sambil duduk di bangku.
“Jika dipikir-pikir, bekerja di dunia anime terlihat lebih menguntungkan daripada di dunia nyata.”
“Tidak juga, di sini juga banyak tantangannya. Tapi bagi kami para full time-HLF mungkin memang lebih baik bekerja di dunia seperti ini. Di dunia nyata, dunia bisnis adalah dunia yang sangat gelap, kotor dan penuh resiko. Terutama ketika ingin membuat usaha semakin besar lagi.”
Setelah cukup lama mereka mengobrol akhirnya si penjual cilok memutuskan untuk kembali berkeliling. Sedangkan Rafsa masih tetap duduk di bangku hingga dia baru ingat kalau hari ini dia harusnya membayar uang sewa kontrakannya.
“Kelihatannya aku harus keluar dulu sebentar,” ucap Rafsa sambil berjalan menuju rumah miliknya. Rafsa berjalan agak cepat karena takut telat memberikan uang sewa kontrakannya. Setelah sampai di rumahnya dia segera berbaring di tempat tidur.
“HLF ON” ucap Rafsa.
“Out,” ucap Rafsa kembali.
“Teleportaton start!” terdengar suara mesin berbicara. Hanya sekejap saja tubuh Rafsa sudah hilang dari tempat tidurnya.
Rafsa sudah kembali menjadi Arya di dunia nyata. Dia keluar dari dalam tabung yang ada di lemari kostannya, Arya segera menghela nafas lega karena dia bisa mengingat waktu membayar sewa kostannya. Jika tidak mungkin saja bu kos akan menegurnya. Arya segera mengambil uang dari dompetnya dan pergi keluar menuju rumah ibu kost.
“Eh a Arya, mau bayar kontrakan juga ya?” tanya Mela yang berpapasan dengannya di depan rumah bu kos.
“Iya nih Mel, kamu juga baru habis bayar kontrakan ya?” tanya Arya seraya agak salah tingkah karena tidak menyangka akan berpapasan dengan si cantik Mela.
“Nggak kok, Mela habis bantu-bantu ibu kos buat kue pesenannya, katanya jumlahnya agak banyak jadi nggak bisa di handle sendirian. permisi dulu ya a,” ucap Mela sambil tersenyum. Arya hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Mau bayar kontrakan?” tiba-tiba suara nyaring membuat Arya kaget dan hampir loncat.
“Ibu ini suka banget ngagetin orang ya,” kata Arya sambil mengusap dadanya.
__ADS_1
“Kamu sendiri malah melamun di situ. Tadi kamu kemana sih? Ibu ngetok-ngetok kontrakan buat nagih eh nggak ada orang di dalamnya,” ucap bu kos.
“Ibu juga suka banget ngintip orang kayaknya,” ucap Arya sambil cengar cengir.
“Ngintip matamu! Ibu Cuma mau nagih doang, kamu juga biasanya telat banget kalo bayar. Sering ngilang nggak jelas lagi nanya yang lain katanya nggak lihat,” gerutu ibu kos.
“Iya maaf bu, maklum lah saya kan pemalu jadi wajar aja kalau saya pergi nggak ada yang tahu. Tapi tenang, saya nggak mungkin kabur kok,” jawab Arya sambil menyerahkan uang sewanya.
“Iya ibu tahu, tapi kalau mau pergi minimal bilang sama yang lain ya. Ibu juga bisa khawatir tahu soalnya kan kamu ngontrak di tempat ibu, jadi serasa punya tanggung jawab saja gitu.”
“Iya bu terima kasih banyak. Tenang kok orang seperti sayamah nggak akan ada yang nyulik saya juga paling cuma main ke tempat temen doang,” jawab Arya.
Setelah mengobrol agak lama akhirnya Arya kembali ke kontrakannya. Dia menghela nafas dalam sambil mengambil ponselnya. Ketika membuka ponselnya tampak ada sebuah email dari HLF masuk. Arya mengernyitkan dahinya karena jarang sekali HLF ngirim email. Dia pikir mungkin ada update dunia baru.
“Yes!!!” teriak Irgi kegirangan, namun buru-buru dia memelankan suaranya karena takut mengganggu penghuni yang lain.
“Akhirnya yang ditunggu selama ini tiba juga! Jika aku lulus ujian chunin kali ini, aku pasti bisa deket sama para karakter. Aku juga akan semakin banyak tahu tentang informasi para Beta Tester,” ucap Arya dengan menggebu-gebu. Dia dengan penuh semangat membaca seluruh informasi terkait ujian chunin yang beberapa menit lagi akan diadakan di server naruto shippuden.
“Selain itu jika sudah jadi chunin aku bisa menjalankan misi dengan para karakter! Yes! Yes! Yes! Eh tapi Gin juga belum pernah ikut rasanya,” gumam Arya sambil mencoba menghubungi Gin namun tidak kunjung diangkat.
“Hahaha.. kelihatannya dia masih berada di dunia Naruto, kasihan sekali karena tidak akan tahu ada event sepenting ini,” ujar Arya sambil tertawa puas.
Arya kemudian mengunci pintu dan membereskan ruangannya seolah-olah dia sedang tidak ada di kontrakan. Semua lampu dia nyalakan, setelah semuanya selesai barulah dia kembali masuk ke dalam tabung HLF.
“HLF ON!,” ucap Arya.
“Naruto Shippuden!”
“Teleportation Start!”
Arya sudah kembali berada di rumahnya yang ada di dunia naruto shippuden dan menjadi Ryuzaki Rafsa. Sesuai perunjuk, Rafsa kemudian terbaring di tempat tidur sambil menutup matanya karena event kali ini dibuat secara virtual reality.
“HLF ON!”
“VR Mode. Code: Exx14”
Rafsa sudah berada di sebuah gurun tandus. Dia tahu betul bahwa ini adalah area yang ada di desa Sunagakure. Tampak Irgi sudah berkumpul bersama puluhan ribu orang. Dia cukup kaget juga karena ternyata banyak User yang mengikuti event kali ini. Mereka berkumpul di sana menunggu waktu event dimulai.
“Banyak juga rupanya, pantas saja ada kualifikasinya segala,” batin Rafsa sambil mengingat penjelasan pihak HLF di emailnya.
“Pantas saja kualifikasinya adalah mode battle royal orangnya juga kayak ikan teri berkumpul gini,” batin Rafsa kembali.
Sesuai yang tertulis di email. Bahwa orang yang lulus kualifikasi hanyalah ada 16 orang saja yang berhasil bertahan. Secara otomatis 16 orang itu juga akan langsung menjadi chunin. Setelah lulus maka 16 orang itu akan melakukan duel 1 vs 1 dengan system gugur hingga tersisa satu orang saja sebagai pemenang. Secara otomatis pemenangnya akan menjadi seorang jounin.
“Selamat datang User HLF semuanya, kami harap kalian akan menikmati event kali ini.” Muncul sebuah tulisan besar di langit beserta tanda hitung mundur dari angka 10.
“Aku harap ada juga Beta Tester yang mengikuti event kali ini,” gumam Rafsa dengan penuh percaya diri.
Saat hitungan sampai di angka 0 semua orang di sana menghilang berpindah tempat secara acak ke seluruh gurun untuk bertarung dan bertahan hidup hingga tersisa 16 orang saja. Rafsa juga berpindah tempat secara acak di gurun itu. tak jauh darinya tampak beberapa orang juga muncul bersamaan dengan dirinya.
__ADS_1
“Di sini dengan bebas aku bisa menunjukan kemampuanku!” tegas Rafsa dengan wajah senang, sekejap mata dia langsung melesat menuju User lain yang tidak jauh darinya.
BERSAMBUNG…