
Chapter 12
Server Overlord
Rafsa malam itu memilih untuk tidur di tempat tinggalnya yang ada di server seishun buta yarou. Besok pagi dia sudah memiliki rencana untuk berkunjung ke pantai Shicirigahama pada esok harinya sambil mencari inspirasi untuk novel yang akan dia buat selanjutnya, siapa tahu dia juga akan bertemu salah satu wanita idamannya.
Esok paginya setelah sarapan dan mandi, Rafsa langsung bersiap mengunjungi pantai Shicirigahama yang letaknya lumayan jauh dari apartement yang dia tinggali di saat ini. Sejak awal dia memang sengaja memilih tempat tinggal di Prefektur Kanagawa sebab kebanyakan latar tempat yang ada di seishun buta yarou memang ada di prefektur itu. Dengan tinggal di sana maka kemungkinannya bertemu dengan para wanita idamannya akan semakin besar.
Di server ini dia memang belum pernah bertemu satupun wanita yang diidamkannya, tapi itu memang wajar sebab Rafsa memang tidak fokus di satu anime saja. Sejak dia membeli perangkat HLF mungkin sudah seratus lebih server anime yang dia kunjungi. Dia juga menggunakan uang yang dia dapat dari novelnya untuk membeli tempat tinggal di setiap server yang pernah dia singgahi.
Untuk bisa mencapai Shicirigahama Rafsa harus naik taksi agar bisa cepat sampai. Udara sejuk masih bisa Rafsa rasakan, deburan ombak mulai terdengar olehnya. Setelah turun dari taksi Rafsa langsung disambut oleh segarnya udara pantai Shicirigahama, tampak di sekitar pantai sudah ada beberapa orang yang sedang asik bercengkrama atau sekedar berfoto.
Rafsa mulai berjalan melangkahkan kakinya di pasir yang begitu lembut, tidak ada satupun sampah di tempat itu membuat suasana terasa semakin damai. Rafsa terus berjalan menyusuri bekas ombak yang tertinggal di pasir pantai, dengan harapan pagi ini dia bertemu salah satu dari wanita idamannya di server ini.
“Hmm.. kelihatannya aku juga harus membeli tempat tinggal di sekitar sekolah mereka,” batin Rafsa setelah sekian lama berjalan namun tidak kunjung mendapatkan apa yang dia harapkan.
“Atau mungkin di dekat rumah Mai-san saja ya?” gumam Rafsa seraya berdiri mematung menatap ombak yang bergulung-gulung.
Semakin lama rasanya perutnya sudah mulai lapar, Rafsa beranjak dari tepi pantai menuju area kedai makanan yang ada di area pantai. Rafsa mulai membuka smartphone miliknya sembari menunggu pesanannya datang, dia mulai mengecek internet apakah ada rumah atau apartemen yang bisa dia tinggali di dekat lokasi sekolah Sakuta dan Mai.
“Kelihatannya ini bagus,” gumam Rafsa setelah menemukan sebuah apartemen yang cocok. Lagipula lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Sakuta, sebenarnya dia ingin mencari yang lokasinya lebih dekat dengan rumah wanita yang diidamkannya. Tapi dia tidak menemukannya, mungkin user lain sudah ada yang lebih dulu mendapatkan tempat tinggal seperti itu.
“Kelihatannya aku juga harus segera membelinya sebelum keduluan user HLF yang lain,” batin Rafsa. Dia kemudian mengecek rekeningnya yang ada di server seishun buta yarou, tapi tampaknya uangnya masih kurang. Dia ingat kalau sejak membeli kediamannya saat ini dia tidak pernah mengisi saldo rekeningnya lagi di server tersebut.
“Aku harus kembali dulu kalau begitu,” gumam Rafsa.
__ADS_1
Setelah selesai makan akhirnya Rafsa bergegas untuk kembali ke kediamannya, lagipula di dekat pantai Shicirigahama tampaknya tidak ada savepoint yang bisa dia gunakan untuk kembali ke dunia asli. Sebenarnya savepoint yang ada di suatu server tidaklah dibuat oleh DT Corp. melainkan atas usulan dan voting yang dilakukan oleh user sendiri, barulah setelah itu DT Corp akan membuatnya lalu mengirimkan lokasinya kepada para user melalui email.
Untuk mengecek keberadaan savepoint, user HLF hanya bisa melakukannya dari savepoint juga sebab memerlukan perintah suara langsung ke sistem HLF. Selain dari savepoint tersebut para user tidak bisa menjalankan perintah suara, itu artinya mereka tidak bisa keluar masuk HLF begitu saja sesukanya. Jika seorang user membeli sebuah tempat tinggal atau diberi tempat tinggal oleh user lain maka secara otomatis tempat tinggalnya itu akan menjadi savepoint miliknya.
Untuk mencegah adanya tindak kejahatan maka tempat tinggal milik user tersebut tidak akan bisa diakses oleh user lain, kecuali user tersebut sudah memberikan izin akses kepada user yang ingin memasuki kediamannya. Akan tetapi savepoint yang tersebar di berbagai titik server selain tempat tinggal pribadi, masih bisa digunakan oleh semua user dengan bebas.
Rafsa kembali menggunakan taksi untuk sampai ke tempat tinggalnya, hari ini dia kelihatannya masih belum bisa bertemu salah satu wanita idamannya di seishun buta yarou. Tapi jika dia bisa memiliki tempat tinggal di dekat sekolah Mai dan Sakuta sudah pasti kemungkinan bertemunya akan sangat besar dibandingkan saat ini.
“Sudah sampai,” ucap driver taksi, lamunan Rafsa buyar seketika. Dia kemudian membayar ongkosnya lalu keluar dari mobil dan langsung bergegas menuju apartemen miliknya.
“HLF On,” ucap Rafsa.
“Out,” sambung Rafsa.
“Teleportation start!” jawab sistem HLF. Seketika itu juga tubuh Rafsa lenyap seketika, tubuhnya kini kembali berada di dalam tabung HLF yang ada di lemarinya.
“Email received!” terdengar suara sistem HLF memberitahukan bahwa ada sebuah email yang dia terima.
“Open,” perintah Rafsa, seketika itu juga sebuah tulisan digital terlihat di depan matanya tampaknya email itu berasal dari Gin.
“Aku tadi sudah mengirimkan pesan dan menelponmu berkali-kali tapi tidak menjawab, aku pikir kau mungkin masih berada di dalam server HLF. Jika kau sudah keluar dari server segera hubungi aku! Ini sangat penting!” tulis Gin.
“Ada apa ya?” gumam Rafsa, tapi wajahnya berubah senang sebab dia ingat kalau Gin melewatkan event ujian chunin lagi untuk kedua kalinya.
Rafsa langsung keluar dari dalam tabung dan duduk di kursi seraya membuka smartphone miliknya, terlihat memang ada tiga pesan dari Gin dan lima belas panggilan tak terjawab darinya. Rafsa memang sengaja membuat ponselnya dalam mode diam agar tidak menimbulkan kecurigaan dari tetangga kostan nya. Dia langsung menghubungi Gin sembari senyam senyum sendiri.
__ADS_1
“Halo Gin,” ucap Rafsa setelah panggilan telepon terhubung.
“Yo Raf, kau baru keluar dari HLF rupanya,” jawab Gin.
“Iyalah, maklum chunin baru. Jadi agak sibuk lah,” jawab Rafsa sembari tertawa kecil dengan maksud menyindir Gin.
“Iya-iya aku juga baru membuka emailnya. Kita bahas itu nanti, kau punya waktu kan?” tanya Gin, nada bicaranya terdengar sangat serius. Rafsa agak kecewa karena ekspresi Gin tidak sesuai yang dia harapkan.
“Serius banget. Memangnya ada apa?” tanya Rafsa.
“Kita bertemu di server Overlord saat ini juga, ada beberapa hal yang perlu kita bahas,” jawab Gin masih dengan nada serius.
“Jangan buat khawatir orang dong,” tukas Rafsa sebab nada bicara Gin terdengar begitu serius.
“Kau juga akan cemas mendengarnya nanti, sudah kita bahas di server saja biar lebih aman. Langsung masuk ke server Overlord, kita akan bertemu di kedai biasa yang ada di dekat guild petualang Baharuth Empire,” jelas Gin.
“Baiklah,” ucap Rafsa sembari mengakhiri panggilan. Wajahnya terlihat agak cemas, sebab Gin terdengar begitu serius.
Rafsa menghela nafas sejenak lalu meminum air putih yang ada di kontrakannya, setelah itu barulah dia masuk kembali ke dalam tabung HLF dan menyebutkan server Overlord yang akan dia tuju, namun sebelum sistem HLF menerima perintahnya tampak ada tulisan peringatan terpampang di depan matanya.
“Server ini sangatlah berbahaya, kami hanya bisa memperingatkan dan menyarankan agar anda memilih server yang lain. Tapi jika anda tetap ingin mengunjunginya silahkan saja, dengan catatan semua resiko anda tanggung sendiri, setuju?” gumam Rafsa membaca tulisan yang tertera.
“Ada apa ini?” batin Rafsa, padahal sebelumnya tidak ada tulisan seperti itu saat memasuki server Overlord.
“Oke!” ucap Rafsa menyetujui tulisan yang tertera di sana.
__ADS_1
“Teleportation start!” jawab sistem HLF.
Bersambung…