
Chapter 27
Bandit Yamigakure
Terdengar suara dentuman dahsyat saat jutsu milik Rafsa menghantam jutsu ranton milik lawannya. Tanah bergetar, pepohonan yang terkena dampak ledakan langsung berhamburan menyisakan cekungan tanah yang menganga di tanah. Mendengar ada keributan di sisi sebelah barat, Reina, Ino dan Sakura segera menuju lokasi. Mereka tak lupa memerintahkan rombongan dagang untuk berlindung di bawah komando para pengawal mereka.
“Mata itu.. sennin mode?” gumam Hinata saat melihat perubahan pada wilayah mata Rafsa.
“Jika lawan menyerang kita dari satu titik, itu artinya cukup percaya diri,” ucap Rafsa yang kembali menghilangkan sennin mode yang dia gunakan, sebisa mungkin dia tidak ingin menunjukannya kepada lawan yang kekuatannya bahkan belum diketahui.
“Kalian baik-baik saja?” tanya Sakura saat mereka tiba di tempat Hinata dan Rafsa.
“Ya,” jawab Hinata.
“Reina,” ucap Rafsa sambil menghunuskan pedangnya.
“Ya, kita harus langsung maju ke tempat lawan. Jika kita bertarung di sini ada kemungkinan para pedagang itu akan merasakan dampaknya,” timpal Reina yang mengerti maksud ucapan Rafsa.
“Rafsa, Sakura, kita akan maju di baris depan. Sedangkan Ino dan Hinata akan membantu kita dari belakang, tapi jika ada kesempatan untuk mengalahkan musuh dari dekat jangan ragu untuk melakukannya,” kata Reina lagi, dia langsung melesat maju setelah memberikan arahan kepada empat kawannya.
“Baik,” jawab mereka berempat secara bersamaan lalu maju mengikuti Reina.
“Aku tidak menyangka jika lawan akan menyerang dari satu titik saja, sebenarnya apa yang membuat mereka bisa sepercaya diri itu?” pikir Reina.
Mengetahui kalau lawannya maju seperti itu, empat orang pria dengan ikat kepala Yamigakure juga langsung maju. Rafsa langsung menghunuskan pedangnya dan melesat mendahului Reina, tapi seorang pria langsung menghadangnya. Rafsa menebaskan pedangnya mengincar leher, tapi lawannya langsung menggunakan kunai untuk menahan tebasan Rafsa.
“Shanaroo!” teriak Sakura yang langsung melompat dan menghantamkan pukulannya ke lawan, tapi dengan lihat ketiga pria incarannya langsung melompat mundur.
‘Ddduugghhrrr’
Pukulan Sakura hanya mengenai tanah, tapi tanah di tempat itu seketika langsung hancur berkeping-keping dan berhamburan ke udara. Tapi musuhnya kembali berhasil menghindari dampak pukulan Sakura, Reina tidak diam saja. Dia langsung mengincar salah satu pria dan melayangkan tendangannya.
‘Ddddaaaghh’
__ADS_1
‘Kkkrrreekk’
Timing serangan Reina sangat tepat hingga lawan tidak bisa menghindar lagi, dia hanya berhasil menahan tendangan Reina dengan tangan kanannya. Tapi seketika itu juga terdengar tulang yang remuk, wajah pria yang menahan tendangan Reina terlihat meringis kesakitan. Tangan kanannya langsung terkulai seakan seluruh tulangnya hancur, pria itu langsung melompat mundur.
“Apa itu?” batin Reina saat melihat tangan pria yang tulangnya hancur tadi kini kembali pulih dengan sendirinya tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun.
“Ternyata ada dua pengguna byakugou ya,” ucap pria itu sambil memasang kuda-kuda.
“Dia tahu jutsu milik Tsunade-sama?” gumam Sakura.
“Hakke Kushou!” ucap Hinata yang berada di belakang bersama Ino. Hinata menghantamkan telapak tangannya ke udara, saat itu juga deru angin dan udara yang memadat langsung melesat menuju lawan.
“Hakke Shou Kaiten!” tukas pria itu sambil memutar tubuhnya menggunakan tehnik milik keluarga Hyuga, tentu saja Hinata kaget. Terlebih setelah melihat mata pria itu, ternyata dia memang memiliki byakugan.
Ino yang tidak mau kalah langsung melemparkan kunai peledak kepada lawan, tapi lagi-lagi lawan dengan gesit menghindari kunai peledak Ino yang hanya meledak di batang pohon tumbang yang ada di belakang mereka. Di sisi lain Rafsa masih terus menyerang lawannya secara beruntun, tapi musuhnya juga cukup tangguh sejauh ini karena masih bisa menghalau setiap serangan yang Rafsa lakukan.
“Satu pengguna byakugan, satu pengguna ranton, satunya lagi memiliki kemampuan penyembuhan yang luar biasa. Kemungkinan dia memiliki kekuatan seperti Jugo atau Hashirama,” pikir Rafsa sambil melompat mundur untuk mengatur jarak dengan lawannya.
Akan tetapi lawannya langsung menundukan kepala dan membalas dengan tusukan kunai mengincar kaki kanan Rafsa, hanya saja serangannya itu malah menghantam bilah pedang Rafsa yang langsung Rafsa tancapkan untuk menghalau tusukan kunai lawannya, aliran listrik chakra raiton di kunai lawan juga seketika itu langsung terserap ke dalam tanah.
“Shuriken kage bunshin!” ucap Rafsa sambil melemparkan shuriken ke arah lawannya. Satu shuriken yang dia lemparkan langsung berlipat ganda menuju bandit dari Yamigakure tersebut.
Pria itu terlihat kaget karena Rafsa melemparkan shuriken dari jarak yang sangat dekat, akan tetapi puluhan shuriken yang melesat itu malah berubah arah menuju pria yang tadi diserang oleh Ino. Terlihat pria itu mengangkat tongkat besinya ke atas, semua shuriken Rafsa langsung menempel ke seluruh tongkat yang dipegang pria tersebut.
“Elemen magnet?” batin Rafsa yang langsung mencabut pedangnya dan mundur, begitu juga dengan Sakura serta Reina. Mereka tampaknya sudah hampir tahu kemampuan empat lawannya.
“Mereka benar-benar gesit,” ucap Sakura.
“Mereka juga memiliki kemampuan yang tidak biasa,” timpal Reina.
“Wah, wah, wah ternyata rombongan pedagang dari negara api menyewa Shinobi dari Desa Konoha,” ucap pria yang memiliki byakugan.
“Siapa sebenarnya kalian? Kenapa klan Hyuga sepertimu memihak kepada kejahatan?” tanya Hinata yang terlihat sangat marah melihat salah satu anggota klan Hyuga ada diantara bandit tersebut.
__ADS_1
“Hinata-sama, Aku tidak tertarik lagi untuk tinggal di Konoha. Mungkin aku akan mempertimbangkannya jika kau mau menjadi istriku,” jawab pria itu sambil menyeringai, dia bernama Hyuga Ryuu.
“Aku bahkan tidak sudi untuk mengenalmu!” tegas Hinata.
“Kelihatannya lawan kita kali ini cukup menarik,” ujar pria yang tadi menggunakan elemen magnet, namanya adalah Magnat.
“Ya, andaikan saja wanita bertopeng itu membuka topengnya dan perusak pemandangan itu binasa,” timpal pria yang tadi diserang Rafsa. Namanya adalah Sam Raikiri, dia menyindir Rafsa karena dialah satu-satunya pria di kelompok Reina.
“Wah, kelihatannya ada yang iri denganku,” balas Rafsa dengan tetap tenang.
“Menyedihkan, orang sepertinya hanyalah orang naif sok suci,” tukas pria yang tadi diserang oleh Reina. Dia bernama Pier, mereka berempat memakai ikat kepala berlambang Yamigakure. Ino, Hinata dan Sakura yang mendengar kata waifu tampak sangat kebingungan karena tidak mengerti.
“Sok suci ya, aku tahu tipe orang seperti apa kalian. Kalian adalah orang-orang kotor yang hanya bisa berpikiran kotor saat melihat karakter cantik, jika kalian menjadi penulis maka hasil karya kalian juga pasti penuh dengan fan servis tak senonoh,” ucap Rafsa sambil maju ke depan. Ino, Sakura dan Hinata terlihat semakin bingung tentang apa yang sedang Rafsa dan musuhnya bahas.
“Hahaha.. kami pria normal! Tidak seperti orang sok suci sepertimu!” kata Sam seraya tertawa lebar.
“Yah, sebagai lelaki normal aku juga tahu apa yang kalian maksud, tapi akalku masih sehat dan masih bisa mengendalikan nafsuku sendiri. Selain itu aku juga bukanlah pria perusak wanita, aku juga bukan orang yang menganggap wanita sebagai mainan saja. Aku adalah tipe orang yang akan menikmati setiap proses yang aku lakukan untuk mendekati wanita yang aku cintai,” tukas Rafsa sembari menghunuskan pedangnya.
“Aku bukanlah sok suci, aku hanyalah pria yang bisa mengendalikan diri. Aku juga bukan pria naif yang tidak normal, tapi aku hanyalah pria yang lebih suka menjaga wanita daripada merusaknya!” tegas Rafsa dengan lantang.
“Hahaha.. jangan sok keren dasar pria tidak normal!” ejek Ryuu.
“Pria sok suci!” timpal Pier.
“Kelihatannya semakin lama, dunia ini memang akan semakin dipenuhi oleh orang-orang yang tidak bisa mengontrol nafsunya sendiri seperti kalian. Benar-benar lemah! Kalian hanyalah sampah yang hidup di dunia tanpa mengerti arti kehidupan itu sendiri, di pikiran kalian hanya ada hal-hal kotor saja!” balas Rafsa. Tampak mereka berempat terlihat sangat kesal mendengarnya.
“Diam kau orang sok suci!” bentak Sam sambil melesat maju menuju Rafsa.
“Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?” gumam Sakura.
“Dasar Si Rafsa itu, memangnya menyukai karakter anime juga bisa disebut normal?” gumam Reina di dalam hatinya.
Bersambung…
__ADS_1