
Chapter 23
Misteri yang Terungkap
“Apa maksud semua ini keibu-dono! Kenapa orang asing sepertinya bisa seenaknya berbicara seperti itu!” gerutu Kakuma sambil menatap Megure.
“Rafsa-kun, kau bisa menjelaskan semuanya bukan?” tanya Megure sambil menghela nafas dalam.
“Tentu saja Inspektur, dia sudah memilih sendiri jawabannya,” jawab Rafsa sambil berbalik.
“Mari kita usut dari akarnya terlebih dahulu. Kasumi-san jam berapa anda keluar dari minimarket?” tanya Rafsa.
“Eto.. biasanya sekitar pukul sebelas malam, tapi malam tadi aku tidak yakin jam berapa sebab jam tanganku kelihatannya error, aku juga mungkin terlalu mengantuk jadi nggak terlalu fokus,” jawab Kasumi.
“Kenapa kau beranggapan begitu?” tanya Rafsa lagi.
“Waktu menunggu taksi di pinggir jalan aku melihat jam tanganku pukul sebelas malam, tapi waktu masuk ke dalam aku melihat jam digital yang ada di dashboard taksi pak Kakuma sudah menunjukan pukul dua belas, mataku waktu itu juga sudah agak kabur sebab mengantuk. Tapi waktu pak Kakuma membangunkanku untuk bertanya tempat tinggal aku melihat jam tanganku sudah sama dengan jam digital milik pak Kakuma, tapi ternyata setelah aku cek sekarang memang jam tanganku lebih cepat satu jam,” tutur Kasumi sambil melihat jam tangan dan ponselnya.
“Baik, waktu itu seperti apa penampilan pak Kakuma saat anda masuk ke dalam taksi?” tanya Rafsa, semua orang kecuali Conan dan Mirai terlihat terkejut mendengarnya.
“Eh? Emm.. kalau tidak salah memakai seragam khas taksi perusahaannya, dan juga.. memakai masker menutupi hidung dan mulutnya,” jawab Kasumi sembari mengingat-ingat kejadian tadi malam.
“Kakuma-san, kenapa anda memakai masker tadi malam? Jika alasannya penyakit maka seharusnya anda juga memakainya saat ini,” cecar Rafsa sambil menatap Kakuma.
“Aku memang biasa memakai masker kalau sedang bekerja! Kadang aku tidak suka dengan wangi parfum yang dipakai oleh penumpang!” tegas Kakuma.
“He, yah beralasan seperti itu memang boleh saja. Tapi aku tahu alasan utama anda melakukannya, itu adalah untuk menghindari gas yang anda gunakan untuk membius nona Kasumi di dalam mobil, yah meskipun aku yakin barang buktinya sudah anda lenyapkan karena memiliki banyak waktu luang untuk melakukannya,” jelas Rafsa.
“Eh?” lagi-lagi semua orang kaget mendengar penjelasan Rafsa.
“Memang benar, aku juga memiliki pemikiran yang sama,” batin Conan.
__ADS_1
“Hoi bicara apa kau ini! Jika kau tidak bisa membuktikannya untuk apa kau katakan! Aku akan menuntutmu!” gertak Kakuma dengan sangat marah.
“Hmm.. aku tidak bilang aku tidak bisa membuktikannya, aku hanya bilang kalau kau mungkin sudah membuang barang buktinya,” tukas Rafsa dengan tenang.
“Rafsa-kun, aku harap kau bisa mempertanggung jawabkan perkataanmu itu,” tukas Megure sambil menatap tajam Rafsa.
“Tentu saja Inspektur. Selanjutnya nona Kasumi, dimanakah anda dibangunkan oleh pak Kakuma?” tanya Rafsa lagi.
“Kalau tidak salah tempatnya tidak jauh dari sini, di route B jalan raya di depan gedung ini,” jawab Kasumi.
“Itu sekitar lima belas menit dari sini kalau menggunakan mobil,” sela Sato.
“Waktu itu kau mengecek jam tanganmu?” tanya Rafsa.
“Tidak, waktu turun dari dalam mobil barulah aku mengeceknya lagi dan ternyata memang sudah sama dengan jam digital milik pak Kakuma yaitu pukul satu lebih. Kalau tidak salah waktu itu pak Kakuma juga bilang kalau aku mungkin tadi hanya salah lihat saja karena mengantuk,” jelas Kasumi.
“Apa kau juga melihat jam yang ada di rumah saat sampai tadi malam?” tanya Sato sambil menatap Kasumi.
“Iye, aku langsung tidur karena terlalu mengantuk jadi aku belum sempat melihat jam yang ada di rumah atau di ponsel,” jawab Kasumi sembari menggelengkan kepalanya.
Rafsa hanya tersenyum, dia kemudian memulai menjelaskan analisis yang sudah dia simpulkan sampai saat ini. Rafsa bilang kalau saat Kasumi naik ke mobil Kakuma memang baru pukul sebelas, sedangkan jam digital yang ada di taksi itu memang sengaja diatur oleh Kakuma ke pukul 12 malam untuk membuat alibinya.
Tepat saat Kasumi masuk Kakuma langsung menggunakan gas bius memenuhi mobilnya, dengan begitu Kasumi keburu mengantuk sebelum ingat mengatakan alamat yang akan dia tuju. Setelah itu Kakuma mulai menjalankan mobilnya ke tempat yang tidak terjangkau CCTV gedung apartemen, dia tahu semua titik butanya setelah berkali-kali datang ke sini untuk memperhatikan situasi dan kondisinya.
Kakuma langsung menuju ke kamar apartemen Takaoka dan pura-pura bertamu di sana, kemungkinan besar sebelumnya mereka memang sudah saling kenal. Ketika Takaoka lengah dia menusuknya dengan pisau yang sudah dia siapkan, setelah itu dia mulai memburak barik rumah agar terlihat seperti perampokan disertai pembunuhan.
Rafsa juga menjelaskan bahwa suara pecahan kaca yang terdengar oleh Conan, Mirai dan Yumi hanyalah rekaman yang disetting agar bersuara pukul satu malam. Alat tersebut disimpan oleh Kakuma direkatkan dengan lakban di bagian bawah lantai balkon. Sedangkan kaca-kaca yang pecah sendiri sebenarnya Kakuma pecahkan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
“Eh bagaimana bisa?” tanya Yumi yang terlihat terkejut.
“Bisa saja, lihatlah gorden-gorden di sana. Kakuma-san pastinya mencopot kaca-kaca itu dahulu dari kusennya lalu membungkusnya menggunakan kain gorden sampai tebal, barulah dia menghancurkan kaca-kaca itu dengan benda tumpul sampai berkeping-keping. Kemudian dia meletakan kaca-kaca itu seakan-akan memang perampok memecahkannya, dia juga memisahkan semua gordennya secara acak ke berbagai tempat agar triknya tidak diketahui,” jelas Rafsa.
__ADS_1
Dugaan Rafsa memang masuk akal sebab di kusen-kusen tempat kaca itu memang tidak terlihat sepotongpun bagian kaca yang pecah, seharusnya jika memang perampok memecahkannya saat kaca masih terpasang maka akan tersisa beberapa keping potongan kaca di kusennya. Setelah dilihat secara seksama ternyata di beberapa gorden yang tergeletak di sana juga ada serpihan-serpihan kaca kecil yang tertinggal.
Rafsa kemudian menjelaskan bahwa Kakuma langsung memasang tali agar terlihat perampok itu lewat sana, dia juga sengaja merusak pintu apartemen agar terlihat lebih nyata perampokannya. Dia kemudian pergi keluar apartemen dan kembali ke mobil di mana Kasumi masih tertidur akibat obat bius.
Kakuma langsung tancap gas menuju Route B jalan raya, Rafsa yakin kalau Kakuma juga membuang segala barang buktinya di suatu tempat di sepanjang jalan itu termasuk baju yang terkena darah, kaos tangan, gas bius dan lain sebagainya. Setelah sampai di Route B barulah Kakuma mengatur jam tangan Kasumi agar sama dengan jam digital miliknya, dengan begitu dia harap Kasumi semakin percaya bahwa saat dia masuk ke mobil adalah pukul dua belas dan sampai ke rumahnya pukul satu malam, jika itu berhasil maka alibinya akan sempurna.
Setelah itu barulah Kakuma membangunkan Kasumi saat sampai di route B, tak lupa Kakuma memberikan penguatan dengan bilang bahwa sejak Kasumi masuk memang sudah pukul dua belas malam, Kasumi pasti percaya saja sebab dia sangat mengantuk akibat efek obat bius. Karena efek obat biusnya masih bekerja pastilah Kasumi masih mengantuk hingga akhirnya tidur tanpa mengecek jam terlebih dahulu.
“Bukan begitu Kakuma-san?” tanya Rafsa.
“Itu hanya karanganmu saja bocah! Ingat aku akan menuntutmu! Kau tidak punya buktinya!” ancam Kakuma.
“Lalu apa arti tulisan acak itu Rafsa-kun?” tanya Megure.
“Oh, aku lupa menjelaskannya. Sebenarnya setelah Kakuma-san menusuk Takaoka-san, korban masih belum meninggal. Dia menuliskan petunjuk itu selagi Kakuma sedang sibuk mengacak-acak rumahnya,” kata Rafsa sambil berjalan mendekati tulisan darah di lantai.
“JADITAKUT. Tulisan ini memang berasal dari Bahasa Indonesia, jika dipisah maka JADI TAKUT yang artinya adalah sugoku kowai. Sedangkan jika kata JADI TAKUT diartikan ke dalam Bahasa Inggris maka akan menjadi SO FEAR. Karena penulisannya tanpa spasi maka akan menjadi SOFEAR,” tutur Rafsa sambil menunjuk setiap huruf dari tulisan darah tersebut.
“Lalu apa artinya SOFEAR?” tanya Conan dengan tatapan tajam.
“Tidak ada artinya,” jawab Rafsa sambil tersenyum.
“Eh? Lalu apa hubungannya dengan kasus ini?” tanya Megure seakan mewakili semua orang di sana yang terlihat bingung, Rafsa hanya tersenyum maklum sebab mereka mungkin tidak tahu Bahasa Indonesia.
“Jika SOFEAR dibaca tanpa spasi maka akan terdengar menjadi SOFIR atau SOPIR. Nah di dalam Bahasa Indonesia, SOPIR artinya adalah driver atau untenshu dalam Bahasa Jepang,” tutur Rafsa sambil tersenyum dengan kedua tangan kembali dimasukan ke dalam sakunya. Semua orang di tempat itu langsung tertegun mendengar penjelasan Rafsa yang memang masuk akal.
“Buktinya? Mana buktinya? Jangan kau bilang buktinya hanya tulisan itu, bisa saja perampok itu yang menulisnya atau kalian yang salah tafsir,” bantah Kakuma.
“Kau ingin mengelak sampai sejauh mana lagi Kakuma-san!” bentak Rafsa dengan tatapan tajam membuat Kakuma langsung terdiam.
“Buktinya ada di jam tangan nona Kasumi yang telat beberapa jam, aku yakin polisi nanti juga akan menemukan sisa bukti yang kau buang di jalan. Aku yakin di jam tangan Kasumi juga ada sidik jarimu, sebab kau tidak akan mungkin langsung masuk ke dalam mobil dengan kaos tangan serta baju yang berlumuran darah sebab takut akan meninggalkan jejak di mobil, aku yakin kau mengatur jam tangan Kasumi setelah kau menyimpan barang bukti pakaian dan kaos tanganmu di plastik dan membuangnya ke suatu tempat,” tutur Rafsa.
__ADS_1
Semua orang kembali kaget mendengarnya. Hanya Conan dan Mirai saja yang terlihat biasa saja, mereka mungkin sudah tahu tentang trik dan alibi Kakuma termasuk sidik jarinya di jam tangan Kasumi hanya saja mereka kebingungan mengartikan tulisan acak yang ditinggalkan korban. Saat itu juga Kakuma langsung berlutut di tanah sambil menangis.
Bersambung…