Maximum Delusion

Maximum Delusion
Akhir Kencan yang Menyedihkan


__ADS_3

Chapter 34


Akhir Kencan yang Menyedihkan


“Meski begitu aku juga bukan tipe orang yang gampang menyerah, selagi masih ada kesempatan aku mungkin akan terus memperjuangkannya,” sambung Rafsa.


“Eh, apa aku masih memiliki kesempatan ya untuk mendapatkan Sasuke,” ucap Ino dengan lirih.


“Memangnya apa yang membuatmu merasa sudah tidak memiliki kesempatan lagi?” tanya Rafsa, mau tidak mau akhirnya dia ikut terlibat dalam acara curhat Ino.


“Aku rasa Sakura itu lebih baik dariku. Dia pintar, cantik, kuat dan kini satu-satunya kekurangannya bisa dia tutupi dengan kekuatan byakugou miliknya,” tutur Ino. Rafsa lagi-lagi tersenyum karena tahu apa yang disebut Ino dengan kekurangan.


“Itu hanya anggapanmu saja. Kau bahkan tidak tahu seperti apa pendapat Sasuke,” kata Rafsa mulai mencoba menghibur Ino yang terlihat semakin sedih.


“Tapi setelah perang dunia ninja berakhir, mereka terlihat semakin dekat. Aku pikir Sasuke memang sudah mencintai Sakura,” tukas Ino.


“Kau terlalu berlebihan. Manusia itu tidak bisa kau tebak, kadang hubungan dua orang yang terlihat dekat sebenarnya saling berusaha menjauh. Kadang hubungan dua orang yang terlihat jauh ternyata justru sangat mencintai satu sama lain, karena itulah kau tidak perlu berpikir berlebihan seperti itu,” kata Rafsa mulai memberikan petuah-petuahnya.

__ADS_1


“Lagipula kelebihan yang kau sebutkan ada pada Sakura itu juga sebenarnya kau miliki. Kau itu cantik, kuat, sedangkan kepintaran sendiri itu sebenarnya beragam. Dalam hal akademik mungkin Sakura lebih pintar darimu, tapi dalam hal lain. Bunga misalnya, aku yakin kau lebih banyak tahu tentang berbagai macam bunga dibandingkan Sakura. Sekarang bukan waktunya kau membandingkan diri sendiri, tapi berusahalah kelebihanmu itu agar terlihat oleh Sasuke. Biarkan Sasuke yang membandingkannya sendiri,” tambah Rafsa sambil tersenyum.


Ino hanya tersipu mendengarnya, entah mengapa dia benar-benar merasakan ketulusan dari setiap kata-kata yang Rafsa lontarkan. Tangan Ino menggerakan sumpitnya untuk mengambil daging, tapi Rafsa yang mulai melihat kesempatan segera ikut menggerakan sumpitnya. Kini sumpit mereka beradu bersamaan karena mereka ingin mengambil potongan daging yang sama. Mata mereka saling memandang, tentu itu bukanlah kebetulan semata.


“Aku sudah banyak mempelajari berbagai hal tentangmu Ino, aku bahkan tahu daging seperti apa yang kau sukai. Dengan pengetahuanku tentang anime, aku akan pastikan kau tidak akan bisa lolos dariku,” gumam Rafsa.


“Eh, bukankah ini daging yang kau panggang?” ucap Ino sambil tertawa kecil karena Rafsa hendak mengambil daging yang dia panggang.


“Ah maaf. Aku sangat suka daging seperti itu, tingkat kematangan dan warnanya benar-benar membuatku tertarik. Aku lupa kalau itu milikmu,” jawab Rafsa sembari tertawa kecil dan mengambil potongan daging lainnya.


“Apa kau tahu sesuatu yang mungkin akan disukai Sasuke darimu?” tanya Rafsa yang berniat mulai menghujamkan racun-racun rayuannya.


“Eh? Apa dia pernah bilang sesuatu kepadamu tentangku?” tanya Ino dengan antusias.


“Tidak, hanya saja saat melihat senyuman manismu tadi membuat hatiku berdebar. Aku yakin Sasuke bahkan setiap pria di dunia ini akan jatuh cinta kepadamu setelah melihat senyumanmu itu,” jawab Rafsa.


“Benarkah,” ujar Ino pelan, tampak jelas kalau dia tersipu malu mendengarnya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat mereka terdiam menikmati makanannya. Rafsa juga tampak sibuk memakan daging yang dia panggang, entah berapa kalipun dia merasakannya makanan di dunia anime benar-benar enak. Bisa memakan makanan yang sama dengan karakter di dunia anime itu sendiri membuatnya seolah-olah sedang berada dalam dunia mimpi.


“Terima kasih,” ucap Ino tiba-tiba, suaranya terdengar malu-malu.


“Untuk apa?” tanya Rafsa sambil tersenyum.


“Setelah mendengar perkataanmu tadi aku rasa, aku masih bisa bersaing dengan Sakura,” tukas Ino sambil tersenyum.


“Oh, aku tidak melakukan apapun. Kepercayaan dirimu itu hanya bisa timbul dari dirimu sendiri, tapi jika kamu memang mau membicarakan sesuatu. Kamu bisa meminta bantuanku, ya setidaknya aku bisa mendengarkan keluh kesahmu,” ucap Rafsa.


“Ya, kelihatannya aku tidak salah untuk membicarakannya kepadamu. Sebagai seorang penulis novel romantis, sejak awal aku memang mengira kau punya banyak solusi tentang masalahku ini,” kata Ino sambil tersenyum manis.


Setelah itu mereka mulai membicarakan banyak hal, meski terlihat jelas bahwa rasa cinta Ino kepada Sasuke terlalu kuat. Namun proses Rafsa tampaknya tidak sia-sia, kini Ino terlihat lebih terbuka lagi kepadanya untuk membicarakan banyak hal. Itu adalah pencapaian yang bagus dalam hubungan mereka, suatu saat nanti Rafsa yakin kalau semua kunoichi cantik di dunia Naruto akan berhasil dia taklukan meski memakan waktu yang lama.


Setelah selesai menyantap yakiniku sepuasnya akhirnya mereka keluar dari kedai. Ino melambaikan tangannya saat mereka berdua berpisah untuk pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Rafsa hanya berjalan menunduk sambil menghela nafas dalam, sebagian dirinya memang merasa sedih tapi sebagian dirinya lagi mencoba untuk menghibur dirinya sendiri bahwa itu adalah pencapaian yang bagus untuk seorang user HLF sepertinya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2