
Chapter 6
Pertarungan di Tengah Gurun, Dimulai!
“Shuriken: kage bunshin!” ucap Rafsa sambil melemparkan sebuah shuriken ke arah seorang user HLF yang ada di dekatnya.
Shuriken itu tiba-tiba saja langsung menjadi puluhan dan melesat cepat, pria yang ada di depannya tersebut langsung melompat mundur dan menggunakan jutsu elemen tanah untuk membuat tembok yang melindungi dirinya dari puluhan shuriken yang melesat.
‘Bbbsstt’
‘Tttrpp’
Puluhan shuriken yang melesat langsung menghantam tembok tanah sampai menancap. Rafsa sejak tadi tidak diam saja seolah sudah menduga bahwa lawannya akan bertahan, dia melesat cepat dari samping dengan kunai terhunus mengincar leher lawannya, tapi tiba-tiba dua kunai melesat ke arah mereka berdua dari belakang. Rafsa melompat ke udara seraya melemparkan kunainya ke arah ruang kosong di dekat musuhnya tadi yang juga terlihat melompat untuk menghindari kunai yang datang.
‘Cleb’
“Dia sudah memperkirakan pergerakanku?” gumam pria yang tertancap kunai yang Rafsa lemparkan, kunai itu dengan tepat menusuk dada pria yang tadi menghindar. Tubuh pria tersebut langsung lenyap dengan meninggalkan butir-butir cahaya di bekas tubuhnya.
“Terkena satu serangan fatal tepat di jantung saja sudah dianggap kalah ya?” gumam Rafsa saat melihat lawannya lenyap tereliminasi dari ujian.
Sekelebat bayangan orang bertubuh besar langsung melompat ke arah Rafsa dengan menghantamkan tinjunya. Tapi dengan cepat Rafsa melemparkan kunai yang diikatkan tali kawat ke arah lain. Tepat saat kunai menancap dia langsung menarik tali itu hingga tubuhnya yang masih di udara melesat menuju ke arah kunai tertancap diantara bebatuan.
‘Bbbrrrkkkhh’
Terdengar suara benturan hebat saat tinju pria tadi menghantam gurun, pasir di sekitarnya langsung berhamburan ke udara. Rafsa hanya tersenyum saja, dia tahu dengan tubuh besar seperti itu maka kekuatan yang didapatkan pasti akan jauh lebih besar, tapi kecepatannya akan menurun drastis.
“Dengan tubuh besar seperti itu, kau sudah salah memilih lawan di ujian kali ini,” ucap Rafsa sembari melemparkan tiga kunai ke arah pria itu, satu ke arah dada kanan, satu ke arah dada kiri, sedangkan satu lagi ke arah ruang kosong diantara kedua kaki lawannya, setelah itu Rafsa juga langsung melesat dari depan dengan memegang sebuah shuriken di tangannya.
“Kau juga harusnya tahu, kunai seperti ini tidak akan melukai tubuh besarku. Terlebih satu kunaimu tidak tepat sasaran,” ucap pria itu yang langsung menghantam dua kunai yang datang dengan tangan kosong. Sementara satu kunai dibiarkan menancap di bekas tembok tanah yang ada di bawah kakinya.
“Aku tahu, sejak awal aku tidak bermaksud mengalahkanmu dengan kunai itu,” tukas Rafsa yang langsung menarik tali kawat di kunai yang menancap di bawah kaki pria besar itu.
“Tali kawat?” ucap pria itu saat sadar bahwa satu kunai yang dilemparkan ke bawah kakinya ternyata memiliki tali.
__ADS_1
“Ya, di udara panas dan kondisi seperti ini tentu akan sulit melihat tali kawat yang tipis,” jawab Rafsa yang tiba-tiba sudah ada di dekat pria besar itu.
“Sial! Dia menggunakan tali itu untuk mendekat ke arahku dengan cepat,” gerutu pria besar itu yang tidak menyadari Rafsa yang melesat dengan bertumpu kepada kunai yang menancap saat perhatian pria itu teralihkan oleh tali kawat. Pria besar itu segera bertindak dengan mengayunkan lengan kanannya, tapi Rafsa juga melemparkan shuriken di tangannya ke arah dada pria itu.
“Shuriken: kage bunshin!” ucap Rafsa yang langsung menggunakan jutsu.
‘Ccllebb’
‘Bbssstt’
“Aaakhhh..” teriak pria besar itu saat puluhan shuriken yang tiba-tiba muncul menancap di dadanya.
“Dengan tubuh sebesar itu kau pasti tidak akan bisa menghindari serangan cepat dari jarak sedekat ini,” kata Rafsa setelah tubuh pria itu lenyap karena tereliminasi dari ujian.
“Baiklah baru dua orang saja, saatnya mencari yang lainnya lagi,” ujar Rafsa seraya menengok kesana kemari untuk melihat lokasi user lain.
Samar-samar terdengar suara dentingan senjata beradu di kejauhan, terdengar juga teriakan orang-orang yang tereliminasi dari ujian. Di kejauhan terlihat ada sepuluh orang user yang sedang bertarung satu sama lain, tak jauh dari mereka tampak ada seorang wanita yang sedang berjalan mendekati mereka.
“Kelihatannya di sana cukup menarik, tapi.. kenapa wanita itu diam saja? Padahal jika menggunakan jutsu yang skalanya besar dia bisa langsung mengeliminasi sepuluh orang yang sedang sibuk bertarung itu sekaligus,” ujar Rafsa, tapi tak menunggu waktu lama dia langsung berlari ke arah sepuluh orang yang sedang bertarung.
‘Ddduaarrr..’
Ledakan terjadi saat kunai dengan kertas peledak itu hancur, sementara beberapa orang lainnya sedang sibuk berduel dengan tangan kosong sampai bercucuran darah. Rafsa yang langsung melesat ke sana segera melemparkan sebuah shuriken ke arah mereka semua.
“Shuriken: kage bunshin!” ucap Rafsa menggunakan jutsunya.
Puluhan shuriken langsung tercipta dan melesat menuju sepuluh orang yang sedang bertarung, orang yang tadi menggunakan tembok tanah segera menunduk di sisa-sisa tembok tanahnya yang tidak hancur, sementara orang yang tadi sedang berduel senjata dan tangan kosong langsung panik. Ada yang langsung tiarap ada yang Cuma bisa berdiri kaget.
“Suiton: suijinheki” ucap seorang user pria sembari melakukan segel tangan untuk menggunakan jutsunya, tapi tembok air yang seharusnya muncul tiba-tiba saja tidak tercipta.
‘Aarrgghh’
‘Tttrraank..’
__ADS_1
Terdengar beberapa orang yang terkena shuriken menjerit sebelum akhirnya mereka lenyap termasuk orang yang tadi ingin menggunakan jutsu air tapi gagal. Beberapa orang lainnya terlihat menggunakan senjata yang mereka bawa untuk menahan shuriken, ada juga yang terkena shuriken tapi tidak langsung lenyap sebab shuriken hanya mengenai bagian tubuh yang tidak menimbulkan luka fatal.
“Kau harus punya chakra yang besar serta keterampilan khusus untuk menggunakan jutsu air di tengah gurun seperti ini, seharusnya sebagai fans Naruto sejati kalian tahu hal itu,” ucap Rafsa yang sudah berada di dekat empat orang yang tersisa.
“Di tempat seperti ini hanya jutsu petir, api, angin dan tanah saja yang diuntungkan. Sedangkan jutsu air adalah yang paling tidak diuntungkan,” sambung Rafsa sambil tersenyum.
“Cih orang sombong tiba-tiba datang!” teriak seorang pria yang langsung melesat menyerang Rafsa.
“Kami juga tahu!” timpal yang lainnya. Kini empat orang yang tersisa dengan kompak melesat menuju Rafsa.
“Kelihatannya orang-orang yang sedang ribut mendadak bisa kompak kalau ada orang yang mengganggu kesenangan mereka,” tukas Rafsa tanpa takut.
‘Trrannkk..’
‘Ttrankks..’
Suara senjata beradu terdengar memekakan telinga saat Rafsa dengan lihainya menangkis setiap serangan lawan dengan menggunakan kunainya. Bahkan tanpa kesusahan dia bisa melayani mereka berempat.
“Doton: shinjuu zanshu no jutsu,” terdengar seorang pria menggunakan jutsunya. Rafsa langsung melompat ke udara, tepat saja dua buah lengan langsung muncul di bekas pijakannya seolah ingin menariknya ke dalam tanah.
“Sebagai fans anime Naruto, aku tahu banyak nama jutsu, segel tangannya dan juga efeknya,” tukas Rafsa yang melayang di udara sambil melemparkan dua kunai ke arah dua tangan lawannya yang muncul dari dalam tanah.
‘Tttrraankss’
Tapi user lain di dekatnya segera menghalau kedua kunai itu. dua orang lainnya bahkan segera melemparkan kunai mereka kepada Rafsa, tapi dengan sigap berhasil ditangkis dengan kunai di kedua tangannya. Rafsa berhasil mendarat kembali di tanah dengan selamat, tapi dua orang lawannya langsung bergerak menyerangnya.
“Cih, padahal mereka tadi sedang bertarung satu sama lain. Kenapa malah saling melindungi,” gerutu Rafsa yang tidak menyangka kalau keempat musuhnya akan melindungi satu sama lain.
“Doton: retsudotensho!” seorang user langsung menggunakan jutsunya dan menghantamkan kedua telapak tangannya ke permukaan gurun.
“Katon: ryuuka no jutsu!” seorang pria lainnya juga menggunakan jutsunya untuk menyerang Rafsa.
“Woi, woi, woi. Mereka malah keroyokan,” ujar Rafsa saat melihat sebuah semburan api berbentuk naga melesat ke arahnya, di tambah bebatuan di sekitar Rafsa terlihat bergerak seolah hendak menghimpit tubuhnya.
__ADS_1
Bersambung…