Maximum Delusion

Maximum Delusion
Cheater dan Tugas Penting


__ADS_3

Chapter 13


Cheater dan Tugas Penting


Tubuh Rafsa sudah berada di kediamannya yang ada di Baharuth Empire, di server ini dia juga tetap memilih nickname Ryuzaki Rafsa. Dia kemudian memakai pakaian armor khas petualang di dunia Overlord yang tertata rapi di ruangannya, sebilah pedang yang disarungkan dengan huruf L khas Death Note terukir di sarung pedangnya. Sementara di tali pedangnya tergantung lencana emas pertanda petualang tingkatan Gold.


Setelah selesai dia kemudian keluar dari kediamannya dan berjalan di sekitar kota, langkahnya menuju ke arah guild petualang berada namun tujuannya adalah sebuah kedai langganannya. Di server ini dia juga sudah beberapa kali bertemu dengan Gin, bisa dibilang kebanyakan mereka memang sering bertemu di server-server yang sarat akan aksi dan petualangan.


“Suasana di sini kelihatannya masih tidak berubah,” batin Rafsa, dia pikir akan ada sesuatu yang berbahaya sebab ada peringatan yang muncul saat masuk ke dalam server Overlord. Tapi kelihatannya tidak ada hal yang berubah di Baharuth Empire, suasana masih terasa tenang sesuai dengan latar server yang memang mengambil season ketiga dari anime Overlord.


“Seharusnya sebelah sini,” ucap Rafsa setelah berada di dekat tempat tujuannya, dia berbelok arah dari jalan yang menuju guild petualang. Kemudian dia berhenti di depan sebuah kedai, perlahan Rafsa masuk ke dalam. Seorang pria tua terlihat menyambutnya dengan senyuman.


“Lama tidak datang kemari tuan Rafsa,” sapa pria tua itu.


“Aku kebetulan cukup sibuk menjalankan quest, apa temanku sudah datang kemari?” tanya Rafsa sembari mendekati pria tua yang sedang mengelap gelas-gelasnya, tampak di kedai tersebut hanya ada Rafsa seorang.


“Oh tuan yang agak suram itu ya, dia kebetulan belum datang. Apa kalian akan berbincang lagi di sini?” tanya pria tua itu seraya mengingat-ingat teman yang biasa datang bersama Rafsa.


“Iya, hari ini kami akan menggunakan ruangan khusus lagi. Aku harap ini cukup,” jawab Rafsa sembari mengeluarkan beberapa keping koin.


“Terima kasih banyak, seperti biasa saya akan memberitahu teman tuan kalau datang kemari. Anda bisa menunggu di ruangan, nanti saya akan mengantarkan cemilan dan air minum seperti biasa,” ucap pria tua itu dengan wajah gembira, mungkin Rafsa adalah satu-satunya pelanggannya hari ini.


Rafsa kemudian pergi ke pintu yang ada di sana lalu masuk ke dalam, hampir setiap kedai di Baharuth Empire kelihatannya memiliki ruangan khusus seperti itu. itu disediakan untuk memfasilitasi para worker yang memang selalu membahas quest penting mereka di ruangan tertutup dan aman.


Tak lama setelah Rafsa duduk di kursi yang tersedia, pria tua pemilik kedai itu datang membawa teh yang selalu dipesan Rafsa serta beberapa makanan ringan khas Baharuth Empire. Setelah menyajikan makanan dan minuman di meja pria tua itu segera keluar dari ruangan. Sambil menunggu kedatangan Gin, Rafsa menikmati hidangan yang ada di mejanya.

__ADS_1


“Kau selalu cepat seperti biasa,” ucap Gin yang tiba-tiba sudah berada di ruangan Rafsa, dia bahkan tidak masuk ke ruangan itu melalui pintu seperti yang Rafsa lakukan.


“Kelihatannya kau sangat suka sekali menggunakan keahlianmu sebagai assasins. Tapi aku rasa itu memang satu-satunya job yang cocok untukmu di server seperti ini,” sindir Rafsa sambil menuangkan teh di gelas yang kosong untuk Gin.


“Aku hanya mencoba kemampuanku agar tidak semakin tumpul, ngomong-ngomong kedai ini semakin sepi saja,” tukas Gin sambil meneguk teh yang ada di gelasnya.


“Maklum orang tua yang mengurusnya, coba saja ada wanita cantik yang dia pekerjakan di sini auto rame deh nih kedai,” timpal Rafsa.


“Ngomong-ngomong, apakah kau juga melihat peringatan sebelum masuk ke server ini?” tanya Rafsa.


“Ya, hal yang ingin aku bicarakan denganmu juga berkaitan dengan hal itu. Tapi sebelum itu ada hal lain yang tidak kalah pentingnya yang ingin aku beritahukan kepadamu,” jawab Gin dengan nada serius.


“Aku tidak berpikir ada hal penting lain selain masalah server ini yang tiba-tiba dinyatakan berbahaya,” kata Rafsa sembari menatap tajam Gin seolah menunggu penjelasannya.


“Memangnya berapa orang temanmu itu?” tanya Rafsa.


“Mereka ada dua orang, kami selalu rutin berbagi informasi berharga yang mungkin bisa dijual. Tapi kami tidak pernah berbagi informasi penting dan rahasia tentang individu seorang user kecuali memang diantara kami ada yang membelinya dengan harga sesuai. Hari itu kami sudah sepakat untuk bertemu di dekat Sunagakure, salah satu temanku juga bilang kalau dia memiliki informasi penting tentang cheater,” tutur Gin.


“Cheater?” gumam Rafsa.


“Dia juga bilang akan mengirimkannya lewat email ataupun surat, namun temanku satu lagi bilang tiba-tiba dia tidak bisa dihubungi baik di dunia nyata ataupun HLF. Dia meminta merubah lokasi pertemuan dan aku menyetujuinya. Kami sudah mencoba beberapa kali mencarinya dengan berbagai cara namun tetap saja nihil, tidak ada satupun petunjuk perihal dirinya yang hilang kontak,” sambung Gin.


“Kalian curiga bahwa dia dibunuh?” tanya Rafsa secara blak-blakan.


“Ya, sejak awal informasi tentang cheater yang aku dapat memang berasal dari dirinya. Aku yakin kalau dia memang sudah lebih jauh menyelidiki masalah cheater tersebut, hal itu sudah cukup dibuat sebagai alasan untuk mengatakan dia memang dihabisi orang-orang yang bersinggungan dengan cheater HLF,” jawab Gin.

__ADS_1


“Tapi bisa saja dia jadi korban para player killer,” kata Rafsa.


“Kami sudah mencoba berbagai cara untuk menyelidikinya, saat ini satu-satunya hal yang bisa kami simpulkan penyebab kematiannya adalah cheater,” jelas Gin.


“Begitu ya, tapi aku juga tidak memiliki ide untuk membantumu mencari keberadaannya. Terlebih aku tidak memiliki informasi apapun terkait orang itu,” tukas Rafsa.


“Aku memberitahukannya kepadamu hanya untuk berhati-hati saja. Masalah kematiannya sudah aku serahkan kepada temanku yang lain untuk mengurusnya, lagipula aku tidak memiliki anak buah sepertinya,” ujar Gin.


“Begitu ya, sebenarnya aku sedikit penasaran seperti apa cheater yang kalian maksud,” kata Rafsa.


“Kami juga tidak memiliki gambaran jelas sebab data yang ingin dikirimkan oleh teman kami yang hilang juga tidak kunjung datang. Mungkin dia dihabisi sebelum sempat mengirim data tersebut, tapi aku dengar cheat yang digunakan oleh para cheater itu masih belum sempurna dan untuk mendapatkannya juga sangatlah susah seperti yang sudah aku bilang kepadamu beberpaa hari yang lalu,” ucap Gin sembari meneguk minumannya lagi.


“Baiklah aku akan berhati-hati. Pantas saja kau tidak sampai mengetahui event ujian chunin, ternyata kau sedang sibuk dengan masalah itu rupanya. Lalu apalagi yang ingin kau sampaikan kepadaku hingga repot-repot menyuruhku datang kemari?” tanya Rafsa.


“Ya aku memang sedang sibuk, meski dia hanya teman sesama broker informasi di HLF namun dia sudah kami anggap rekan kerja kami yang bisa diandalkan. Aku menyuruhmu datang kemari sebab aku mendapatkan tugas penting untuk mencari suatu informasi di server Overlord ini,” jawab Gin.


“Tugas? Tunggu dulu, jangan bilang kalau tugasmu itu berhubungan dengan server Overlord yang tiba-tiba dinyatakan berbahaya?” sela Rafsa.


“Ya,” jawab Gin tanpa ragu sambil tersenyum, kelihatannya dia sudah paham kenapa Rafsa tampak kaget seperti itu.


“Gin, kau-” tukas Rafsa dengan nada kaget, namun perkataannya dipotong oleh Gin.


“Ya, aku adalah anggota Secret Security HLF lebih tepatnya wakil ketua secret security,” potong Gin.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2