
Chapter 24
Motif Pembunuhan
“Dia pantas untuk lenyap!” ucap Kakuma, air matanya mulai mengalir.
“Kakuma-san,” ucap Takagi.
“Dia telah melenyapkan putriku! Gara-gara dia, lebih dari seminggu yang lalu putriku bunuh diri! Tapi dia dengan beraninya tetap datang ke pemakaman putriku, dia juga langsung pindah apartemen karena takut aku akan menuntutnya,” tutur Kakuma.
“Maksud pak Kakuma pasti ini,” bisik Mirai sambil memberikan buku tebal kepada Rafsa.
Rafsa langsung membukanya, dia terlihat sangat terkejut saat membacanya. Sebab lagi-lagi tulisan di dalam buku itu menggunakan Bahasa Indonesia, ada juga beberapa foto seorang gadis SMA nan cantik diselipkan di buku itu. Rafsa hanya menghela nafas dalam sambil menutup buku itu lagi dan menatap Kakuma yang sedang menangis.
“Saat aku datang kemari untuk memintanya menyerahkan diri kepada polisi aku bahkan melihat banyak foto putriku di dinding apartemennya ini. Aku tak kuasa menahan diri dan memarahinya, tapi dia menolak untuk mencopotnya. Sejak saat itu aku berencana untuk menghabisinya! Itu adalah satu-satunya cara agar dia bisa menebus dosanya!” ucap Kakuma.
“Aku bahkan dengar dari teman-teman sekolah putriku bahwa iblis itu datang ke sekolah untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan putriku, puncaknya aku mendapatkan kabar dari teman laku-laki putriku bahwa iblis itu juga mengolok-ngolok mendiang putriku dengan menyebarkan foto tak senonohnya di internet! Aku sejak awal sudah melarang putriku mendekatinya! Tak aku sangka dia bahkan sudah menodai putriku seperti itu!” sambung Kakuma.
“Kakuma-san, mungkin anda akan menyesali perbuatan anda,” ucap Rafsa.
“Tidak! Seumur hidup aku tidak akan pernah menyesalinya! Sejak andaikan waktu itu aku membunuhnya lebih awal saat dia tinggal di dekat rumah kami maka putriku tidak akan meninggal! Aiko tidak akan bunuh diri!” tegas Kakuma dengan mata penuh amarah.
“Aiko-san bukan bunuh diri karena Takaoka-san, foto-foto itu juga bukan Takaoka-san yang menyebarkannya,” kata Rafsa sambil membuka lembaran buku yang diberikan Mirai. Semua orang terkejut melihatnya, karena di sana ada beberapa foto Aiko dan tulisan asing. Rafsa kembali membukanya lembaran lainnya, kini ada juga beberapa foto siswa SMA seumuran Aiko dengan deskripsi tulisan Bahasa Indonesia.
“Apa itu Rafsa-kun?” tanya Inspektur Megure.
“Ini semua penyelidikan Takaoka-san. Tapi dia menulisnya dalam Bahasa Indonesia, di sini dia menjelaskan bahwa sejak kematian Aiko dia terus menerus mencari alasan kenapa Aiko bunuh diri, biar aku bacakan sedikit,” jawab Rafsa.
“Aiko. Nama yang indah untuk seorang gadis cantik yang menawan, dia adalah siswa SMA yang sangat tegar dan kuat. Dia sering menceritakan bahwa di sekolahnya dia sering dibully oleh teman-teman wanitanya, mereka mungkin takut Aiko akan merebut pujaan hati mereka. Aiko wanita yang tegar, dia tidak pernah menceritakannya kepada ayahnya. Dia khawatir ayahnya akan sangat gelisah, terlebih setelah ibunya meninggal ayahnya benar-benar terlihat sering bersedih.”
“Namun aku tidak menyangka hari dimana Aiko menyerah akan tiba, aku mendapatkan panggilan suara darinya dan bertanya apakah sudah tahu tentang foto-fotonya yang tersebar di internet. Aku jawab sudah, tapi aku rasa itu hanyalah editan. Tapi dia menyanggahnya dan bilang bahwa itu bukanlah editan, mantan pacarnyalah yang menyebarkan foto tersebut dan dimanfaatkan oleh orang yang suka membully dirinya hingga semakin tersebar luas.”
“Dia bertanya kepadaku apakah aku menyesal bertemu dengannya. Aku hanya tertawa dan mengatakan dengan tegas aku tidak akan menyesalinya, aku akan menerima dirinya apa adanya. Aku tahu bahwa dia telah berubah, dia bilang kalau dia sangat senang. Tapi dia memintaku agar tidak memberitahu ayahnya. Dia tidak ingin ayahnya cemas, dia akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Saat itu aku tidak sadar bahwa itu adalah kata-kata terakhirnya.”
__ADS_1
“Barulah setelah suara ambulan terdengar berhenti di depan rumahnya aku menangis, aku tidak menyangka pertemuan kami akan berakhir seperti itu. Tapi saat aku datang ke acara pemakamannya ayahnya terus memarahiku, aku yakin dia sangat terpukul kehilangan putrinya. Aku yakin saat dia melihatku akan mengingatkannya kepada putrinya yang telah tiada, Akhirnya aku memutuskan untuk pindah rumah agar ayahnya bisa hidup dengan tenang.”
“Setelah pindah aku terus menyelidiki orang-orang yang membully Aiko di sekolahnya, akhirnya setelah hampir seminggu aku tahu semua orang yang terlibat dalam pembullyan Aiko beserta bukti-buktinya termasuk kejahatan yang dilakukan oleh mantan pacarnya. Aku berniat mengirimkan semua hasil penyelidikanku ini kepada polisi besok pagi. Aku harap dengan begini ayah Aiko bisa lebih tenang,” tutur Rafsa selesai membacakan tulisan di dalam buku tersebut.
“Hari ini, ya. Dia hari ini akan menyerahkannya kepada kepolisian,” ucap Rafsa sambil menatap Kakuma.
“Itu bohong.. itu bohong..” ucap Kakuma seraya menggelengkan kepalanya, tangisnya semakin deras.
“Ini adalah kenyataan. Kenyataan yang pahit yang harus kau tanggung,” tukas Rafsa.
“Kakuma-san, kau akan mempertanggung jawabkan perbuatanmu di kantor polisi,” kata Takagi sambil memborgol tangan Kakuma.
Dia kemudian digiring oleh para polisi menuju ke kantor polisi. Semua bukti yang dibuang oleh Kakuma akhirnya berhasil ditemukan, setelah memeriksa CCTV menuju jalan Kota Haido juga ditemukan bahwa Kakuma memang tidak menuju ke Kota Haido. Semua itu dilaporkan oleh Chiba yang mendapat tugas tersebut dari Inspektur Megure.
“Rafsa-kun aku akan membawa buku itu, kami juga mungkin akan memerlukan bantuanmu ke depannya dalam mengurus kasus ini. Karena itu kami sangat berterima kasih dan memohon bantuannya,” tukas Megure.
“Dengan senang hati saya akan melakukannya,” balas Rafsa sambil menyerahkan buku penyelidikan Takaoka.
“Dia adalah seorang penulis yang berbakat, tapi kebanyakan tulisannya memang mengandung unsur Indonesia. Dia bilang kalau dia sangat mencintai Indonesia,” sela Nabata sebeluma ada yang menjawab pernyataan Sato.
“Begitu ya,” gumam Sato sambil pergi bersama Megure dan yang lainnya. Rafsa, Mirai, Conan dan Yumi juga keluar dari apartemen Takaoka yang sudah dipasang garis polisi.
“Pria ini, pemikirannya benar-benar tajam. Bahkan dia juga memiliki pengetahuan tentang Bahasa asing,” batin Conan sambil menatap Rafsa.
“Eh, aku tidak menyangka jika korban akan menggunakan Bahasa asing sebagai petunjuknya, kakak memang hebat. Aku semakin tidak sabar ingin membaca novel misteri karangan kakak,” celetuk Conan.
“Aku juga tidak menyangka akan seperti itu. Tapi di situasi seperti itu mungkin itulah yang bisa korban pikirkan,” jawab Rafsa sambil tersenyum.
“Tidak, alasannya bukanlah itu. Aku yakin dia sudah menduga bahwa apartemen di sebelah Yumi adalah user HLF. Aku juga yakin dia tahu kalau aku user yang berasal dari Indonesia setelah menyelidiku dari Yumi, aku tidak tahu apakah dia memang sengaja menujukan tulisan itu untuk aku pecahkan, atau memang hanya itu yang bisa dia pikirkan di tengah rasa sakitnya yang luar biasa,” batin Rafsa.
“Tapi meskipun aku tidak memecahkannya maka kedua bocah ini akan melakukannya, meski mungkin akan memakan waktu yang lebih lama,” pikir Rafsa sambil menatap Conan dan Mirai.
“Sudah pukul tiga, kelihatannya aku memang harus istirahat sebentar,” ujar Yumi sambil melihat jam tangannya.
__ADS_1
“Rafsa-kun, aku titip Conan dan Mirai ya. Aku ingin tertidur dengan pulas, kalau mereka masuk rumahku lagi aku akan terlibat kasus lainnya lagi,” ucap Yumi sambil berjalan.
“Hehe.. memangnya aku apaan,” batin Conan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Tenang saja, Yumi-san tidur saja dengan tenang,” kata Rafsa sambil membalas senyuman manis Yumi. Rafsa, Mirai dan Conan langsung bergegas menuju kediaman Rafsa.
“Conan sebaiknya masuk dan beristirahat,” ucap Rafsa sambil membukakan pintu.
“Hai..” jawab Conan dengan riang lalu masuk ke dalam rumah.
“Dasar tukang tikung,” sindir Mirai.
“Cih, iri bilang bos,” balas Rafsa.
“Lock off,” kata Rafsa membuka kunci keamanan HLF agar Mirai bisa masuk.
“Tunggu dulu,” kata Mirai sambil memegang kaki Rafsa.
“Ada apa lagi? Awas jangan macam-macam dengan sistem HLF milikku, kau hanya aku bebaskan tinggal di sini sementara saja. Kau tidak aku izinkan untuk memakai sistem HLF milikku!” tukas Rafsa.
“Iya aku juga paham. Lagipula mencari masalah dengan orang sepertimu hanya akan merepotkan saja,” jawab Mirai sembari mengeluarkan sebuah buku kecil dari sakunya.
“Ini aku ambil dari kediaman Takaoka. Aku yakin kalau tulisan Bahasa asing itu memang ditunjukan untukmu, jadi aku rasa buku ini juga lebih baik kau pegang saja. Lagipula aku tidak mau masalah datang gara-gara aku memiliki buku ini,” sambung mirai sambil menyerahkan buku kecil kepada Rafsa, di sampul buku itu ada logo yang sudah tidak asing baginya.
“Buku ini..” ujar Rafsa sambil menerima buku dari Mirai tersebut.
“Ya, buku ini hanya dimiliki oleh user yang menjadi anggota Secret Security HLF. Kelihatannya isinya juga menggunakan Bahasa yang sama dengan yang dia gunakan di dalam buku penyelidikannya,” jawab Mirai sambil masuk ke dalam apartemen Rafsa.
“Jadi orang bernama Takaoka itu juga anggota SS?” batin Rafsa sambil membuka beberapa lembar dari buku kecil tersebut.
“Ini kan...” ujar Rafsa yang tiba-tiba terlihat terkejut. Matanya terbelalak karena kaget saat membaca isi sebuah halaman di dalam buku tersebut.
Bersambung…
__ADS_1