
Chapter 15
Rencana Penyusupan ke Sorcerer Kingdom
“Aku mengerti kemarahanmu Raf. Tapi yang aku katakan memang benar adanya, aku bukan orang sekejam itu yang berniat memanfaatkanmu demi kepentinganku sendiri,” ucap Gin mencoba menenangkan Rafsa yang terlihat marah besar.
“Biar aku jelaskan sedikit kenapa aku punya kesimpulan seperti itu. Pertama, kau perlu tahu bahwa bukan hanya kau saja yang merasa bertanggung jawab atas kejadian tiga bulan lalu di server Naruto Shippuden. Kami anggota Secret Security juga awalnya memang dibentuk untuk menyelidiki kejadian tersebut, karena itulah setelah SS berdiri kami juga ditugaskan untuk menyelidiki kejadian itu,” sambung Gin. Sementara Rafsa terlihat duduk kembali sambil memegang kepalanya.
“Hasil dari beberapa bulan itulah akhirnya kami menemukan jejak keberadaan dalang dibalik peristiwa tersebut. Jejak itu menunjukan bahwa dia pindah ke server Overlord, meski sampai saat ini kami masih belum tahu keberadaannya. Tapi kejadian menghilangnya banyak user di server ini membuatku yakin kalau orang itu juga masih ada di sini,” tambah Gin.
“Kenapa kau bisa seyakin itu?” tanya Rafsa.
“Ada dugaan kalau ada user yang membocorkan masalah HLF kepada pihak Ainz, karena itulah mereka mulai bergerak untuk menangkap para user. Kemungkinan besarnya untuk mengetahui cara kita masuk ke dunia ini,” jawab Gin.
“Jadi kau curiga orang yang membocorkannya adalah dalang peristiwa tiga bulan lalu? Tapi bagaimana kalau ternyata para user yang hilang itu memang orang ceroboh dan hanya ikut terbunuh bersama para karakter yang ada di server ini?” kata Rafsa.
“Itu mungkin saja, tapi itu kecil kemungkinannya. Sebab kebanyakan laporan hilangnya para user itu berada di sekitar E-Rantel dan Re Estize Kingdom. Jika memang hanya kecerobohan semata tidak mungkin hal itu bisa terus terjadi,” jelas Gin.
“Tapi bagaimana jika yang membocorkan hal itu hanyalah orang bodoh yang asal celetuk saja saat bertemu karakter yang berasal dari Nazarick?” tanya Rafsa lagi.
“Itu juga mungkin terjadi, tapi orang bodoh meskipun diinterogasi tidak akan bisa mengatakan bagaimana perbedaan user dan karakter di server ini. Jadi kemungkinan besarnya Ainz dan anak buahnya memang diberitahu oleh orang yang cerdas, dan kemungkinan besar lainnya dalang kejadian tiga bulan lalu itu adalah orangnya,” tutur Gin dengan santai, dia tidak mau memancing amarah Rafsa meluap kembali.
“Hmm.. tidak ada pilihan lagi bagiku, sejak awal memang aku yang harus menuntaskannya,” ucap Rafsa seraya menghela nafas dalam.
__ADS_1
“Kau siap membantuku?” tanya Gin yang terlihat sumringah mendengar jawaban Rafsa.
“Ya. Aku sudah lama ingin melihat wajah bajingan itu! Akan aku buat dia menanggung akibatnya!” tegas Rafsa sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Baguslah kalau begitu, sejak awal aku memang percaya kepadamu. Aku yakin dengan kemampuan kita berdua dan skill unik yang kita miliki maka kita bisa pergi ke E-Rantel dengan aman, bahkan mungkin bisa masuk ke Nazarick,” kata Gin sambil tersenyum.
“Kemanapun kita akan pergi jika beta tester yang aku cari memang berada di sana, aku tidak akan pernah takut mengunjungi server manapun!” tukas Rafsa sambil berdiri.
Mereka kemudian keluar dari ruangan khusus tersebut, tak lupa Rafsa juga membayar ganti rugi untuk meja dan peralatan minum yang tadi dihancurkan olehnya. Setelah keluar dari kedai Rafsa pulang dulu ke kediamannya untuk membawa item terbaiknya untuk jaga-jaga jika nanti hal buruk terjadi, setelah itu barulah mereka berdua naik kereta kuda yang akan segera berangkat menuju Re Estize Kingdom. Di perjalanan mereka berdua tidak banyak bicara, mereka bersikap seakan-akan petualang biasa lainnya.
Di perbatasan kerajaan Re Estize mereka memutuskan untuk turun, padahal kereta kuda yang mereka naiki masih akan terus berjalan menuju kota. Tapi mereka berdua memilih turun di perbatasan agar lebih leluasa menyusun rencana jika pada akhirnya mereka bentrok dengan lawan. Setelah selesai menyusun rencana barulah mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
“Ngomong-ngomong setelah melihat kemarahanmu tadi, rasanya sedikit mengingatkanku dengan pertarungan kita sebelumnya. Aku tidak menyangka kau masih bisa semarah itu, aku pikir seiring berjalannya waktu kau akan melupakannya,” ucap Gin sambil berjalan.
“Seumur hidupku aku tidak akan pernah melupakannya, tidak akan pernah! Jika saja waktu itu aku tidak lemah mungkin dia tidak akan menjadi user pertama yang meninggal di dunia HLF. Yang lebih menyedihkannya, dia meninggal di depan mataku sendiri,” ucap Rafsa sambil mengenang tragedi tiga bulan yang lalu di server Naruto Shippuden.
“Ya, andaikan kematiannya waktu itu bisa dicegah mungkin tidak akan ada user lainnya yang keji melakukan hal serupa di dunia HLF. Saat ini entah sudah berapa nyawa user yang hilang karena dihabisi user lainnya,” tukas Rafsa.
“Kau memang benar, tapi nasi sudah menjadi bubur. Kita hanya bisa berusaha untuk menangkap dalangnya, dialah yang menebarkan kebencian, kematian dan perilaku buruk kepada user lainnya. Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal, jika sejak awal dia tidak ada di dunia HLF mungkin dunia ini akan bersih dari sampah sepertinya,” kata Gin.
Mereka berdua mulai berhenti membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan HLF setelah semakin dekat dengan pemukiman penduduk di kerajaan Re Estize. Suasana suram kerajaan Re Estize bisa langsung dirasakan oleh mereka berdua, hal itu memang sangat wajar sebab Kerajaan Re Estize baru saja mengalami kekalahan dari Baharuth Empire yang bersekutu dengan Ainz.
Setelah berjalan agak lama di kota tersebut mereka berdua memilih untuk kembali naik kereta kuda menuju kota terdekat yang berbatasan dengan E-Rantel yang kini sudah dikuasai oleh Ainz. Sepanjang perjalanan mereka tidak menurunkan kewaspadaannya meskipun sambil membicarakan berbagai hal layaknya para petualang di anime Overlord.
__ADS_1
“Sudah lama aku tidak mengunjungi Re Estize Kingdom,” ucap Gin setelah turun dari kereta kuda.
“Ya, terakhir kali aku ke sini mungkin satu bulan yang lalu,” timpal Rafsa sambil memperhatikan suasana kota tersebut.
“Kita sebaiknya makan siang dulu di kedai yang berada di dekat perbatasan E-Rantel,” ucap Gin.
“Baiklah,” tukas Rafsa sembari berjalan menyusuri jalanan.
Beberapa orang petualang yang berpapasan dengan mereka berdua terlihat menatap mereka dengan tajam, Rafsa saat ini memilih full armor yang lebih ringan hingga menutupi kepalanya. Gin juga menggunakan armor yang ringan hanya saja tubuhnya tertutupi oleh jubah dengan tudung khas assasins, wajahnya juga ditutupi oleh kain untuk menyembunyikan identitasnya.
Setelah cukup lama berjalan akhirnya mereka menemukan sebuah kedai yang letaknya berada di perbatasan Kota E-Rantel, mereka berdua langsung masuk ke dalam. Terlihat hanya ada tiga orang petualang saja yang sedang makan di kedai tersebut. Sejak E-Rantel diambil alih oleh Sorcerer Kingdom kelihatannya banyak petualang yang masih belum berani dekat-dekat ke sana. Meskipun memang sebenarnya Sorcerer Kingdom tidak melarang siapapun masuk ke daerahnya.
Rafsa dan Gin langsung memesan makanan. Namun tak lama kemudian masuklah dua orang wanita cantik ke dalam kedai, seorang wanita berambut kuning dan juga seorang wanita berambut merah dengan sebuah tongkat hitam unik di punggungnya.
‘Deg!’
Saat itu juga jantung Rafsa mulai berdetak kencang sebab dia tahu identitas dua orang wanita cantik yang baru masuk ke dalam kedai tersebut. Mereka tak lain adalah dua orang anggota Pleiades dari Nazarik atau Sorcerer Kingdom, Solution Epsilon dan Lupusregina Beta. Gin langsung menatap Rafsa seakan isyarat untuk berhati-hati.
“Tuan.. pesan satu minuman dan daging panggang yang lezat!” teriak Lupusregina setelah duduk di kursi.
“Ara-ara, kau kelihatannya sangat kelaparan. Bukankah kita sudah sepakat untuk membeli daging segar saja nanti?” timpal Solution.
“Ah, kamu memang benar. Kelihatannya dua daging segar saja sudah cukup untuk kita berdua,” tukas Lupusregina, dari sudut matanya dia memperhatikan Gin dan Rafsa yang sedang menikmati makanannya.
__ADS_1
“Ini buruk,” batin Rafsa.
Bersambung…