Maximum Delusion

Maximum Delusion
Duel Sengit Melawan Beta Tester


__ADS_3

Chapter 8


Duel Sengit Melawan Beta Tester


Puluhan shuriken melesat menuju ke arah Reina yang masih berdiri dengan tenang. Sementara Rafsa tidak diam begitu saja, setelah shuriken yang dilemparkannya melesat menuju Reina dia langsung bergerak maju dengan sebuah kunai terhunus.


‘Ttrraannkk..’


‘Ttttrrrnnkk..’


Terdengar suara benturan besi dengan besi saat Reina dengan lincahnya menangkis semua shuriken yang datang ke arahnya, di saat itulah Rafsa melompat ke udara dengan melemparkan kunai yang sudah dipasangi kertas peledak.


‘Dddrrr..’


Terdengar suara ledakan hebat hingga asap hitam mengepul dan pasir-pasir di gurun berhamburan ke udara, tapi Rafsa langsung mendarat di tengah kepulan asap tersebut. Dia tahu seorang beta tester tidak mungkin kalah hanya karena serangan seperti itu saja.


‘Ddddgghh’


Sebuah tendangan melayang mengincar leher Rafsa tapi dengan sigap berhasil ditahan dengan lengan kanannya. Meski berhasil menahan tendangan Reina tapi Rafsa terlihat meringis kesakitan sebab kekuatan tendangan Reina jelas-jelas sangat kuat. Meski begitu tangan kiri Rafsa langsung bergerak memainkan kunai hendak menyayat kaki Reina. Tapi dengan lincah Reina segera menarik kakinya dan memutarkan badan dengan kunai terhunus di tangan kanannya.


Rafsa dengan cepat menunduk ke bawah seraya mengayunkan kaki kirinya untuk menyapu kaki Reina. Namun pergerakan Reina sangatlah lincah diatas perempuan lainnya, dia dengan mudah menghentakan kakinya menghindari sepakan Rafsa. Bahkan Reina langsung melompat ke belakang sambil membuat segel tangan untuk menggunakan jutsunya.


“Katon: karyu endan!” ucap Reina sembari menghela nafas dalam lalu menghembuskan api dari mulutnya.


“Aku tahu, melawan beta tester memang tidaklah mudah. Apalagi dia adalah orang terbaik ke sebelas diantara Sembilan puluh Sembilan beta tester yang ada,” pikir Rafsa sambil mulai membuat segel tangan.


Udara di gurun yang panas itu terasa semakin panas akibat jutsu api yang digunakan Reina, terlebih area serangannya sangat besar. Rafsa kini sudah dikepung oleh api besar yang meluap luap dari sisi kanan, sisi kiri dan dari atas.

__ADS_1


“Senpou, Suiton: suijinheki!” ucap Rafsa. Seketika saja tembok air langsung tercipta di tengah tandusnya gurun.


‘Bbbbssshh’


‘Bbbhhhmmrr..’


Terdengar suara air yang menguap saat jutsu api milik Reina menghantam tembok air yang mengelilingi Rafsa. Udara mulai terasa lembab, pasir gurun yang tandus terlihat seperti lumpur setelah tembok air yang menutupi tubuh Rafsa pudar dan menyerap ke dalam pasir gurun.


“Mata itu? Sennin mode ya, siapa kau sebenarnya?” tanya Reina, dari suaranya saja tersirat kalau dia sangat terkejut melihat keterampilan Rafsa yang mampu menggunakan jutsu air di tengah-tengah gurun yang tandus.


“Ryuzaki Rafsa, user dengan ID HLF nomor 100. Orang yang telah dianggap kalah oleh sistem HLF saat tes beta tester dimulai dulu,” jawab Rafsa.


“Ah. Aku sekarang ingat, lebih dari dua bulan yang lalu aku dengar kalau Gin pernah bertarung dengan orang yang gagal menjadi bagian dari beta tester. Jadi kau orangnya,” ucap Reina sembari memainkan kunainya dengan santai.


“Ya, aku sampai sekarang masih tidak mengerti kenapa aku gagal menjadi beta tester. Padahal aku sangat yakin dengan pengetahuanku tentang berbagai anime yang ada di dunia, karena itulah aku ingin tahu sejauh mana kemampuan dan pengetahuan kalian sebagai orang-orang yang lolos menjadi beta tester,” tegas Rafsa sembari mengeluarkan shuriken dari tas ninjanya.


“Alasan yang konyol, bukti kau tidak lolos menjadi beta tester sudah membuktikan bahwa kemampuan dan pengetahuanmu tentang anime masih berada di bawah kami. Tapi bagaimana bisa kau menguasai sennin mode? Aku tidak pernah mendengar bahwa ada karakter Naruto yang memiliki murid seorang user HLF,” timpal Reina dengan tatapan tajam.


“Aku sejak awal sudah menduga kalau dia ini bukanlah tipe orang yang memiliki chakra dalam jumlah banyak, terlebih sejak tadi dia hanya menggunakan jutsu ringan saja seperti shuriken kage bunshin dalam jumlah yang sedikit. Tapi aku tidak menyangka dia sudah bisa menguasai sennin mode,” batin Reina.


“Kalau begitu sebagai hadiah atas kegagalanmu menjadi beta tester akan aku beritahu satu hal,” ucap Reina yang secara sengaja menyindir kegagalan Rafsa menjadi beta tester.


“Kata-katamu itu tidak akan membuatku kehilangan kewaspadaan, aku bukanlah tipe orang yang mudah tersulut amarah hanya dengan kata-kata seperti itu,” kata Rafsa sambil memperhatikan Reina yang menggerakan tangan kanannya. Perlahan Reina membuka topengnya sampai seluruh wajahnya terlihat.


“Tanda itu? Byakugou?” ujar Rafsa dengan wajah sangat terkejut melihat tanda yang ada di dahi Reina, tanda yang sama seperti yang dimiliki oleh Tsunade dan Sakura.


“Jadi karena itu tendangannya tadi bisa sampai sekuat itu, tapi itu masih belum menjelaskan kenapa dia bisa menggunakan jutsu air di tengah gurun seperti ini tanpa sennin mode. Apa mungkin kapasitas chakranya sangat besar? Lalu bagaimana mungkin dalam waktu empat bulan saja dia bisa menguasai byakugou yang biasanya butuh waktu bertahun-tahun?” pikir Rafsa di tengah keterkejutannya. Berbagai pertanyaan mulai muncul di benaknya.

__ADS_1


“Tapi terlepas dari itu semua ternyata wajahnya sangat cantik,” gumam Rafsa pelan seraya menatap wajah cantik Reina yang kali ini tidak tertutupi topeng.


“Bagaimana bisa kau menguasai byakugou hanya dalam waktu empat bulan saja?” tanya Rafsa setelah menghela nafas dalam.


“Aku rasa kau tidak perlu aku beritahu, terlebih bukankah kau sangat yakin bahwa pengetahuanmu tentang dunia anime ini sangat luas? Kalau iya, kenapa kau tidak bisa memperkirakan bagaimana aku melakukannya?” ejek Reina sambil memasang topengnya kembali.


“Cih, wanita ini. Berbeda jauh dengan wajahnya,” gerutu Rafsa pelan.


“Baiklah aku tidak perlu kau beritahu. Lagipula setiap user HLF yang hebat pasti memiliki rahasia kemampuannya masing-masing,” tukas Rafsa yang agak kesal dengan ejekan Reina. Tangan kirinya mulai mengambil shuriken dari tas peralatan ninjanya.


“Memang benar, kelihatannya dia juga punya rahasia kenapa sampai bisa menguasai sennin mode. Bahkan tadi dia tidak memerlukan konsentrasi yang lama untuk mengumpulkan energy alamnya,” batin Reina sembari menatap mata Rafsa yang berubah menandakan sudah menggunakan sennin mode.


“User hebat ya? Tapi sayangnya aku belum menganggapmu setinggi itu, bagaimana kalau kau membuktikannya saat ini?” tantang Reina, meskipun dia agak takjut dengan kemampuan Rafsa tapi gengsinya sebagai beta tester no. 11 membuatnya enggan untuk mengakuinya.


“Cih, kau memang pintar bermain kata-kata. Mungkin aku telah salah menilai kemampuanmu itu,” balas Rafsa.


“Padahal tadinya aku akan mengatakan kalau dia memang pantas menjadi seorang beta tester, tapi sikapnya itu benar-benar membuatku kesal. Jika aku mengatakannya maka dia malah akan semakin besar kepala,” gerutu Rafsa di dalam hatinya.


“Ho, jadi kau akan menguji kemampuanku ya. Kalau begitu aku harap kau tidak menyesalinya setelah menantang orang yang lebih kuat darimu,” tukas Reina sambil mulai membentuk segel tangan.


“Segel tangan itu?” ujar Rafsa yang agak terkejut sebab tahu jutsu apa yang akan digunakan Reina.


“Senpou: Kage bunshin no jutsu!” ucap Rafsa, di sampingnya kini sudah ada empat kage bunshin yang dibuatnya. Dia dan keempat bunshinnya segera membuat segel tangan.


“Kau mungkin pernah melihat Uchiha Madara menggunakannya dari layar televisimu, tapi kini secara nyata ada di depanmu!” tegas Reina.


“Katon: gouka mekkyaku!” ucap Reina, saat itu juga dia menyemburkan api yang bergulung-gulung tinggi bagaikan ombak besar di lautan. Udara di tempat itu terasa sangat panas, bahkan dengan jangkauan api yang luas seperti itu pasti akan sangat sulit untuk menghindarinya.

__ADS_1


“Dia benar-benar monster, bagaimana mungkin dia bisa menguasai tehnik api yang pernah digunakan oleh Madara?” batin Rafsa yang sudah mempersiapkan rencana untuk menghadapi jutsu api nan dahsyat itu.


Bersambung…


__ADS_2