
“Benar Johnny, kita akan menculik para pengrajin 50 pengrajin dan keluarganya, dalam bayanganku paling tepat kita menciulik dari golongan warga kerajaan Samiam di Kepulauan Nexian sana, terlebih kedua kerajaan ini saling bermusuhan, dan tentunya hal ini tidak membuka front dengan pihak lain yang akhirnya bisa menambah musuh,” terang Zayn. “Siap kami mengerti tuan, apakah ada instruksi yang hendak tuan berikan kepada kami para hamba?” Johnny bertanya ketika matahari sudah mulai terik diatas kepala.
“Hmm bagi perempuan dan anak-anak kalian sebisa mungkin menebas semak belukar yang bisa kalian jangkau. Untuk anak-anak selesai bekerja om nanti akan beri hadiah, hmm tapi menebas semak belukar mungkin terlalu berat bagi kalian anak-anak, kalian berempat cabutilah rumput sebagai mainan semampu kalian. Untuk para prajurit dan Johnny sebagian dari kita akan mulai menebang pohon-pohon di dalam benteng yang akan kita tebang dan juga sebagian akan mulai menguliti kulit buaya. Aku akan mengambil alat yang disebut gergaji mesin, kuajari menggunakannya nanti Sena yang akan menggunakannya. Tolong Johnny, Sean Danu dan Andi membantu memotong2 ukuran kayu menjadi papan dan balok nanti setelah ditebang dengan kita mulai dengan potongan ukuran besar terlebih dahulu, sisanya nanti menunggu datangnya pengrajin kayu. Untuk Rio, Wawan dan Sugeng akan mulai menguliti kulit buaya yang keras dan memisahkan dagingnya. Selanjutnya aku dan Udin akan berdiskusi mengenai rencana berikutnya. Kita akan mengakhiri pekerjaan di sore hari, dan kami akan memasakkan daging buaya special untuk kalian santap hari ini." Zayn memberikan instruksi.
__ADS_1
Setelah instruksi diberikan dan semua mulai melaksanakan pekerjaannya, Udin menarik tangan Zayn dan mengajaknya berjalan ke arah kaki bukit. “Zayn dua hari ini dimana otakmu, ente bahlul, emang ente kadang kadang, kamu itu terlalu banyak bicara dan menjanjikan hal-hal besar kepada pangeran yang belum kita ketahui sifat plus watak aslinya itu. Terlebih kamu malah memberinya tawaran lepas dari perbudakan dan janji membumbung ke langit. Ingat dia sama sekali tidak menyinggung, protes maupun marah terhadap 5 pengawalnya yang kubunuh di lautan saat itu. Kita juga belum tahu siapa sebetulnya 5 orang itu dan kita juga belum tahu apa dampak selanjutnya dari kematian 5 orang sialan itu? Tolonglah berpikir jernih captain!” diatas sebuah batu besar yang menghampar rata Udin mencerocos Zayn tentang sikapnya yang terlalu lunak kepada Johnny.
“Tenanglah kau Din, yang kau ucapkan tidaklah salah, dan tentu aku juga selalu memikirkan hal itu. tapi tolong dicamkan Ini tidak sesederhana yang kau sampaikan tadi. Kita sedang memainkan pola ala layangan disini, tarik ulur agar terbang tinggi dan tidak putus talinya. Intinya beri kenyamanan, kepercayaan kepada Johnny di awal ini dan kita juga akan selalu tarik ulur dia agar tidak lepas sekaligus tidak selalu dimanja dan diberi kemudahan meski bantuan juga selalu kita ulurkan. Terkait kecurigaan masalah 5 orang mati itu dan kesetiaan Johnny kepada kita, lebih baik kira kupas pada waktu berikutnya saja, yang jelas tetap selalu menjadi catatan dan akan kita bahas di saat yang paling tepat. Yang perlu kau ingat, bahwasanya posisi kita disini benar-benar minim sumberdaya, dari segi human labour dan juga raw material untuk bisa bertahan di dunia baru dan mendirikan Alamut. Di dunia ini advantage kita hanya ilmu pengetahuan yang kita miliki dan teknologi dari hal-hal yang kita bawa utamanya Rihlah. Ketika Rihlah rusak maka advantage kita hilang hingga 70 persen. Dari penjelasanku ini apakah kau mengerti Udin?”
__ADS_1
“Ok aku setuju, lebih baik kita segera kembali ke reruntuhan Doctor Udin, lama-lama berdua disini membuatku risih. Meski aku menjomblo hingga selama ini, namun aku masih pria normal yang punya ketakutan tentang kamu bakal melakukan hal-hal yang tidak-tidak padaku di tempat sepi ini, apalagi ketika kesini tadi kamu berjalan menarik tanganku dan itu terus terang sangat menjijikkan, haha…” Zayn berjalan pelan meninggalkan Udin dengan sedikit tertawa sambil berbicara
“Dasar onta bahlul sialan ente ya… gini-gini gue masih normal dan tentunya tampan!” Udin menyahut pede sambil kemudian bangkit menyusul Zayn berjalan menuju reruntuhan benteng.
__ADS_1