
Chapter 16
Gin dan Rafsa vs Dua Pleiades (Part 1)
Meskipun Solution dan Lupusregina tidak memakai pakaian maidnya namun Gin dan Rafsa sudah tahu kalau itu memang mereka. Tapi sesuai rencana, mereka tidak membuat kegaduhan sedikitpun. Terlebih tujuan mereka adalah masuk ke wilayah Sorcerer Kingdom, andaikan terjadi keributan di sini pastinya cukup sulit bagi mereka untuk melanjutkan rencananya.
Rafsa dan Gin masih tetap tenang dan mengacuhkan perkataan dua anggota Pleiades tersebut seolah-olah tidak mengenalnya. Pesanan Solution dan Lupusregina tampak sudah diantarkan ke mejanya, namun Solution membawa piring makanannya dan duduk di kursi kosong yang ada di meja Rafsa serta Gin.
“Aku tidak terbiasa untuk makan tanpa ditemani pria, tidak masalah bukan jika aku duduk di sini?” tanya Solution dengan nada manja dan senyuman manis yang mempesona.
“Silahkan saja,” jawab Rafsa dengan tetap tenang.
“Ara. Arigatou,” balas Solution seraya menaruh makanannya di meja yang sama dengan Rafsa serta Gin.
“Kelihatannya aku juga akan makan di sini, tidak enak rasanya kalau makan sendirian bukan,” tukas Lupusregina yang langsung menaruh makanannya di meja.
“Wah, sungguh menyenangkan rasanya bisa makan bersama dengan dua gadis cantik seperti kalian,” ucap Gin sambil tertawa kecil meskipun wajahnya dibalut oleh kain, hanya kedua mata dan mulutnya saja yang bisa dilihat.
“Ara, tuan terlalu berlebihan. Tapi aku juga tidak keberatan untuk menemani kegiatan tuan lainnya,” goda Solution.
Tiga petualang dan pemilik kedai yang mendengar perkataan Solution barusan langsung melirik iri, sejak awal Solution dan Lupusregina masuk ke kedai memang perhatian mereka tidak teralihkan lagi dari kecantikan dua anggota Pleiades tersebut. Namun Rafsa dan Gin tidak terbuai begitu saja, mereka hanya mencoba untuk tetap tenang agar tidak dicurigai oleh Solution dan Lupusregina.
“Cih, padahal cuma tingkat gold saja,” terdengar seorang petualang menggerutu, di bajunya terpasang lencana platinum. Pada dasarnya petualang dengan lencana emas berada satu tingkat di bawah mereka.
“Wah, senang sekali mendengarnya. Lain kali mungkin kami akan mengundang kalian ke penginapan kami, di sana kami akan menyediakan makanan yang lezat untuk kalian,” kata Gin sambil tertawa lagi.
“Ne.. kenapa tidak malam ini?” tanya Solution sambil mendekatkan tubuhnya kepada Gin.
“Eto.. kami masih harus menyelesaikan quest, jadi kami tidak bisa mengundang kalian malam ini. Lagipula kami perlu uang untuk menjamu kalian nanti,” jawab Gin yang terlihat agak gugup mendapat perlakuan agresif Solution. Rafsa hanya tersenyum saja sambil menikmati makanannya, dia tidak menyangka jika Gin bisa canggung juga ketika mendapatkan perlakuan seperti itu.
“Ne.. apa tuan tidak kesusahan makan seperti itu?” tanya Lupusregina sambil menatap Rafsa.
“Oh, aku sudah terbiasa melakukannya. Jangan khawatir,” jawab Rafsa, sejak tadi dia memang makan tanpa melepas pelindung kepalanya. Wajahnya memang tertutup sebagian tapi pelindung kepala itu tidak menutupi bagian mata, hidung dan multunya. Meski terlihat susah tapi Rafsa masih bisa makan.
“He.. kenapa tidak tuan buka saja pelindung kepalanya?” tanya Lupusregina lagi sembari tersenyum manis.
“Itu akan membuang banyak waktu, akan lebih efektif jika aku makan seperti ini. Dengan begitu kami bisa langsung pergi menjalankan quest tanpa membuang banyak waktu,” jawab Rafsa sambil tersenyum.
__ADS_1
“Atau mungkin kalian bisa kabur dengan cepat saat ada musuh menyerang, bukan begitu Sol-chan?” tukas Lupusregina sambil menatap Solution.
“He..” ujar Solution sambil menyeringai.
‘Bbrrraakk’
Rafsa dan Gin langsung melompat ke udara dan mundur dari mejanya yang mendadak hancur, semua orang di tempat itu mendadak terkejut terutama pemilik kedai yang terlihat sangat marah melihat meja kedainya hancur berkeping-keping. Makanan mereka berempat terlihat berhamburan di lantai.
“Ara, kenapa kalian bertingkah seperti itu?” tanya Solution sambil mengalihkan pandangannya kepada Gin.
“Woah.. daging panggangku malah kotor,” timpal Lupusregina seraya mengusap-usap daging panggang pesanannya yang sudah berserakan di lantai.
“Omae!” teriak pemilik kedai terdengar begitu marah.
“Itu tadi, aura membunuh yang sangat kuat,” batin Gin dan Rafsa.
“Woi. Kalian sepertinya harus diberi pelajaran karena sudah mengganggu waktu makan nona-nona manis di sana!” bentak seorang petualang sambil berdiri.
“Tidak tahu terima kasih!” timpal yang lainnya sambil berjalan mendekati Solution dan Lupusregina.
“Ah.. membosankan sekali,” tukas Lupusregina.
“Padahal kau harusnya mencicipi mereka dulu sebelum menghabisinya,” ucap Solution seraya menyeringai menatap Rafsa.
“Hii..” pekik rekan dua petualang yang tewas, wajahnya terlihat pucat. Pemilik kedai juga hanya bisa terdiam mematung.
“Belakangmu!” teriak Gin kepada Rafsa.
“Ya!” jawab Rafsa yang langsung mengayunkan pedangnya ke belakang, sebuah makhluk hitam langsung muncul saat tubuhnya tertebas pedang Rafsa. Makhluk itu langsung lenyap menjadi abu. Sementara tubuh pemilik kedai dan satu petualang yang tersisa sudah tercabik dan terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
“Paladin kah?” ujar Lupusregina seraya berdiri menatap Rafsa.
“Dan dia pasti assasins, sama sepertiku,” timpal Solution yang ikut berdiri menghadap Gin.
“Kelihatannya rencana kali ini akan gagal,” batin Rafsa.
“Kenapa mereka mengincar kami? Apakah secara acak? Tidak. Sejak awal masuk ke sini mereka memang mengincar kami,” pikir Gin yang terlihat terus waspada.
__ADS_1
“Kelihatannya mereka memang target yang dicari Ainz-sama,” tukas Lupusregina sambil menggenggam tongkatnya.
“Hai, ciri-cirinya memang sama persis seperti yang dikatakan Lord-san,” timpal Solution.
“Lord-san?” gumam Gin dan Rafsa bersamaan, baru kali ini mereka mendengar nama itu. Jika mereka tidak familiar dengan nama itu di anime Overlord itu artinya dia adalah seorang user HLF.
“Ne, ne.. sejauh mana kalian mengetahui kerajaan kami? Sejauh mana juga kalian mengetahui Ainz-sama,” tanya Lupusregina.
“Jika kalian menyerah, mungkin kami tidak akan bertingkah kasar seperti ini. Atau kalian memang suka permainan kasar?” timpal Solution sambil memainkan lidahnya di bibir.
“Apa yang nona-nona maksud sebenarnya? Kami tadi bergerak hanya karena merasakan ada bahaya saja,” jawab Gin mencoba cara yang aman agar tidak timbul pertarungan.
“NPC level 57 dan 59. Mungkin aku dan Gin masih bisa mengimbanginya,” batin Rafsa.
“Kelihatannya mereka memang tidak akan berbicara seperti yang lainnya Sol-chan,” ucap Lupusregina.
“Sayang sekali, padahal mereka terlihat cukup tangguh,” timpal Solution.
Rafsa langsung menghunuskan pedangnya ke depan, sementara Gin langsung menggenggam pisau di kedua tangannya. Rencananya untuk tidak memancing pertarungan tampaknya akan sia-sia. Tapi di lain sisi entah mengapa baik Gin maupun Rafsa merasa sangat senang, sebagai user HLF sudah menjadi kewajaran tampaknya jika merasa senang bisa bertarung dengan karakter anime yang mereka ketahui.
Lupusregina langsung melesat cepat dan mengayunkan tongkatnya ke depan, tapi Rafsa memutar tubuhnya dan menebaskan pedang ke belakang. Saat itu juga makhluk hitam kembali tertebas dan menjadi abu, pedangnya terus berputar mengikuti gerakan tubuhnya sampai akhirnya menghantam tongkat milik Lupusregina.
“Ho.. kau lumayan juga. Ningen!” kata Lupusregina yang langsung melayangkan kaki kirinya.
Tapi Rafsa langsung menunduk melompat ke belakang lagi sambil mengayunkan pedangnya menebas langit-langit, seekor makhluk hitam kembali tertebas menjadi abu. Sementara itu Gin yang pertama kali mengambil langkah langsung maju ke depan dan mengayunkan dua pisau di tangannya dengan cepat ke arah Solution. Tapi tanpa berpindah tempat semua serangan lawannya itu bisa dihindari oleh Solution.
“Kelihatannya sejak awal mereka memang sudah tahu bahwa kami adalah user, Solution bahkan sudah membawa anak buahnya meskipun yang paling lemah,” pikir Rafsa.
“Fireball!” ucap Lupusregina sambil menatap Rafsa dengan tangan kiri direntangkan ke depan, saat itu juga bola api besar melesat menuju Rafsa.
‘Bbbsssh’
‘Bbbhaammrr..’
Rafsa menebaskan pedangnya ke depan dan berhasil membelah bola api besar menjadi dua. kedua sisi bola api itu kemudian langsung menghantam dinding kedai sampai meledak dan terbakar. Kini udara di ruangan itu mendadak terasa panas oleh api yang mulai membakar bangunan dinding.
Bersambung…
__ADS_1